Bukan Sekedar Eksis

Setiap orang setidaknya harus menanam sebatang pohon, memiliki anak, atau menulis sebuah buku. Ketiga hal tersebut akan melampaui batas usia kita, memastikan bahwa kita tetap dikenang.

Petikan kata-kata Jose Marti, seorang pejuang revolusioner sekaligus penyair ini mengingatkan saya kenapa saya menyematkan kata Darin pada nama di kedua putri saya.

Saat pertama kali mengingatnya, yang terlintas di fikiran saya saat itu adalah: saya ingin memberitakan pada dunia bahwa kedua manusia baru ini merupakan ‘hasil karya’ dari seorang yang bernama Darin. Ya mirip-mirip lah dengan apa yang dilakukan oleh marga-marga suku Batak, Tionghoa dan budaya di belahan dunia lain, bahwasanya penyematan kata tertentu di nama keturunannya adalah sarana untuk mempertegas eksistensi individu atau kelompok.

Tapi ternyata alasan yang terlihat sederhana itu tak sesederhana maknanya jika dipandang dari sisi humanisme. Kata-kata Jose di atas sudah pasti bukan ditujukan secara langsung untuk orang yang belum pernah menanam sebatang pohon, belum menulis buku pun yang belum memiliki momongan, karena jika diresapi lebih dalam, ia mencoba tuk menyindir halus para individu yang tak jua menemukan sesuatu dalam hidupnya. Sesuatu yang akan menjadikan individu tersebut tetap eksis walau raganya tak lagi ada.

Ok, paparan itu mungkin agak njlimet dan terkesan abstrak, namun jika mengintip sejarah, alasan itu sejalan dengan sifat dasar manusia untuk lebih superior dari yang lain. Bangsa Romawi sudah melakukannya dengan wujud bangunan-bangunan yang monumental,. Saya sendiri terkejut saat membaca sebuah literatur teknik jalan raya yang menulis bagaimana mereka membangun tebal perkerasan jalan yang di luar nalar.

Bayangkan, zaman itu kan yang lewat hanya gerobak kayu untuk transportasi barang dan inspeksi wilayah, lalu mengapa mereka membangun jalan dengan tebal perkerasan hingga dua meter? Untuk ukuran logika memang tak masuk, tapi jika menilik salah satu sifat dasar manusia tadi, fakta itu bisa memperjelas semua, bahwa hasrat bangsa Romawi untuk dikenang sebagai bangsa yang unggul di zamannya lebih besar daripada sekedar membuat jalan yang biasa-biasa saja.

Baca Juga:  Kenyataan Itu Pasti, Kebahagiaan Itu Pilihan

Begitu pula dengan bangsa Tiongkok yang menciptakan tembok spektakuler, bangsa Mesir dengan piramidanya, dan daftar itu kian panjang saja di era modern ini, dimana sepertinya tiap negara berlomba tuk terlihat lebih menonjol dan tidak biasa dari yang lain. Lihat saja Empire State Building, Jin Mao Tower hingga Burj Khalifa di Dubai.

Terbesar, termegah, tertinggi.

Dan tentu saja, sesuatu yang fenomenal bakal dikenang dalam kurun waktu yang lama.

Nah, untuk ruang lingkup yang lebih kecil, di dunia kerja misalnya, persoalan ‘dikenang’ ini menjadi semakin dalam maknanya. Pribadi-pribadi yang memiliki kompetensi dan bagus dalam hal skor akademis di sebuah perusahaan belum tentu menjadi seorang yang dikenang oleh koleganya. Mengapa? Ya, Anda benar, personality, itu yang jadi tolok ukur.

Dari pengalaman saya, seorang team leader dengan track record menjanjikan tak lantas akan memastikan bahwa sebuah proyek akan berjalan mulus sesuai jadwal di bawah kepemimpinannya. Sebaliknya, pekerjaan bisa ngebut dengan kualitas mumpuni meski hanya dikawal oleh seorang inspektor lapangan yang fresh graduate dan minim pengalaman.

Itu hanya sekedar contoh sih, tapi kenyataan di lapangan memang ada dan banyak yang seperti itu. Dengan kata lain: tak hanya sekedar eksis, tapi bagaimana eksistensi kita memberi dampak bagi kehidupan di sekitar, itulah yang disebut dengan eksis yang sesungguhnya.

Dan tak harus superior, namun setidaknya di setiap kehadiran, kita berusaha untuk menyadarkan diri sendiri bahwa apapun yang kita lakukan, selain berimbas pada perkembangan diri pribadi, hal itu juga bakal berefek pada orang lain.

Bagaimana menurut Anda?

Blogger yang sedang nge-freelance di ujung timur Indonesia. Suka nulis, baca buku, musik dan nggambar. Contact | Subscribe RSS Feed or Email

6 comments On Bukan Sekedar Eksis

  • Seorang mantan atasan pernah mengatakan gini:
    “Saya kerja di mana pun, harus bisa memberikan value added pada kantor itu. Ketika sudah tidak ada value added lagi, tandanya saya harus bergerak kembali.”

    Ini yang saya pegang dan memang nikmat menjalaninya. Value added bagi atasan saya ini mungkin yang mas sebut dengan eksistensi tadi ya.

    Teman saya ada menulis juga di pikiranrandomcom tentang kaum urban jakarta. Ini jg jadi hal menarik. Gpp, yang penting eksis. Itu isinya.

    Salam kenal

    • Salam kenal kembali mas Febri
      Wah, tambahan cerita yang inspiratif juga tu mas. Prinsip yang sangat menohok.
      Saya jadi mikir juga, apa kehadiran saya memberi value tambahan pada setiap project apa tidak. Dan juga sepertinya kita harus memikirkan arti ‘value’ tadi. Jika ‘value’ diartikan kontribusi, dan misal setiap tahun job description-nya sama, seharusnya kalau mau mengikuti perkembangan, tingkat ‘value’nya makin meningkat. Ya toh?
      Tapi untuk sementara, bagaimana kita ngeksis dgn caranya masing2, itu mungkin tingkatan yg paling sederhana ya.

  • Saya jadi ingat perkataan DR.H.C Kyai Haji Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh yang mengatakan bahwa ‘menjadi baik itu sangat mudah , dengan hanya diam , maka yang terlihat adalah kebaikan. Yang sulit itu menjadi manusia yang bermanfaat , karna itu butuh perjuangan’

    Jangan hanya bangga kita sekedar dibilang orang baik ketika kita hanya berdiam diri selalu berada di comfort zone dan stuck dalam berinisiatif.
    Karna hakikat manusia yang paling baik itu adalah manusia yang bermanfaat bagi yang lainnya.
    Dan bukan manusia yang sekedar eksis.

    Salam kenal mas darin

    • Salam kenal Mas Ridwan
      Wah tambah lagi wawasan saya, perkataan Pak Kyai Sahal Mahfudh betul2 makjleb juga. Ya, dengan diam saja kita dan eksis, kita pun bisa dikatakan orang baik. Tapi apakah baik tetap diam jika ada ke-mudharat-an di sekeliling? Ini yg kadang jd polemik ya mas. Apalagi di tahun politik ini. Panas banget. Banyak hoaks. Mau nggak mau ya kita harus nunjukin perhatian dengan cross check atau membantahnya. Kalau diam ya yang waras kalah, bukan ngalah lagi, betul?

      • Betul sekali , bahkan salah satu hadits nabi mengatakan bahwa ‘ cukuplah kriteria manusia itu dikatakan pembohong , jika dia mengatakan berita kepada orang lain dari apa apa yang semua dia dengar ( tanpa kroscek terlebih dahulu ) ‘

        Hoax, walaupun menurut kita ‘kabar baik’ , jangan langsung kita girang dan share kemana mana.
        Hoax , kalau engga dikasih panggung buat bersua ya nanti mati mati sendiri..

        Ibarat bowo tanpa tiktoknya , hehe 😀

        • Duh kok jadi ada bowo segala mas hahaha >0< Ya betul itu, ada panggung lalu ada individu2 yang 'lapar' ikutan, jadinya viral entah baik atau buruk 😀

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer