Bagaimana Semestinya Hidup di Negeri Rawan Gempa?

Gempa besar di Lombok dan kemudian menyusul di Palu beberapa hari yang lalu seakan kembali menandaskan pentingnya kesadaran mengantisipasi bencana – terutama gempa – yang dipastikan bakal rutin terjadi. Ya, mengingat Indonesia berada pada zona pertemuan lempeng-lempeng tektonik dunia (Eurasia, Indo-Australia, Filipina dan Pasifik) yang saling menumbuk secara kontinyu, gempa semestinya merupakan fenomena alamiah yang memang sudah terkodrat dari sononya, seperti halnya hujan dan kemarau.

Lempeng Tektonik di Indonesia
(Sumber: Buku Peta Gempa Indonesia, PusGeN, 2017)

Sejarah pun mencatat, sejak tahun 1976 hingga 2016, Indonesia dihujani ribuan gempa ber-magnitudo lebih dari 5 skala Richter dengan kedalaman hiposenter yang bervariasi.

Sejarah Sebaran Gempa Indonesia
(Sumber: Data Katalog USGS)

Berbekal fakta dan data di atas lalu bagaimana menyikapinya? Apa harus nrimo begitu saja? Tentu saja iya, namun sebagai manusia yang dianugrahi akal, banyak hal yang bisa kita lakukan tuk menghadapi keniscayaan gempa, antara lain yaitu:

Pertama, bersyukur.

Agama mengajarkan, dibalik kesusahan ada banyak kemudahan, dan apapun yang berlaku di muka bumi ini semua terjadi atas izin-Nya. Kita semua menyadari dan sebisa mungkin dapat mengambil hikmahnya. Dan jika berbicara hikmah, ternyata dibalik kerusakan yang ditimbulkan, gempa pun memiliki manfaat yang tak main-main.

Seperti yang dipaparkan oleh Hugh Ross, seorang astrofisikawan asal Kanada yang menyatakan bahwa mineral di atas permukaan bumi akan mengalami kekurangan jika tak didaur ulang. Dan dengan adanya gempa, siklus pembaruan mineral pun terjadi, dimana mineral-mineral baru akan terangkat menggusur stok yang sudah usang.

Proses ini sangat penting bagi kelangsungan ekosistem di bumi. Jika tak ada gempa, bisa dibayangkan kerusakan yang lebih parah akan menimpa umat manusia. Tak ada lahan subur dari erupsi gunung berapi yang terbentuk dari gempa, tak ada suplai oksigen dan penyerap karbondioksida baru dari aneka flora yang lahir akibat gempa, dan yang terpenting; persediaan energi fosil akan terjaga karena tereksposnya struktur bumi yang terkubur.

Baca Juga:  Kenyataan Itu Pasti, Kebahagiaan Itu Pilihan

Dan sebagai bagian dari penduduk kepulauan terbesar di dunia, kita jadi makin mengerti toh, mengapa negeri ini bisa begitu indah, subur dan kaya sumber daya mineral? Jadi, banyak-banyaklah bersyukur.

Kedua, belajar.

Tulisan-tulisan dari Thales, Anaximenes, dan Arisoteles yang menyinggung spekulasi awal mengenai penyebab adanya aktivitas gempa sudah bermula sejak berabad-abad lalu. Kesadaran ini pun menjadi pemicu penelitian-penelitian selanjutnya. Dimulai dari Zhang Heng, seorang berpengaruh asal Tiongkok di zaman dinasti Han yang menciptakan piranti pendeteksi gempa (seismograph) pertama di tahun 132, hingga kemudian melahirkan cabang ilmu yang secara spesifik mempelajari gempa, yang sekarang kita kenal bernama seismology.

Kini perkembangan studi mengenai gempa bumi sudah sedemikian modern. Aplikasinya pun sudah sangat mumpuni. Seperti yang telah dilakukan oleh Japan Meteorological Agency (JMA), gempa dapat diantisipasi lebih awal dengan teknologi Earthquake Early Warning (EEW).

Teknologi Gempa Jepang

Didukung oleh infrastruktur dan sistem komunikasi yang efisien, sistem ini mampu mendeteksi terjadinya gempa lebih awal dan mendistribusikan informasi itu lebih cepat ke khalayak, sehingga dampaknya dapat ditekan seminimal mungkin.

Negara-negara lain, seperti Meksiko, Rumania, Kanada dan Amerika pun tak ketinggalan mengembangkan sistem peringatan dini gempa. Bagaimana dengan Indonesia?

Di tahun 2007, pemerintah telah mengeluarkan UU No. 24 tentang Penanggulangan Bencana dan membentuk Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN). Landasan hukum ini akhirnya melecut BMKG untuk meluncurkan tiga sistem sekaligus, yaitu Indonesia Tsunami Early Warning System (INATEWS) 4.0 untuk mendukung keselamatan dari ancaman gempa bumi dan tsunami, Geohotspot BMKG 4.0, untuk monitoring peringatan dini kebakaran hutan dan lahan yang sekaligus dapat memantau potensi sebaran kabut asap. Dan Info BMKG 4.0, yang memberikan layanan informasi cuaca dan iklim secara lebih presisi dan akurat.

Baca Juga:  Gaya Belajar Mandiri Di Tengah Serbuan Sarimin Dan Lumba-Lumba

Tentu saja, sistem ini tak akan berjalan dengan baik jika koordinasi antar instansi dan kesadaran masyarakatnya kurang. Masih ingat kan bagaimana kesalnya kita saat tahu banyak alat pendeteksi bencana hilang? Ya, mungkin tak hanya melulu soal infrastruktur, kita pun harus dengan tak jemu-jemu mengedukasi, agar sumber daya manusia di negeri ini lebih sadar akan dampak bencana.

Di samping sistem, adanya potensi bencana mengajarkan kita untuk lebih memperhatikan fleksibilitas pada struktur bangunan dalam menerima guncangan gempa, baik untuk hunian maupun bangunan secara umum. Dari mulai kondisi lahan, pembuatan pondasi, tinggi bangunan, tingkat simetri, desain struktur, kualitas bahan konstruksi, proses pembangunan hingga pemeliharaannya. Seperti yang tergambar pada standar minimum bangunan tahan gempa berikut:

Standar Bangunan Tahan Gempa

Ketiga, aksi.

Terjadinya gempa bumi tak bisa kita hindari, tapi apa yang kita lakukan, kita lah yang menentukan. Setelah bersyukur dan mempelajari hal ihwal gempa, bagaimana jika bencana gempa terjadi?

Mengikuti prosedur mitigasi bencana tentunya, yaitu: jangan panik; menghindar dari bangunan, pohon, tiang listrik dan apapun yang kemungkinan menimpa; jika berada dalam gedung, berusahalah untuk keluar dan di fasilitas titik kumpul; kalau tidak memungkinkan, berlindung di bawah meja, tempat tidur, atau pojok ruangan. Jika sedang berkendara, matikan dan turun dari kendaraan. Bila sedang berada di pantai, segera menjauhi pantai tersebut, sedang yang berada di daerah pegunungan, perhatikan sekitar apakah ada kemungkinan longsor.

Setelah gempa usai, aksi berikutnya yaitu memberi pertolongan pertama pada yang membutuhkan, hindari bangunan yang berpotensi roboh, dan mengidentifikasi kerusakan fasilitas seperti jaringan listrik dan gas untuk mewaspadai terjadinya kebakaran.

Yah, begitulah resiko hidup di negeri rawan gempa.

Baca Juga:  Kagum Dengan Kuantum

Bagaimanapun, itu semua tergantung dari sikap kita. Bencana boleh datang silih berganti, namun solidaritas, empati, dan rasa nasionalisme jangan sampai terkikis. Seperti halnya Jepang atau negara lain yang lebih maju, kita selayaknya harus memiliki keyakinan besar bahwa kita pun mampu bangkit dari berbagai cobaan.

Mari perbanyak doa dan usaha, tanpa sedikit-sedikit menyangkutpautkan dengan azab atau ilmu cocoklogi.

Apalagi nyebar hoaks.

Just my two cents, for a stronger Indonesia.

Blogger yang sedang nge-freelance di ujung timur Indonesia. Suka nulis, baca buku, musik dan nggambar. Contact | Subscribe RSS Feed or Email

2 comments On Bagaimana Semestinya Hidup di Negeri Rawan Gempa?

  • Ada banyak kejadian gempa yang saya alami dari kecil hingga dewasa kini. Guncangannnya tetap saja mengejutkan, terlepas bagaimana skala magnitudo-nya. Cemas, takut, khawatir, dan beragam rasa lainnya campur aduk, namun pada akhirnya hanya bisa pasrah.
    Saran di atas soal cara menyikapi gempa itu bagus. Tenang adalah hal utama, panik akan bikin celaka. Semoga saja jika kita alami gempa yang magnitudo-nya sangat besar bisa tenang dan tidak panik grasa-grusu. Aamiin.
    Soal sebar hoakx, yah, nyebelin juga karena mestinya kecanggihan teknologi bisa menambah pemahaman dan kepekaan pada sesama agar bisa berempati bukan sebaliknya.

    • Betul mbak. Saya jg sering ngalamin gempa2 kecil (lindu, kalau org jawa bilang). Respon pertama ya langsung waspada, kalau makin kuat siap2 lari keluar.
      Ya, sebel jg kalau pas ada gempa malah nyebar2 hoaks, gunanya apa coba 🙁
      Yg parah lagi menghubungkan bencana dgn politik, hadeeeeh

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer