Dear Blog, How Are You?

Hening.

It’s ok, I understand. Tanpa menunggu reaksi selanjutnya, saya mulai menempatkan diri di sudut dan bersikap senyaman mungkin. Saya mengerti, sejak manusia masih bergumul dalam peradaban primitif, pertemuan antara dua pihak dengan sejarah tak mengenakkan adalah sebuah keniscayaan pahit. Pun perjumpaan saya dengan dashboard blog ini.

Seperti menjenguk mainan kesayangan yang dulu pernah menjadi penghibur, saya hanya bisa berefleksi. Tidak lebih. Sentuhan magis kala pertama mengaksesnya, kegembiraan saat kursor berkedip menanti tumpahan kata, dan hangat yang tak terdeskripsikan ketika melihat dirinya lepas bermain di lautan maya; semua berbaur. Ya, seharusnya ini menjadi satu nostalgi yang epik. Tapi belum. Untuk saat ini.

Blog, you are my first wonderful-feel-maker on this crazy online world / Oh, did you really said that? Now?

Ok, saya akui Twitter and Instagram are still the mega-f*cking-good-leisure-sh*t forever and ever! / Yea, that’s better. Don’t ever lie to me. I’m still here waiting for you. Go on, give your best for your own good. Not theirs.

And here we go again.

Ada yang senasib? Sepertinya banyak. Dari kolom komentar di arsip postingan blog ini, sebagian besar, atau nyaris sembilan puluh persen link blognya tak lagi bisa diakses. Dengan kata lain: sayonara old toy, you are not my type anymore.

Jadi, apakah blog benar-benar mati?

Bisa ya, bisa tidak. Namun merujuk data google trend lima tahun terakhir, pencarian kata kunci ‘blog’ faktanya mengalami penurunan. Meski ada fluktuasi, ya tetap cenderung menurun.

Trend Blog

Lalu apa kemudian kini saatnya untuk berhenti ngeblog atau membaca blog? Nanti dulu.

Dari perspektif pribadi, blog masih oke kok. Banyak data penelitian saya yang bersumber dari platform ini. Ya, ya, istilah ‘penelitian’ mungkin terlalu tinggi, lebih pasnya; tips dan trik. Hey, I’m a hyperbolic-thing lover!

Dan alasan untuk tidak berhenti membaca blog, well, karena saya lebih menikmati tulisan. Entah itu ditulis dengan tata bahasa yang kacau bin ngalor ngidul, saya masih bisa menemukan poin yang dicari. Alasan irit kuota boleh lah, tapi jika dibanding frustasinya menggeser timeline Youtube hingga mendapat inti dari yang ia sampaikan, itu sangat-sangat sebanding. Di Twitter saya cupu. Instagram, I love Raisa. Dan Facebook, no, Facebook hanya untuk orang-orang yang lemah.

Baca Juga:  Merah Menyala di Mandala

Itu tak mengejutkan. Secara masif, media sosial telah menempatkan dirinya sedemikian rupa sehingga,apapun yang dunia bilang tentang kamu, you are the right one. Jadi, nggak perlu bergelar dokter untuk mengkritik menteri kesehatan, susah-susah belajar di pesantren untuk menggugat ulama, atau bertahun-tahun terjun di sarang separatis untuk mengajari aparat soal keamanan. Selama punya akses internet dan jempol sehat, kamu eksis.

Belum lagi dengan kehadiran aplikasi-aplikasi smartphone yang makin aduhai, kepeningan mengurus blog dengan segala tetek bengeknya kini jadi semacam bahan tertawaan. Hey, you want some insight? Watch this viral sh*t!

Wait, it’s too far.

Ok, kembali ke permasalahan ‘kematian’ blog, saya lihat, sebenarnya blog tidak mati. Blog hanya bereinkarnasi. Wujudnya kini tak semata berplatform Wordpress, Blogspot, Tumblr, Typepad dan sebangsanya. Jika istilah blog dipersepsikan sebagai wadah media tulisan online, wadah itu mengalami metamorfosis, menjelma dari yang dulu ribet dengan urusan ini itu, kini rantai produksinya lebih simpel.

Ambil contoh, Medium.

Platform blogging yang dicetus Evan Williams dan Biz Stone sejak tahun 2012 ini menawarkan kemudahan ngeblog tanpa ribet, komunitas yang solid dan pengalaman membaca yang to the point. Jadi tak heran banyak blogger – meski masih ngeblog di platform lain – menjadi penulis tetap di Medium. Ya, mungkin secara halus menjadikan platform ini sebagai ajang memancing subsriber. Tapi jangan salah, artikel-artikelnya keren mampus.

Saya fikir ada dua alasan kenapa Medium di mata saya bagus; bisa disebabkan impresifnya algoritma Medium dalam menampilkan sugesti artikel dari topik-topik yang disuka, atau, bisa pula karena memang artikel-artikel yang dipublish disana nggak ada yang kacangan? Only God know. Yang pasti sampai detik ini, semua artikel yang pernah saya baca di Medium masuk dalam taraf yahud.

Baca Juga:  Farewell, Dolores The Cranberries

Lainnya, Wattpad. Platform asal Kanada ini bisa dibilang surganya para penulis fiksi. Berbagai genre tumplek blek di sana. Dari cerita anak sampai cerita dewasa layak sensor, dari short fiction sampai yang puluhan bab layaknya novel, dari komedi sampai mistikal horor, you name it, it’s there. Ya tak melulu fiksi, ada juga lho penulis bagus disana yang nggak pelit sharing jurus-jurus menulis. Love it.

Jika ditilik lebih lanjut, ada kemiripan yang mendasar antara Medium dan Wattpad; keduanya bak perpaduan serasi antara blogging konvensional dan media sosial yang interaktif.

Bayangkan saja, jika ngeblog secara konvensional membutuhkan persistensi yang lumayan untuk mendapat respon dan branding, tidak begitu di kedua platform ini. Why? Karena satu hal mendasar, yaitu komunitas pembaca yang sudah tersedia. Ibaratnya, kita tinggal melempar kail di kolam yang penuh ikan, bukan di samudera luas blogosphere.

Jadi, gimana, apa blog (konvensional) benar-benar mati? Please, no. Kalau mangkrak, mungkin.

So, dear blog, I’ll do my best to make you rise, once again.

How about your blog?

Blogger yang sedang nge-freelance di ujung timur Indonesia. Suka nulis, baca buku, musik dan nggambar. Contact | Subscribe RSS Feed or Email

2 comments On Dear Blog, How Are You?

  • Blogku sekarang sepertinya nirfaedah untuk umat. Isinya belakangan kebanyakan pamer kartu pos dan rekap film. Haha. But, I still love blog. I always love blog. Dari semua media sosial yang kupunya blog yang paling aku cinta. Aku percaya (mudah-mudahan) sampai kapanpun blog tidak akan mati.

    • Amiiin
      Yah setidaknya berfaedah bagi kita sendiri, betul Kim?
      Thanks atas semangatnya. Saya jadi ikut semangat!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer