Gaya Belajar Mandiri Di Tengah Serbuan Sarimin Dan Lumba-Lumba

Pada umumnya, kita akrab dengan istilah life style. Gadget terbaru, fashion terkini, akses informasi teraktual, pun mode pergaulan yang berorientasi virtual di social media, itulah ‘gaya’ yang menghiasi sebagian besar hidup di masyarakat, alias gaya hidup. Kalau begitu adanya, lalu bagaimana dengan gaya belajar atau learning style?

Gaya belajar dan gaya hidup seharusnya seiring sejalan. Bilamana kita menyadari bahwa hidup adalah untuk belajar dan memahami bahwa manusia diciptakan untuk mengemban takdir sebagai mahkluk pembelajar, sudah semestinyalah proses pembelajaran itu teraduk sempurna dalam komposisi gelas kehidupan kita.

Mengapa? Karena menurut salah satu tesis, manusia terlahir sebagai unfertiges wesen, atau makhluk yang tidak siap. Sebab itulah proses belajar sangat dibutuhkan agar kita siap. Siap dalam hal apa? Andrias Harefa dalam buku Mengasah Paradigma Pembelajar mengemukakan empat hal, yaitu:

  1. Siap berkarya melayani sesama.
  2. Siap belajar di ‘sekolah kehidupan’, baik dengan atau tanpa pendampingan langsung dari pengajar/pelatih.
  3. Siap bekerja sama dengan siapa pun yang berbeda dengan kita.
  4. Siap hidup sebagai manusia yang semakin manusiawi.

Tapi yang terjadi kadang berkata lain. Masyarakat kita yang cenderung pragmatis, materialisme dan konsumerisme menjadikan proses belajar baru dilakukan bila mendapat reward atau hadiah, juga – lebih parah lagi – karena ‘dipaksa’ oleh kenyataan hidup. Ekstrimnya, gaya belajar yang tergantung pada hadiah itu sebut saja dengan ‘gaya sarimin’. Ya, sang topeng monyet yang selalu sigap menari kian kemari dengan payungnya agar diberi kacang. Atau bisa disebut juga dengan ‘gaya lumba-lumba’, yang sudi menyundul bola dan menerobos lingkaran api supaya mendapat jatah ikan kesukaan.

Kita sering mendengar, atau mengalaminya sendiri saat kecil dulu, bahwa kalau nilai rapornya bagus nanti dibelikan sepeda baru. Bila diterima di sekolah bergengsi, bakal dihadiahi laptop anyar. Memang tidak salah, tapi juga tak sepenuhnya benar. Motivasi diperlukan, namun bila cuma ‘hadiah’ itu yang jadi alasan generasi penerus kita belajar, apa bedanya mereka dengan ‘sarimin’ dan ‘lumba-lumba’?

Pembelajar Mandiri

Image via indonesiaindonesia.com

Dan seakan sudah menjadi trend, gaya belajar model ini pun diamini oleh kita-kita yang telah dewasa, bahkan merambah ke pusaran elit politik dan kekuasaan. Tanpa iming-iming uang, jabatan, atau popularitas, kita pun enggan tuk belajar, menambah pengetahuan, meningkatkan kemampuan, mengasah keterampilan, menarik sebanyak mungkin pelajaran dari pengalaman hidup sehari-hari, dan tak mau lagi memperbaiki kinerja/prestasi ke arah yang lebih baik.

Ini mengindikasikan sesuatu yang dramatis, sedramatis kenyataan bahwa memang kita ini adalah orang-orang yang ‘susah belajar’, atau malah anti-belajar. Sehingga Andrias Harefa pun perlu menyentil dengan:

Ibarat orang yang masih dalam taraf ‘susah hidup’ yang tidak sempat memikirkan ‘gaya hidup’, maka demikianlah orang yang ‘susah belajar’ tidak sempat memikirkan gaya belajarnya. Belajar saja susah, apalagi memikirkan soal ‘gaya’.

Sungguh ironis.

Nah, bila dicermati lebih jauh, mengapa kasus gaya belajar model ‘sarimin’ dan ‘lumba-lumba’ ini makin menggila? Salah satunya yaitu karena gaya belajar kita selalu didominasi atau bergantung dengan ‘orang lain’. Kita selalu menunggu untuk dicekoki, diberi arahan, dilatih, entah itu oleh orang tua, atasan, atau guru dan pengajar. Imbasnya adalah ketiadaan inisiatif dari diri sendiri tuk belajar secara mandiri, tanpa nunggu disuruh, tanpa diawasi dan  tanpa iming-iming reward.

Jadi sudah tak aneh lagi jika salah satu dari kita yang tak mampu belajar secara mandiri itu menjadi seorang pejabat atau manajer misalnya, maka kita akan menjelma menjadi pejabat/manajer yang hanya berperan sebagai ‘penggembira’. Selalu menunggu ‘petuah’ dan arahan dari atasan, atau yang lebih aman – yah – pakai prinsip ABS (Asal Bapak Senang).

Lalu apa solusinya? Tentu akan lebih baik bila kita kini mengedepankan wacana ‘pembelajar mandiri’ (independent learner) yang mengetahui sepenuhnya model gaya belajar yang sesuai dengan dirinya sendiri.

Sebab dengan mengetahui gaya belajar, seseorang dapat mengambil inisiatif mempelajari seuatu yang sesuai dengan minat, bakat, potensi dan talentanya. Dengan demikian, ia dapat mengembangkan dirinya terus-menerus, baik ketika masih duduk di bangku sekolah formal, atau – terutama – dalam kehidupan sehari-hari di luar lembaga-lembaga pengajaran dan pelatihan (Andrias Harefa).

Contoh konkrit, ada Anthony Robbins yang memopulerkan konsep Neuro Linguistic Programming (NLP), sebuah konsep yang mengutamakan hubungan antar manusia untuk melejitkan kemampuan otak, bahasa dan kebiasaan menuju kesuksesan hidup. Padahal siapa nyana jika Robbins hanyalah tamatan SMA, sehingga konsepnya ini sempat dianggap kontroversial oleh mereka yang menganggap dirinya ‘sukses’ karena pendidikan tinggi yang diperoleh. Namun akhirnya toh konsep itu diakui dunia dan dijadikan standar terapi psikologis hingga kini.

Lainnya, Thomas Alva Edison yang cuma sempat bersekolah sekitar tiga bulan, atau Bapak Adam Malik, mantan Wapres RI yang dulu sekolah formalnya hanya sampai kelas 5 Sekolah Rakyat.

Ya, mereka adalah contoh pembelajar mandiri yang ideal, yang pasti tak mengikuti jejak ‘sarimin’ dan ‘lumba-lumba’.

Bagaimana dengan kita?

Share Button
This entry was posted in Perspektif and tagged , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

19 Comments

  1. Posted 16/06/2011 at 22:55 | Permalink

    Memang Mas, semua banyak yang terjebak pada gaya hidup kompetitif. Meskipun ini bagus, tapi kalau takarannya nggak pas, bisa seperti si Sarimin atau lumba2, hehe.. Salam hangat Mas Darin;

  2. Posted 17/06/2011 at 00:54 | Permalink

    Lebih vulgarnya “penjilat” ya mas? :mrgreen:
    Lingkungan, Kultur budaya dan pendidikan di sekolah juga sangat berperan disitu… Apalagi jika sudah membentuk watak sosial…. susah deh ngerubahnya, harus diawali dengan keteladanan dari para pemimpinnya….
    Suka banget dengan artikel ini….

  3. Topeng Tuxedo
    Posted 16/06/2011 at 23:28 | Permalink

    kembali kedalam kesederhanaan aja mas,,,,

    mo tuker link dengan blog sederhana ane mas???

  4. briandono,indonesia
    Posted 17/06/2011 at 11:52 | Permalink

    membangun pribadi yg mandiri, kreatif, dan mau slalu blajar…ok bnget…

  5. kang ian dot com
    Posted 17/06/2011 at 10:46 | Permalink

    mungkin dengan belajar otodidak dan berusaha menemukan sesuatu yang baru gitu mas? terkadang seringnya memang kita lebih terpacu melakukan sesuatu apabila jelas bentuk dari tujuan tersebut.. g kaya kita kalau kita ngerjain ibadah seringnya malas-malasan karena rewardnya g keliatan.. kalau mau liat surga y udah mati dulu deh xixi

  6. Ami
    Posted 17/06/2011 at 19:41 | Permalink

    Kayak saudara tiri Cinderella yang suka foya-foya dan norak, jaman sekarang banyak dan kayak gitu. Disindir abis-abisan dari alus sampe terang-terangan gak ngerti. Itu banyak yang duduk di kursi panas di senayan gitu…

  7. Arief Maulana
    Posted 18/06/2011 at 07:23 | Permalink

    aku pikir itu karena kurangnya kesadaran dalam diri, bahwa pembelajaran yang kita lakukan sebenarnya bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri kita sendiri. Sehingga kalau saja kesadaran ini sudah ada sejak awal, tanpa dipaksa pun orang akan dengan sendirinya menjadi pembelajar yang mandiri.

  8. Kaget
    Posted 19/06/2011 at 04:37 | Permalink

    Beljar kitu tak sepenuhnya memerlukan tempat, saat makan dan minum pun kita bisa belajar bahwa rasa berbeda di setiap lidah. Bahkan banyak yang salah jurusan tapi sanggup mengerjakan yang bukan bidangnya, mandiri tapi sayang kenapa orang selalu mempertanyakan izajah? 🙁

  9. Posted 20/06/2011 at 21:48 | Permalink

    Terus terang artikel ini (untuk saat ini) tepat mengarah ke saya bro, soalnya dalam dilema ingin melanjutkan studi S2 tapi terkendala karena ijasahnya nanti tak akan diakui dalam kenaikan pangkat…. Dilema, disatu sisi keninginan untuk menambah ilmu begitu kuat namun disatu sisi tak ingin dikecewakan karena hasil akhir yang kita raih nanti tidak diakui oleh instansi tempat kita bekerja

  10. Posted 23/06/2011 at 16:24 | Permalink

    Belajar itu sebenarnya sebuah pilihan dari kesadaran kita, buktinya kita bisa mendengar banyak kisah meski orang dengan keluarga kesusahan, namun pendidikan tidak pernah berhenti untuk diperjuangkan. Karena adanya kesadaran akan pentingnya makna pendidikan.

    Tapi meski-pun dengan sumber daya yang berlimpah ruah, jika niat dan kesadaran guna belajar tidak ada, maka ya itu, belajar ala Sarimin akan muncul. Jadi jika dikatakan faktor sumber daya, saya rasa bukan itu yang jadi masalah.

    Guru saya di SD pernah berkata, di dunia ini tidak ada orang yang cukup bodoh untuk belajar, hanya mereka yang cukup enggan untuk berusaha dan menyadari kebodohan dari menyia-nyiakan kesempatan belajar.

  11. Deny Gnasher
    Posted 25/06/2011 at 01:02 | Permalink

    Lumayan jadi pembelajaran. Kalau saya gimana yah?

  12. pulsa elektrik murah
    Posted 25/06/2011 at 12:02 | Permalink

    pagi2 dapat pencerahan nich,thank for you

  13. Lompo Ulu
    Posted 26/06/2011 at 20:47 | Permalink

    kemandirian dalam belajar, alias mau untuk belajar otodidak.
    sepertinya sulit jika mau diterapkan pada generasi sekarang, mas.
    generasi yang lahir di era 90-an umumnya adalah manusia yang menikmati masa keemasan internet, teknologi dan budaya instan.
    saya skeptis jika banyak generasi sekarang yang mau belajar mandiri.

  14. Guusn
    Posted 27/06/2011 at 11:07 | Permalink

    bagus sekali mas artikelnya, telah menginspirasi saya.

  15. Putu Yoga
    Posted 07/07/2011 at 20:49 | Permalink

    untungnya saya bukan tipe sarimin, saya belajar karena memang saya suka ! yeaah 😀

  16. Nurul Imam
    Posted 12/07/2011 at 05:14 | Permalink

    Ini Menjadikan Saya Berfikir Klo Belajar Itu Tidak Hanya Ketika Kita Muda.

  17. Leo
    Posted 16/07/2011 at 19:02 | Permalink

    Kebetulan saya selama 6 bulan kemarin menjadi guru bantu sementara, menggantikan guru yang keluar. Dan selama 6 bulan mengajar, saya melihat kalau sebenarnya pelajar di Indonesia (atau setidaknya di sekolah tempat saya mengajar) bisa diajari otodidak atau belajar mandiri.

    Saya bisa menyimpulkan itu karena selama saya mengajar, saya tidak pernah membahas buku pelajaran di sekolah. Sebaliknya saya menyuruh siswa saya untuk membacanya di rumah. Sedangkan di sekolah lebih untuk praktek langsung atau membahas apa saja yang menurut mereka sulit atau membingungkan. Maksud saya dengan sistem belajar seperti itu, mereka akan lebih memahami materi, karena mereka memang saya ajari berpikir mandiri, tidak menunggu saya yang harus mengajari. Dan hasilnya, nilai ujian mereka kemarin rata-rata 89 mas. Impresif.

    Dengan contoh di atas, sebenarnya kita ini bisa diajari belajar mandiri. Hanya saja sistem pendidikan kita memang jelek. Yang sayangnya masih dipraktekkan oleh pengajar-pengajar muda.

  18. nonaManis
    Posted 19/07/2011 at 18:03 | Permalink

    hahahaha baca artikel nya bang darlin jadi ketawa ketawa sendiri plussssssssssss mengusik diri apakah diri ku juga tipe sarimin dan lumba lumba yah ???

  19. johnterro
    Posted 27/07/2011 at 15:03 | Permalink

    sepertinya ngeblog pun butuh gaya untuk mengembangkannya dengan baik ya om?

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
*