Blogger’s Big Question: Menunggu atau Ditunggu? (Dan Kenapa Blogger Harus Memilih Untuk Ditunggu)

Siang itu, saat ba’da Dhuhur, matahari sudah meninggi dan meninggalkan bayangan tegak lurus pada orang-orang yang berjubel di pelataran parkir sebuah kampus. Saya yang juga waktu itu berada di antara orang-orang tersebut tetap memaksa untuk berdiri tak bergeming sambil menatap sebuah panggung berukuran besar beratapkan kain bermotif pelangi.

Apa yang kami tunggu?

Pembagian gratis sembako? No. Badut berhidung merah? Noo. Ooh, tunggu, seorang artis? Yes!

Tapi ini artis bukan sembarang artis. Dengan pertimbangan track record-nya yang mumpuni, penampilannya yang selalu ciamik dan tak segan untuk berinteraksi dengan para penontonnya, artis ini sungguh patut ditunggu walau harus relaย berpanas-panas ria danย bersimbah keringat di tengah lapang.

Saya lantas sempat berfikir, bagaimana ya jika saya yang menjadi artis tersebut?

Hmm, tentu saya akan menyiapkan segala sesuatunya agar konser berlangsung spektakuler. Mengutip kata-kata Afgan di salah satu iklan obat flu: berlatih, menata koreografi, tata panggung, penyanyi latar dan sebagainya.

Well, saya ngga akan mengecewakan para penonton yang sudah rela menanti selama berjam-jam di luar sana. Saya ingin memberi pengalaman dan sensasi yang berbeda dari artis yang pernah mereka tonton sebelumnya. Dan – hey – bukankah itu saya juga yang sedang menunggu di sana? Ya, ternyata ada kembaran saya atau mungkin hasil cloning gen saya yang ikut-ikutan berjubel di luar! Edan!

Menunggu Blogger Berkelas

image courtesy: torontette.com

Blogger Yang Haus Akan Postingan Berkelas

Siapa itu? Yup, saya sendiri. Selama predikat blogger masih menempel dikandung badan, saya akan selalu haus akan postingan yang berkelas. Entah bagaimana caranya saya akan terus mencari blog yang menyediakan postingan jenis itu, dan setelah ketemu, saya akan dengan bersuka-cita menanti postingan-postingan berikutnya yang tentu saja, pasti berkelas.

Bagaimana postingan yang berkelas itu, yang di ranah blogging sering disebut dengan high quality content?

Banyak persepsi yang beredar atas apa saja kriteria dari postingan yang high quality content, tapi bagi saya sederhana saja: postingan itu harus ada manfaatnya, baik dalam hal pengetahuan, wawasan, atau hiburan. Syukur-syukur bila menemukan sebuah postingan yang menggabungkan ketiga unsur itu sekaligus, karena memang sepertinya semakin hari postingan jenis itu semakin jarang ditemukan.

Nah,ย bila saya mengaku selalu haus akan postingan yang berkelas, lalu bisakah saya menulis postingan yang juga berkelas sebagai imbal baliknya?

Jawabannya: tidak selalu.

Saya juga sama seperti Anda, yang masih dalam tahap belajar bagaimana caranya menulis artikel yang baik, bagaimana caranya menerapkan SEO yang benar, kemudian bagaimana cara mempromosikan artikel dengan tepat, dan seterusnya. Jadi, ibarat orang yang suka sekali ayam goreng KFC, tapi masih belajar gimana caranya agar bisa memasak ayam goreng selezat KFC.

Jadi, saya masih juga menunggu…

Blogger Tidur

Paradoks Blogger Yang Selalu Menunggu

Menunggu antrian bayar listrik, pasti membosankan. Menunggu pacar yang belum datang, lebih menyebalkan. Apalagi menunggu Bang Toyib yang tak kunjung pulang, tentu menyakitkan. Sekarang, coba kita balik perspektifnya. Kita adalah penunggu loket di antrian, pacar yang sedang dalam perjalanan atau sosok Bang Toyib yang tengah berjuang bagaimana agar secepatnya bisa pulang.

Lebih enak yang mana? Tentu yang kedua, bukan? Sungguh nikmat menjadi penunggu loket yang melayani pelanggan dengan senyuman, sungguh tak ada duanya menjadi seorang kekasih yang selalu ditunggu kedatangannya, dan sungguh tiada terkira ketika akhirnya kita – si Bang Toyib – muncul di kampung halaman membawa segudang oleh-oleh.

Walau pada akhirnya kedua belah pihak, baik yang menunggu atau yang ditunggu sama-sama berbahagia, kita pasti lebih memilih menjadi pihak yang ditunggu.

Begitupun dengan blogger. Mau tahu kenapa?

Pertanyaan Blogger

image courtesy: tecca.com

Ya, Kenapa Harus Menjadi Blogger Yang Selalu Ditunggu?

Menunggu blogger lain untuk terlebih dahulu memberi postingan yang bermanfaat memang bagus, karena itu akan menambah motivasi kita untuk lebih meningkatkan semangat ngeblog. Tapi ada baiknya jika kita yang mengambil inisiatif duluan dan menjadi pihak yang ditunggu tulisannya, karena dengan begitu:

  • Kita akan lebih semangat dalam mencari ide-ide segar yang tak biasa
  • Akan terus berusaha untuk lebih terampil dalam menghasilkan tulisan yang menarik
  • Berusaha menampilkan desain blog yang mudah dan tidak asal-asalan
  • Terus belajar dan menambah wawasan baru untuk tulisan-tulisan selanjutnya
  • Meningkatkan produktivitas ngeblog
  • Lebih mengenal blogger-blogger lain yang seminat
  • Akan terus meningkatkan performa, baik dalam hal frekuensi update maupun loading blog
  • Dan secara tidak langsung, semua yang diuraikan di atas akan memudahkan kita untuk mencapai tujuan blogging

Praktisnya, menjadi blogger yang selalu ditunggu – atau merasa ditunggu – akan ‘memaksa’ kita tuk berusaha menampilkan seluruh kemampuan kita di setiap postingan. Full power. Full energy. Keringat yang bercucuran saat stres menulis akan terbayar, kerutan dahi yang semakin rapat akan berganti cengiran, dan – syukur-syukur – biaya yang Anda keluarkan untuk membeli pulsa akan terlunasi plus bonus-bonus lain yang tak pernah terfikirkan.

Nah, bagaimana dengan Anda, siap untuk menjadi blogger yang selalu ditunggu?ย Pilih mana, menunggu atau ditunggu?

Atau, jangan-jangan Anda memang bercita-cita ingin jadi seleblogger dan dari tadi sudah menunggu kemunculan artikel ini ya? ๐Ÿ˜€

Happy blogging!

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Blogging and tagged , , , . Bookmark the permalink.

41 Responses to Blogger’s Big Question: Menunggu atau Ditunggu? (Dan Kenapa Blogger Harus Memilih Untuk Ditunggu)

  1. Rinaldy Sam says:

    Saya juga haus akan postingan berkelas… Kadang saya berpikir postingan-postingan di daftar feed agak aneh-aneh. Itu buat saya malas untuk komentar. Jangan kan komentar bacanya aja cuma setengah semangat. Padahal saya aja gak pernah buat postingan berkelas (T^T….

    Ngomong-ngomong saya ternyata penunggu postingan mas darin (~_~… Kok bisa ya…. (~_~
    saya merasa tulisan-tulisan di Mas Darin itu beda dari yang lain… Gak unik sih… tapi saya ngerasa beda aja (^ ^ …

  2. kettyhusnia says:

    krena itu sya mampir kesini ms..postingannya selalu kutunggu hehehe
    btw..itu berdiri tak bergeming atau berdiri bergeming??
    berdiri bergeming berarti tak gerak2 dan tak toleh kiri kanan..kalo yg dimaksud berdiri tak bergeming..jadinya berdiri tapi sambil goyang2..:)
    duh sori..out of topic hehehe

  3. stupid monkey says:

    kalau saya posting ya sesuai dengan selera hati saja mas, btw artikel disini padat dan sangat berisi, terima kasih masukannya sob ^_^

  4. dHaNy says:

    Selebblogger inih…
    Ketercapaian hasil yang maksimal pasti butuh perjuangan yang lebih pula, lebih pula yang di korbankan. Menyajikan artikel yang berkelas memang butuh energi, butuh waktu, butuh inspirasi juga. Namun jika sudah terbiasa mendisiplinkan hal tersebut saya yakin kalau proses pencarian ide-ide segar berikutnya hanya dengan menutup mata saja sudah datang.. Karena apa? Otak sudah terbiasa ditekan untuk berfikir..
    So Lets be Creative on blogging

  5. Ipras says:

    Bagi setiap orang, postingan berkelas itu relatif sih ya… lebih baik menciptakan konten yang bisa mengundang minat ketertarikan dan nyaman untuk dikonsumsi :)

  6. menunggu menjadi suatu hal yang akan sangat membosankan jika melewati batas.
    ditunggu juga menjadi suatu hal yang sangat mencemaskan jika tidak bisa memberi yg terbaik.

    hmmmm mungkin akan ada yg memilih menunggu penunggu kuburan
    huiiii……….

    hepi blogging dah pokoke

  7. Kimi says:

    Wah… Jujur, aku sampai sekarang gak tahu gimana caranya nulis yang berkualitas. Lha, aku aja nulis masih asal-asalan. :((

    Tapi, kadang terbersit juga sih gimana klo yang mampir ke blogku gak suka sama tulisanku yang nyampah dan terkesan asal-asalan? Sebenarnya sih pengen nulis yang berkualitas. Tapi, ehm… gitu deh. ๐Ÿ˜€

    • Dendy Darin says:

      Kalau melihat bacaan2 kamu, kayaknya pantes banget klo kamu bisa nulis bagus Kim ๐Ÿ˜€
      Why don’t u try it? Nothing to lose, right?

  8. farizalfa says:

    Mari bersama-sama menjadi blogger yang selalu ditunggu postingan-postingan berkelasnya.
    Jangan sampai sia-siakan kesempatan.

  9. ANEKA HOT says:

    Saya nggak setuju mas, tetapi suwangat suwetuja

  10. Wandi Sukoharjo says:

    Nekjika pengin ditunggu-tunggu nyuposnya, kayaknya penganut mahzab one post per day kek milikku ini cocok mas. ๐Ÿ˜€

  11. Cahya says:

    Ada dalam sebuah khazanah lama, bahwa tidak penting siapa yang menyampaikan, namun apa yang disampaikan.

    Mengikuti penulis yang sudah dikenal namanya dan ditunggu karyanya memang menyenangkan, termasuk untuk narablog. Namun kadang saya suka sedikit melompat ke sana dan ke sini, melihat halaman-halaman lama dan baru dari nama-nama yang tidak dikenal banyak, siapa tahu ada hamparan mutiara di situ :).

    • Dendy Darin says:

      Yup, betul sekali Bli. Kadang perlu proaktif juga tuk menemukan blog2 seperti itu, dan ternyata banyak. Mereka tinggal menunggu waktu saja untuk muncul ke permukaan :)

  12. kova says:

    Great post gan, ini postingan menarik.. Semoga beberapa bulan kedepan anda juga masuk dalam jajaran artis.

  13. Nando says:

    Blog gado-gado kayak punya saya, mungkinkah suatu saat menjadi blog yang berkelas, Mas Darin?

    • Dendy Darin says:

      Banyak yg sudah membuktikan mas Nando.
      Priyadi(dot)net dan tikabanget(dot)com contohnya kan? :)

  14. fanz says:

    akan kah saya jadi blogger yang selalu di tunggu?? :)

  15. saya jadi blogger bahagia aja deh…. ๐Ÿ˜€

  16. Leo Ari Wibowo says:

    Membaca ini, saya jadi terpikir :

    1. Apakah tulisan saya selama ini ditunggu? *doubt it*
    2. Kegiatan blogging itu berat juga ya, harus belajar dan belajar terus. Tapi entah kenapa, saya kok suka :)

  17. bro eser says:

    Saya sih kepingin menjadi blogger yang ditunggu tulisannya, tapi karenanya tulisan saya masih amburadul maka saya menunggu dulu artikel-artikel menarik dari rekan-rekan blogger apalagi yang punya blog ini :-)
    Kangen gambar kartunnya bro….

    • Dendy Darin says:

      Iya bro, tenang ide2 kartun ada sih, cuma waktu corat-coretnya belum nyampe hehe
      Tapi pasti nanti nongol ๐Ÿ˜€

  18. blog saya? bisa terkesan jauh dari kualitas bibit unggul sebuah teks blog high quality jomblo. bukan lagi terkesan asal2an, malah kadang saya kopi berita dari mereka tp tetep cantumin sumbernya.

  19. DIL says:

    Saya suka dengan cara anda menulis artikel dan menyampaikan pesan pd pembaca..
    Maju trs blogger Indonesia!

    Salam kenal
    — fadil —

  20. m-amin says:

    Memang kalau berkeinginan jadi blogger yang sukses tentu harus selalu memberikan posting apa saja yang penting paling perdana sebelum semua blogger menulisnya. salam.

    • Dendy Darin says:

      Kalau ‘perdana’ sepertinya sulit mas, kecuali untuk info2 berita atau gadget. Tapi bisa juga tulisan dengan tema sama tapi dari sudut pandang plus karakter kita yang berbeda, betul?

  21. KD says:

    saya selalu menunggu postingan artikel dari mas darin, karena seru, menarik, segar dan bermanfaat :) kalau saya sih, keduanya saja deh mas menjadi blogger yang menunggu posting blogger lainnya dan sebaliknya hahahaha *maruk* ya.. :)

    • Dendy Darin says:

      Aduuh, pujiannya terlalu berlebihan deh mas.
      Hohoho, kita memang senasib, menunggu sekaligus – pengennya sih – ditunggu hehe ๐Ÿ˜€

  22. jarwadi says:

    bagi saya, high quality content adalah yang menginspirasi. postingan mana yang menginspirasi dan yang tidak itu sih subyektif, tergantung penilaian subyektif saya, hehehe

  23. kurnia septa says:

    ulasan yang menarik, sebelumnya kita diajak membayangkan, menganalogikan dengan keadaan nyata. Saya sendiri masih juga suka akan tulisan berkelas, tapi di lain pihak masih belum bisa menulis tulisan yang berkelas. Ini adalah motivasi, makasih tulisan yang super ini.

  24. Pingback: Darin Holic: Blogger yang Selalu Ditunggu atau Menunggu | satu untuk semua

  25. Pingback: Darin Holic: Blogger yang Selalu Ditunggu atau Menunggu | satu untuk semua

  26. Yanuar Sapta says:

    Semakin hari semakin menemukan banyak Blogger yang bisa dijadikan panutan.
    Salah satu ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *