Balada Si Darin Versus The Creator of Roy (2)

Membaca buku Ledakkan Idemu Agar Kepalamu Nggak Meledak ini seperti menyusuri biografi seorang yang bernama Gol A Gong. Keluarga, masa sekolah, perkuliahan, hingga perjuangan insan muda menembus mimpinya tuk menjadi seorang penulis. Di sana ada haru, semangat, lecutan inspirasi, juga penularan keyakinan, bahwasanya memang bahwa di tiap-tiap dari kita ini sejatinya adalah seorang penulis.

Menulis dan menulis. Kenapa itu begitu penting? Gola sendiri mengakui, terpisah dari keadaannya yang tidak memungkinkan tuk terjun di lahan pekerjaan layaknya orang kebanyakan (tangan kirinya diamputasi sebatas siku sejak umur 11 tahun), menulis adalah sebuah panggilan hidup, natures call, dan dengan cara itu pulalah beliau menemukan eksistensinya.

Seru juga menikmati bagaimana cerita Gola menghabiskan masa sekolah dengan menyetopi truk, pick up dan kucing-kucingan dengan kondektur kereta api demi berpetualang membelah Jawa dan Bali. Gilanya, itu ia samakan dengan proses kreatif sebagai penulis, alias disejajarkankan maknanya dengan kala membaca buku-buku teori menulis.

Apa yang aku lakukan di masa laluku, sehingga begitu yakin menempuh profesi menulis sebagai jalan hidupku? Bagaimana huruf-huruf sejumlah 26 itu bisa kurangkai menjadi kata, kalimat, dan paragraf, sehingga bisa menjadi sebuah cerpen atau novel yang menyihirmu?

Berbagi cerita. Itu saja yang menjadikan Gola terus-menerus menghentakkan kelima jarinya di mesin ketik Brother tua. Ia ingin hasil dari pergumulannya dengan kata-kata itu menjadi cermin untuk menginspirasi para calon penulis. Menjadi pantulan yang darinya bisa diambil pelajaran tentang siapa itu manusia, dan bagaimana ia menjalani hidup.

Lewat Roy, tokoh rekaannya yang ia endap berimajinasikan seorang remaja pada umumnya, yang gelisah dan memberontak pada keadaan, Gola mentransfer beberapa kejadian-kejadian real yang ia alami di kehidupan sehari-hari. Kehilangan, kegetiran, harapan dan kecintaan akan petualangan, ia poles ke dalam tiap episode kehidupan Roy.

Dan itu bukan main-main. Demi lebih menghidupkan sisi jiwa petualang karakter Roy, Gola rela menapaki tanah Bali, Nusa Tenggara, Timtim, juga Sulawesi, hingga ke belahan Timur. Katanya…

Juga yang paling seru, menyusuri pulau Seram selama sebulan. Dari ujung Baratnya; Amahai, ke ujung Timur; pulau Geser! Naik perahu kayu ke Fak-Fak dan berkenalan dengan orang-orang dari suku Dani di pegunungan Jayawijaya. Alangkah indahnya!

Mengapa Gola sebegitu inginnya mencuatkan tokoh Roy ini?

Aku ingin membangkitkan semangat maskulinisme, karena saat itu banyak sekali remaja lelaki di negeri ini jadi cengeng, karena 3F revolutions; Food, Fashion and Film…

Yeah, saya rasa seharusnya ada juga penulis sekelas beliau saat sekarang, dimana generasi mudanya tengah tenggelam oleh buaian trio WTF; World-wide-web, Twitter dan Facebook (termasuk saya *haha*).

Lanjut besok deh! 🙂

Share Button
This entry was posted in Buku, Jurnal, Opini and tagged , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

35 Comments

  1. Posted 31/12/2010 at 00:33 | Permalink

    Hem, ngomong-ngomong saya baru tahu kalau Gola Gong difabel, tangan kirinya cacat. Dan ternyata Tuhan maha adil karena kekurangannya itu Gola Gong diberi jari-jari yang tajam untuk menulis.
    Sebuah petualangan yang mengasyikkan. Ditunggu kelanjutan kisah Si Roy-nya, Mas Darin.

    • Posted 31/12/2010 at 02:24 | Permalink

      Saya juga baru tahu lewat buku ini pak. Ya, kekurangan itu tak hanya memberi Gola suntikan semangat, tapi juga inspirasi bagi kita semua.

  2. Posted 31/12/2010 at 00:55 | Permalink

    Dahsyat, saya sampai dua kali membacanya,Penulis memang punya anugrah “special” dari Tuhan sehingga bisa menularkan semangat dan inspirasi nya untuk para pembaca.
    Gol A Gong dan darinholic.com “mengguncang” ruang baca Indonesia…

    • Posted 31/12/2010 at 02:25 | Permalink

      Seseunggunya Gola berpesan, bahwa tiap dari kita ada anugrah ‘spesial’ itu. Tinggal kitanya saja yang harus mengenali dan menggalinya.

      Salam untuk blogger Bali, bli 🙂

  3. Posted 31/12/2010 at 00:57 | Permalink

    wuiih..mantaps..om..mengenai gola gong…balada si roy…sampai lecek buku karena seringnya dibaca….

    • Posted 31/12/2010 at 02:26 | Permalink

      Makin lecek makin lengket di hati. Betul begitu? 🙂

  4. Posted 31/12/2010 at 03:04 | Permalink

    Wow…jadi Gola Gong itu difabel ya?
    Tp msh bs ngehasilin karya2 keren, btl2 hebat.

    Sepakat dgn Mas Gola gong…krn sy jg termasuk dlm golongan yg terjebak dlm WTF :d

  5. Posted 31/12/2010 at 09:14 | Permalink

    Wah salah satu sastrawan favorit saya. Gimana kabarnya yang bersangkutan? Masih di daerah Utan Kayu kan?

    • Posted 31/12/2010 at 16:32 | Permalink

      Beliau masih di Serang. Tengah membangun komunitas pembentukan penulis2 muda bernama Rumah Dunia. Berminat kesana Chan? 🙂

      • Posted 31/12/2010 at 17:23 | Permalink

        iya kang. klo mo maen ke rumah dunia. rombangan aja. saya ikutan deh. 🙂

        • Posted 31/12/2010 at 17:41 | Permalink

          Setuju! Moga2 ada kesempatan tuk menengok ke sana. Penasaran Kang! hehe

  6. Posted 31/12/2010 at 10:02 | Permalink

    Belum membaca bukunya, untung Mas Darin mau mereview jadi bisa punya gambaran…

    Hidup itu agar bermakna memang penuh perjuangan. Berani menghadapi tantangan. Setiap kali mendapatkan hikmah atas perjuangan itu, manusia akan menjadi punya pemahaman lebih tinggi, lebih bijak. Lebih bisa memandang hidup lebih dalam dibanding orang lain.

    Dan tugas orang bijak memberikan motivasi dan solusi bagi yang meminta bantuan. Minimal menyebarluaskan semangat. Agar manusia yang melempem kena masalah bisa bangkit lagi.

    Kekurangan di mata orang lain malah bisa jadi cambuk untuk lebih punya wawasan dibanding orang lain.

    Iqro’… bacalah, ayat pertama dari Allah yang turun saat Nabi Muhammad saw didekap malaikat jibril dalam bentuk aslinya. Terus lanjutkan….

    • Posted 31/12/2010 at 16:31 | Permalink

      Apalagi jika ‘kekurangan’ itu bukan sebuah kekurangan, namun sebuah hal yang tak pernah digubris, tentu perjuangan pun lancar. Apa yang orang lain lihat sebagai kekurangan, mungkin saja bukan sebuah kekurangan bagi kita.

      Ya, inspirasi dan kebijaksanaan datang dari semua mahluk bernyawa. Mari iqro.. 🙂

  7. Posted 31/12/2010 at 10:54 | Permalink

    harga bukunya brp boozzz?

    • Posted 31/12/2010 at 15:31 | Permalink

      sekitar 40 ribu. Murah meriah to? hehe 😀

  8. Danu Akbar
    Posted 31/12/2010 at 12:00 | Permalink

    semoga aku kelak bisa menjadi penulis seperti belian melalui blog ku 🙂

    • Posted 31/12/2010 at 15:31 | Permalink

      Amiiin. Ngga salah beliau jadi acuan generasi penulis saat ini. Memang paten! 🙂

  9. Posted 31/12/2010 at 14:44 | Permalink

    Reviewnya bagus mas Darin saya malah belum baca tuh buku. Terima kasih sudah share sebagian dari isi buku tersebut. sangat menginspirasi.

    Hidup memang tantangan bukan beban untuk kita. Meskipun Tuhan mempunyai kuasa untuk memakmurkan hambanya namun kita tetap disuruh untuk berusaha meraihnya. Proses juga berperan penting dalam suatu pencapaian.

    Ditunggu kelanjutannya mas, Oh ya blog saya sebenernya sudah hampir setahun namun pertengahan desember ini blog saya di suspend dan setelah itu server eror sampai beberapa hari. Ini sedang menunggu back up data dari pihak hosting. Sapa tau bisa kembali.

    • Posted 31/12/2010 at 15:20 | Permalink

      Pantas saja akhir2 ini blog mas Dhany susah diakses, ternyata begitu ya. Ok deh mas, semoga back up-nya lancar dan bisa mengudara lagi. Kalau hostingnya bagus, mesti bisa deh 🙂

  10. agoest
    Posted 31/12/2010 at 14:12 | Permalink

    singkat,padat…dan tidak merayap…bedah buku online…
    dan memang sangat di sayangkan sudah jarang ada penulis berkualitas,semua terperosok ke jurang jejaring sosial….

    • Posted 31/12/2010 at 15:27 | Permalink

      Kalau blogger mungkin iya. Raditya Dika itu ngaku sendiri sudah mulai males ngeblog sejak ada twitter. Tapi kalau urusan nulis buku, sepertinya tak terpengaruh. Malah jejaring sosial itu terbukti ampuh untuk promosi.

      Yah, memang tergantung niatnya kali ya 😀

  11. Posted 31/12/2010 at 16:03 | Permalink

    cuma mau ngucapin
    Selamat Tahun Baru sob…
    sambut dengan semangat baru!
    happy blogging selalu
    ^_^
    mf koneksiku lg rada lemot nih…

    • Posted 31/12/2010 at 18:46 | Permalink

      selamat tahun baru! Meski – yah – umur kita berkurang ya -_-‘

  12. Posted 31/12/2010 at 17:26 | Permalink

    berarti remaja maskulin itu yg kayak gimana..? bisa diperjelas lagi gak?

    • Posted 31/12/2010 at 18:46 | Permalink

      untuk lebih jelasnya googling dulu bro, baru tanya ke model2 berotot hehe 🙂

  13. rohani syawaliah
    Posted 31/12/2010 at 18:27 | Permalink

    Kalo masalah dia memiliki kekurangan saya udah tau dari facebook beliau…

    Dia memang hebat..

    Sayangnya postingan ini nggak ada gambarnya

    Saya suka membaca kalo melihat blog yang banyak gambar dan pernak-perniknya…

    Kalo boleh saran nih, tambahin gambar dong sesuai dengan postingannya…

    Biar enak bacanya…

    Makasih dah mampir ke blog sayah…

    • Posted 31/12/2010 at 18:45 | Permalink

      Terima kasih sebelumnya mbak Rohani.
      Masalah gambar, saya pertimbangkan dulu. Tadinya mau diisi foto pribadi buku ini, tapi berhubung camdig ngadat, ya sudahlah 😀
      Lha, saya malah batu tau ada blogger yang suka tampilan meriah. Kalau saya mah silau mbak hehe. Tapi kalau ada gambarnya memang terlihat lebih bagus sih.
      Ok, see u mbak 🙂

  14. Posted 31/12/2010 at 20:11 | Permalink

    luar biasa dibalik sebuah keterbatasan ada kemampuan menulis yang begitu hebat jadi tertarik nyari buku hasil karangannya pak

    • Posted 31/12/2010 at 20:50 | Permalink

      silahkan Bang Munir. Sepertinya ada deh hingga pelosok juga 🙂

  15. Posted 31/12/2010 at 20:20 | Permalink

    kapan lanjutannya dimuat? 😀

  16. Zainur Rochim
    Posted 31/12/2010 at 19:37 | Permalink

    Wah menginspirasi sekali mas Darin, ternyata memang benar apa yang di firmankan oleh Allah SWT di balik kekurangan pasti ada kelebihan…tapi kebanyakan dari kita hanya pasrah melihat kekurangan itu tanpa berusaha mencari kelebihan yang ada…

    btw sekarang dah domain sendiri ya…selamat mas….pake theme thesis ya mas?

    • Posted 31/12/2010 at 19:55 | Permalink

      Iya mas Zain, baru dari awal bulan ini. Ini theme standar WP kok mas, cuma dimodif sedikit header-nya 🙂

  17. mh
    Posted 31/12/2010 at 22:52 | Permalink

    gola gong ngeblog tak?

    • Posted 31/12/2010 at 23:02 | Permalink

      sempet ke golagong (dot) com ternyata dah expired mas 😀
      mungkin sudah konsen di rumahdunia (dot) com

  18. Posted 26/02/2016 at 08:18 | Permalink

    thanks for your article sob,

2 Trackbacks

  • […] jadi teringat dengan tulisan sendiri tentang buku Gol A Gong yang menganjurkan kita tuk menulis agar kepala tidak meledak. Ya, mungkin itu gambaran yang tepat saat ini. Jadi – yah – saya sangat bersyukur sekali, […]

  • […] penulisannya mengingatkan saya pada Gol A Gong. Setiap paragraf langsung to the point, ke pokok  masalah, dan berlanjut ke paragraf berikutnya […]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
*