Banyak Hal Sebenarnya Sederhana

Terinspirasi dari buku karya Fergus O’Connel yang berjudul Simplify Your Working Life, di salah satu babnya sungguh menarik untuk diulas, yaitu mengetengahkan perlunya menyederhanakan permasalahan, baik dari segi pola fikir maupun penerapannya di kehidupan sehari-hari.

Ya, ternyata banyak hal yang terlihat ruwet itu, jika kita menempatkan pada porsi yang tepat bakal meminimalisir kesemrawutan saat dihadapkan pada satu obyek masalah.

Tipsnya mudah, hanya menjalankan metode berikut:

  • Carilah solusi yang sederhana.
  • Ajukan pertanyaan: “Hal paling sederhana apakah yang dapat dilakukan?”
  • Jika akhirnya mendapatkan solusi atau ide yang rumit, mungkin kita salah arah. Kembali lagi dan lihatlah lagi, kali ini melalui arah yang sederhana.
  • Ketika menemukan sesuatu, ajukan pertanyaan lagi: “Adakah cara yang lebih sederhana dari ini?”

Sepertinya memang mudah, tapi itu sudah cukup membuat kening saya berkerut sesenti demi sesenti, hingga bab itu berlanjut pada satu kasus yang menarik. Buku ini menulis…

Sebuah perusahaan besar baru saja membangun sebuah gedung pencakar langit sebagai kantor pusatnya. Beberapa minggu setelah gedung itu terisi penuh, para karyawan mulai mengeluh tentang lift yang lamban, dan dengan cepat keluhan-keluhan itu menjadi sebuah epidemik yang mengancam produktivitas.

Akhirnya perusahaan mengontak konsultan perencana gedung itu dengan mengajukan pertanyaan apakah liftnya dapat dipercepat? Atau dapatkah ukurannya diperbesar? Si konsultan menjawab mantap, bisa. Namun itu memerlukan waktu berbulan-bulan untuk pembongkaran, perluasan, dan rekonstruksi di sekitar jalur lift.

Nah, setelah memikirkan berbagai solusi yang memungkinkan, perusahaan mengambil langkah yang cerdas. Alih-alih menerima tawaran konsultan tuk merekonstruksi ulang sistem lift, perusahaan hanya memasang cermin-cermin panjang di setiap lantai di samping pintu lift. Dan efeknya terbukti manjur. Kini tak ada lagi keluhan tentang lift yang lambat. Para karyawan tak lagi merasa menunggu lift terlalu lama karena sudah terlalu sibuk dengan mematut diri di cermin dan berdandan tuk memastikan busananya rapi.

Case is closed πŸ™‚

Well, solusi-solusi sederhana inilah yang kadang sering kita lupakan, bahkan tak terfikirkan. Dan saya rasa berfikir sederhana mungkin sudah jadi gagasan paling purba dari tahapan evolusi manusia. Membuat perangkat berburu dari tulang, mendorong bongkahan piramid dengan roda sebatang pohon, hingga imajinasi Da Vinci yang rela membongkar makam-makam hanya tuk mengetahui susunan otot, adalah contoh-contoh solusi praktis, yang mungkin gagasannya masih bergulir hingga kini.

Benar juga apa kata Einstein:

Everything should be made as simple as possible, but not simpler

Hmm, saya jadi malu sendiri, karena seringnya mengambil langkah terlalu perfect pada solusi, padahal belum tentu solusi itu membawa saya pada penyeselaian masalah. Seringnya, yang ada malah tambah mumet *hehe*

So, mari berfikir simpel saja lah πŸ™‚

Share Button
This entry was posted in Inspirasi and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

67 Comments

  1. Posted 28/12/2010 at 23:30 | Permalink

    hello mas Darin –
    Kita memang terlalu sering membesar-besarkan masalah. apalagi jika sudah menyangkut soal “psikologis” perkataan yang menyinggung sedikit saja akan dibawa 7 hari tanpa lupa. kesederhanaan pada titik yang tepat justru malah mendamaikan hati dan menenangkan pikiran.

    • Posted 28/12/2010 at 23:55 | Permalink

      Ya, padahal solusi sederhananya gampang: ga usah didengarkan. betul? πŸ™‚

  2. Abdul Hakim
    Posted 28/12/2010 at 23:20 | Permalink

    lucu juga tuh ceritanya,

    pada intinya merasa perfect itulah yang membuat kita seperti jalan ditempat………..

    • Posted 28/12/2010 at 23:57 | Permalink

      Saya jadi inget pepatah: Nobody perfect. I’m nobody. So, I’m perfect πŸ˜€
      Ya, seperti itulah kira-kira mas hakim πŸ™‚

  3. hendro
    Posted 28/12/2010 at 23:23 | Permalink

    Sederhana bisa hal yang brilian ini dimana kita memahami apa yang di inginkan sebenarnya.
    Namun ada hal dalam hidup yang perlu di lakukan tanpa sederhana, sederhananya seperti ini:
    Misalkan kita di ajukan dua pilihan dan dua pilihan itu agak membingungkan, ketika anda akan pulang ke rumah dengan waktu tempuh sekitar 15 menit tapi anda harus melewati hutan yang di mana disana banyak binatang buas.

    Sedangkan pilihan kedua anda akan selamat sampai di rumah dalam waktu 30 menit tetapi anda harus mengeluarkan biaya untuk ongkos ke sana.
    Nah, anda di berikan dua pilihan di situ.

    Mungkin timing dan instruksi dalam hati itu juga membawa peranan besar, dan mungkin pula anda tidak menyadari bahwa anda sudah melakukan hal sederhana yang efektif.
    Seperti ketika malam hari anda sedang menonton televisi dan dalam waktu yang bersamaan.
    1. telepon di rumah anda berdering
    2. Ada yang mengetuk pintu rumah anda
    3. Bayi anda tiba-tiba menangis
    4. Terdengar dari dalam dapur suara air yang sudah mendidih
    Dari 4 hal tersebut mana yang mas darin dahulukan agar solusi terpecahkan dengan sederhana agar tidak mumet dan berjalan efektif juga tidak merugikan yang lain?

    • Posted 28/12/2010 at 23:53 | Permalink

      Untuk kasus pertama, saya kira solusinya sederhana. Apa yang paling krusial? Tentu keselamatan diri. Jadi 30 menit jalan memutar oke lah jadi pilihan.

      Kasus kedua, sebagai kepala keluarga yg tak tega mendengar bayi menangis, tentu akan menghampiri anak saya dulu. Tamu di pintu bisa menunggu, dering telepon bisa menunggu, air mendidih pun ‘pasti’ bisa menunggu πŸ™‚

      Yang Bang Hendro paparkan bagus sekali. Ini menyangkut kuadran waktu kalau tak salah. Mana yang mendesak, dan mana yang penting. Kita kadang2 memang sering terjebak pada kuadran 4, dimana sering mengerjakan hal2 yang tidak mendesak dan tidak penting, hingga mengisi waktu produktif seharian.

      Thanks Bang Hendro atas pencerahannya πŸ™‚

  4. Posted 29/12/2010 at 01:53 | Permalink

    bener sih mas.. saya kadang berusaha memecahkan masalah dengan serius dan rumit tp hasilnya nihil.. eh pas dibuat sederhana malah beres..
    contohnya ya blog saya ini. akhirnya bisa diakses,, berpikir berat selama 3 hari.. akhirnya cm terselesaikan dalam waktu 3 jam πŸ˜€

    • Posted 29/12/2010 at 11:55 | Permalink

      hehehe, mantap mas tom. yang dot net dah mengudara lagi nih? siip πŸ˜€

      • Posted 30/12/2010 at 01:47 | Permalink

        udah mas.. hehehe..
        belajar dari kesalahan mas hehehe

        • Posted 30/12/2010 at 02:14 | Permalink

          trial error is the best! πŸ™‚

        • Posted 30/12/2010 at 16:48 | Permalink

          Memangnya ad masalah apa bro? Soalnya beberapa hari ini ngga sempat blogwalking karena aktifitas yang super sibuk didunia nyata

          • Posted 31/12/2010 at 03:01 | Permalink

            Katanya plugin W3 super cache Mas Tomi bermasalah bro. Saya juga kurang jelas kenapa.

  5. Erdien
    Posted 29/12/2010 at 01:29 | Permalink

    Hehe… ternyata hal yang bermanfaat itu tidak selalu datan dari hal-hal yang “WAH”, kebermanfaatan yang besar itu bisa juga dari hal yang kelihatannya “sepele” nya Kang πŸ˜€

    • Posted 29/12/2010 at 11:54 | Permalink

      yang sepele tapi besar khasiatnya hehe, bener pak πŸ™‚

  6. Erdien
    Posted 29/12/2010 at 01:30 | Permalink

    Sip, nuhun pisan Kang bagi-bagi bacaan inspiratifna yeuh. Sanaos teu maca bukuna, tapi janten terang ti deu πŸ˜€

    • Posted 29/12/2010 at 11:55 | Permalink

      sami-sami kang erdien. Syukur upami aya manfaatna πŸ™‚

  7. hosnan fauzi
    Posted 29/12/2010 at 03:26 | Permalink

    sependapat dengan mas tomy… kadang 2 kita sendiri yang memperruet keadaann padahal kalau di lakukan secara tenang malahan dapet ide yang malahan mungkin sering banget kita lakukan, tapi karena hal itu kita anggep sepele, jadinya kita melupakan, πŸ˜›

    • Posted 31/12/2010 at 03:02 | Permalink

      Itu intinya mas Hosnan, yang dianggap sepele kadang tak pernah terfikirkan ya? πŸ™‚

  8. Posted 29/12/2010 at 05:18 | Permalink

    Itu juga masalah yg sering terjadi pada diriku. Mencari solusi sederhana untuk persoalan hidupku yang rumit.

  9. Posted 29/12/2010 at 05:21 | Permalink

    Mencari solusi praktis ada pendidikannya?

    • Posted 29/12/2010 at 11:59 | Permalink

      pendidikan formal? sepertinya tidak. non-formal yang melimpah..

  10. mh
    Posted 29/12/2010 at 07:37 | Permalink

    kalo lapar saya cari warung nasi padang Sederhana gan…

    • Posted 29/12/2010 at 11:59 | Permalink

      warung padang tutup, gimana kal0 warteg aja mas hengky? hehehe

      • mh
        Posted 29/12/2010 at 16:23 | Permalink

        hmmm… asal bersih gapapa gan hehehe… kalo ketemu saya, pasti saya traktir deh di warung ampera gan..

  11. Posted 29/12/2010 at 11:19 | Permalink

    BENER NI BANG DARIN HHE. KALAU DI LIHAT DARI SUDUT PANDANG SISWA, DALAM PENGERJAAN MATEMATIKA SEBENARNYA ADA CARI SINGKATNYA. TETAPI KEBANYAKAN MEMAKAI CARA YANG RUMIT HHE

    ITU DARI PANDANGAN SISWA BANG :p

    • Posted 29/12/2010 at 12:01 | Permalink

      bener tuh, kalo ngga salah pas pelajaran integral. Pernah dikasih tips lewat bimbel πŸ˜€ Yah, memang tips itu mahal ya haha

  12. Posted 29/12/2010 at 12:51 | Permalink

    meskipun simpel itu perlu, terkadang hidup ini tak sesimpel yang kita pikirkan πŸ™‚

    • Posted 29/12/2010 at 13:14 | Permalink

      karena kita memikirkannya ga simpel bro πŸ˜€ coba kalau difikir simpel, gampang2 susah kalau kata Slank sih πŸ˜€

  13. Posted 29/12/2010 at 12:53 | Permalink

    hidup ini memang sederhana mas selama kita punya pola pikiran seperti itu.
    saya senang sekali ada artikel-artikel yang membahas tentang “Inti solusi” untuk hidup di dunia ini seperti artikel mas Darin.

    apa ndak ada Tombol ‘Like’ untuk artikel di atas mas πŸ˜€

    • Posted 29/12/2010 at 13:17 | Permalink

      Saya ndak tau mas Wil. Baru belajar ngutak-ngatik WP soalnya πŸ™‚
      Baru share via twitter saja.

  14. Posted 29/12/2010 at 13:05 | Permalink

    kalo saya kadang bermasalah dengan diri sendiri
    pertama salah langkah dengan keputusan yang diambil sehingga sering merasa salah
    kedua minderan karena merasa ga dihargain
    ketiga bingung dengan apa yang ingin dilakukan hari ini padahal kemaren sudah direncanakan

    • Posted 29/12/2010 at 14:14 | Permalink

      senasib mas Agung, saya juga sering begitu. Dan saya kira inspirasi dari buku ini bisa membuka sedikit pencerahan bagi saya. Bisa dipakai untuk bahan pembelajaran diri pribadi.

  15. Posted 29/12/2010 at 13:21 | Permalink

    yup, santai dan simple aja lah. engga usah terlalu serius πŸ˜€

  16. Posted 29/12/2010 at 13:22 | Permalink

    Memang segala sesuatu yang sederhana sepertinya akan membuat pikiran kita bersahaja, karena sehari-hari sudah banyak sekali hal yang kita hadapi nampak serba rumit! baik itu di kantor terkadang bisa terjadi dirumah apalagi saya tinggal di Jakarta jalanan serba ruwet. Carilah solusi yang sederhana, saya sangat setuju dengan kalimat itu, seolah membawa pola pikir kita kearah yang lebih baik. thanks for sharing Mas.

    • Posted 31/12/2010 at 03:04 | Permalink

      sama-sama mas Agus. Wah, saya malah ngga betah hidup di Jakarta mas, terlalu ruwet πŸ˜€ Tapi memang sih, selalu ada celah tuk solusi yang lebih praktis untuk segala keadaan.

      Salam hangat.

  17. grandchief
    Posted 29/12/2010 at 13:52 | Permalink

    tetapi terkadang parahnya para perfeksionis terkadang sering untuk melalui proses yang sulit untuk menjadikan semua terasa begitu sempurna.
    padahal terkadang solusi yang simpel jauh lebih baik πŸ™‚

    • Posted 31/12/2010 at 03:06 | Permalink

      Betul. Apa karena obsesi perfeksionis itu yg mendorongnya ya? Apa-apa yang tampak ‘wah’ dan rumit memang sering mendapat apresiasi lebih ketimbang solusi praktis πŸ™‚

  18. aduar
    Posted 29/12/2010 at 14:19 | Permalink

    kunjugan perdana.
    sekilas saja:
    Keberhasilan dalam bisnis sama dengan seperti mengendarai sepeda. Kalau kita tidak terus maju, kita akan jatuh.
    Jika anda melihat suatu bisnis yang berani, berarti anda telah melihat seseorang mengambil keputusan dengan berani.

  19. Posted 29/12/2010 at 17:38 | Permalink

    Selain memasang cermin di sekitar ruang tunggu lift ada juga solusi lainnya. Yaitu dengan memasang TV di situ. Orang-orang yang biasanya jemu dan bete karena menunggu lift akan teralihkan perhatiannya dengan menatap ke acara TV. Bukan begitu, Mas Darin?

    Ya, saya juga pernah dapat cerita serupa bagaimana sulitnya menciptakan teknologi bulpoin yang bisa dipakai menulis di luar angkasa yang tidak ada gravitasi di sana. Tinta tak mau turun-turun karena tidak ada daya yang menariknya ke bawah. Solusinya sangat sederhana. Mengapa harus pakai bulpoin? Bukankah bisa pakai pensil? Ha…. Ha….Ha…. :))

    • Posted 29/12/2010 at 18:01 | Permalink

      3 idiots pak! hahaha, saya juga masih inget tuh. Si profesor harus memutar otak hingga akhirnya menemukan jawaban: kalau pakai pensil nanti serbuknya bisa melukai mata astronot πŸ˜€

      Pakai TV sip juga, malah bisa lupa naik lift kalau acaranya sepak bola final AFF hehehe

  20. Posted 29/12/2010 at 17:40 | Permalink

    keren, keren, sesuatu yang simpel namun mematikan dan bermanfaat. mungkin prinsip seperti ini juga yang dipakai pengacara untuk berbicara di depan hakim untuk memenangkan kliennya.

    • Posted 31/12/2010 at 03:07 | Permalink

      Saya sering nonton film2 bertema pengacara. Ya, kadang hal sepele yang sering terlewatkan dapat menjadi bukti mematikan tuk menyerang balik sang lawan.

  21. adetruna
    Posted 29/12/2010 at 18:48 | Permalink

    namun untuk menjelaskan artikel ini tidak bisa simple beberapa paragraf…hehehe :mrgreen:

    *Makasih artikel yang (selalu) menarik .

    • Posted 29/12/2010 at 23:22 | Permalink

      Duh, padahal saya sampe kriting tuk menuliskannya sesimpel mungkin haha
      makasih kembali mas Ade πŸ™‚

  22. Posted 29/12/2010 at 23:27 | Permalink

    wah, mengena banger mas, kadang kita berpikir terlalu kompleks, ruwet dan ribet padahal jalan keluar yang sederhana saja bisa menyelesaikan masalah-masalah yang terlihat kompleks…..

    • Posted 31/12/2010 at 03:08 | Permalink

      Mungkin fikiran kita sudah sebegitu ruwetnya ya mas, sehingga tak memberi celah bagi solusi sederhana? πŸ™‚

  23. Posted 30/12/2010 at 00:22 | Permalink

    akhirnya kembali ke masing-masing mas darin, mau dibikin ruwet apa sederhana, contoh saja pelayanan publik kita kalau bisa sederhana, ngapa juga banyak birokrasi, haha.

    • Posted 31/12/2010 at 03:09 | Permalink

      Kalau bisa dipersulit, ngapain dipermudah? Hahaha, suatu hal yang ironis memang πŸ˜€

  24. Posted 30/12/2010 at 12:28 | Permalink

    Untuk artikel ini, ada satu hadist yang saya suka: sederhana dalam sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah. πŸ™‚

    • Posted 31/12/2010 at 00:56 | Permalink

      Terima kasih atas pengingatnya Mas. I love it! πŸ˜€

  25. Posted 30/12/2010 at 20:35 | Permalink

    Saya kalo punya masalah malah gak mau mikirin tuh. Sederhana saja, mencoba membantu orang lain yang membutuhkan, menngikhlaskan pada Tuhan dan jawaban akan muncul sendiri. It works for me…

    • Posted 30/12/2010 at 21:10 | Permalink

      Dari Ami pula saya banyak belajar. Salut! πŸ™‚

  26. Posted 31/12/2010 at 00:17 | Permalink

    Saya juga jadi ikutan malu……

    Karena saya termasuk orang yang ribet, harus detail kalau nggak saya akan menjadi orang yang sulit meski bisa diberi pengertian…kenapa harus bikin rumus yang tak dimengerti banyak orang jika dengan hitung2an jari banyak orang lebih mengerti?
    He he he
    Kenapa harus sejauh itu, wong begini saja bisa…
    Perlu belajar dan membiasakan diri πŸ™‚

    • Posted 31/12/2010 at 03:10 | Permalink

      Membiasakan diri untuk berfikir praktis, itu juga yang sering saya lupa πŸ™‚

  27. Posted 31/12/2010 at 02:30 | Permalink

    Sederhana memang mengagumkan ya Mas.
    Saya pernah menemukan kalimat seperti ini, “Sesuatu akan semakin terlihat indah jika dia mampu menampilkan kesederhanaannya..”
    Selamat menikmati akhir tahun 2010 Mas..

    • Posted 31/12/2010 at 03:11 | Permalink

      Ya, seperti kata Einstein di atas πŸ™‚

      Selamat tahun baru Masbro!

  28. fatimah azzahra
    Posted 31/12/2010 at 08:17 | Permalink

    betul…mulailah semuanya dr hal yang paling sederhana….. πŸ™‚

  29. aldy
    Posted 31/12/2010 at 08:02 | Permalink

    Mas Darin,
    Mungkin mas juga pernah mengalaminya, ketika kita mempresentasikan sebuah project, jika prensentasinya sederhana dan kita buat mudah, biasanya kita dianggap memiliki pengetahuan yang dangkal dan irrasional.
    Coba saja kita buat presentasi yang wah, berbelit-belit dan berkesan rumit (sampai yang kita sendiri rada bingung), hasilnya kita dianggap orang yang hebat, cerdas dan pujian kosong lainnya πŸ˜€

    • Posted 31/12/2010 at 10:03 | Permalink

      Haha ada betulnya juga Mas Aldy. Saya jadi ingat sebuah buku berjudul ‘Dosa2 Powerpoint’ dimana intinya kita terlalu ditekankan pada desain yang wah dan meriah. Padahal yg penting itu cara penyampaiannya πŸ˜€

  30. Posted 31/12/2010 at 19:46 | Permalink

    met tahun baru

  31. rauff risharasakti
    Posted 01/01/2011 at 00:29 | Permalink

    Hahaha menarik juga memecahkan masalah lift itu.
    Sama seperti saya, dulu ada masalah meninggalkan usaha saya untuk kuliah. Sayang klo ditutup, eh aku berfikir simple aja. Kenapa gak aku jual di internet.
    Alhamdulilah masih berjalan usaha itu πŸ™‚

    • Posted 01/01/2011 at 00:43 | Permalink

      Haha, yang simpel malah lebih menghasilkan ya bro? Mantap deh πŸ˜€

  32. Posted 06/10/2012 at 07:18 | Permalink

    Hidup itu sudah sangat komplek jadi semua harus dijalankan dan dipikir dengan cara sederhana agar tidak semakin semrawut
    nice share mas Darin, mantap banget postingannya..

  33. Posted 14/02/2013 at 14:48 | Permalink

    numpang lihat lihat gan… jangan lupa mampir balik ke blog awak…

One Trackback

  • By Blog Ini Sembuh!! | tomipurba [dot] net on 29/12/2010 at 01:46

    […] dan saran temanΒ² di twitterland seperti mas andi sakab, mas agus siswoyo, mas lutvi avandi, mas darin, mas abdul hakim, mas Aim, mas irfan, mas awang dan yang tak dapat aku sebut satu per satu. […]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
*