Galaknya Twitter

Awal saya mengenal Twitter, it’s awful. Saya belum paham apa asyiknya bermain teks dengan avatar dibanding Facebook – kala itu – yang lebih interaktif, visual dan powerful dalam hal menambah relasi dan melanggengkan lagi koneksi dengan teman lama. Hingga akhirnya, saya mengenal Tweetdeck dan langsung jatuh cinta. Ngetwit tambah sip!

Gila Twitter

Dengan aplikasi desktop berbasis Adobe AIR, interface TweetDeck memang keren. Selain ngetwit, pengguna juga bisa menambah akun Facebook, LinkedIn, Google Buzz, Foursquare dan MySpace hanya dalam beberapa klik. Nah, apakah TweetDeck adalah aplikasi Twitter resmi? Ternyata bukan. TweetDeck hanyalah perangkat lunak yang menyambungkan akun pengguna twitter ke dalam programnya dengan teknologi API (Application Programming Interface).

Like other Twitter applications it interfaces with the Twitter API to allow users to send and receive tweets and view profiles.

Dan sebagai aplikasi non-resmi dari Twitter, TweetDeck dan beberapa aplikasi sejenis, seperti Ubersocial, Echofon dan HootSuite, menurut data sysomos pertengahan Maret tahun ini ternyata menguasai hampir setengah dari kue yang dikuasai Twitter beserta aplikasi resminya, yaitu sebesar 42 persen. Look at this.

Grafik aplikasi twitterSeperti kebakaran jenggot, akhirnya tepat tanggal 2 Mei kemarin Twitter menggaet TweetDeck dengan kisaran harga fantastis, yaitu sekitar 40 hingga 50 juta dolar AS.

Sebenarnya isu itu sudah mulai bergaung di awal tahun, dimana Twitter mulai gerah dengan keberadaan aplikasi non-resmi, terutama TweetDeck dan UberMedia, yang bila dibiarkan bukan mustahil dua aplikasi favorit pengguna itu merger dan membuat platform microblog tandingan.

Padahal kalau difikir, tanpa susah-susah membeli TweetDeck pun Twitter tetaplah social media terfavorit, yang sejak tahun 2006 hingga kini telah meraup keuntungan tak kurang dari 360 juta dolar AS. Faktanya, Twitter tetap galak. Yang terbaru, Twitter menabuh generang perang dengan UberMedia yang dianggap melanggar policy, sehingga memaksa penamaan aplikasi UberTwitter diubah menjadi UberSocial. Akankah UberMedia akan senasib dengan TweetDeck? Who knows.

Ya, Twitter sebenarnya sudah cukup humble dengan membiarkan dirinya menjadi protokol bagi aplikasi social media lain. Tapi bila kemudian aplikasi lain itu berbalik arah dan berniat tuk menyalip dari belakang, cukuplah lihat apa yang terjadi dengan TweetDeck.

Last words, saya tak ada masalah sih bila semua aplikasi microblog diakuisisi Twitter. Lha, yang penting bisa ngetwit dan mengintegrasikannya dengan blog, betul? 😀

Follow my tweets!

23 comments On Galaknya Twitter

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer