Fokus Pada Esensi, Bukan Aksesori!

Seharian tadi saya oprek-oprek lagi arsip di blog blogspot saya yang dulu, dan langsung kecantol dengan salah satu postingan yang mengulas review buku Breaking Your Mental Block, dimana sepenggalan artikelnya membahas tentang permasalahan esensi dan aksesori.

Analogi tuk memahami perbedaan antara esensi dan aksesori diungkap sebagai berikut:

Gini, bila kita kepingin banget jadi penyanyi, baik solo maupun band, maka yang jadi esensinya adalah memiliki kualitas suara yang bagus, lagu yang easy listening, dan promosi yang cukup. Itu esensinya. Sedang masalah penampilan, kostum panggung dan label rekaman hanyalah aksesori dari seorang penyanyi.

Nah, yang repot, kadang yang kita fikirkan dalam kehidupan ini adalah melulu tentang aksesori. Contoh, ambil yang mudah saja, yaitu saat memilih handphone. Untuk ukuran jaman sekarang, tentu mata akan lebih memelototi jenis-jenis handphone yang memiliki fitur-fitur canggih. Bluetooth, kamera, messenger, wah pokoknya makin banyak fitur terjejal di dalamnya, makin jatuh hatilah kita tuk membeli. Padahal kita lupa esensi dari terciptanya handphone, yaitu sebagai alat komunikasi yang mobile, baik lewat suara maupun teks, betul?

Lupa akan esensi ini juga pernah menyergap saya saat awal-awal terjun di pekerjaan. Saya terlalu memikirkan bagaimana agar terlihat perfect, karena saya beranggapan bahwa sebuah perusahaan hanya akan menerima seorang karyawan yang sangat menguasai bidangnya dan siap kerja. Jadi saya terus-terusan didera rasa bimbang jika ingin melamar pekerjaan. Maju ngga, mundur pun tak mau.

Beruntung saat itu ada rekan satu kos, yang kebetulan sudah lama bekerja, menyarankan agar hari itu juga melamar di salah satu instansi. Katanya, “ngga usah nunggu pinter dan mahir untuk mulai kerja. Pinter dan mahir itu nanti nongolnya. Semua juga gitu.”

Fokus Pada EsensiSelanjutnya yang terjadi adalah keajaiban. Hari itu saya datang mengajukan diri, dan beberapa hari kemudian langsung diajak survey ke site pekerjaan di sebuah pulau yang memimpikannya pun saya belum pernah, ya, Sulawesi. Thus, yang ada semua jadi serba first time. Pertama kali dapat kerja, pertama kali menginjak tanah Sulawesi, pertama kali naik pesawat, pertama kali naik motorboat, pertama kali pula ber-off road-ria selama sehari semalam. Great adventure!

Entah apa jadinya bila saya masih berkutat dengan aksesori dan melupakan esensi. Ya, kemahiran, penggunaan software, sarana penunjang kerja, ataupun penampilan, itu hanyalah aksesori. Sedang esensinya sederhana saja, yaitu ada tekad untuk maju dan mau tuk terus belajar. Ini yang kadang dilupakan.

Esensi dan aksesori, hmm, jadi teringat sajian kalimat dari buku itu…

Dengan asumsi atau anggapan bahwa aksesori itu penting dan menjadi sesuatu yang harus ada, membuat banyak orang gagal sebelum berperang. Padahal jika kita pada saat memulai sesuatu tidak memiliki aksesori, tetapi memiliki esensi dan kita mau untuk memulainya, maka kita akan lebih berpeluang untuk berhasil.

Opini sobat? πŸ™‚

Share Button
This entry was posted in Inspirasi, Opini and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

82 Comments

  1. Posted 24/01/2011 at 00:07 | Permalink

    peertamaxxx kah ?

  2. Vanmovic
    Posted 24/01/2011 at 00:10 | Permalink

    Keduaxxx aja deh.
    Ane impoten kalo ngakses lewat henpong, wkwk :))

    • Kris
      Posted 24/01/2011 at 00:16 | Permalink

      Kalo sini mah lbh cepet hp ketimbang kompie

  3. Posted 24/01/2011 at 00:16 | Permalink

    Saatnya memilih: konten atau konteks. Isi atau bungkusnya. Seperti halnya anak kecil diberi uang seribu untuk beli jajan. Apakah dia akan membeli telur ayam mentah untuk dimasak (memiliki nilai gizi) atau malah beli makanan ringan macam Chiki, Chitato dan sejenisnya. πŸ™‚

    • Posted 24/01/2011 at 00:28 | Permalink

      Esensinya adalah makan, sedang aksesorinya adalah rasa di lidah. Ya, seperti itu juga oke mas πŸ™‚ Demen chitato ya? hehe πŸ˜€

    • iskandaria
      Posted 24/01/2011 at 21:48 | Permalink

      Mas Agus,
      Kalau setahu saya, makna konteks itu adalah hakikat atau esensi. Jadi bukan kulit πŸ˜›

      Mohon koreksi kalau saya salah.

  4. Posted 24/01/2011 at 00:16 | Permalink

    Esensi atau Substansi itu memang sesuatu yang harus dipandang serius…
    apa jadinya kalau bergaya dengan banyak aksesoris tapi tidak ada nilai tambahnya ?
    saya jadi ingat salah satu dosen saya yang selalu membawa air minum sendiri ke kelas. Nah,disaat mengajar,beliau tidak mau diganggu oleh OB yg hanya sekedar mengantarkan minum. sebab mau tidak mau ini menyita waktu dia mngajar meski hanya sepersekian menit. Dari sini,saya sangat mengagumi beliau sebab benar benar menghargai waktu mengajar dan memperhatikan esensi dari mengajar iu sendiri..

    • Kris
      Posted 24/01/2011 at 00:24 | Permalink

      Wah,kalo ditempat saya,muridnya malah demo kalo gurunya kyk gtu,hehe

  5. Vanmovic
    Posted 24/01/2011 at 00:26 | Permalink

    Tapi ane kok ga pinter2 ya dikelas *tepokjidat*

    Btw, kerja apaan tuh kang di sulawesi kok naek motorboat ama off road? #bingung

    • Posted 24/01/2011 at 00:29 | Permalink

      mesti belum liat About Me ya van? hehehe πŸ˜€

  6. Kris
    Posted 24/01/2011 at 00:13 | Permalink

    Yah,bener banget mas,
    aksesori itu cuma pemanis atau tambahan saja,
    namun aksesoris jga ada pentingnya,agar kita bsa mmiliki daya tarik tersendiri dibandingkan yg lain

    • Posted 24/01/2011 at 00:37 | Permalink

      pemanis, ya, kira-kira gitu kris. esensinya adalah gula. masalah nanti jadi berbentuk permen yang dikemas menarik, yg penting gulanya ada dulu πŸ™‚

  7. Posted 24/01/2011 at 01:14 | Permalink

    hmmm jadi bahan renungan malam ini. esensi dalam sebuah proses adalah kemauan dan tekad kayaknya harus di aplikasikan dalam ngeblog nih πŸ™‚

  8. Fadly Muin
    Posted 24/01/2011 at 00:14 | Permalink

    sulit mengakui bahwa aksesoris itu penting, memang betul mas. namun jangan lupa aksesoris salah satu sumbu perangsang yang baik. walau demikian, ia tetaplah bukan inti.

    diperlukan perasaan peka dan logika yang jeli untuk mendudukan dan memisahkan kedua elemen itu.. sip..sip

    • Posted 24/01/2011 at 00:26 | Permalink

      Betul mas Fadly. Mungkin aksesori itu dapat kita tambahkan jika esensinya sudah dapat. Jadi semacam bumbu penyedap lah kira-kira. Ya, setuju, perlu perasaan peka dan logika. Tambahan yang sip mas πŸ™‚

      • kucrit
        Posted 25/01/2011 at 18:08 | Permalink

        nunut komen e mas fadly wae wes.. hihi..

  9. Posted 24/01/2011 at 01:40 | Permalink

    Tulisan yang menyegarkan kembali ingatan kita akan tujuan utama. Tengkyu Mas..

  10. Posted 24/01/2011 at 01:47 | Permalink

    Soal esensi, ibarat mau bertempur kok bingung, ribet dengan senjata. Lupa sama skillnya sendiri…

    • Posted 24/01/2011 at 12:25 | Permalink

      padahal skill adalah esensi, dan senjata cuma aksesori. sip Mi πŸ™‚

  11. rohani syawaliah
    Posted 24/01/2011 at 00:52 | Permalink

    aq telatttttttttttttttt…

    ketiduran!

    • Posted 24/01/2011 at 12:24 | Permalink

      weleh, ganti hashtag-nya jadi #bloggerngantuk kalo gitu , hehe πŸ˜€

  12. Hendro
    Posted 24/01/2011 at 02:01 | Permalink

    menurut ane sih itu tergantung fungsi, biarkan acsesiri melekat jika itu berfungsi bagi yang menggunakan tapi kalu ga berfungsi kan percuma.

    Di tinjau dari segi fungsinya juga harus di lihat bermanfaat atau tidaknya.

    • Posted 24/01/2011 at 12:29 | Permalink

      Aksesori bisa dilekatkan jika fungsi utama atau esensi dari hal tersebut sudah ada. Adapun kemanfaatan memang tergantung si pemakai.
      Contoh adanya bahasa HTML dan CSS. HTML itu esensi, dan setelah dikuasai baru beranjak mendandani dengan CSS. Apa bisa CSS dulu baru HTML? Mungkin bisa, tapi prioritas pasti cenderung ke HTML dulu, bukan begitu? πŸ™‚

  13. Posted 24/01/2011 at 03:28 | Permalink

    Seperti halnya saat ngeblog, pada awal saya ngeblog baik di blog gratisan maupun berbayar yang menjadi fokus awal saya adalah desain blog/theme yang bagus dan saya selalu merombaknya. sampai akhirnya saya saya sadar sebetulnya esensi dalam blog itu adalah kontennya, yang menjadi daya tarik blog itu adalah kontennya. Tampilan (asesori) itu adalah nomor dua atau kesekiannya.

    Bagus banget motivasinya mas Darin

    • Posted 24/01/2011 at 12:32 | Permalink

      Kita senasib mas Dhany. Saya juga punya pengalaman serupa di blog yang dulu. Selalu tak puas dengan penampilan dan aksesori2 blog, yang pada akhirnya esensi dari ngeblog/menulis konten terbengkalai. Kalau esensi sudah stabil, saya kira menambahkan aksesori bisa jadi pilihan2 yg menarik, ya kan? πŸ™‚

  14. Posted 24/01/2011 at 03:29 | Permalink

    Mas Darin,
    Rasanya esensi dan aksesori itu begitu relatif, misalnya haruskah kita makan di piring perak dengan anggur merah? Bagi masyarakat kebanyakan seperti saya mungkin tidak, tapi bagi pengelola resto bintang lima itu esensial dan bukan aksesorial lagi.

    Jadi menurut saya aksesorial ataupun esensial bukan tentang tersedianya barang atau jasa, tapi apa tujuan dan fungsi di balik penggunaannya. CMIIW.

    • Posted 24/01/2011 at 08:03 | Permalink

      Ya, betul Mas Cahya. Saya sependapat.

    • Posted 24/01/2011 at 12:40 | Permalink

      Wah, pengelola resto bintang lima masih memikirkan esensi? Saya kira udah ngga zaman lagi bli. Esensi mereka sudah terpenuhi, dan aksesori piring perak dan anggur merah itu cocok sudah. Masyarakat kebanyakan belum menyentuh aksesori glamor seperti itu, esensinya adalah mengisi perut. Logisnya begitu.

      Setuju, bukan masalah barang/jasa yang berlimpah, tapi bagaimana kita memilah mana yang esensi/pokok mana yg aksesori/pelengkap, ya tho?
      CMIWW juga πŸ˜€

  15. Posted 24/01/2011 at 07:03 | Permalink

    Aksesori juga penting, tapi jangan sampai melupakan esensi. Tergantung konteks dan fungsinya.

    • Posted 24/01/2011 at 12:44 | Permalink

      tergantung konteks dan fungsi, setuju πŸ™‚

  16. Posted 24/01/2011 at 07:33 | Permalink

    Saya juga cenderung sependapat dengan Mas Cahya. Saya tak berniat menyanggah tulisan Mas Darin ini, namun adakalanya aksesori itu dianggap sangat penting kalau itu menyangkut kepuasan pelanggan dan prestise bahkan bisa mengalahkan esensi itu sendiri.

