Balada Si Darin Versus The Creator of Roy (1)

Saat mentari sudah seluruhnya jatuh hingga hanya menyisakan semburat jingga di ufuk Barat, diselingi lamat-lamat gempitanya pemberitaan Timnas yang akan mengadu olah bola di Final Piala AFF kontra negeri jiran, saya bergerak. Cukup lama ngendon di mess membuat badan ini penat, hingga rekan kerja sempat berkomentar kalau wajah saya bertambah pucat. Benar juga, kapan terakhir saya keluar? Oh my. Dan momen senja itu saya takdirkan tuk escape from basecamp. Destination? Toko buku!

Gramedia Kupang tak seberapa jauh dari mess, mungkin hanya sesebatangan rokok (#luparesolusi2011!). Itu pun tak berasa, mengingat dentuman musik dugem khas angkutan umum di kota ini mengalir deras di sepanjang perjalanan. Jadi ingat, warning untuk yang merasa newbie di Kupang: jangan naik angkot sehabis makan. Mules, men *huhu*

Sampai di sana, tumben sekali, sepi dan lega. Dan saya nyengir sendiri saat tahu alasannya; “Lagi pada nonton bola, bos” begitu kata si pramuniaga. Haha, betapa tidak nasionalisnya saya. Ok, maaf Timnas, anda sudah didukung puluhan ribu supporter di GBK dan ratusan juta rakyat Indonesia yang bersedia muncrat-muncrat di depan tivi. Saya kira itu sudah lebih dari cukup sebagai pelecut semangat, so izinkan saya tuk menginfus otak dengan buku-buku, deal? 🙂

Berhubung masih haus dengan dunia kepenulisan, saya langsung naik ke lantai paling atas, lantai tiga, dimana sudah menunggu novel-novel, dan buku-buku yang sekiranya mantap tuk dijadikan bahan bacaan. Disana ternyata lebih suwung dari lantai dasar. Hanya ada segelintir manusia saja yang mungkin senasib dengan saya, luntang-lantung mencari pelarian lewat buku. But whatever, ini malah lebih asyik ketimbang di hari-hari biasa yang harus saling senggol saat menyusuri rak-rak buku. Ah, lega!

Waktu saya tidak banyak, jadi terpaksa harus mengeluarkan jurus ala pembaca kalap: mencari buku yang sebagus mungkin dengan waktu yang seminim mungkin. Dan kebiasaan lama pun kambuh, yaitu langsung mencari buku-buku yang cover-nya ngejreng! Asumsi saya, buku jenis itu biasanya sehati. Penulisnya pasti berjiwa muda, isinya nggak ribet, dan langsung to the point tanpa harus membawa otak saya yang nyaris expired ini ngalor ngidul.

Ehm, saya ngga menyarankan lho kalau para desainer buku membuat cover-cover yang ngejreng. Saya ngga sampai hati bila nantinya semua rak buku ini terlihat begitu menyilaukan *haha*

Rak demi rak dilalui, buku demi buku mengundang hasrat tuk dibeli, dan akhirnya, mata saya tertumbuk pada sebuah buku ber-cover meriah namun agak jadul yang bertitelkan Ledakkan Idemu Agar Kepalamu Nggak Meledak. Heh? Saya yang baru kemarin sore dibom kawan-kawan blogger tuk segera bikin blog pribadi di domain dan hosting berbayar, langsung sensitif. Ledak meledak, what the hell, kenapa hari-hari saya jadi banyak ledakan?

Ah, mungkin ini yang namanya jodoh. Saya embat saja buku tentang ledak meledak ini. Biar lah, gosong ya gosong sekalian *haha*

Percaya atau tidak, saya malah baru tahu kalau penulisnya adalah Gol A Gong saat transaksi di meja kasir. Ya, Gol A Gong, seorang antik si pencipta karakter Si Roy lewat novel fenomenal Balada Si Roy yang ngetop di awal 90-an itu. Hah? Nggak tau? Wah, berarti saya yang lahirnya kecepetan dong dari kalian. Hmm, entahlah, saya harus senang atau sedih ya? -_-‘

Singkat kata, buku sukses saya boyong ke mess, dan agar sobat ngga cepet kena silindris gara-gara baca postingan terlalu lama, tunggu saja review saya tentang buku ini di postingan selanjutnya, oke?

Happy blogging, sobat! 🙂

Share Button
This entry was posted in Buku, Jurnal and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

43 Comments

  1. Posted 30/12/2010 at 17:53 | Permalink

    saya juga baru kemarin tahunya dari percakapan di twitter dengan om Darin perkara Gol A Gong yang difabel itu 🙂

    • Posted 31/12/2010 at 00:27 | Permalink

      nah, kesempatan. Saya akan mengulasnya disini bro 🙂

  2. Posted 30/12/2010 at 18:47 | Permalink

    alhamdulillah saya dapat buku itu sebelum beredar di pasaran. langsung di kediaman beliau. bahkan dapet tanda tangan plus wejangan singkat dari beliau yang ditulis di buku itu dengan menuliskan nama andi sakab agar dan tulisan tangan “menulis 2 jam dalam sehari”. mungkin wejangan itu yang membuat saya sampai sekarang masih semangat menulis. 🙂

    • Posted 30/12/2010 at 20:08 | Permalink

      wow, jangan2 rumah kang Andi satu RT ya sama beliau? 😀
      Jadi pengen juga nengok Rumah Dunia-nya.

      • Posted 30/12/2010 at 20:39 | Permalink

        bukan. waktu itu ada kunjungan ke sana dengan komunitas blogger, kang.

        • Posted 31/12/2010 at 00:28 | Permalink

          asyiknya. Kapan2 saya boleh gabung ya Kang 🙂

  3. blogger admin
    Posted 30/12/2010 at 17:52 | Permalink

    Di tunggu mas Darin reviewnya.

    • Posted 31/12/2010 at 00:27 | Permalink

      ok Bang Hendro. Oya, terima kasih atas award-nya, semoga tali silaturahmi kita tetap terjaga ya 🙂

  4. Posted 30/12/2010 at 19:37 | Permalink

    wah saya jauh dr dunia buku mas..
    tapi lumayan dekat dengan dunia e-book..
    jadi gak tau deh..
    :p

  5. Posted 30/12/2010 at 20:31 | Permalink

    saya pingin juga seperti bapak selalu mencari buku baru tapi ada daya waktu belum ada dan penjual buku didaerah uga nggak ada wih miris banget

    • Posted 31/12/2010 at 00:29 | Permalink

      Lewat majalah dan koran pun bisa Pak. Inspirasi menulis saya kira di zaman ini sudah banyak, terlalu banyak malah 😀 Buku hanya salah satu medianya saja.

  6. Posted 30/12/2010 at 20:34 | Permalink

    “Ledakkan Idemu Agar Kepalamu Nggak Meledak”
    judulnya menarik mudah2an isinya juga menarik 🙂

    btw,,
    salam kenal 😀

    • Posted 31/12/2010 at 00:29 | Permalink

      Sangat menarik! Guaranteed! #eh kayak iklan 😀

  7. pakde sulas
    Posted 30/12/2010 at 20:11 | Permalink

    pasti pakde tunggu review bukunya
    karena sekarang ini pakde terserang penyakit kantukholic, maksudnya kalau baca buku baru beberapa lembar saja , tiba-tiba saja rasa kantuk langsung datang

    • Posted 30/12/2010 at 21:02 | Permalink

      baca bukunya jangan tengah malem pakde, ya ngantuk dong hehe 🙂

  8. Posted 30/12/2010 at 21:15 | Permalink

    wah, ada buku ledak meledak toh.

    • Posted 31/12/2010 at 00:30 | Permalink

      iya mbak, tapi bukan bukunya teroris lho 🙂

  9. Posted 30/12/2010 at 21:44 | Permalink

    Saya dekat dengan toko buku tapi sayanya yang masih malas baca buku Mas…

    • Posted 31/12/2010 at 00:31 | Permalink

      kalau baca blog, demen sekali ya pak? hahaha, sama kalo gitu 😀

  10. Posted 30/12/2010 at 22:05 | Permalink

    Saya kira ke Grame cuma sekedar baca-baca dan ngga bakalan beli 🙂
    Btw besok review sedikit bukunya ya bro…

    • Posted 31/12/2010 at 00:31 | Permalink

      Saya juga seringnya gitu bro. Cuma sesekali saja beli, kalau lagi ada rejeki 🙂

  11. Posted 30/12/2010 at 22:17 | Permalink

    Mungkin itu desainernya yang beraliran minimalis Mas :).

    Saya juga kemarin melihat tumben jalanan Jogja sepi, dan tumben semua orang di warung kecil hingga rumah makan mewah sibuk menatap layar televisi, benar-benar efek yang hebat.

    • Posted 31/12/2010 at 00:32 | Permalink

      Sepertinya bli 😀

      Iya, euforia Timnas benar2 telah membius semua kalangan. Nggak restoran, nggak warung kopi, semua menatap tajam televisi. Salut!

  12. Posted 30/12/2010 at 22:53 | Permalink

    Senang sekali dapat kesempatan mengikuti buku-buku yang baru saja terbit. Terkadang diri saya telat untuk mengikutinya dikarenakan kesibukan.

    Dengan mengatasi permasalahan yang kecil; maka, kita dapat mengatasi pernmasalahan yang besar.

    Segenap Keluarga Besar “Ejawantah’s Blog” Management
    Mengucapkan
    SELAMAT TAHUN BARU 2011

    • Posted 31/12/2010 at 00:33 | Permalink

      Sama2. Semoga di tahun baru nanti kita semua lebih sukses dari sekarang. Amin! 🙂

  13. Posted 30/12/2010 at 22:55 | Permalink

    ditunggu bang darin hahaha. oh ya, tips buat enggak makan boleh juga haha. Mumpung aku belum pernah kesana bang hehehe

    • Posted 31/12/2010 at 00:43 | Permalink

      mampir sini, kita bakar rumah, eh, ikan bareng! 😀

  14. Posted 30/12/2010 at 23:14 | Permalink

    kalau dah hobi baca gitu ya kayak orang kehausan 🙂 kalau aku dah jarang berselancar ke toko buku, paling banter sebulan sekali pas beli komik conan n buku aplikasi hehe

    • Posted 31/12/2010 at 00:35 | Permalink

      Wah, seneng conan juga? Dulu saya fanatik berat komik. Entah kenapa sekarang agak berkurang. Pengaruh umur kali ya? hehe

  15. Posted 30/12/2010 at 23:58 | Permalink

    ditunggu reviewnya mas.. 🙂

  16. Posted 31/12/2010 at 00:13 | Permalink

    Saya malah akhir-akhir ini minat baca saya sedikit menurun, Mas Darin. Saya masih punya beberapa buku yang sudah kubeli tapi belum sempat kubaca bahkan plastiknya aja belum kubuka. Ada 4 buku malah. :))

    Siang tadi saya juga waktu istirahat mampir ke Gramedia Malioboro. Ada buku sastra yang menarik juga dan hampir kubeli. Akhirnya saya urungkan dulu karena masih punya PR harus menyelesaikan banyak bacaan tadi. Ditunggu review bukunya, Mas Darin. Lumayan saya tak perlu beli dan baca sendiri karena tinggal baca sarinya dari Mas Darin nanti. He He He. 😀

    • Posted 31/12/2010 at 00:38 | Permalink

      Hehehe, andaikan kita bisa beli buku sekalian beli waktu untuk membacanya ya pak? 😀

      Saya pun sering begitu. Maunya beli banyak buku. Tapi difikir-fikir, apa ada waktu untuk membacanya? Jadinya ya cuma ngintip lembar demi lembar saja. Itu pun kalau nggak keburu disamperin pramuniaga-nya 😀

  17. Posted 31/12/2010 at 00:22 | Permalink

    Saya nggak tahu…tapi pernah denger sekali, dua kali dan ini ketiga kali, heeee

    Boleh dunk dipinjemin…saya lagi banyak buku di sini tapi blm sempat baca, heeeee
    sampai malu amayang ngasih saat ke kost dan di tanya “Hani bukunya udah selesai dibaca tuh?” saat tahu tergeletak di kasur deket bantal…masih dibaca beberapa halaman…waktu lebih banyak di depan laptop….ngapain????nggak tahu!Nggak jelas, hehehe

    • Posted 31/12/2010 at 00:40 | Permalink

      Yaah, kenapa cuma dianggurin? Baca saja dulu fast reading. Kalau belum ketemu feel-nya ya sudah, tinggalin aja. Buku itu seperti cemilan. Kadang sudah ngecap di lidah dan dilupakan, kadang pula masih nempel terus kayak sariawan haha.. analogi yang aneh ya 😀

  18. Posted 31/12/2010 at 00:25 | Permalink

    Saya kok penasaran sekali dengan judulnya Ledakkan Idemu Agar Kepalamu Nggak Meledak
    Jadi penasaran ingin membacanya?…he..he..he….. 😛

    • Posted 31/12/2010 at 00:42 | Permalink

      Asyik Bang Rud. Lebih jelasnya ya ikuti saja review saya. Mudah2an bermanfaat 🙂

  19. fatimah azzahra
    Posted 31/12/2010 at 08:10 | Permalink

    komenin soal cover buku..kayanya saya pernah denger kalo “buatlah cover yg menarik agar orang tertarik utk mengambil..membuka..lalu membeli..” haha….karna kesan pertama memang d lihat dr covernya…*nymbung ga sih..whatever lah….hehe 😀
    tapi sy br denger kalo ada novel dgn judul begitu *kayanya ada sejak zaman mama-papa sy remaja…. 😀
    dan br denger kalo ada judul buku yg “meledak-ledak” itu tadi….kapan-kapan boleh pinjem dong mas darin…….”lebih enk meminjam dr pada membeli” (motto anak kosan) 😛

    • Posted 31/12/2010 at 10:11 | Permalink

      Hehe, masalah cover itu ada benarnya juga 😀
      Novel itu sudah ada sejak mama papa kamu remaja? Jadi? 0_0 haha
      Ok, kalau saya sudah bosan membacanya ya? 🙂

      • fatimah azzahra
        Posted 01/01/2011 at 01:54 | Permalink

        haha…yaa sy gtw pastinya yaaa…d lihat dr judulnya kayanya jadul gt..hee 😀
        tapi tenang…kita msh d lahirkan d tahun yg sama koq….(80 an ) 😀

  20. Posted 08/01/2011 at 17:46 | Permalink

    masih ada nggak yg jual tuh buku?

    kayaknya saya mau beli deh…

    tertarik baca setelah baca reviewan di sini 😀

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
*