Garbage In, Garbage Out

Ada sebuah filosofi populer saat kita dihadapkan pada sistem komputer, pemrograman atau pun perangkat lunak pemroses data. Garbage in, garbage out, yang kalau diartikan secara bebas bermakna apa yang kita input sangat mempengaruhi hasilnya (output).

Saya punya pengalaman menarik. Saat masih getol memainkan software penghitung elevasi muka air banjir, data input yang saya yakini benar dan sesuai dengan pemahaman saya waktu itu, saya anggap sebuah harga mati. Bukan sembarang sih. Itu didukung juga dengan minimnya koreksi dari pengguna jasa. They said it’s good, so I felt good.

Beberapa project terlewati dan tak menjadi masalah, sampai akhirnya salah seorang kolega menanyakan hal yang tadinya saya anggap remeh. Hal kecil yang sebetulnya tak begitu mempengaruhi hasil akhir, karena toh masih dalam batas toleransi yang wajar. Tapi efeknya, semenjak itu saya selalu dirundung gelisah setiap memakai perangkat lunak tersebut. Ragu. Tak mantap lagi. Yah, mirip post-power syndrome.

Otak: Sebuah Sistem Daur Ulang

Kasus garbage in, garbage out yang saya alami di atas mungkin tak selalu berputar di bidang IT. Di dunia blogging pun kerap terjadi. Misal, pada posting yang lalu saya menuliskan bahwa menulis dan ngeblog itu berat, yang secara tak sadar saya telah melakukan input pada sistem otak bahwasanya kedua hal itu memang berat.

Saya lupa satu hal penting: otak adalah sebuah sistem daur ulang, alias apa yang kita fikirkan otomatis akan dibenarkan. Input itu cepat atau lambat akan berbuah output yang berupa sugesti: bagaimana kita berbicara, bertingkah laku dan bertindak. Saya lupa, bahwa dengan meremehkan kekuatan input dari otak, bagaimana bisa saya menanti output yang diharapkan?

Perhatikan Hal-hal Negatif Yang mempengaruhi Input

Kesalahan input juga saya alami pada hal yang sedikit menggelikan. Pernah nonton film Final Destination? Di film itu diceritakan bagaimana seseorang yang mendadak parno saat berada di kabin pesawat jelang take-off. Ujung-ujungnya apa yang ia khawatirkan itu terbukti benar, karena pesawat betul-betul meledak di udara. Bum! Dan saking terpengaruhinya, sampai sekarang saya masih berkeringat dingin bila harus bepergian dengan pesawat. Bahkan itu terjadi sejak menggenggam tiket!

Trial Error: Sebuah Solusi Praktis

Kalau saja saya diberi waktu lebih, mungkin saya berharap dapat melakukan kesalahan lebih banyak. Kenapa? Karena memang hanya dengan kesalahan lah saya bisa mengetahui mana yang benar. Karena kesalahan itu manusiawi. Sunatullah. Dan tanpa adanya kesalahan, bisa jadi saya tak mungkin menulis postingan ini dari jarak ribuan kilometer dari rumah. Tanpa itu, mustahil bagi saya dan sobat berada di posisi kita sekarang.

I’ve gone through a lot of trial and error to find what works and what doesn’t (Usher)

So, dengan menyadari kekuatan sugesti otak, berhati-hati dengan input negatif, juga tak ragu tuk ber-trial error, mudah-mudahan menjadi gagasan yang menyegarkan. Sesegar buah markisa Wamena yang menemani saya menulis postingan ini.

Keep blogging, guys!

sumber gambar: http://scienceblogs.com/twominds/2008/03/funny_brain_sign.php
Share Button
This entry was posted in Blogging, Inspirasi, Opini and tagged , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

25 Comments

  1. Posted 05/05/2011 at 23:08 | Permalink

    Pertamaxxx kah ?

    • Posted 05/05/2011 at 23:09 | Permalink

      Udah alam juga gak ngerasain Pertamaxxx disini… gimana Kang ? sehat,khan ?

      • Posted 05/05/2011 at 23:11 | Permalink

        Wah..baru tahu klo seorang Darinholic ternyata takut terbang… :D

      • Posted 06/05/2011 at 14:37 | Permalink

        Alhamdulillah sehat2 Bli :D
        Bolo kurowo #bloggermalam semoga sehat semua ya :)

    • Kris
      Posted 06/05/2011 at 06:12 | Permalink

      Wahwah,saya kalah jauh nih,,

      • Posted 06/05/2011 at 14:40 | Permalink

        tarikannya kurang pas mas Kris hehe

        • Kris
          Posted 07/05/2011 at 22:29 | Permalink

          Wahwah,apa penyebabnya Bali lebih deket ke Papua daripada jawa ya mas?hhe *cari alesan

  2. Posted 05/05/2011 at 23:13 | Permalink

    Pikiran kita itu memang seperti sebuah lahan koosong, mau ditaburi benih khawatir,yg berbuah juga adalah buah kekhawatiran…adilnya adalah jika kita tanam benih Optimis, maka yg dihasilkan juga adalah buah Optimisme…

    • Posted 06/05/2011 at 14:41 | Permalink

      Setuju Bli. Bagaimanapun juga apa yang kita input pada fikiran akan berbuah output yg sesuai.

  3. Ami
    Posted 06/05/2011 at 01:21 | Permalink

    Kok minumnya markisa? Gak ngopi lagi, hahaha… Saya juga banyak lakuin trial and error buat blog saya. Nekat nulis lagi ngamuk ato nangis. Sekarang udah tenang lagi. Eh malah jadi ternak blog.

    @ Mas Andry, ketemu lagi di komen blognya mas Darin. Saya keduax gpp deh…

    • Posted 06/05/2011 at 14:43 | Permalink

      Markisanya digigit Mi, bukan diminum he2. Iya nih, dah jarang ngopi. Belum ketemu kopi yg enak disini.
      Itulah hebatnya blog Ami. Penuh warna-warni kehidupan, tanpa sensor :) Salut.

  4. Posted 06/05/2011 at 06:30 | Permalink

    Kerja otak yang demikian jika diberikan sugesti-sugesti positif mampu menjadi kekuatan yang luar biasa. Yang kakinya lumpuhpun bisa berdiri dan berjalan.

  5. Kris
    Posted 06/05/2011 at 06:29 | Permalink

    “trial error” bagian yang paling menarik perhatian saya,,
    jadi memang benar dan terbukti bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik untuk kita,, :)

  6. Posted 06/05/2011 at 13:09 | Permalink

    Mungkin itu maksudnya diperlukan adanya revisi berkala akan setiap tindakan profesional yang kita ambil kan?

    • Posted 06/05/2011 at 14:47 | Permalink

      Betul Bli. Perlu juga second opinion. Kadang terlalu sreg dgn satu persetujuan bisa membutakan.

  7. Posted 06/05/2011 at 18:58 | Permalink

    saat ini saya juga sedang memperhatikan input positif yang sedang saya tanamkan sendiri diotak saya.., mudah-mudahan teori itu benar.. hal positif akan terjadi di waktu dekat ini..

  8. Posted 06/05/2011 at 21:11 | Permalink

    Selain terbang adalagi yang ditakutkan bro? kalau saya bukan takut terbang tapi membayangkan kapan bisa terbang :-)

    • Posted 08/05/2011 at 01:07 | Permalink

      Saya takut jadi artis bro, nanti diuber infotainment mulu haha :D
      Sebentar lagi deh kayaknya bro :)

  9. Posted 07/05/2011 at 19:10 | Permalink

    Seperti ungkapan lama
    Apa yang kamu “telah” pikirkan + perkatakan, itulah yang akan terjadi :D

  10. Agus Siswoyo
    Posted 11/05/2011 at 13:48 | Permalink

    Tuhan menjadikan segala sesuatu sesuai prasangka manusia. Berbaik sangka aja deh… :)

  11. kang ian dot com
    Posted 17/05/2011 at 10:26 | Permalink

    yang lagi di jayapura..asik euuy walau jauh dari istri hahay :D
    yup bener mas yang pasti harus tetap berpikir positif..sugesti itu lebih banyaknya akan terjadi karena pikiran kita kuat untuk menjadikannya benar :D

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>