    Saya punya contoh sebuah RS swasta di Jogja mau pasang AC Split. Tujuan AC esensinya sama, sama-sama buat mendinginkan temperatur udara. Tapi rumah sakit ini tak mau kalau ACnya merk ecek-ecek yang terlihat murahan dimata pengunjung RS-nya. Jadinya dia tetap memilih AC yang merk branded seperti merk Daikin demi sebuah prestise agar rumah sakitnya diakui sebagai berkelas dan mengutamakan pelayanan yang baik buat pengunjung RS-nya.

    Contoh lain, kalau kita pernah menginap di hotel berbintang 4-5 rata-rata kayak sanitair hotelnya adalah dari yang jenis mahal-mahal semua. Kebanyakan pasti pakai merk kayak Toto dan sejenisnya, yang sebetulnya itu terlalu mahal kalau untuk sebuah kran yang fungsinya sama, hanya buat mengucurkan air saja.

    Tapi saya sependapat dengan Mas Darin kalau lebih memandang esensi ketimbang aksesori kalau itu penerapkan pada diri kita sendiri sebagai sikap sebuah pribadi. Bukan pada posisi dimana kita harus berada di posisi untuk melayani orang lain seperti dalam kedua contoh saya di atas.

    *Maaf, penyebutan merk di sini bukan iklan terselubung tapi hanya sekedar contoh-contoh saja.* πŸ˜€

    • Posted 24/01/2011 at 12:56 | Permalink

      Ya pak, saya juga sadar, kalau untuk branding, mengedepankan aksesori itu bagus. Tapi apalah artinya jika esensinya tak tercapai? Ini mungkin terjadi saat ada orang yg lebih memilih dokter praktek di dekat rumah daripada memeriksa di rumah sakit bertingkat di sebrang jalan. Orang tersebut pastinya berfikir esensi tuk berobat, dan tak bisa dipungkiri ada juga yang memilih langsung ke rumah sakit, karena beranggapan itu lebih memuaskan, baik dari segi pelayanan maupun fasilitas.

      Ya, tergantung pribadi masing2. Tapi untuk segala bidang kehidupan, fokus pada esensi ini saya rasa masih relevan. Jika esensi sudah terpenuhi, bolehlah kita memikirkan aksesori agar sedap dipandang mata, betul? πŸ™‚

      • Posted 24/01/2011 at 13:23 | Permalink

        Pada kedua contoh yang saya utarakan di atas (Rumah Sakit & Hotel) keduanya esensinya sudah tercapai belum kalau menurut Mas Darin? Tercapai, kan? Cuma masalahnya itu tetap dianggap tidak cukup jika aksesorisnya hanya biasa-biasa saja.

        Tapi kalau mengedepankan aksesori jika esensinya tak tercapai, saya sepakat ini yang tidak tepat. Baik ini untuk diri pribadi kita maupun korporasi. πŸ™‚

        • Posted 24/01/2011 at 13:55 | Permalink

          Betul pak, esensinya kan untuk memberi rasa nyaman pada pasien. Banyak cara, dan kebetulan yang ditekankan adalah bagaimana memberi aksesori AC yang bagus sekaligus menaikkan prestise πŸ™‚

  17. Posted 24/01/2011 at 09:06 | Permalink

    saya sependapat dg mas dhany, tentang blog, konten dan desain tampilan.

    Tapi tidak semua *mungkin* bisa disamakan. Kalau blog tersebut tentang desain dan style, mungkin desain yang ciamik lebih memikat pengunjung *tentunya esensi juga harus di imbangi*.
    Keren mas..

    • Posted 24/01/2011 at 13:02 | Permalink

      kalau blog, menurut saya esensinya memang konten, baik teks maupun gambar. Aksesorinya adalah apa yg orang sebut sebagai SEO, pagerank dsb. Jadi kalau fokus pada esensi, aksesori itu bisa menyusul. Bukan begitu? πŸ™‚

  18. Posted 24/01/2011 at 13:05 | Permalink

    Setuju Mas…
    Realitanya memang orang lebih melihat aksesories ketimbang esensi
    (termasuk saya juga)
    —————-
    Blog ini kok kalau tengah malam rame sekali Mas

    • Posted 24/01/2011 at 13:12 | Permalink

      Kadang2 kita memang begitu pak Mars.
      Kita-kita tiap malem nongkrong bareng di twitter pak, dan update-nya pas tengah malam dan pas di twitter rame. Jadinya langsung mampir kemari πŸ™‚

      Pak Mars punya akun twitter? πŸ™‚

  19. Catatan Hery
    Posted 24/01/2011 at 12:50 | Permalink

    Menarik sekali membahas tentang esensi dan asesoris.

    Di jaman materialistis sekarang ini, dimana orang-orang dinilai dari bagaimana mereka tampil, asesories justru menjadi esensi bagi banyak orang.

    Saya yakin diantara kita semua akan memilih buku dengan sampul baru dibanding dengan buku dengan sampul usang, padahal isinya sama. Ini menandakan bahwa asesories memang penting.

    Esensi penting dan akan lebih tinggi nilainya jika diberi asesoris yang mantap – just my two cents

    • Posted 24/01/2011 at 13:09 | Permalink

      Menarik sekali mas. Aksesori yang ‘dipaksa’ menjadi esensi. Hmm, di zaman hedonisme makin merajalela seperti sekarang sepertinya hal itu buka rahasia lagi. Semua orang berlomba tampil wah, baik lewat pencitraan dll.

      Untuk buku, sepertinya benar ungkapan: don’t judge a book by its cover
      Yup, makasih tambahannya mas πŸ™‚

  20. Posted 24/01/2011 at 14:25 | Permalink

    salam hangat dari bali sob!!!!
    wah kalo menurut saya semua itu tergantung pada kasus perkasus, tidak bisa dipukul rata dalam penerapannya..!!!! hehehehehe

    • Posted 24/01/2011 at 16:10 | Permalink

      Salam hangat kembali dari Kupang.
      Hehe, ya, memang tak bisa dipukul rata. Artikel ini hanya berdasar pengalaman dan opini pribadi saja. Kalau sobat beropini begitu, it’s okey, *tos* dulu dah! πŸ™‚

  21. Posted 24/01/2011 at 15:21 | Permalink

    Jadi skarang utamakan esensi. Baiklah, bukunya aku cari akh!

    • Posted 24/01/2011 at 16:23 | Permalink

      Semoga masih tersedia ya. Selamat berburu πŸ™‚

  22. arikaka
    Posted 24/01/2011 at 14:40 | Permalink

    artikelnya ngena banget ..
    saya masih sering memikirkan gimana ya nanti kata orang..
    Jadi suka ragu kalau mau ngapa2in… πŸ˜€

    • Posted 24/01/2011 at 16:12 | Permalink

      Sama, saya juga sering begitu mas, hehe πŸ™‚

  23. Posted 24/01/2011 at 15:52 | Permalink

    Untuk masuk ke dunia kerja dilingkungan swasta esensi memang lebih diutamakan, tapi bagi mereka yang berkecimpung didunia pemerintahan aksesoris masih yang lebih diutamakan. Untuk jadi PNS harus sarjana (walaupun ijazah yang digunakan aspal), untuk mendapatkan jabatan harus mengikuti berbagai diklat (walaupun sertifikat kelulusan dinilai bukan karena skiil tapi karena koneksi), untuk mendapatkan kenaikan pangkat harus menunggu empat tahun (walaupun jam kerja sering melebihi batas waktu)…

    • Posted 24/01/2011 at 16:14 | Permalink

      Disinilah perbedaannya bro. Kadang prioritas bisa dijungkirbalikkan sesuai sikon. Dan di lingkungan kerja bro eser membuktikan hal itu πŸ™‚

  24. sibair
    Posted 24/01/2011 at 17:09 | Permalink

    Klo orang indonesia si bukan masalah esensi untuk milih handphone..tapi masalah gengsi dan biar gak kalah trendy.. hihih

    • Posted 24/01/2011 at 18:03 | Permalink

      gengsi dan trendy, padahal kalau ga ada pulsa ya sama aja, betul? hehe πŸ˜€

      • Posted 24/01/2011 at 22:41 | Permalink

        Benar bro, pake smartphone tapi modalnya MC doang, huwkwkwkwk

  25. luthfie fadhillah
    Posted 24/01/2011 at 18:05 | Permalink

    nyubi komputer butut ijin nyimak gan …
    permisi ^_________^

  26. hosnan fauzi
    Posted 24/01/2011 at 18:44 | Permalink

    sangat setuju sekali yang sangat penting isi… toh .. seiring berjalannya waktu modelnya ngikut sendiri…
    jadi ingat pas belajar internet pertama kali ngelamar ke warnet untuk jadi OP.. padahal ngetik aja gak pernah apalagi internet…!!! yang penting pas di tanya bisa..?? bisa .. hahahhah… belajar kan tidak harus urut saya bekerja dulu baru belajar…

    • Posted 24/01/2011 at 22:58 | Permalink

      nah sip tuh, esensinya nekat mau kerja, aksesori kemampuan dan sebagainya itu menyusul kemudian πŸ˜€ *thumb up*

  27. Posted 24/01/2011 at 20:07 | Permalink

    Sama halnya saat memilih perabotan untuk di rumah. Setiap space kosong, berusaha diisi perabotan agar rumah tak tampak kosong. Dengan banyaknya perabotan, malah membuat ruang gerak terbatas. Lagi pula bila ada anak tetangga yang berkunjung, pasti dipelototin agar dia tidak macam2, hehe… Jadinya rumah yang nyaman untuk diri sendiri dan orang lain hanyalah mimpi semata πŸ˜€

    • Posted 24/01/2011 at 22:59 | Permalink

      Padahal esensi rumah kan untuk berteduh, bukan begitu? πŸ˜€
      Ternyata terlalu banyak aksesori juga gak bagus ya? hehe

  28. Posted 24/01/2011 at 20:20 | Permalink

    Benar banget. Aku kadang mengkhawatirkan hal2 yang tampaknya remeh-temeh tersebut. Waktu awal masuk kerja aku disergap ketakutan, aduh bagaimana ini? Bisa nggak ya aku ngetik? Bisa nggak ya aku ngerjain tugas ini dan itu. Sejalan waktu, akhirnya aku mulai terbiasa karena pembelajaran itu aku dapat dari mulai berlatih sedikit demi sedikit setiap harinya

    • Posted 24/01/2011 at 23:00 | Permalink

      Sama dengan kasusnya mas Hosnan di atas. Ya, kira2 begitu mas Ifan πŸ˜€

  29. Posted 24/01/2011 at 21:16 | Permalink

    Hmmm… Esensi dan aksesori.

    Kalau diterapkan dalam masalah ibadah, sepertinya juga kena Mas.
    Contoh… Hampir setiap tahun negeri ini mengirim duta haji yang bahkan kadang-kadang sampai melebihi kuota, tapi kebanyakan dari mereka – termasuk para pejabat tinggi negara- hanya mengejar aksesoris/sebutan haji -bahkan ada yang berangkat haji hanya untuk sekedar traveling – tanpa mengetahui makna/esensi dari haji tersebut.

    Hmmm… Sayang sekali. πŸ˜‰

    • Posted 24/01/2011 at 23:01 | Permalink

      Wow, saya malah baru terfikirkan tentang itu Mas πŸ˜€
      Benar juga, begitulah kenyataannya… πŸ™

  30. Posted 24/01/2011 at 22:06 | Permalink

    pandangan pertama selalu pada chasingnya dulu, setelah itu baru kita tahu apakah sinyalnya kuat atau tidak

    • Posted 24/01/2011 at 23:11 | Permalink

      penganut aksesori dulu baru esensi nih? πŸ˜€
      kalo chasing bagus dalemannya pretelan gimana mas joe πŸ˜€

  31. iskandaria
    Posted 24/01/2011 at 21:59 | Permalink

    Ini berlaku juga pada teknik penulisan atau gaya penulisan. Kadang atau bahkan seringkali kita mungkin terlalu ribut dengan cara penyajian tulisan yang menurut kita kurang santun atau terlalu menohok. Padahal di balik itu mungkin saja tersirat esensi yang sangat berharga dan sangat inspiratif.

    Termasuk soal penggunaan anonim pada komentar tertentu. Menurut saya sih, yang penting isinya dulu, walau pakai anonim. Sepanjang isinya membangun atau inspiratif, anonim bukanlah suatu masalah besar saya rasa.

    Faktanya, kita mungkin lebih sering menghujat si anonim sebagai komentator pengecut. Padahal isi komentarnya bisa jadi sangat bagus dan membangun. Jadi, kita terkesan mengalihkan perhatian dari esensi (isi komentar) ke kulit atau aksesoris (berupa nama). Jadinya, esensi malah terlupakan dan energi lebih banyak terkuras meributkan label anonim πŸ˜›

    Ini bukan curhat colongan lho mas Darin. Soalnya saya hampir tidak pernah pakai anonim kalau mau komentar. Dulu memang pernah (sudah lama sekali dan saya pun lupa di blog mana). Tapi itu saya lakukan karena untuk menjaga hubungan baik saya dengan si pemilik blog.

    • Posted 24/01/2011 at 22:14 | Permalink

      Curhat juga ga apa-apa Mas.

      Aku juga akhir-akhir ini sering mengeluh, terutama terhadap masalah gaji yang sudah hampir tujuh tahun ga pernah naik lagi. πŸ˜€

      Negarawan koq minta naik gaji ya!

      • Posted 24/01/2011 at 23:10 | Permalink

        Hahaha, kok sekarang saya malah bingung sama bapak satu itu. Bahasanya jadi ngelantur2 gak tentu, juga kebanyakan simbolis, jadilah makanan empuk bagi media dan masyarakat yg bingung πŸ˜€

        Ngucap dikit masalah gaji jadinya heboh satu negara, haha, nasiib πŸ™‚

      • iskandaria
        Posted 24/01/2011 at 22:49 | Permalink

        Oh, itu ya πŸ˜› Kalau setahu saya sih, itu cuma akibat plintiran berita dan asumsi saja. Padahal sang negarawan itu cuma bilang bahwa 7 tahun gajinya nggak pernah naik. Nah, oleh wartawan mungkin diplintirkan seolah-olah dia minta naik gaji. Bingung juga jadinya. Yang jelas, itu masih asumsi.

        • Posted 24/01/2011 at 22:56 | Permalink

          Dipelesetkan apa terpeleset?

          Meski Dia ‘cuma’ bilang begitu, itu sudah menandakan Dia tidak mengerti esensi/makna seorang negarawan. Kasihan ya! πŸ˜‰

          • Posted 24/01/2011 at 23:18 | Permalink

            Mau gak mau saya harus setuju nih, hahaha πŸ˜€
            Rindu saya sama negarawan seperti Bung Hatta πŸ™

    • Posted 24/01/2011 at 23:08 | Permalink

      Nah, ini juga wawasan baru bagi saya. Jujur, saya juga kadang mencap buruk para anonim itu mas. Reflek saja. Padahal saya belum membaca betul apa yang ditulis si anonim tadi πŸ˜€

      Wah, ceritanya Mas Is ini dulu bergerilya dalam mencari ilmu ya? Wah, bisa diterapkan nih! πŸ˜€
      Trims tambahannya mas *thumb up*

  32. Posted 29/01/2011 at 13:59 | Permalink

    SEPAKAT!!!

  33. Posted 10/02/2011 at 15:17 | Permalink

    dengan memahami esensi atau substansi dari suatu fungsi, akan membawa kita pada pemikiran yang kreatif dan tidak ribet. contoh mau makan pakai piring. ketika tidak ada piring, ya bisa pake mangkok, daun pisang, baskom, dll, yang penting bersih dan bisa jadi wadah. Mau shalat ga ada sajadah, kan bisa pake koran, baju, seprai, kardus, meja, kan yang penting bersih alias tidak najis. hidup ga usah dibikin ribet lah..

    btw. tks mas Darin dan review buku saya..sukses untuk Anda selalu

  34. iphud
    Posted 04/04/2012 at 10:54 | Permalink

    Kemungkinan besar begitu… perlu kemauan dan tekat untuk merubah suatu keadaan. πŸ˜€

    Kemauan memang ada tapi kemalasan lebih kuat… πŸ˜€ baru setelah kepepetlah rasa malas mulai hilang…

    ada kemauan ada jalan, ada jalan setelah kepepet, yang belum dapat jalan kepepetlah dulu πŸ˜€ peace om… V^^

  35. Posted 10/08/2014 at 02:05 | Permalink

    Benar Gan., mungkin lebih baik kita ciptakan sendiri kondisi kepepet tersebut sebulum kepepet itu lebih dulu mendatangi kita..

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
*