Mengurai Missing Link Antara Motivator Dan Follower

Kalau Anda juga seorang penikmat buku-buku motivasi, fans berat-nya para motivator, atau menjadi follower salah satu dari mereka di social media, tentu tak asing lagi jika mendapati kalimat-kalimat atau quotes yang kadang menjadi pengingat bagi apa yang telah kita lakukan selama ini.

Paling gres adalah saat menyimak twit-twit atau kultwit yang sering disajikan oleh mereka di timeline. Ada yang memang mampu menggiring kita tuk menjelajahi lebih dalam makna dari satu persoalan, ada yang humble dan twit sesekali namun pesannya langsung menohok, ada pula yang saking seringnya nge-twit hingga seakan menjadikan pesan motivasinya hilang, ditelan tendensi pamer (show off).

Yang terakhir itu terus terang sering saya dapati – baik di Twitter, Facebook atau media sosial lain – yang ujung-ujungnya saya tak ragu untuk mengklik unfollow *hehe*. Logika manusiawinya, kalau orang terlalu banyak berbicara tentang dirinya sendiri, cepat atau lambat mereka akan ditinggalkan. Sebaliknya, jika mereka mampu mendengar masalah dan menerjemahkannya dengan satu solusi tanpa bersikap mengerdilkan otak atau perasaan orang lain, they are the winner.

Apa Anda pernah juga mengalami hal yang sama? Terlalu jengah dengan ocehan motivator yang akhirnya tak membawa Anda kemanapun kecuali stuck dengan apa yang ada saat ini? Continue reading

Less is More, Less is a Power

Dari buku Your Journey To Be The #UltimateU-nya Rene Suhardono, saya baru menyadari adanya sebuah anomali. Anda tahu Shakespeare? Pujangga dari tanah Britania ini menelurkan karya-karya abadinya saat perbendaharaan kata bahasa Inggris hanya 1/10 dari kosakata yang ada sekarang.

Topik judul bab yang hampir sama dengan judul artikel ini (aslinya berjudul Less is more, Less is blessing) memang tak asing, namun Bung Rene berhasil – dengan celetukan-celetukan khasnya – membuka sisi-sisi humanis lain, seperti: Continue reading

Paradoks Kekuatan Dan Kelemahan Diri: Sebaiknya Fokus Pada Sisi Yang Mana?

Saya punya teman yang jago basket, tapi dia ngga bisa gitar. Teman yang lain – sumpah – keren betul menggambar sketsa, tapi dia mengaku ngga pernah ngerti sama sekali dengan yang namanya pelajaran kimia.

Kelebihan dan kekurangan, terdengar lumrah, bukan?

Masalahnya, teman saya yang jago basket kepingin sekali tuk bisa nyanyi sambil main gitar dan dia menganggap hal itu sebagai satu kelemahan yang harus diperbaiki. Setali tiga uang dengan si master sketsa, berhubung cita-citanya adalah menjadi dokter, kekurangan dalam pelajaran kimia ia jadikan sesuatu yang harus dicari solusinya dengan segera.

Kemudian – taruhlah – si jago basket menjadi benar-benar bisa menyanyi dan memainkan gitar. Namun apakah kemampuannya sebanding dengan orang yang memang memiliki kemampuan dan bakat di bidang musik?

Pun si master sketsa, dengan kegigihannya mengikuti les privat dan bimbingan belajar, akhirnya ia bisa juga mengerti konsep reaksi kimia, jenis-jenis unsur dan hapal tabel periodik. Tapi dibanding mahasiswa teknik kimia yang memang memiliki minat dan hasrat di bidang kimia?

Dua kasus itu berakhir dengan jawaban yang sama: mereka hanya akan menjadi orang rata-rata di bidang yang dipilihnya.

Karena apa? Continue reading

Belajar Meraih Mimpi Dari Starbucks Coffee

Sebagai seorang pecinta kopi, dari dulu saya kepingin banget menyicipi kopi dari salah satu brand ternama ini. Ya, siapa sih yang tak kenal dengan Starbucks Coffee? Selain – konon – rasanya yang memenuhi citarasa kalangan urban, image yang disandang Starbucks Coffee pun terlanjur lengket dengan visualisasi orang-orang muda yang modern.

Wah, berarti yang minum kopi merk ini berasa gaul dong? Katanya sih iya. Tapi saya jamin, Anda pun tak kalah gaulnya jika nyruput kopi tubruk di angkringan bila nongkrongnya bareng gadget sekelas iPhone *hehe*

By the way, kalau menilik cerita dibalik kemegahan dari merk Starbucks Coffee, ada hal menarik yang bisa kita jadikan bahan pembelajaran. Bukan. Bukan masalah resep kopi atau tips sukses, karena Howard Schultz – sang pendirinya – sendiri pernah berkata: Continue reading

Ketika Blogger Menjadi Sangat Emosional

Perasaan telah menyelesaikan sesuatu adalah pil tidur yang efektif. Orang yang berhenti merasa bahwa dia telah menyelesaikan tugasnya akan cepat melemah. Perusahaan yang merasa telah mencapai tujuannya akan mandek dan kehilangan vitalitasnya (Ingvar Kamprad)

Dari buku-buku yang saya baca, saya dapat menyimpulkan bahwa kesuksesan di berbagai bidang kehidupan sangat berkaitan dengan kecerdasan emosi yang dimiliki.

Emosi – katanya – berperan penting sebagai ‘energi efektif’ yang menghadirkan nilai-nilai etika, misalnya kepercayaan, integritas, empati, keuletan dan kredibilitas serta untuk modal sosial. Hal yang paling mencolok adalah, ketika kecerdasan emosional terlihat sebagai kemampuan untuk Continue reading