Kalau Mau Kreatif, Yang Lain Cuekin Aja

Seru juga membaca buku Ignore Everybody-nya Hugh MacLeod.

Iya sih, sub judulnya bertemakan ‘Yang Lain Cuekin Aja’ dan 39 Kunci Jadi Kreatif Lainnya, tapi jangan harap ada banyak kata-kata mutiara pembangkit motivasi yang mendayu, ataupun tips-tips melenakan tuk menjadi kreatif di buku ini, karena bisa dibilang justru yang tersaji di dalamnya adalah sindiran-sindiran penting bagi orang-orang yang maksain diri untuk kreatif.

review buku ignore everybody

Untuk yang pernah mendowload ebook How To Be Creative mungkin sudah tak asing lagi, karena isinya memang berupa terjemahan dari ebook yang tercatat telah terunduh lebih dari empat juta kali itu.

Dan bagi Anda yang sering menyambangi blognya di gapingvoid.com, tulisan di buku ini layaknya intisari dari ide-ide orisinal Hugh tentang kreatif yang memang di luar pakem, alias anti mainstream, sehingga tak ayal seorang Seth Godin pun tak ragu tuk memberikan endorsement:

Sebuah karya seni sekaligus inspirasi yang brilian, sebuah buku yang akan mengubah hidup Anda.

Kenapa bisa disebut anti-mainstream? Karena Continue reading

Modus Bertanya Sesaat Di Jalan

Bagaimana jurus Anda jika berada di tengah perjalanan di tempat yang sama sekali baru dan ingin menanyakan sesuatu? Langsung to the point bertanya pada orang yang terdekat di tempat Anda berdiri? Apakah ada trik-trik khusus agar apa yang menjadi tujuan Anda cepat tercapai?

Bagi sebagian orang, terutama yang extrovert, hal itu bisa dibilang sepele. Lha cuma bertanya kok, apa susahnya?

Tapi bagi saya yang notabene ngga begitu gahol, perihal tanya-bertanya itu mau tak mau memaksa otak ini untuk berputar lebih keras, dan saya sepertinya sudah memiliki blueprint atau kebiasaan yang sudah melekat plus siap untuk digunakan di situasi dan kondisi tertentu.

Jadi alih-alih langsung nyeplos nanya ke orang terdekat dari lokasi saya berdiri, saya otomatis akan mempertimbangkan 3 hal berikut: Continue reading

I Just Miss My Band

Kalau sedang banyak waktu luang begini, saya sering iseng mengoprek kembali artikel-artikel lama. Dan ujungnya bisa ditebak, perasaan emosional pun perlahan hadir, seiring sel-sel otak mulai memutar kembali piringan memori edisi lawas dari kedalaman album fikiran bawah sadar.

Walhasil, saya kerap melamun lama sambil bergumam: kok bisa ya saya nulis seperti ini? Cengar-cengir sendiri menelusuri celetukan komen-komen Anda yang brillian di sana. Dan kadang kenangan pada orang-orang terdekat di luar blog pun datang, seperti saat saya mampir di artikel Menanggalkan Kulit Sang Idola.

Oh boy, I miss them.

Saya rindu berkumpul kembali dengan mereka. Rindu merasakan kembali kehangatan sebuah persahabatan yang spontan, yang hanya mengenal momen saat itu saja dan tak pernah merisaukan apa kata hari esok, seperti kata SO7: Continue reading

Blogku, Surgaku

Seingat saya, sebagai blogger, ini adalah momen yang paling membuat saya bahagia: menuliskan sesuatu, mem-publish-nya, dan tulisan itu terpampang di internet. Lalu tak lama lahirlah berbagai macam ‘penemuan’ – seperti SEO, page rank, social media, etika berkomentar, plugin-plugin dan banyak lagi – yang kemudian membuat perasaan ‘bahagia’ itu tak lagi se-orisinal dulu.

Saya tidak menyatakan bahwa semua ‘penemuan’ itu tak berguna. Semua bagus, dan tujuannya memang untuk mempermudah saya sebagai blogger, agar blog yang saya kelola bisa meraih pertumbuhan yang maksimal.

Dan sebagai konsekuensinya, proses untuk menjadi bahagia itu pun menjadi lebih panjang: menulis, mencari kata kunci, menerapkan SEO, memberikan link-link (ke dalam dan keluar), dan setelah publish, pekerjaan belum jua selesai, masih ada komentar-mengomentari, social media dan berbagai hal lain yang menyangkut promosi artikel.

Hell, makin susah ya ternyata untuk menjadi bahagia…

Eh, nanti dulu, apa dengan melalui proses yang makin panjang itu lalu membuat saya lebih bahagia? Jawabnya, no.

Kenapa? Continue reading

blog as you are…