Belajar Meraih Mimpi Dari Starbucks Coffee

Posted on

Sebagai seorang pecinta kopi, dari dulu saya kepingin banget menyicipi kopi dari salah satu brand ternama ini. Ya, siapa sih yang tak kenal dengan Starbucks Coffee? Selain – konon – rasanya yang memenuhi citarasa kalangan urban, image yang disandang Starbucks Coffee pun terlanjur lengket dengan visualisasi orang-orang muda yang modern.

Wah, berarti yang minum kopi merk ini berasa gaul dong? Katanya sih iya. Tapi saya jamin, Anda pun tak kalah gaulnya jika nyruput kopi tubruk di angkringan bila nongkrongnya bareng gadget sekelas iPhone *hehe*

By the way, kalau menilik cerita dibalik kemegahan dari merk Starbucks Coffee, ada hal menarik yang bisa kita jadikan bahan pembelajaran. Bukan. Bukan masalah resep kopi atau tips sukses, karena Howard Schultz – sang pendirinya – sendiri pernah berkata:

Saya tidak bisa memberi Anda resep rahasia agar sukses, atau rencana yang sempurna agar berhasil di dunia bisnis. Tetapi, pengalaman pribadi saya mengatakan bahwa bukan tidak mungkin untuk memulai segalanya dari nol dan meraih melebihi mimpi-mimpi Anda.

Ok, mau tahu lebih lanjut kisahnya?

Sejarah Berdirinya Starbucks Coffee

Pada awalnya, Howard Schultz adalah seorang general manager di sebuah perusahaan yang bernama Hammarplast. Suatu hari, ia mengunjungi Starbucks yang pada masa itu hanyalah sebuah toko kecil pengecer biji-biji kopi yang telah disangrai. Toko itu dimiliki oleh Jerry Baldwin dan Gordon Bowker.

Sejarah Starbucks CoffeeMelihat kegairahan mereka tentang bisnis kopi, Howard pun memutuskan tuk bergabung dengan Starbucks. Sampai pada suatu ketika, Howard datang dengan ide yang ia fikir sangat cemerlang. Ia mendesak Jerry untuk mengubah Starbucks menjadi bar espresso dengan gaya Italia. Karena saat itu Jerry menganggap Starbucks sedang dilanda krisis hutang, ia menolak mentah-mentah gagasan Howard. Meski setelah melewati perdebatan panjang hingga menjurus ke pertengkaran, ide itu tak jua menemui titik temu.

Namun Howard tak menyerah. Ia lalu mendirikan perusahaan sendiri. Dan belajar dari apa yang tengah dialami Starbucks, Howard sama sekali tak mau berhutang. Ia memilih berjuang tuk mencari sendiri investor-investor yang berminat.

Hasilnya bisa ditebak. Pilihan itu harus dibayar dengan kerja yang teramat keras. Ditolak dan direndahkan menjadi bagian keseharian yang harus dihadapi oleh Howard.

Dan tekad itu akhirnya suatu saat pun terwujud. Bahkan dengan uang yang terkumpul dari usahanya, Howard mampu membeli Starbucks langsung dari pendirinya. Tapi ternyata proses akuisisi tak semudah yang diduga karena ternyata banyak karyawan yang curiga dan memandang sinis perubahan yang dibawanya.

Disinilah sikap seorang Howard diuji. Bukannya memecat seluruh karyawan dan mengisinya dengan karyawan-karyawan baru, Howard malah memilih tuk sebisa mungkin tetap merangkul karyawan lama dengan sistem kekeluargaan. Tak hanya itu, para karyawan pun diberi opsi saham perusahaan sehingga sense of belonging (perasaan memiliki) mereka kian tinggi.

Kini, Starbucks Coffee seakan menjadi brand kedai kopi yang paling meroket reputasinya. Tak kurang dari puluhan ribu cabang di seluruh dunia, Starbucks siap memanjakan para penikmat kopi espresso dengan prinsip yang selalu ditanamkan oleh Howard kepada tiap karyawanannya, yaitu utamakan keramahan pada konsumen.

Bagaimana dengan kita?

Setiap dari kita pasti memiliki mimpi. Dan hingga pada suatu ketika mimpi itu terbentur oleh halangan, kisah Starbucks Coffee memberi beberapa pelajaran penting, yakni:

  • Perbedaan cara pandang adalah biasa, dan sikap kita tuk menghadapinya adalah 100 persen pilihan dari kita sendiri.
  • Tekad dan prinsip yang telah dipegang harus dipertahankan kuat-kuat, karena meski membutuhkan waktu cukup lama tuk mewujudkannya, impian itu pun kelak dapat teraih.
  • Utamakan keramahan dan sifat kekeluargaan, karena sesuatu yang dilandasi oleh kepercayaan (trust) akan lebih langgeng ketimbang kode-kode etik yang tertulis dimanapun.

Yah, sekelumit inspirasi dari Starbucks Coffee. Semoga mencerahkan Anda dan juga bahan pembelajaran saya tuk menjadi pribadi yang lebih dari hari kemarin.

Well, selamat bersulang kopi! *tos* 🙂

12 thoughts on “Belajar Meraih Mimpi Dari Starbucks Coffee

  1. Keramahan dan kekeluargaan sering dilupakan jika sudah beradapan dengan ketentuan dan aturan yang kaku.
    Prinsip suka dengan goyah jika berhadapan dengan godaan. Ini yang sering saya hadapi dengan karyawan-karyawan baru. Belajar dari kelebihan orang lain adalah referansi yang paling bagus.

  2. Duh cerita inspirasi yang keren… (T^T
    Saya juga pernah denger cerita kayak gini tapi dari Pocari Sweat…
    Ceritanya malah lebih keren lagi… kalau gak salah dibuat deh versi doramanya ..
    Di youtube ada kok…

  3. saya jg penggemar kopi mas, salut sama om howard bisa lihat peluang dan hasil kerja kerasnya telah bisa dinikmati di seluruh dunia.

  4. Waktu yang cukup lama untuk meraih impian itu, Mas, yang kadang bikin nggak sabar. Maunya kan instan. Yang cepet-cepet, gitu… 🙁

  5. Wah indonesia juga punya kopi yang mendunia. Kopi luwak. Coba nonton film the bucket list, kopi luwak bner bener jadi minuman wajib salah satu aktor di film tersebut.

    1. Iya, saya masih ingat gimana pak tua itu ketawa terkekeh-kekeh saat tau kopi luwak berasal dari kotoran musang Sumatera, hehe 🙂

  6. wah ternyata selain memiliki brand yang ciamik.. dibalik itu ada begitu banyak kisah perjuangan sukses yang memberikan kita pelajaran-pelajaran penting dalam menjalankan bisnis dan hal-hal lainnya.. mantabb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *