Balada Si Darin Versus The Creator of Roy (3)

Salah satu kekuatan utama Gol A Gong hingga bisa apik memahat cerita-cerita fiksinya adalah; begitu liatnya ia dengan hal yang bernama observasi. Keliaran yang ia lakukan saat masa sekolah dulu (baca posting part 2), bisa jadi sebuah pintu pemahaman yang membuatnya makin ekspresif, dan secara tak sadar membelenggu dirinya untuk terus menyulam kata-kata. Seperti yang terujar…

Otak kananku setiap hari harus terus mengembara; memaknai persahabatanku dengan kata. Fantasiku harus terus terjaga. Setiap malam aku membacai buku harian atau sketsa-sketsa pendek yang aku tulis dalam perjalanan.

Terlebih lagi, disaat menanti serial pertama Balada Si Roy dipublikasikan, Gola dihadapkan pada situasi yang ia gambarkan sebagai sebuah medan pertempuran.

Masa depanku ada di sana; di untai kata. Aku pertaruhkan hidupku dalam persahabatan dengan kata. Teman-temanku banyak yang menggondol titel sarjana dan sudah bekerja kantoran, sementara aku masih luntang-lantung di jalanan. Di kantong tidak ada gelar sarjana, tapi hanya ada 26 huruf!

Dan buku ini menjabarkan dengan sporadis, bagaimana Gola hanya bertahan pada satu hal, yaitu mengabaikan keadaan dengan memabukkan diri dalam khayalan cerita-ceritanya.

Banyak, banyak peristiwa yang aku bisa tuangkan ke dalam fiksi. Kepalaku penuh. Otakku luber. Aku harus meledakkan ide di kepalaku, agar kepalaku tidak meledak! Ibarat sebuah gelas berisi penuh, airnya tumpah kemana-mana.

Mengapa ia bisa memiliki begitu banyak inspirasi? Observasi, itu kuncinya. Gola yakin, hanya dengan jalan itulah penulis dapat lebih memaksimalkan jurus 5W 1H (who, what, when, where, why dan how) yang dapat menyamarkan efek fiksi, sehingga pembacanya tersihir dan menerimanya sebagai sebuah kisah realita.

Aku sering memulai dengan mendatangi keramaian dimana saja aku berada. Misalnya, aku pergi ke kesibukan pasar di pagi hari. Aku merekam semua yang aku lihat dan rasakan. Aku mendatangi juga rumah sakit. Mencari pasien yang sendirian karena tidak ditengok kerabatnya, dan menjadi teman si sakit. Dengan modal sekilo jeruk, aku bisa menemukan banyak pelajaran hidup. Itu juga sangat penting untuk mengisi ceruk jiwa kita…

Dan bahkan ketika Balada Si Roy meledak, Gola tak lantas berpuas diri, yang ada malah makin menjadi. Hingga kini, sudah sekitar 70 novel karyanya mengisi pustaka Indonesia. Cinta-Mu Seluas Samudra, Al-Bahri, Labirin Lazurdi dan Dua Matahariku, adalah beberapa dari koleksinya yang mencuat jadi best seller!

Sebentar. Dari hanya jalan-jalan ke pasar dan iseng ke rumah sakit bawa jeruk sekilo langsung bisa jadi 70 novel? No no, banyak jalan menuju Roma, kata Gola.

Untuk menemukan ide dan berobservasi bukan berarti harus bepergian ke tempat jauh yang beribu-ribu mil jaraknya. Banyak tokoh penulis melalui jalan yang berbeda. Arswendo, sang penulis buku Mengarang Itu Gampang, rajin menulis novel dari balik jeruji Cipinang saat terkena kasus tabloid Monitor. Begitu pun yang dialami oleh Karl May saat menulis Old Sharterhand dan Winnetou. Lewat browsing internet? Dee Lestari, novelis Supernova yang spektakuler adalah buktinya. Dan serial Lupus pun hadir berkat kegetolan Hilman Hariwijaya membaca majalah-majalah remaja dan jalan-jalan di mall.

Well well, sudah ada yang mulai berobservasi? 😀

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Buku, Inspirasi and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

39 Responses to Balada Si Darin Versus The Creator of Roy (3)

  1. Pertamaxxx kah di tahun 2011 ?

  2. Saya jadi penasaran sama buku ini. memang setiap penulis punya teknik observasinya masing-masing. Kalau saya ( meskipun belum layak disebut penulis ), lebih banyak observasi melalui wawancara dengan beberapa orang yang terkadang “tidak sengaja” berjumpa dan kemudian mencoba meng-eksplorasi bebrapa point penting pembahasan untuk kemudian saya kembangkan sendiri…

  3. Agus Siswoyo says:

    Salah satu yang paling saya suka dari Gola Gong adalah keteguhan menulis dengan cacat fisik. Tangannya cuma satu namun mampu menginspirasi banyak orang dengan buku-buku best sellernya. Itu yang sampai saat ini belum bisa saya lakukan dengan kondisi saya yang jauh lebih beruntung. Salut!

  4. Joko Sutarto says:

    Kalau saya biasanya lebih suka memilih jalur sastra dalam berobservasi untuk menulis, Mas Darin. Mencari jalur-jalur alternatif. Bagaimana membuat sesuatu yang ada di sekitar kita –sama seperti Gola Gong, saya tidak usah jauh-jauh kemana-mana karena saya tak punya ongkos– yang sebetulnya biasa tapi bisa dibidik menjadi tak biasa karena saya lihat dari prespektif yang tak biasa pula. Mungkin itu kenapa saya lebih suka jadi tukang kritik dan suka menggugat. Ha Ha Ha 😀 *Kok, jadi cerita diri sendiri*

    Kalau yang Arswendo itu salah satu tokoh penting yang mempengaruhi gaya menulis saya. Buku Mengarang Itu Gampang saya juga mengoleksinya di rumah.

    • Darin says:

      Ooow ternyata itu ya rahasianya Pak Joko bisa nulis artikel bagus? 😀 Akhirnya saya bisa tau hehehe
      Untuk yang genre opini, tentunya memang harus bagus sinyal radar observasinya. Jika itu mantap, artikelnya bakal heboh dan memancing kontroversi. Bukankah yg berbau kontroversi itu lebih nendang, bukan begitu pak? :)

  5. «((¯`¤ RáÐhìtá ¤´¯))» says:

    wahh. saya masih di 2010 nih..

    btw… rumah baru sob? cat nya masih kecium nih 😀

  6. Realodix says:

    Selamat tahun baru 2011
    Semoga ditahun 2011 kita lebih baik dari tahun 2010

    Salam

  7. fatimah azzahra says:

    1 kalimat..
    “sangat meledak-ledak”
    *semoga laptop saya tak sampai meledak 😀

  8. TuSuda says:

    ya, cerita yang dituturkannya seperti mengisahkan realita keseharian..
    BTW, selamat tahun baru ya Mas…semoga sukes dengan inspiring blogging nya :)

  9. iskandaria says:

    Kalau saya biasanya melakukan observasi via internet (untuk blog yang di wordpress). Kalau yang di blogspot, observasi saya biasanya via media televisi.

    Intinya, pengembangan ide mentah bisa kita dapatkan pada media yang paling sesuai dengan topik yang akan kita angkat menjadi tulisan.

    Wah, awal tahun udah posting nih mas. Ternyata ada juga yang masih semangat ngeblog di awal taun kayak gini. Dini hari lagi 😛

    • Darin says:

      Ya, sepertinya sudah jarang yg melakukan observasi langsung ala gola di atas. Internet dan televisi sudah cukup memanjakan dengan informasinya yg melimpah.

      Maklum mas, keadaan memang memungkinkan hahaha 😀

  10. DikMa says:

    kunjungan perdana di tahun 2011
    hepi nyu yer 2011…
    salam

  11. Aldy says:

    OOT Mas,

    Selamat Tahun baru 2011.

  12. Mars says:

    Selamat Tahun Baru 2011
    Semoga jadi tahun yang membawa lebih banyak kesuksesan…
    Salam!

  13. rodes says:

    slmt taun baru….. 2011.. simak juga ane di blog okey… mas bro mw tukar ink gak?

  14. tomi says:

    maaf OOT mas darin..

    selamat tahun baru 2011 ya mas.. semoga harapan dan cita-cita kita tercapai.. amiin

  15. Blognya Achot says:

    title di content dengan title di atas browser ko beda ya.. (tweet meme), yang bener yang mana ya?? (sori oot).. med taon baru 2011

  16. sepakat dengan apa yang disampaikan gola gong, mas darin. konon, seorang pengarang yang baik, memang juga seorang observer. tanpa pengamatan, agaknya seorang pengarang akan makin habis energinya. selamat tahun baru, mas darin, semoga makin tambah sukses.

  17. Sugeng says:

    Jujur saat aku baca Gola Gong, aku gak ngerti. Namun setelah baca komentar diatas baru ngeh kalau itu penulis yang bukunya menjadi best seller meskipun dengan kekurangan fisik. Maklum mas, duniaku berseberangan dengan dunia tulis menulis 😎 Hm ….. menjadi tertarik untuk mencari tahu siapa Gola Gong. Makasih mas atas infonya, langsung saja aku ke TKP (mbah gugel) mencari tahu 😆
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  18. john says:

    saya terenyuh dengan kata “sekilo jeruk”
    teringat pada mendiang nenekku yang suka jeruk T_T

  19. hendro says:

    Aku belum nyimak yang kedua, mau baca dulu yang kedua

  20. Sky says:

    Kalau saya, gaya menulisku macam apa ya?

    Msh ndak tw. 😀
    Nulis aja tanpa metode

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *