Adakah Jalan Pintas Tuk Menjadi Ahli?

Menjadi ahli di satu bidang tertentu mungkin adalah cita-cita dan harapan terbesar bagi kita. Di tengah pusaran perkembangan teknologi yang menjadikan zaman ini mengalami lompatan super cepat daripada puluhan tahun lalu, mau tak mau predikat ahli pada suatu bidang adalah mutlak adanya. Dan harapan itu bisa dijadikan obsesi tertentu, bahkan tak jarang kita memimpikan sebuah jalan pintas, sebuah jalur express yang membawa kendaraan mental kita tepat di depan pintu keahlian. Namun, adakah jalan pintas seperti itu?

Corbett Barr menyajikan sebuah interview yang bagus mengenai isu ini dalam sebuah tulisannya yang berjudul 23 Incredibly Useful Insights on Shortcuts to Becoming an Expert. Dan salah satu pendapat yang sangat menarik datang dari Leo Babauta, sang pendiri Zen Habits:

I don’t believe in shortcuts, as most people looking for shortcuts just want quick results … but I do believe in simplicity. If you simplify things, it will seem like you’ve found a miraculous shortcut.

Jalan Pintas Tuk Menjadi Ahli

Seperti pada umumnya, beliau pun tak percaya dengan adanya sebuah jalan pintas tuk menjadi ahli, karena sebagian besar orang menginginkan hal tersebut hanya untuk mendapat hasil maksimal dengan cara-cara instan tanpa harus kerja keras. Kendati demikian, Leo menawarkan metode yang tak biasa, yaitu bahwasanya jalan pintas itu bisa diciptakan secara mental dengan jalan menyederhanakan segala sesuatu.

Bagaimana prakteknya? Leo memberi tiga tips praktis:

Three simple but powerful ways to become an expert: 1) lower the bar of expertise, so you only have to be better than the general population; 2) narrow the area of expertise, so instead of knowing everything about cocktail making, you just learn to make an incredible Old Fashioned; and 3) simplify your method of doing whatever you want to do, so you don’t have to learn 100 steps, just 5.

Ok, mari kita bahas satu persatu dari perspektif penerjemahan saya sendiri.

1) Menurunkan standar keahlian
Maksudnya yaitu menjadi ahli dengan berusaha tuk lebih baik daripada populasi yang berada pada satu bidang tertentu. Saya pernah membaca sebuah kalimat bijak yang mengatakan, ‘bila kau setangkai bunga, berusahalah tuk menjadi bunga yang tercantik di luasnya kebun bunga, dan bila kau sepucuk semak, jadilah sepucuk semak yang tertinggi di padang semak belukar’.

Jadi, daripada berusaha tuk menjadi seorang dokter yang terbaik sedunia, misalnya, akan lebih baik jika berusaha tuk menjadi dokter yang terbaik di lingkungan rumah sakit lokal. Begitu pun dengan profesi lain, seperti guru yang ingin ahli dalam mengajar, polisi yang ingin ahli dalam memecahkan kasus, tukang yang ingin ahli dalam membangun konstruksi rumah, maupun blogger yang ingin ahli dalam blogging. Semua berawal dari lingkungan terdekat.

2) Persempit area keahlian
Ibaratnya, daripada mengetahui segala sesuatu tentang pembuatan kue, berusaha saja tuk membuat kue pancong yang paling enak. Ini cocok dengan apa yang saya alami. Eh, bukan, saya bukan pedagang kue pancong *hehe*.

Begini, sebagai seorang analisis banjir tentu membutuhkan sebuah perangkat lunak (software) tuk mempercepat perhitungan. Nah, di luar sana banyak sekali software-software semacam itu dan bagus-bagus pula. Ada Mike11, Sobek, HEC-RAS, hingga yang berbasis DOS. Saya pernah lho berusaha tuk menjadi ahli dalam menggunakan software pengendali banjir dengan cara mempelajari semuanya. Walhasil, yang ada saya jadi stres, karena tak mampu fokus, sampai akhirnya logika kembali mengambil alih peran ambisi. Kini, saya hanya menggunakan dan berusaha tuk menjadi ahli software HEC-RAS dengan terus mempelajari setiap kemungkinan analisis dan mengikuti perkembangan dari developer-nya.

Pun di dunia blogging, banyak blogger berpengalaman yang memberi tips agar kita fokus dan mempersempit niche topik blog. Tips yang bukan basa-basi, karena memang hanya dengan cara itu lambat-laun kita kan menjadi ahli di niche blog tertentu. Untuk menambah wawasan tentang fokus, simak salah satu tulisan Arief Maulana yang berjudul Mengubah Kelemahan Menjadi Kekuatan.

3) Menyederhanakan langkah dan metode
Hmm, mungkin ini mirip dengan apa yang diajarkan para tentor bimbingan belajar dalam menyelesaikan sebuah kasus matematika. Bila di sekolah diajarkan cara konvensional yang runtut, di kelas-kelas bimbel sebaliknya, mereka berusaha tuk menemukan cara-cara yang lebih singkat dengan hasil perhitungan yang sama akuratnya, tanpa melupakan kaidah dan logika matematis. Hasil sama, namun waktu pengerjaan lebih cepat.

Demikian halnya bagi blogger pemula yang ingin belajar WordPress dan peluang menghasilkan uang lewat blog, tentu bisa saja googling dan mencari ilmu dari berbagai sumber. Pilihan lain, ada sebuah wadah komunitas yang bernama cafebisnis yang menawarkan ebook, tools dan semua hal yang berhubungan dengan WordPress dan make money online. It’s your choice.

All right, dengan berusaha menjadi lebih baik daripada orang seprofesi di lingkungan terdekat, mempersempit area keahlian dan menyederhanakan langkah/metode adalah tiga tips yang bisa menjadi jalan pintas tuk menjadi ahli versi Leo Babauta.

Sekarang giliran Anda, percayakah dengan adanya jalan pintas tuk menjadi ahli di bidang tertentu, dan bagaimana pendapat Anda dengan tiga tips di atas?

Mangga.

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Perspektif and tagged , , , . Bookmark the permalink.

24 Responses to Adakah Jalan Pintas Tuk Menjadi Ahli?

  1. Rinaldy says:

    Menurutku yang ketiga itu lebih ampuh deh. 😀
    Biasanya aku pakai untuk pelajaran Matematika 😀

  2. sky says:

    i still believe that there is no shortcut to be an expert…

  3. Nando says:

    Blog saya isinya juga masih gado-gado, Gan. Blom bisa fokus ke satu topik. Hehehe…..
    Beginilah, kalo pikiran masih lompat sana-lompat sini. :)

  4. Dewifatma says:

    Kue pocongnya 5, Mas. Bungkus ya… 😀

    Aku suka bagian ini: ‘bila kau setangkai bunga, berusahalah tuk menjadi bunga yang tercantik di luasnya kebun bunga, dan bila kau sepucuk semak, jadilah sepucuk semak yang tertinggi di padang semak belukar’

    apakah daku ini setangkai bunga yang cantik ituh…?hiks..hiks..

  5. Grandchief says:

    Lagi mencoba untuk mempersempit area keahlian, semakin luas bidang yang di pelajari semakin susah untuk fokus.

    Kendalanya mungkin untuk konsisten fokusnya mas,hari ini bisa fokus eh besok lupa untuk fokus lagi.

  6. Asop says:

    …..wis pokoke ngeblog yo posting aja. 😀 *garuk-garuk kepala*

  7. Ami says:

    Kalo nonton di TransTV Sabtu malan pukul 10.30 kadang molor ada fenomena ada anak kecil menguasai sesuatu tanpa belajar. Ada yang jadi penyembuh, ada yang jadi psikolog, ada yang bisa melukis tanpa dilatih, menulis novel bahasa Inggris padahal tidak belajar.

    Ternyata beberapa blogger yang punya kemampuan seperti itu malah memanfaatkan untuk ngakalin orang lain. Blognya memikat tapi menyesatkan, kayak dipelet. Anehnya blogku banyak terinspirasi dari mereka-mereka ini dan aku balas dengan tulisan menurut Islam, sikap dan tulisan kurang pas. Resiko… dijauhi tentu saja. Tapi aku berharap menulis kebenaran sesuai Islam, udah gak gitu peduli ada yang komeng apa enggak.

    Ada yang belajar Islam fanatik kayak salafi, tapi tulisannya pake bahasa preman sarkasme. ada yang bilang bikin acara sosial, uang masuk ke pribadi. ada lagi yang tersesat di dunia maya, seakan jadi raja, banyak nulis soal mencari pahala dihormati banyak orang, ternyata di belakang pernah ngamuk ke aku waktu aku kritik, jangan membahas hubungan horizontal saja, hubungan vertikal perlu diingat.

    Bagi banyak orang, untuk jadi expert memang butuh kerja keras. Bagi orang tertentu, ngandalin keberuntungan, bisikan gaib, tapi beresiko syahadatnya batal. Itulah… tapi kalo telanjur punya bakat khusus, akhirnya perlu diimbangi dengan kecerdasan spiritual supaya tidak salah langkah

    • Darin says:

      Saya juga suka nonton acara itu Mi. Kalau ga salah judulnya ‘Indigo’ kan?

      Ya, kalau itu mah keahlian yang sudah berupa berkah sejak lahir, namun biasanya bersifat mental spiritual, seperti halnya bisa melihat dimensi lain (inter-dimensional). Tapi ada pula yang berusaha keras tuk mempelajari keahlian itu dan akhirnya bisa, seperti yang diajarkan di perguruan-perguruan bela diri tertentu.

      Contoh2 yang Ami kemukakan memang banyak terjadi. Dan memang perlu diimbangi dengan wawasan yang tepat agar tak salah arah dalam menggunakan keahliannya. Kalau ngga ya bisa merugikan orang lain dan diri sendiri.

  8. mau jadi ahli? sepuluh ribu duluuuu…
    bukan sepuluh ribu rupiah loh… tapi jam…
    waduhhhh…. 😀

    • Darin says:

      Yup, kata para ahli juga begitu mas. 10 ribu jam waktu yang dibutuhkan untuk ahli dalam satu bidang tertentu. Gila ya? 😀

  9. tomi says:

    2 metode yg disebutkan memang keliatannya udah sesuai mas…
    karena lebih baik menjadi terbaik yg kecil dulu.. jangan muluk2 😀

    • Darin says:

      Iya, kalau sudah merasa menjadi yg lebih baik baru boleh bermimpi yg muluk2. Begitu kira2 ya mas Tom? 😀

      Btw, thanks berat buat theme daily edition-nya ya 😀

  10. ada-akbar.com says:

    Keyakinan .. pasti berhasil juga penting.
    dan akan mempercepat kesuksesan. .

  11. Joko Sutarto says:

    Membaca judulnya “ADAKAH JALAN PINTAS TUK MENJADI AHLI?” Saya sempat salah tebak. Saya pikir jalan pintas itu seperti umumnya iklan internet marketing yang menyesatkan karena menjanjikan cepat kaya secara instan dengan ongkang-ongkang kaki di rumah tanpa perlu kerja keras. Ternyata saya salah tebak. 😀

    Membaca ini saya jadi menangkap inti pesannya adalah hampir sama seperti esensi Cara Goblok yang biasa saya anut. Jika semua bisa dikerjakan secara sederhana, ngapain harus dibikin pusing dan ruwet, betul? Standar tinggi boleh ditetapkan untuk goal setting tapi mungkin itu untuk tujuan jangka panjang. Tapi untuk jangka pendek dan tahap awal kalau terlalu tinggi menetapkan, sementara kemampuan belum memadai maka jadinya jalan di tempat atau malah bingung sendiri harus bagaimana.

    Artikel yang menarik, Mas. :)

    • Darin says:

      Hahaha, saya sudah menduga bakal banyak persepsi dari judul ini pak. Tapi tak apalah :)

      Ya, esensinya persis sama dengan artikel yang pernah Pak Joko tulis. Menyederhanakan sesuatu tapi dengan tujuan yang besar. Act locally, think globally :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *