Hello Darinholic, How Are You?

Pertanyaan yang sering terucap saat dua orang atau lebih berjumpa dan saling sapa adalah ‘hai, apa kabar?’, dan jawaban ‘halo, saya baik-baik saja’ hampir dipastikan mendekati 100 persen menjadi balasannya. Entah karena intuisi spontan atau ingin memberi kesan perhatian pada pihak penanya, jawaban ‘saya baik-baik saja’ akan selalu jadi pilihan utama.

Tapi jika pertanyaan itu ditujukan pada diri sendiri? ‘Hello kamu yang ada di cermin, apa kabarmu?’ Kira-kira apa ya jawabannya?

Refleksi, muhasabhah, mendengar suara hati, self-awarenes, atau apapun namanya, ternyata sangat sulit dilakukan di tengah banyaknya distraksi. Kita kerap dihadapkan pada situasi dimana kelihatannya ‘dunia luar’, materi dan apa-apa yang kita miliki adalah alasan yang tepat tuk mematut jawaban ‘ah, saya baik-baik saja kok’.

Padahal…

Everything is about the story. Ya, bagi Anda dan pembaca lain yang sering mengunjungi blog DarinHolic.com tentu mafhum jika akhir-akhir ini jarang sekali ada tulisan baru. Saya memang sedang dilanda hiatus menulis. Keberadaan saya di Jakarta dengan irama hidupnya yang sama sekali di luar dugaan seakan jadi ujian super berat bagi seorang blogger.

Pergi subuh, pulang malam, berlarian mengejar metromini dan berdesakan di commuter line adalah ritual baru yang harus dijalani. Waktu yang paling ideal untuk blogging memang jatuh di hari Sabtu dan Minggu, namun apa daya, hasrat itu selalu dikalahkan oleh keingian tuk bersantai dan istirahat.

Lalu kenapa saya bisa menulis artikel ini?

Saya bingung juga. Apa karena sudah terlalu banyak ide yang mengendap di kepala? Atau akibat dari masih adanya sisa-sisa passion blogging?

Ujung-ujungnya saya malah jadi teringat dengan tulisan sendiri tentang buku Gol A Gong yang menganjurkan kita tuk menulis agar kepala tidak meledak. Ya, mungkin itu gambaran yang tepat saat ini. Jadi – yah – saya sangat bersyukur sekali, akhirnya dapat menyempatkan diri tuk menulis lagi.

Dan kali ini tak banyak sih yang bisa saya sharing. Saya hanya ingin bercerita tentang apa-apa yang belakangan ini menarik minat dan menjadi sesuatu yang sedikit banyak telah mengubah pandangan saya tentang hidup.

Yang pertama adalah ebook dari Leo Babauta. Anda pasti tahu kan siapa Leo Babauta? Blogger di belakang zenhabits.net yang sering disebut-sebut sebagai master di bidang pengembangan diri ini telah sukses berat merebut hati saya lewat ebook-nya yang berjudul The Effortless Life – A Concise Manual for Contentment, Mindfulness & Flow.

Isi ebook sebagian besar memang masih berkaitan dengan ‘hidup minimalis’ khas Leo dan penerapan praktisnya pun sering saya temui saat mengacu kembali pada tulisan-tulisannya di zenhabits.net. Tapi hal-hal mendasar yang menjadi ‘pondasi’-nya baru bisa saya temui di ebook ini. Istilahnya, kalau selama ini saya sering makan santan, kini saya bertemu dengan biangnya santan, alias buah kelapanya.

The Effortless Life seakan menjawab semua pertanyaan yang sering saya ajukan kepada diri sendiri: kenapa hidup bisa dirasa sangat berat?; mengapa rencana-rencana yang telah dipersiapkan secara matang dapat menemui kegagalan?; kenapa saya tak pernah merasa puas dengan diri sendiri?

Life is hard. Or so we’ve imagined.
The truth is that life is only as difficult as we make it.

Begitu simpel. Kalimat sederhana di atas seperti air es yang ditumpahkan di atas kepala: ‘hello, kemana saja kamu?

Hidup itu – menurut ebook ini – sebenarnya sederhana, karena apa yang kita butuhkan memang amatlah sederhana. Pangan, sandang, papan dan hubungan baik dengan sesama manusia. Hanya itu.

Pangan, tumbuh secara alami dan makin membaik jika kita merawatnya. Sandang, hanyalah busana yang menutupi tubuh. Papan, dengan atap sederhana pun kita sudah terbebas dari panas dan hujan. Hubungan baik, tak ada yang sulit selama masing-masing pribadi bisa menikmati hubungan tanpa ekspektasi berlebihan.

Lalu diantara kebutuhan-kebutuhan sederhana itu, manusia ‘menemukan’ kebutuhan dan istilah baru, yang mana ditandai dengan datangnya era modern yang menjadikan manusia mampu menciptakan banyak hal: karir, atasan dan bawahan, gadget baru, social media, kendaraan, televisi, busana up to date, dan seterusnya, dan seterusnya.

I’m not saying that we should go back to caveman days, but it’s important that we remember what’s necessary and what’s invented.

Ya, bukannya menerapkan gaya hidup kembali ke jaman batu, namun gagasan ini mengajak kita tuk seharusnya sadar sehingga bisa memilah mana yang benar-benar merupakan kebutuhan dan mana yang kita sengaja ‘ciptakan’ untuk dijadikan sebuah kebutuhan.

Mengapa harus dalam keadaan sadar?

Karena hanya dalam keadaan sadarlah kita mampu menilai bahwa ada sesuatu di kehidupan kita yang berstatus kebutuhan yang ‘diada-adakan’. Dan hanya dalam keadaan sadar sajalah maka kita bisa dengan leluasa dan rela menghapusnya di kehidupan sehari-hari.

Intinya sih, hidup itu seharusnya mudah, dan jika malah jadi susah hanya gara-gara kebutuhan ‘yang dipaksakan ada’, apalah gunanya?

Saya kemudian merenung dan mendadak jadi benar-benar tersadar, wah wah, betapa banyak hal di sekitar yang selama ini saya anggap sebuah kebutuhan ternyata bukanlah kebutuhan saya yang sebenarnya.

Semisal seputar masalah perut. Saya sering terjebak oleh keinginan untuk makan di tempat tertentu, dan tak jarang saya rela mengeluarkan dana ekstra demi itu. Saya menutup mata pada waktu yang habis terbuang di perjalanan, kerepotan mencari tempat yang pas, bahkan lupa kalau urusan makanpun bisa dilakukan dengan aman dan nyaman di rumah sendiri.

Pakaian? Saya melihat lagi rak baju, menghitung-hitung dan membandingkannya dengan frekuensi pemakaian. Ternyata ada baju-baju yang hanya dipakai sebanyak hitungan jari, yang bila dikomparasi, dari sekian banyak setelan, saya hanya sreg dan butuh dua potong kemeja, tiga kaus dan satu jeans. Selebihnya? Entah. Anda pun begitu?

Di dunia blogging dan internet lebih dahsyat lagi. Di sisi lain dari kemudahan-kemudahan yang ditawarkan, internet – yang sekarang sepertinya telah menjadi sebuah kebutuhan – telah menjadi jebakan paling nyata.

Seberapa sering kita merasa ‘ada yang kurang’ ketika beberapa jam saja tak berkicau di twitter, atau betapa gundah makin lama makin menjadi saat beberapa waktu tak menengok wall facebook? Kita lalu dibuat bingung, antara kita dan social media, mana yang budak dan mana sang majikan?

Well, gagasan-gagasan yang tertuang dalam ebook ini tak pelak membuat saya sejenak mengistirahatkan fikiran dan lebih mengedepankan suara hati.

Think less. Feel more.

Dan yang kedua, sesuatu yang kini menjadi ketertarikan saya adalah sebuah buku karya Rene Suhardono yang berjudul Your Journey To Be The #UltimateU.

Sebelumnya saya belum pernah mendengar nama Rene Suhardono, baik offline maupun online. Sampul bukunya pun tak semeriah layaknya buku-buku motivasi. Tapi setelah saya mendekat dan memandangi sampulnya – wah – keren banget, saya serasa bercermin!

Buku Your Journey To Be The #UltimateU

Dan deskripsi di sampul belakang pun amat menohok.

Buku ini berisikan cerita-cerita inspiratif sebagai panduan Anda dalam memulai petualangan asyik dan penuh makna untuk menemukan versi terbaik dari diri Anda sendiri, your journey to be the ultimate you!

Ternyata wawasan saya begitu sempit. Rene Suhardono adalah penulis buku fenomenal Your JOB Is Not Your CAREER dan seorang kolumnis Kompas yang secara tetap mengisi rubrik #ultimateU. Bahkan figur sekelas Anies Baswedan yang menghentak lewat program Indonesia Mengajar-nya pun dengan suka cita menulis endorsement dan memberikan apresiasi.

Dan benar, tulisannya betul-betul asyik. Di buku ini Rene mampu menuangkan ide-ide seputar pengembangan pribadi yang sejatinya rumit dengan paparan yang jernih dan lugas tanpa kesan menggurui.

Cerita-cerita inspiratif yang mengisi keseluruhan buku pun bukan asal comot, karena di-capture langsung dari situasi sehari-hari yang dialami Rene, dan mungkin juga dialami oleh sebagian besar dari kita. Namun dari situasi yang kita anggap biasa itu, Rene seakan membawa sebentuk nampan berisi perspektif segar, tak lazim dan – bisa dibilang – menusuk.

Tengok saja arti sukses yang Rene tulis di buku ini:

Bagi saya, sukses dalam bekerja tidak berhubungan dengan tempat kerja, status kepegawaian, jabatan, jumlah anak buah atau besar gaji. Saya bahkan tidak menyepakati sukses yang dikaitkan dengan menjadi yang terbaik (the best).

Sukses cenderung jujur, syukur dan hening karena semata terkait dengan keberhasilan menjadi diri sendiri yang terbaik (self-best) dalam setiap langkah karier dan kehidupan. Bagaimana dengan Anda?

Secara reflek, seperti kaset lama yang diputar kembali, memori otak saya terisi lagi dengan sikap-sikap yang menunjukkan begitu salahnya saya selama ini. Saya selalu menilai pribadi-pribadi yang sukses itu dengan ukuran yang persis ditulis Rene. Status PNS, gaji berlipat, level jabatan, yah seputar itu. Tapi bum! semua sekejap sirna.

Menjadi diri sendiri yang terbaik (self-best), ya, harusnya itu yang jadi pegangan.

Success is never about being the best – it is about becoming your self-best.

Keren, kan?

Ok, mendekati akhir artikel, izinkan saya tuk mengucapkan terima kasih pada Anda semua yang masih setia ‘mendengarkan’, memberi semangat, masukan dan kritik lewat email maupun jejaring sosial. Terima kasih pula karena telah memberi saya ruang untuk berekspresi, berbagi, dan berkomunikasi di blog ini.

Dan bila ada diantara Anda yang bertanya-tanya: hello darinholic, how are you?

Saya jawab: I’m fine, thank you!

How about you? 🙂

Share Button
This entry was posted in Jurnal and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

19 Comments

  1. Ada-akbar.com
    Posted 28/05/2012 at 16:50 | Permalink

    Bagi saya sukses adalah menimbulkan rasa puas di dalam dada.. 🙂

    • Darin
      Posted 29/05/2012 at 11:00 | Permalink

      Sederhana, namun penuh makna mas Akbar 🙂

  2. Posted 28/05/2012 at 17:53 | Permalink

    pendapat tentang sukses memang tiap orang berbeda mendefinisikannya, dan oleh karena itu kehidupan ini di warnai oleh hasil dari defenisi2 sukses tadi. jika memaksa mendefinisikan sukses dengan konsep yang sama, mungkin warna akan hilang…

    • Darin
      Posted 29/05/2012 at 11:03 | Permalink

      Betul juga, begitu banyak referensi definisi tentang sukses. Bisa dibilang, lain buku lain pula tulisannya. Tapi sepertinya saya ‘terpaksa’ setuju dengan Rene di buku ini, karena arti sukses yang ditulis adalah akar dari segala macam uraian tentang sukses di buku2 sejenis.

  3. Posted 28/05/2012 at 20:39 | Permalink

    Postingan di sela2 rutinitas tapi masih bisa menguraikan banyak hal. 🙂 Berbicara soal rutinitas di dunia nyata kadang emmang membuat kita jadi malas untuk menuangkan apa yang ada di pikiran menjadi sebuah tulisan. Mungkin otak sudah terlalu lelah, ya?.

    Btw, yang terakhir soal ukuran kesuksesan, sejak beberapa saat terakhir ini saya sendiri sedang meyakinkan diri sendiri bahwa ukuran kesuksesan itu bukan dilihat dari ‘baju2 fisik’ yang biasa kita lihat. Tapi seberapa besar kita bisa mensyukuri keadaan diri kita sendiri dan mendayagunakannya semaksimal mungkin. Mungkin ini agak sejalan dengan yang ditulis Rene, menjadi diri sendiri yang terbaik.

    • Darin
      Posted 29/05/2012 at 11:55 | Permalink

      Ya mas Alam, namun kadang pemikiran itu jauh dari ukuran sukses yang dilihat oleh orang lain, dan mungkin oleh kita sendiri. Kita hampir pasti kan selalu menilai bahwa orang yang berada di belakang kemudi BMW dan bekerja di perusahaan bonafid adalah orang sukses yg sesungguhnya. Padahal belum tentu versi terbaik orang tersebut bukanlah seperti itu.

  4. farizalfa
    Posted 29/05/2012 at 05:32 | Permalink

    Sukses bagi saya adalah 4 “ta” seperti Alumni saya mengatakannya.
    “Harta, Tahta, Kata, Wanita”

    • Darin
      Posted 29/05/2012 at 11:56 | Permalink

      ‘Ta’ yang tiga pernah tahu, tapi sukses dengan ‘Kata’? Penulis best-seller, begitukah maksudnya? 😀

  5. Deny Gnasher
    Posted 30/05/2012 at 06:44 | Permalink

    Ada istilah, “life is hard, die is easy” 🙂

  6. Posted 30/05/2012 at 09:44 | Permalink

    Ritme kerja di Jakarta asoy, ya Mas..

    Rene Suhardono ini yang di twitter ReneCC bukan yah?

    Soal defnisi kesuksesan emang sekarang ini lebih banyak dipahami dengan hitungan kuantitas sih, seperti tempat kerja, status kepegawaian, jabatan, jumlah anak buah atau besar gaji. Dan seberapa banyak gadget yang bisa dibeli. #eh

  7. Fakry Naras Wahidi
    Posted 02/06/2012 at 12:35 | Permalink

    akhirnya, setelah berkali2 kembali kesini dan tidka menemukan artikel baru, sekarang ada 1 artikel yang memberikan saya pencerahan, btw template blog-nya barunih cieee…

    kalo om rene sih saya sudah tau dia sejak lama, seorang karir coach yangs ering muncul di TV juga lhooo. serius tuh om darin ga tau? jarang nonton TV kali iya, heheh… #pis om

    ditunggu artikel selanjutnya, ayok semangat menulis om cz tulisan om darin bagus2 seh. bisalah diusahakan dengan 1 hari, 1 kalimat, hihiy…

  8. doel
    Posted 03/06/2012 at 11:27 | Permalink

    salam kenal mas…

  9. Posted 03/06/2012 at 20:45 | Permalink

    Sepertinya itu hanya soal penyesuaian waktu saja, Mas. Jakarta memang selalu sibuk, namun banyak waktu tersisa bagi siapa yang bisa menikmatinya.. 🙂

  10. Posted 05/06/2012 at 15:53 | Permalink

    how are you? I am great

    hehe, American style banget, hehehe

  11. Posted 05/06/2012 at 23:23 | Permalink

    Seperti senasib Kang, saya juga lagi retreat Ngeblog sementara waktu hehe… Bedanya kalo saya mungkin bukan karena faktor kesibukan tetapi ada hal-hal tertentu yang sulit di jelaskan :p

  12. tonykoes
    Posted 14/06/2012 at 17:54 | Permalink

    Harusnya waktu ngejar Metromini sambil Nyanyi lagunya GodBless Bis Kota 🙂
    Sukses adalah kegagalan yang tertunda.. sejauh mana kita mampu menunda kegagalan itu Mas.. 8)

    • Darin
      Posted 19/06/2012 at 16:21 | Permalink

      Hehehehe 😀
      Quote terakhirnya menohok juga mas Ton!

  13. Graha Nurdian
    Posted 16/06/2012 at 11:43 | Permalink

    Wah ini bener – bener artikel yang cukup mengandung emotion yg tinggi, dan ketika membaca ini saya merasa, penulisannya disertai emosi yang meluap – luap dan tumpah dalam bentuk tulisan tak terbendung hehe.

    Habis ngeliat reviewnya The Effortless Life – A Concise Manual for Contentment, Mindfulness & Flow. sepertinya menarik, akan saya download juga. Trims buat rekomendasinya 🙂

    • Darin
      Posted 19/06/2012 at 16:22 | Permalink

      Sama-sama Mas Graha, maklum lagi hot nih he3 😀

One Trackback

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
*