Adaptasi Atau Mati

Prediksi yang dikemukakan oleh sang pendiri Intel, Gordon Moore, lewat salah satu teorinya yang masyhur, Moore’s Law, mengingatkan kita kembali pada pentingnya sifat adaptif atau adaptabilitas.

Teori yang awal mulanya menyatakan bahwa jumlah transistor pada sirkuit terpadu akan meningkat dua kali lipat setiap tahun sejak pertama kali ditemukan di tahun 1958, kini berkembang menjadi bahan referensi menarik bagi studi-studi yang berbasiskan trend. Sebagai contoh di dunia freelance. Apa yang dikemukakan Moore – dan yang kemudian secara luar biasa terbukti akurat – berimbas langsung pada bagaimana kita menyesuaikan diri terhadap kemajuan eksponensial teknologi.

Adaptasi di PekerjaanDulu, sebelum ada software pengolah gambar, semua gambar desain dibuat di atas kertas kalkir, rapido dan berbagai ukuran mal. Bertahun-tahun cara itu menjadi standar sehingga makin lama makin banyak orang mahir memakai teknik ini.

Namun apa nyana semua menjadi tak berharga saat kecepatan software bernama AutoCAD menyerbu di awal 90-an. Beruntung bagi yang mau bersusah payah belajar mempelajarinya, dan katakan sayonara bagi si pesimis yang berfikir bahwa komputer tak kan bisa menggantikan nilai seni dari sebuah gambar konstruksi. Sekarang coba lihat, apa masih ada yang mau bergelut dengan kotornya tinta di atas kertas kalkir?

Adaptabilitas, alias kemampuan beradaptasilah yang dapat berjalan harmonis dengan laju perkembangan dunia saat ini. Apalagi jika kita bekerja secara freelance, atau self-employment, dimana selalu up to date adalah tantangannya, maka siapa yang mampu cepat beradaptasi, dialah yang akan terus survive.

Saya punya sedikit pengalaman unik saat bekerja di Oksibil, Papua. Di camp kontraktor ada beberapa tenaga honorer, yaitu pemuda-pemuda yang diambil dari desa setempat. Beberapa diantaranya ada yang hanya bekerja di cakupan ‘apa yang dia bisa‘, namun ada satu orang diantara mereka yang memiliki fikiran ‘apa yang saya ingin bisa‘. Jadi satu orang itu – sebut saja John – selain bekerja seperti biasa, ia pun mencoba mencari tahu dan mendalami cara kerja alat berat berjenis excavator.

Di waktu-waktu senggang ia tak segan meminta izin pada operator tuk belajar cara mengoperasikan alat-alat itu. Dan beberapa minggu kemudian, sementara banyak dari rekannya masih berstatus tenaga honorer, bosan dan akhirnya memilih keluar, John sebaliknya, ia malah diangkat menjadi seorang asisten operator tanpa diminta.

Apakah John tahu bahwa jika ia mahir mengoperasikan excavator maka ia kelak akan diangkat menjadi seorang asisten operator? No. Ia hanya berfikiran bahwa mengerti cara kerja dan bisa mengoperasikan excavator mungkin dapat menjadi bekal penting baginya di kemudian hari. John berfikir jauh ke depan. Maka ia berusaha beradaptasi dengan memanfaatkan situasi yang ada semaksimal mungkin dan meningkatkan kapabilitasnya.

John hanyalah salah satu figur contoh yang mungkin dapat menginpirasi kita pada perihal pentingnya beradaptasi.

So, yuk terus beradaptasi! Atau… :)

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Opini and tagged , , , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Adaptasi Atau Mati

  1. sky says:

    sebetulnya teori itu sudah tidak relevan…

    krn cepatnya perkembangan teknologi justru membuat kita tidak perlu lagi banyak transistor utk satu sirkuit terpadu…

    justru diusahakan agar tidak perlu banyak transistor…krn bnk transistor berarti butuh banyak daya…

    tp krn sudah mendarah daging teorinya…jd tetap dipakai…utk bidang lain 😀

    • Darin says:

      Masukan yang mantep sky. Namun sesungguhnya, kita tak perlu susah2 mikirin berapa banyak transistor yang ada di sirkuit. Intinya adalah bagaimana agar kita selalu memiliki sifat adaptif.

      Tapi opininya boleh juga :)

  2. Rinaldy says:

    Ehmm… judulnya seram 😀
    Tetanggaku ada yang masuk jurusan arsitek…
    Dia bilang enak di kertas kalkir ketimbang komputer…
    Katanya sih, pengeluaran ekspresi yang ia tuangkan lebih banyak di kertas kalkir… 😀
    Nilai seninya pun lebih bagus katany 😀

    • Darin says:

      Naah, untuk jurusan arsitek yang lebih mengedepankan seni ketimbang detail teknik, kertas kalkir memang masih jadi andalan mas.

      Lain halnya dengan gambar teknik untuk konstruksi2 pada umumnya. Proses pembangunan pasti bakal lambat kalau pekerjaannya kudu nunggu gambarnya jadi di kertas kalkir. Lama mas :)

  3. Cahya says:

    Jujur saya masih suka pakai kertas kalkir, maklum, ndak bisa beli autoCAD karena harganya yang mahal.

    Kalau cuma sekadar sketsa kecil, kalkir adalah pilihan saya sejak SD :D.

  4. honeylizious says:

    saya juga mengalami apa yang john alami, saya belajar semua hal yang ada di radio, akhirnya saya bisa menjadi assisten dadakan untu banyak hal 😀

  5. dHaNy says:

    Bener mas dimanapun kita berada harus bisa beradaptasi… seorang komunikator handal adalah orang yang mampu menempatkan posisinya di posisi orang lain sehingga bisa menyesuaikan kepada siapapun dia berhadapan…
    Semoga saya termasuk orang yang seperti itu, dan mampu meningkatkan kapabilitas diri setiap saat…

    • Darin says:

      Tambahan yang sip mas Dhan. Analogi dengan seorang komunikator juga pas sekali. Dengan menempatkan posisi di posisi orang lain, kita akan dengan mudah beradaptasi, karena kita akan lebih memahami situasi dan kondisi yang sebenarnya.

      Amin mas Dhan :)

  6. Ami says:

    kemampuan berpikir orang beda-beda, makanya ada yang muter2 dengan satu hal sulit untuk melompat menjadi lebih baik.

    tapi ada satu hal yang unik. ada cerita seorang satpam yang sangat jujur, dipecat karena ada barang hilang. dari pesangon dia mendirikan usaha, akhirnya mendapat penghasilan berlipat dibanding kerja saat jadi satpam.

    ada hal yang kita tidak bisa terus menerus menggunakan logika. bekerja sepenuh hati akan sesuatu hal tertentu pasti lebih baik dibanding bekerja banyak hal tapi gak selesai semua. dan mengerjakan satu hal fokus dan sungguh-sungguh menurutku juga adaptasi

  7. Kaget says:

    Seperti itu pula diriku, yang dulu tak menggubris apa yang terjadi di dunia media, termasuk diantaranya blogging. ya, memang bagi yang tak terbiasa dengan sebuah ‘kebiasaan’ akan mengalami setruman hebat.

    Tapi, itulah adaptasi, dimana seseorang sudah terbiasa maka nentinya juga membutuhkan apa yang tak mampu dicari.

    • Darin says:

      Kalau orang Jawa bilang ‘witing tresno jalaran seko kulino’. Sebuah kebiasaan yang terus dipupuk akhirnya menjadi sebuah kebiasaan baru yang susah untuk dilepaskan.

      Sip mas :)

  8. baju wanita says:

    thanx infonya…sukses ya

  9. Pingback: Motivasi Ngeblog Untuk Menjadi Full-Time Blogger | Darinholic dot Com

  10. Salam sukses dari saya mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *