Blogku, Surgaku

Seingat saya, sebagai blogger, ini adalah momen yang paling membuat saya bahagia: menuliskan sesuatu, mem-publish-nya, dan tulisan itu terpampang di internet. Lalu tak lama lahirlah berbagai macam ‘penemuan’ – seperti SEO, page rank, social media, etika berkomentar, plugin-plugin dan banyak lagi – yang kemudian membuat perasaan ‘bahagia’ itu tak lagi se-orisinal dulu.

Saya tidak menyatakan bahwa semua ‘penemuan’ itu tak berguna. Semua bagus, dan tujuannya memang untuk mempermudah saya sebagai blogger, agar blog yang saya kelola bisa meraih pertumbuhan yang maksimal.

Dan sebagai konsekuensinya, proses untuk menjadi bahagia itu pun menjadi lebih panjang: menulis, mencari kata kunci, menerapkan SEO, memberikan link-link (ke dalam dan keluar), dan setelah publish, pekerjaan belum jua selesai, masih ada komentar-mengomentari, social media dan berbagai hal lain yang menyangkut promosi artikel.

Hell, makin susah ya ternyata untuk menjadi bahagia…

Eh, nanti dulu, apa dengan melalui proses yang makin panjang itu lalu membuat saya lebih bahagia? Jawabnya, no.

Kenapa?

Karena yang terjadi kemudian adalah beberapa hal berikut:

  • Sebelum menulis, bukannya asyik mengeksplorasi isi kepala, saya malah sibuk dengan sihir yang bernama kata kunci. Apa kata kunci tulisan ini? Bagaimana tren-nya? Apa nanti bisa bersaing dengan kata kunci yang ada di blog lain? Apakah judulnya cukup menohok? Bla bla bla.
  • Selagi menulis (yang biasanya disertai dengan modem tertancap di laptop) gangguan dari obrolan di social media, kolom search google yang selalu menggoda untuk diisi demi kesempurnaan artikel, dan aplikasi chat yang tak henti berkedip selalu menjadi distraksi yang akut. Dan saya – sebagai mahluk narsis yang normal – pun dengan senang hati terjun bebas dan tenggelam di lautan social media yang tak berujung.
  • Masih dalam proses menulis dan berjuang di lautan socmed, fikiran saya dibebani lagi dengan deretan kalimat yang sedang ditulis. Apa tulisan ini cukup bagus? Apa sudah satu level dengan blog A dan B? Jangan-jangan nanti malah jadi bahan olok-olok dan sepi komentar.
  • Sukses melewati rintangan-rintangan di atas, dan melalui perenungan (baca: utak-atik SEO) yang panjang, tulisan pun beredar online di blogosphere. Fiuh. Namun seiring dengan itu, tugas baru sudah menunggu. Saya mulai berpeluh melancarkan promosi. Saya jejali semua situs yang ada di tab browser dengan link yang menuju ke blog saya sendiri, seperti di kolom komentar blog lain, twit, status facebook, messenger dan apapun itu.
  • Kemudian saya menunggu… tak ada perubahan. Komentar sepi, RT sepi, like sepi, kata kunci yang diincar di Google ada di halaman antah berantah.
  • Saya belum bahagia. Ini tak sesuai dengan ekspektasi saya untuk menjadi bahagia.
  • Dan untuk memuaskan rasa dahaga untuk bahagia, saya mulai lagi proses dari awal untuk artikel berikutnya yang entah kapan akan di-publish

Bukannya saya anti dengan yang namanya problogger, bukan pula saya iri dengan dengan perkembangan blog lain yang makin mengkilap, apalagi jika saya menganggap diri saya sendiri blogger yang tak memiliki jiwa online-preneurship. Bukan.

Saya hanya ingin kembali merasakan bahagia sebagai blogger yang seutuhnya: menulis, tulisan saya terpublikasi, dan syukur-syukur jika tulisan itu dapat memberi inspirasi bagi orang lain.

blogku surgaku

Jadi, mulai dari tulisan ini ter-publish, saya akan melakukan hal-hal berikut:

  • Menulis hanya dalam keadaan offline (tulisan ini saya buat pagi hari, tanpa modem, tanpa wi-fi, hanya laptop dan kopi).
  • Saya non-aktif-kan Facebook. Saya merasa tak ada lagi yang berguna di sana.
  • Twitter tetap saya gunakan untuk twit otomatis saat publish artikel (memakai plugin twitpress). Selebihnya, saya hanya nge-twit di malam hari untuk berinteraksi saat santai, saat mengecek email dan cek dashboard blog.
  • Plus, saya akan lebih mengoptimalkan email untuk komunikasi antar blogger.

Intinya, saya men-challenge diri sendiri, dan eksperimen ini berlaku hingga minimal satu bulan ke depan (akan saya update perkembangannya), dengan harapan nanti akan menjadi kebiasaan baru untuk pengembangan pribadi saya sendiri.

Harapan lain, semoga saya dapat menemukan kembali ‘surga’ itu.

Bagaimana dengan Anda, sudah bahagiakah Anda sebagai blogger?

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Jurnal and tagged , , . Bookmark the permalink.

24 Responses to Blogku, Surgaku

  1. Sebagai blogger, masalahnya saya hampir sama dengan kebanyakan blogger. Saat sedang asyik menulis (melukis isi kepada di dasbor blogger), saya sering tergoda untuk membuka Facebook dan Twitter hingga akhirnya proses menulis berhenti alias stuck.

    Setidaknya, saya masih merasa sangat bahagia setelah selesai menulis apa yang saya inginkan. Walaupun tidak mendapat komentar bahkan tidak dibaca, setidaknya saya masih merasa bahagia 😀

    • Darin says:

      Saya ikut bahagia mendapat komentar seperti ini bro. Mari kita melukis surga kita masing-masing :)

  2. grubgrub says:

    menulis dan narsis memang dua hal yang berbeda..

    dan keduanya ada”unsur” sorganya… :)

  3. danyf5habibi says:

    Terakhir ke blog ini kira-kira kapan ya?? (mendadakamnesia), kok ada beberapa kemiripan ya kang dengan saya. Terkadang mau nulis aja kalau nggak kelamaan nyari “keyword” ujung-ujungnya cuman online sampai lupa nulisnya. Aduh..

  4. grandchief says:

    Kadang juga merasakan juga mas,malah sering merasakan untuk akhir-akhir ini (karena jarang update blog :D) Permasalahan untuk menciptakan kepuasan tersendiri ngeblog dan bahagia dengannya.

    Semoga bisa tetap termotivasi ngeblognya dan dapat berbagi motivasinya.Sejenak lupakan parameter kepuasan yang semakin meningkat dan kembali menemukan tujuan baru ngeblog.

  5. @bangsaid says:

    Syukurnya aku ga pernah mikirin tulisan2ku di blog bakal gimana. Ga sibuk ngurusin kata kunci, SEO, terindex Google atau apalah sejenisnya. Saya cuman nulis ~ publish ~ dan sedikit promosi di Twitter & Facebook. Bahagia? Dari dulu saya ngeblog cuman begitu, bahkan sejak pertama punya blog di Tahun 2005.

    Jarang banget juga buka FB, kalo ga lewat Opera Mini di HP, malas 😀 FB memang menggoda untuk sibuk ngurusi orang lain. Twitter pun sudah mulai jarang, sesekali aja ketika tulisan sudah terpublish.

    Godaan terberat saya adalah pas nyalain laptop, banyak film2 menunggu untuk ditonton. Wkwkwk

    Blogku memang syuurgaku 😀

  6. Ranger Kimi says:

    Believe it or not, I never really thought about SEO, page rank, alexa rank, or whatsoever. And I’m always happy as a blogger. Tidak terlalu memusingkan RT yang sepi maupun komentar yang sepi. Karena bagiku yang penting itu menulis dan berbagi. Terdengar klise memang, tapi itu yang terjadi padaku. :)

  7. Aryo Seno says:

    Hihihi saya malah gak pernah mikir mas yang namanya SEO atau PR dari dulu, paling cuma iseng aja lihat PR berapa

  8. Healthynesia says:

    hmmm….inspiratif mas

  9. ariesusanto says:

    Blognya keren. Renyah tulisannya. Enak dibaca kalimat perkalimatnya. Hehehe.

  10. Fadhly says:

    Yang terpenting bsa menciptakan sesuatu hal yg menarik.. :)

  11. mawi wijna says:

    Saya tertantang untuk mempublikasikan sesuatu yang unik atau menarik perhatian. Biasanya, pembaca lebih tertarik ketika membandingkan sesuatu yang umum dengan sesuatu yang unik.

  12. Sandy Eggi says:

    Anda patut berbahagia karena blog ini bisa menginspirasi banyak orang. Termasuk saya :)

  13. Kalau mau gampang sih ya diacuekin aja gan. Jika memang agan ingin kembali ke masa lalu dimana menulis artikel adalah prioritas tertinggi, maka cuekin aja yang namanya SEO, Pagerank Plugin, dll. Kemudian fokuslah pada yang namanya “Menulis Artikel”.

  14. uchedawn says:

    udah jadi hobi nge blog kali ya ??

  15. Kalau saya sih dalam menulis artikel juga sebagian di tulis secara offline dan sebagian lagi saat online. Soalnya dashboard back-end blog saya sedikit berbeda sehingga perlu beberapa tweak supaya bisa maksimal. Ya tweak di nggak sepenuhnya tentang seo juga sih.

    Terus kalau lagi stuck biasanya malah tak buat blogwalking, mencari-cari inspirasi bagaimana gaya tulisan yang enak buat saya.

  16. Rini Swari says:

    Postingan saya bahkan selalu zero komen untuk blog personal saya karena saya berkomitmen, saya ngeblog di sana untuk menulis. Bukan untuk eksis… hehe…

    Lain halnya kalo tujuan blognya untuk berbagi informasi dgn orang lain. Nah di sana baru saya rasa perlu tuh yang namanya interaksi dgn blogger lain plus melakukan teknis2 utk mempromosikan blog seperti yg mas darin ulas di atas.

    Saya termasuk blogger silent reader yg kalo BW jarang komen. Kecuali gatel pengen nanggepin postingan yg saya baca. Hehe

  17. grosirbros says:

    hehe… surga di dunia maya… yang terpenting selalu memacu diri sendiri untuk kreatif..

  18. wah keren mas 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *