Andai Van Kleef Ikut Kongres PSSI

Gerben Van Kleef mungkin hanya bisa terperangah jika beliau turut serta duduk di Kongres PSSI kemarin. Bagaimana tidak? Profesor bidang psikologi University of Amsterdam yang pernah mempublikasikan penelitian sebuah studi tentang teori kekuasaan ini bakal mendapat sampel yang menarik untuk studinya tersebut.

People with power have a very different experience of the world than people without it. The powerful have fewer rules to follow, and they live in environments of money, knowledge and support.

Orang yang ‘merasa’ berkuasa akan cenderung melanggar aturan. Inilah yang menjadi faktor x sekaligus membiaskan opini publik, mana sih yang sebetulnya berada di pihak yang benar? Coba lihat bagaimana golongan orang yang selalu patuh dan tunduk pada peraturan, adakah yang spesial? Nope. They are invisible. Karena memang begitulah seharusnya. Normal. Sedang untuk si ‘pelanggar aturan’ yang ‘merasa’ berkuasa?

When people have power, they act the part. Powerful people smile less, interrupt others, and speak in a louder voice. When people do not respect the basic rules of social behavior, they lead others to believe that they have power.

Jelas, kan? Mereka akan berusaha terlihat ‘benar-benar’ memiliki kekuasaan. Interupsi membabi buta, tak kenal kompromi, tak mau tahu konsekuensi meski menyangkut harkat martabat orang banyak, dan bahayanya, mereka akan sekuat tenaga mengajak semua yang hadir tuk ikut di barisan mereka. Mirip Bush, if you’re not stand with us, you against us.

Kisruh Kongres PSSI

Dan golongan ‘si patuh’ pun akhirnya dibebani dilema. Berhubung merasa sudah di track dan jalur yang sesuai aturan, mereka terlanjur dicap tak memiliki nyali, apalagi power. Di sinilah skenario dari kesimpulan studi Van Kleef mendekati kenyataan…

The rule follower was polite and acted normally, while the rule breaker arrived late, threw down his bag on a table and put up his feet. After the interaction, people thought the rule breaker had more power and was more likely to “get others to do what he wants.”

Nah, lalu siapakah nanti yang akan menang? ‘Si patuh’ atau ‘si pelanggar aturan’?

Van Kleef paling cuma bisa nyengir.

image source: talariaenterprises.com

Share Button
This entry was posted in Perspektif and tagged , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

24 Comments

  1. Posted 23/05/2011 at 14:42 | Permalink

    Yang menang suporter kang Darin, coba lihat saja….

    • Posted 23/05/2011 at 15:26 | Permalink

      ujung-ujungnya paling gitu, mass power bergerak 🙁

  2. Posted 23/05/2011 at 14:52 | Permalink

    Orang yg merasa memegang kendali kekuasaan (merasa berkuasa) akan cenderung melanggar aturan. Iya Mas Darin, saya sering menemui contoh kasus seperti itu..

  3. Alwi
    Posted 23/05/2011 at 16:57 | Permalink

    Geregetan dan geregetan, sebagai rakyat yg maniak bola hanya bisa mengumpat dan mungkin akan saya jotos, tendang, timpuk para pengacau dan para oportunis para penggila jabatan dan kekuasaan ….. de el el .. de el el ..

    Jadi inget perkataan Gus Dur dulu yg mengatakan DPR seperti anak TK, la ini bukan lagi anak TK, Play Group aja gak tamat kali … mengorbankan kepentingan rakyat bangsa dan negara demi hawa nafsunya, kroni2nya, persekongkolannya, kelompoknya de el el .. de el el ..

    Dah sangat letih dan capek rakyat ini dg kejadian2 model beginian, MUAK AKU DIBUATNYA …..

    • Alwi
      Posted 23/05/2011 at 17:02 | Permalink

      Pertanyaannya Sampai kapaaaannnnn …. ????
      ada target dari pengurus PSSI katanya Tahun 2022 Indonesia tuan rumah PD haaaahhhh … mimpi di siang bolong, milih ketua umum PSSI aja smrawut, mau jadi tuan rumah SEA Games aja kisruh uangnya dikemplang … au akh pusing aku dibuatnya heeee ….. hheee …

    • Posted 23/05/2011 at 20:08 | Permalink

      Begitulah mas, tapi waduh kok main jotos2an? Kalo gitu ya sama aja dunk nanti kelakuannya kaya mereka, hahaha 😀

      Yup, saya jg sempit kefikiran Gus Dur. Dulu saya belum ngeh maksud beliau apa, nggak taunya ooh ya begini ini. Dah tua2, berpendidikan, punya jabatan, tapi kalau disuruh tertib dan bermusyawarah kelakuannya bener yang mas Alwi bilang, playgroup aja kagak tamat.. cape deeh

      Sama mas, saya nulis ini juga masih eneg, gak napsu makan 🙁

  4. Posted 23/05/2011 at 20:23 | Permalink

    yang hadir di kongres PSSI kemarin seperti sekumpulan orang yang ngga pernah berorganisasi. Mereka berkatan bahwa mereka sudah puluhan tahun mengurus sepakbola, pantas saja sepakbola di Indonesia ngga bisa berprestasi karena diurus oleh orang-orang yang hanya mengandalkan otot bukan otak…
    Jika Indonesia sampai kena hukum oleh FIFA maka ada baiknya juga nama-nama yang katanya di tim 78 dipublikasikan ke publik, biar orang-orang bisa tahu siapa saja penyebab Indonesia kena hukum

    • Posted 23/05/2011 at 20:46 | Permalink

      Wuih, jadi DPO nanti dunk bro? 😀
      Setujuw!

      • Posted 23/05/2011 at 20:52 | Permalink

        Kalau berani berbuat harus berani juga bertanggung jawab. Tapi yang harus bertanggung jawab bukan hanya mereka namun orang-orang yang duduk di Komite Normalisasi juga harus turut bertanggung jawab soalnya mereka tidak mampu menjalankan tugas… But menurut saya tanggung jawab terbesar tetap di kelompok 78 jika sampai Indonesia di hukum FIFA…

        • Posted 23/05/2011 at 21:01 | Permalink

          Saya tadi sore baru liat berita bro, saya baru tau kalau sebenarnya komite normalisasi itu bukanlah PSSI, mereka adalah utusan pemerintah yang diberi emban untuk membawa aturan2 FIFA. Mengadakan kongres, memilih ketua umum dll.

          Sayangnya sampai sekarang entah kenapa FIFA gak menjelaskan mengapa GT tak boleh ikut bursa calon, ini yg membat kelompok playgroup itu rewel, minta permen rasa coklat.. padahal yang ada rasa terasi *doh* 😀

          • Posted 23/05/2011 at 21:17 | Permalink

            Memang itu juga menjadi kendala kenapa FIFA melarang GT ikut pmilihan. Kalau AP yang dilarang sih saya kira bisa dimengerti mungkin karena beliau membuat liga yang ngga direstui oleh FIFA. Tapi kan kalau GT ngga ada alasan jelas dari FIFA…
            Tapi kita ngg bisa memaksakan kehendak soalnya sekarang posisi kita lagi sulit… Lihat saja sekarang kalau kelompok 78 masih berani muncul di media??? Tipikal jelek orang Indonesia yang sulit dihilangkan,,, hanya berani berbuat ngga berani bertanggung jawab

  5. catatan hery
    Posted 23/05/2011 at 20:44 | Permalink

    Jelas saja orang berkuasa bisa bebas melanggar aturan, kan yang bikin peraturan mereka. Dan peraturan itu memang dikondisikan supaya ‘orang2 taat’ tetap taat.

    Yang salah sebenarnya ‘orang2 taat’ yang mengikuti peraturan tanpa tanya kenapa peraturan itu dibuat.

    • Posted 23/05/2011 at 20:57 | Permalink

      Rules was made to break, saya jadi ingat kata2 itu lagi bang.
      Nah ini, jadi makin bingung kan mana yg bener? ‘yang taat’ tanpa tau tujuan peraturan, atau ‘si pelanggar’ yang sok tau tujuan peraturan? 😀

      Ampun dewa!

  6. Posted 24/05/2011 at 01:49 | Permalink

    Yang menang FIFA, dia punya hak juga untuk bann pssi kita tercinta itu.. bisa jadi SEA games cuma jadi penonton orang lain dalam kandang sendiri.. Kasihan para pemain bola yang menggantungkan hidupnya di lapangan, begitu juga para pecinta bola…

    • Posted 24/05/2011 at 12:51 | Permalink

      Saya jadi terenyuh dengan mas Dharmawan pelatih PSSI U-23 yang sampai menangis saat tahu hasil kongres seperti itu. Karena memang beliau tau apa efeknya nanti bila PSSI sampai kena ban FIFA.
      Ternyata kita memang gak pernah dewasa bila berorganisasi.. 🙁

  7. Aim
    Posted 24/05/2011 at 02:16 | Permalink

    Masih “asik” aja ngebahas cerita tentang PSSI ini. Di masa depan nanti mungkin bisa jadi legenda untuk anak cucu kita. Sebuah cerita yang tak pantas ditiru. Kericuhan kok dimotori sama orang-orang yang katanya udah berpengalaman itu. Mbok ya pada rembug dengan kepala “dingin”.
    Tentunya akan sayang pendidikan yang udah mereka ikuti sejak kecil kalau untuk protes saja dilakukan dengan tidak santun. Sayang sekali jika orang-orang yang hobi ribut itu nggak juga bisa ngambil pelajaran dari yang udah terjadi. Mau sampai kapan legenda ini berlanjut? Apa mau ngikutin sinetron Tersanjung hingga sesi 6 itu? 😆
    Saya bisanya hanya geleng-geleng kepala ngeliat tingkah polah “anak-anak TK” itu.

    • Posted 24/05/2011 at 12:56 | Permalink

      Mau rembug dgn kepala dingin, seperti jauh ya Kim (eh kok jadi Aim?) 😀
      Ya kita tunggu saja episode kelanjutan dari War of Self-Destruction ini, semoga gak kayak sinetron Tersanjung atau Cinta Fitri yang seperti tiada akhir.

      • Aim
        Posted 26/05/2011 at 00:55 | Permalink

        Itu namaku di dunia nyata kang.. Hehehe..

        Dengan segala fenomena yang ada di negara kita, aku sampai bingung sebelah mana dulu yang mesti dibenahi. Tampaknya terlalu banyak aspek kehidupan yang carut marut nggak karuan, termasuk mental-mental pimpinan organisasi sepakbola itu.

        • Posted 26/05/2011 at 17:45 | Permalink

          Iya, sama. paling sumpah serapahnya ya ke timeline twitter. ya nggak mas? haha 😀

  8. Posted 24/05/2011 at 06:55 | Permalink

    Ah, siapa pun yang menang, yang penting rakyat kecil diuntungkan 😀 #lha

  9. hany nizah
    Posted 24/05/2011 at 06:53 | Permalink

    menyimak mas,,,hehehe,,.trnyata bnyak orang yg mw brfkir kritis,,.hem………, salam kenal dari hany 🙂

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
*