Ingin Menjadi Blogger Sukses? Jadilah Blogger Munafik

Apa yang terlintas di benak kita saat mendengar kata ‘munafik’? Suka berdusta, ingkar janji, dan kerap berkhianat? That’s right. Sejak bangku SD kita sudah hafal teori itu.

Pertanyaan lain, apakah salah jika kita mendustai kenyataan demi berusaha untuk mengejar tujuan yang lebih baik? Apakah tak dibenarkan kala kita ingkar pada janji-janji yang dulu pernah terucap dan kemudian melakukan hal yang sama sekali berbeda seratus delapan puluh derajat dengan janji tersebut? Dan apakah sebuah kekeliruan bila kita berkhianat pada sifat pesimis yang selama ini setia menemani, dan beralih mengakrabi sifat optimis?

Simpan dulu jawabannya, dan perhatikan kalimat berikut:

Bukankah hampir kebanyakan blogger dalam berbahasa itu kebanyakan suka begitu (munafik)? Penuh dengan basa-basi, kurang terus terang, suka meng-hidden teks sasaran yang dibicarakan, dan bahasanya cenderung hanya berputar-putar, bermain-main dalam argumen bahasa penuh metafora.

Untuk lebih jelas, silahkan membaca artikel lengkapnya di sini agar bahasan permasalahan tidak melebar, karena saya di sini hanya sekedar menyampaikan opini dari perspektif saya sendiri.

Nah, sekarang Anda boleh menjawab pertanyaan-pertanyaan di paragraf dua tadi. Sudah? Kemudian, bayangkan jika karena jawaban-jawaban Anda tersebut, Anda dicap sebagai orang yang munafik.

mu.na.fik
[a] berpura-pura percaya atau setia dsb kpd agama dsb, tetapi sebenarnya dl hatinya tidak; suka (selalu) mengatakan sesuatu yg tidak sesuai dengan perbuatannya; bermuka dua: ia tidak pernah berpura-pura, selalu jujur dan tidak – (KBBI)

Munāfiq atau Munafik (kata benda, dari bahasa Arab: منافق, plural munāfiqūn) adalah terminologi dalam Islam untuk merujuk pada mereka yang berpura-pura mengikuti ajaran agama namun sebenarnya tidak mengakuinya dalam hatinya. (Wikipedia)

Ok, agar tak merembet jauh ke ranah kerohanian, saya istilahkan saja kata ‘agama’ itu dengan ‘pegangan atas suatu keyakinan’.

Keyakinan Seorang Blogger
Saya yakin setiap blogger adalah individu yang unik. Itu harga mati. Ada yang unik dengan topik bahasannya, desainnya, gaya tulisannya, bahkan unik karena sering copy paste dan kerap memainkan auto generated content. Dan saya juga yakin setiap blogger memiliki aturan (rules) sendiri-sendiri berkenaan perihal bahan-bahan mentah yang kelak menjadi artikel yang di-publish di blognya, karena itu berkaitan erat dengan keterbatasan ilmu dan wawasan yang dipunyai.

Contoh, saya dulu memiliki keyakinan bahwa WordPress itu susah, dan bahkan hingga kini masih tak begitu mahir memainkan platform blog ini. Nah, lalu kenapa saya sekarang akhir-akhir ini sering mengulas tentang WordPress? Apakah karena saya sok pintar? Nope. Itu dilakukan semata-mata karena saya memiliki keyakinan baru tuk bisa dan mampu mendalami platform ini dan bermaksud mendokumentasikan progress-nya di artikel blog. Thus, apa dengan meninggalkan keyakinan lama dan memeluk keyakinan baru itu berarti menjadikan saya orang yang munafik?

Tips Menjadi Blogger Sukses

Hmm, sepertinya agak riskan juga bila disamakan dengan konteks keagamaan. Tapi begini, kalau saja semua blogger memiliki sebuah keyakinan dan sekuat tenaga berusaha agar produk artikelnya tak melenceng dari keyakinan tersebut, wah, repot dong blogger yang punya keyakinan bahwa dirinya newbie? Seumur-umur progress-nya bakal mandeg karena takut dicap sebagai blogger munafik.

Munafiklah Dengan Berdusta Pada Kenyataan
Ya, salah satu yang dianjurkan – menurut saya lho – untuk menjadi blogger sukses adalah dengan berdusta pada kenyataan. Kenapa? Berikut beberapa alasannya:

  • Tak harus menunggu menjadi mahir menulis dulu, baru menjadi blogger. Maka munafiklah. Pura-pura saja Anda sudah pintar menulis and start blogging. Dustai kenyataan bahwa Anda tak mahir menulis.
  • Tak harus menunggu menjadi jago ngutak-ngatik blog, baru menjadi blogger. Maka munafiklah. Pura-pura saja Anda sudah pintar coding and start blogging. Dustai kenyataan bahwa Anda nol besar dalam bahasa pemrograman.
  • Tak harus menunggu waktu luang, baru mulai ngeblog. Maka munafiklah. Pura-pura saja Anda punya banyak waktu luang and start blogging. Dustai kenyataan bahwa Anda memang benar-benar tak memiliki waktu sama sekali tuk mengurus blog.
  • Anda tambahkan sendiri.

Perspektif ini memang tak lazim. Namun saya merasakan sendiri saat melihat gaya tulisan saya yang mulai berubah-ubah. Dari nyeplos, menjadi serius, kembali nyeplos. Dari santai, menjadi agak kaku dan terikat pada EYD, kemudian santai lagi. Yep, anggap saja saya sudah menjadi salah satu korban kemunafikan *hehe*.

Lalu Apa?
Keep the proggress, itu kuncinya. Biarlah tulisan kita terkesan basa-basi, kurang berterus terang, tata bahasa berputar-putar dan penuh kiasan serta metafora. Karena hal-hal itu lumrah adanya dalam sebuah proses menuju keyakinan baru. Apa keyakinan baru itu? Ya cuma kita sendiri yang tahu. Bisa berupa sukses menjadi bloggerpreneur, penulis buku, desainer blog, atau.. mungkin ada yang punya keyakinan tuk menjadi the next seleblogger? Who knows?

Syaratnya mudah saja, jadilah munafik! 🙂

— * —

PS : Artikel ini bukan untuk meng-counter tulisan di blog diptara.com, juga mohon dimaafkan bila penggalan kalimatnya dipakai untuk menjelaskan topik bahasan artikel kali ini, dan bahkan keluar dari konteks asal (kritik-mengkritik). Sekali lagi maaf, karena ini sekedar perspektif subyektif dari saya.

Share Button
This entry was posted in Blogging, Perspektif and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

63 Comments

  1. Posted 10/06/2011 at 19:06 | Permalink

    Terlepas dari konteks ini, di benak saya munafik itu lain yang di mulut lain pula perbuatannya. Misalnya, di mulut dia sok ngasi ceramah, nyatanya dia judi, korupsi, selingkuh. Misalnya ini lho ya. 😀

    Well anyway, saya kok melihat dari perspektif “munafik” ini jadinya negatif ya kalo disematkan untuk blogger. Tapi kalau membaca contoh-contoh dari Mas Darin tuliskan, saya ngerti sih maksudnya. Namun, entah kenapa saya lebih senang menyebutnya “memandang diri kita secara lebih positif”. Seperti contoh Mas Darin, ya kita yakin saja kalau kita punya kemampuan menulis untuk blog, kita yakin kalau kita bisa utak-atik html, dan seterusnya. 😀

    • Posted 10/06/2011 at 19:44 | Permalink

      Nah, melakukan sesuatu yang berlawanan dengan yg diucapkan, itu juga masuk kategori munafik Kim. Saya setuju banget kalo itu.

      Dan, yah bener, saya juga agak takut jangan2 ada yg beranggapan lain karena terlanjur fast-reading. Saya hanya berusaha memotivasi diri sendiri dan syukur2 bagi pembaca artikel ini agar lebih semangat ngeblognya.

      Nah, memandang ‘diri kita secara lebih positif’ setelah sebelumnya meyakini bahwa ‘diri kita ini negatif’, bukankah itu juga munafik (dalam konteks ini tentunya)? 😀

  2. Posted 10/06/2011 at 19:21 | Permalink

    Di penghujung artikel saya itu saya sudah menulis “Silahkan Anda boleh kritik saya kalau tak sependapat dengan opini saya ini”. Dan saya terbuka untuk berdialog jika memang ada yang kurang sependapat.

    Alasan saya membuat pernyataan itu adalah saya memang terus terang suka gemes dengan blogger yang gaya nulisnya rada munafik, Mas. Cari aman! Suka rasan-rasan tak terus terang. Dalam kalimat yang mas Darin kutip itu, yang paling sering dilakukan para blogger adalah menghiden teks sasaran tembak yang sedang dibicarakan.

    Ya, tapi saya sadar tidak semua blogger punya keberanian yang sama seperti yang Mas Widodo lakukan itu dalam hal mengkritik.

    Benar kata salah satu pengomentar di artikel saya itu. Ada orang yang merasa sungkan ketika mengungkapkan apa yang dirasanya ‘tak menyenangkan’. Tidak semua orang punya keberanian yang sama untuk mau berterus-terang, makanya lebih memilih munafik, berbohong atau tak terus terang.

    Tapi kalau kebohongannya seperti tiga poin yang Mas Darin sebutkan di atas saya setuju karena itu memotivasi diri namanya.

    Terima kasih, Mas sudah repot-repot mau menanggapi posting saya. Terima kasih juga buat backlinknya. 🙂

    • Posted 10/06/2011 at 19:50 | Permalink

      Yup, benar sekali pak. Saya ingat sekali. Dulu saya menemukan blog2 dengan tulisan yg tujuannya mengkritik namun ga jelas siapa dan pihak mana yg dikritik. Kesannya malah hambar karena argumennya jadi kurang kuat.

      Kalau saya, lebih baik menyampaikannya dengan gambar kartun hahaha.. sama saja munafik ya? But it’s okey. Inilah dinamika blogging, dan itulah salah satu faktor kita-kita ini masih terus bertahan. Karena memang asyik, betul pak? hehe

      Dan untuk Mas Wid, sama dengan pesan di komentar postingan Pak Joko: keep rockin’ the blogosphere! 😀

  3. Posted 10/06/2011 at 20:44 | Permalink

    saya nggak tahu mau ngomong apa pak saya sendiri bingung sekarang saya ini blogger apa, tahunya nulis aja dan saya juga tidak pernah berani mengkritik seseorang lawon saya aja nulisnya berantakan gitu design blognya juga amburadul

    • Posted 10/06/2011 at 22:57 | Permalink

      Halo Pak Munir, lama tak bersua. Bgm kabarnya? 🙂
      Ya pak, itu terserah dari masing2 blogger untuk mengisi konten blognya. Dan perihal kritik mengkritik memang topik yang selalu hangat tuk didiskusikan.

      Sukses selalu ya pak Munir 🙂

  4. Bobby Prabawa
    Posted 10/06/2011 at 18:58 | Permalink

    Nggak usah seperti itu gan..:)

  5. wid
    Posted 10/06/2011 at 19:05 | Permalink

    sebuah pilihan yang memang tidak bisa di paksakan…
    dan juga pasti ada motif,ada yang berpura-pura koment baik karena mengharap kunjungan balik…
    ada pula yang mencari muka karena mengharap backlink…
    ada juga yang memang betul-betul niatan tulus,semakin banyak motif semakin banyak pula resultnya…

    tapi mungkin juga tergantung karakter,jika mulai awal karakternya adalah seorang penjilat,mau di blog manapun semua komentarnya tetap akan mencari aman dan yg indah2 saja…pun begitu dengan artikelnya,karena mengubah karakter memang sulit..dan sebagai imbalan dari karakter penjilat adalah banyaknya teman jika kebetulan di tinggalin kentut juga blogger penjilat dan munafik…

    resiko blogger radikal,tentu saja di jauhi,jangankan teman,komentar dari blooger nakal seperti saya terkadang juga tidak pernah lolos dari moderasi..tapi memang itu sebuah resiko atas keputusan yang di ambil…

    jadi semua kembali ke narablog,silahkan ambil pilihan dengan pilihan resiko di dalamnya…

    • Posted 10/06/2011 at 19:57 | Permalink

      Wohoho, jangan salahkan Akismet lho mas, karena saya ga pakai sistem moderasi, xixi
      Yup, semua itu pilihan. Dan wawasan tentunya masik bertambah seiring dengan pengalaman. Mungkin di awal2 ngeblog ada yg begitu, kemudian paham etika2 setelah lama umur ngeblognya.

      Setuju. jadi blogger baik2 aja ada resikonya, gimana yg radikal? hehehe

      • Posted 13/07/2013 at 06:45 | Permalink

        melihat postingan ini sedikit tersindirlah saya. tp menurutku bahasa blogger munafik seharusnya tdak pantas. mungkin lebih baik ika katanya diperhalus menjadi blogger yg tidak memiliki etika.

        • Darin
          Posted 13/07/2013 at 18:10 | Permalink

          Trims tanggapannya mas.
          Ya, memang kalau difikir-fikir kata ‘munafik’ itu cenderung kasar dan konotasinya negatif. Saya pun tadinya agak ragu untuk memakainya, tapi setelah menimbang dan menilik isi tulisannya ya saya pakai saja, sekalian agar judulnya sedikit ‘menohok’ 🙂

          • Posted 13/11/2013 at 14:50 | Permalink

            iya juga sih. penamaan dalam membuat postingan akan memancing orang untuk mengklik.

  6. Posted 10/06/2011 at 22:48 | Permalink

    ya…. bisa ngerasain kok. semua kan masalah proses. kayak awalnya aku beranggapan punya temen imajiner yang bisa ajak aku konsultasi. trus gabung sama kelompok indigo. baru nyadar kalo kemampuan itu muncul dari usaha pembersihan qolbu. saat qolbu dibersihkan, maka akan mudah menangkap hikmah kehidupan. tapi menjaga mesti tidak sombong, waaaa…. soalnya begitu ego muncul, jadi sombong maka ketutup lagi kemampuan itu…

    ngomong apaan aku yaaaa…. aku juga suka plin-plan, esuk tempe sore dele. semua karena proses mencari gaya tulisan yang pas…

    • Posted 10/06/2011 at 23:04 | Permalink

      Dilema antara ‘keinginan sharing’ dan ‘sombong diri’. Ini juga yg perlu diperhatikan Mi. Kadang karena keterbatasan kita, apa yang coba kita bagi malah dipersepsikan berbeda. Atau lebih parah, kita merasa down dan kapok tuk berbagi.

      Padahal, siapa yg dapat mengira bahwa tulisan kita mampu menginspirasi, taruh lah satu orang saja. Apa itu sebanding? Tentu saja iya.

      Sama Mi, saya juga sedang dalam proses nyari2 gaya yang pas 😀

  7. hanif mahaldy
    Posted 11/06/2011 at 00:30 | Permalink

    jujur, susah bagi saya menjadi munafik, ada beberapa kriteria kemunafikan, jika cerita diatas soal wordpress dan tips2nya, dulu pernah saya coba melakukannya, dengan memberikan apa yang saya tulis tapi tidak pada keahlian saya, akhirnya saya di bombardir dengan pertanyaan yang saya sendiri tak mampu menjawabnya. hehe, akhirnya saya tutup bagian tutorial wordpress dan lebih pada keahlian yang saya miliki. tapi tetap saja kemunafikan tak bisa dihindari, hanya saja, lebih baik dikurangi, pembaca suka apa yang dilakukan penulisnya itu telah terbukti berhasil pada penulisnya sendiri, walaupun belum tentu berhasil dengan cara yang sama oleh pembacanya sendiri. itu pengalaman saya.

    • Posted 11/06/2011 at 09:27 | Permalink

      Saya pernah mengalami itu di artikel blog saya, Mas Hanif. Dihujam dengan pertanyaan kritis. Dari kalimat pertanyaannya sepertinya dari orang teknik, orang yang sangat mengerti dengan Lighting. Lha, ini kasusnya saya punya pengetahuan dan pengalaman di bidang itu (teknik). Gimana kalau serbuan pertanyaannya kepada tulisan kita yang kita sendiri bukan ahlinya. Ini cukup merepotkan. Betul sekali.

    • wid
      Posted 11/06/2011 at 10:02 | Permalink

      betul…setuja mas…lebih baik menjadi diri sendiri..daripada sok tahu ..ha..ha…
      seperti pak Joko yg lebih concern di bidang marketing dan engineering,tentu akan lebih mempunyai trust di mata saya jika beliau menjelaskan bidang tersebut dari pada penjelasan yg di berikan oleh seorang programer…

      dan memang banyak hal konyol (kalau nggak mau di bilang munafik) di sini,teriak-teriak dan promosi ngalor ngidul tentang sebuah tips untuk menjual blog seharga jutaaan rupiah,blog dia sendiri masih memble…tips untuk meningkatkan traffic ,pengunjung blog dia sendiri masih 20biji…tips meningkatkan page view melalui sosial media,padahal dia sendiri tahunya cuman blog…

    • Posted 11/06/2011 at 18:02 | Permalink

      Menurut saya, sah2 saja kok mas kalau mau nulis tutorial, asal memang sudah kita buktikan/kerjakan sendiri. Lalu tinggal bagaimana cara kita agar pembaca ngerti maksudnya dan kita kasih link situs2 referensi jika ada yg ingin menelusuri lebih dalam. Itu cuma masalah penyampaian saja saya kira 🙂

  8. Posted 11/06/2011 at 14:18 | Permalink

    kalau begitu definisi munafik ….klo bgt sy munafik dong… 😀

    sy ndak tw apa2 mengenai pajak, mahasiswa teknik, kedokteran, sastra, filsafat, teologi…tp sy suka sekali posting ttg semua hal itu… 😀

    ndak peduli apa kata mereka yg baca…bgs klo ada yg mau luruskan ketika ada postingan sy yg salah… 😀

    • Posted 11/06/2011 at 18:24 | Permalink

      Nah, itulah gunanya kotak komentar, bisa jadi ajang untuk diskusi, betul?
      Keep proggressing sky 🙂

  9. Posted 11/06/2011 at 15:28 | Permalink

    Soal gaya tulisan saya juga sampai saat ini belum menemukan style yang pas.. berarti sekarang saya juga munafik bro.. Sok pintar buat web affiliasi layaknya internet marketing terkenal 🙂

    • Posted 11/06/2011 at 18:15 | Permalink

      Asal ada argumen yang jelas it’s okey bro 🙂

  10. Posted 11/06/2011 at 17:34 | Permalink

    MUka NAkal Fikiran IKhtiar. hahahahahhahahahhahhahaa

    Biarpun muka munafik tapi tetep ikhtiar, untuk menjadi lebih baik hahahahah

    *tos*

    • Posted 11/06/2011 at 18:14 | Permalink

      Bwahahahaha LOL.. yuup tos juga mas! 😀

    • Posted 04/09/2013 at 12:03 | Permalink

      entah keluar dari kontek yang tertulis disini hmmm ikut tersindir juga namun itu semua kembali pada individunya

  11. Guusn
    Posted 11/06/2011 at 18:06 | Permalink

    kalau saya sih lebih baik menjadi blogger yang biasa-biasa saja. saya beri contoh, saya membeli ebook dari seorang blogger yang berpenghasilan ribuan dolar dari adsense, di ebook dijelaskan bagaimana tips, dll.
    setelah saya beli buku tersebut, saya terkejut mas, bahawa tips yang dia jalankan sama seperti orang yang baru membuat blog. apakah itu termasuk munafik mas ?

    • Posted 11/06/2011 at 18:14 | Permalink

      Pengalaman saya sama dengan mas Gus. Tapi saya kemudian positive thinking saja, kenapa saya terkena rayuan tuk membeli ebook ini ya? 😀
      Itulah kenapa konsep ‘munafik’ ini jg berlaku di dunia marketing (saya jadi pengen baca buku Marketing is Bullshit-nya Ippho Santosa), tapi ada kemungkinan juga itu peluang bagi kita, karena pangsa pasarnya masih terbuka lebar.

      Jadi kembali ke diri kita masing2 mas Gus, bagaimana menyikapinya, betul?

      • Guusn
        Posted 12/06/2011 at 09:26 | Permalink

        setelah ini, saya mau posting tentang buku yang saya beli mas, tapi tipsnya adalah tips sampah. tunggu di blog saya 😀

        • Posted 12/06/2011 at 10:32 | Permalink

          Sip mas. Kalau sampahnya bagus kan bisa didaur ulang, hehehe 😀

  12. Catatan Hery
    Posted 11/06/2011 at 18:58 | Permalink

    Sayangnya mas darin tidak memberi contoh siapa blogger yang ‘munafik’ dan kemudian sukses. Memang pasti ada saja contoh diluaran sana yang mengaku-aku, self-proclaimed untuk membentuk opini bahwa memang dia jago, padahal nggak jago-jago amat. Tapi saya pikir (belum ada data) blogger-blogger kelas dunia yang penghasilannya 6 digit dan konstan tidak berdusta dengan tulisannya. Pemilik problogger, copyblogger, mashable dll tidak berbohong dengan tulisannya, dilihat dari jejak komentar pengunjungnya

    Kesuksesan yang diawali dengan kebohongan dan kemunafikan tidak akan tahan lama, menurutku

    Menurutku, kejujuran itu salah satu elemen untuk sukses.

    Tulisannya menyentil, seru hehehe

    • Posted 11/06/2011 at 20:34 | Permalink

      Contoh? Kan udah ditulis, yaitu saya sendiri bang 😀
      Yup, saya menduga pasti pembaca sudah mengerti dan ngeh tujuan dari tulisan ini. Entah untuk yg fast-reading 😀
      Setuju, mending jujur2 saja deh 😀

      • Catatan Hery
        Posted 11/06/2011 at 21:13 | Permalink

        hehehe…mas Darin udah menganggap diri sebagai sukses..mantap 😀

        • Posted 11/06/2011 at 23:56 | Permalink

          soalnya, dengan begitu segalanya jadi kelihatan mudah bang, hehe 😀

  13. Posted 12/06/2011 at 21:39 | Permalink

    Hidup jujur ! Penuh integritas, jangan sampai kemunafikan menyerang ! Tidak ada untungnya ! Tidak akan terasa tentram di hati ! Intinya saya kurang setuju untuk menjadi munafik !

  14. Posted 15/06/2011 at 16:29 | Permalink

    Learning by doing kalo saya. Mungkin memang munafik juga ya itu namanya. 😆

    Kalo nungguin jago dulu, kapan mulai ngeblognya?

  15. kang ian dot com
    Posted 17/06/2011 at 11:00 | Permalink

    saya suka mas.. seperti blooger yang fokus SEO dan moneytizing mungkin diantaranya sering g mudeng dengan apa yang dituliskan tapi karena ingin fokus ke SEO dan biar bs dapet uang maka diotak atiklah sedemikian rupa xixi..
    ah gimana yaa.. biarlah saya juga suka kaya gitu koq 😀

  16. iskandaria
    Posted 18/06/2011 at 00:36 | Permalink

    Ada kalanya kita perlu berterus terang menulis sasaran kritikan (menulis nama objek kritikan secara implisit). Ada kalanya pula cukup kita samarkan dengan mengungkap kritikan secara umum (tanpa menyebutkan sasaran).

    Saya pakai feeling saja, kira-kira kapan akan menyebutkan sasaran secara implisit, kapan cukup mengkritik secara normatif saja. Yang penting kritikannya jelas (tidak ngambang) dan pembaca tahu apa sebenarnya yang ingin saya kritik. Saya sendiri punya standar pribadi mengenai hal itu.

    Ada sisi negatifnya jika kita terlalu khusus mengkritik atau terlalu sempit menujukan kritikan (misalnya hanya pada personal atau pihak tertentu saja). Padahal bisa jadi, materi kritikan kita ternyata juga cocok untuk pihak-pihak lain yang kebetulan melakukan hal yang sama. Nah, untuk kondisi begitu, saya biasanya lebih suka tidak menyebutkan sasaran kritikan secara implisit atau personal. Biar yang merasa melakukan juga ikut merasa saya kritik 🙂

    Eh, kira-kira nyambung gak ya ama tulisan di atas? 😉

  17. Posted 20/06/2011 at 14:14 | Permalink

    Ahaha.. kalo munafik yang seperti ini, saya oke oke saja Mas, hehe.. Kirain munafik yg kerohanian gitu.. Salam hangat Mas Darin,,

  18. yoyo
    Posted 02/07/2011 at 13:22 | Permalink

    wah berat nih… kalo muna yang beginian ane dah makmum ajje dah.

    Kan yang namanya informasi harus dibagi ,mau berbentuk apa dan bagaimana informasi itu di berikan, masing2 blogger kan punya style tersendiri yah kalo artikel nyerempet alias mirip sama aslinya kan nggak harus dibilang muna jg?

    kali ajja yg nulis keabisan ide go blog buat rearrange lagi… hehehe.. 😀

  19. Kurnia Septa
    Posted 07/07/2011 at 01:21 | Permalink

    nice info 😆

  20. rhara
    Posted 16/08/2011 at 15:12 | Permalink

    saya suka mas ama opininya. Mau jadi blogger munafik ah. Sebenernya alasan blogger nulis yang aman-aman aja itu karena emang nyari aman. Tapi kayaknya blogger yang nyari aman itu udah banyak. Hehe. kayaknya seru untuk jadi blogger munafik 🙂

  21. Posted 27/09/2011 at 23:46 | Permalink

    kemunafikan tak selamanya berkonotasi negatif, seorang blogger sejati pun tak menyadari bahwa dirinya munafik…

    sehingga, setiap aktifitas ngeblog yang dlakukan tentunya ‘bagian’ dari kemunafikan 😉

    • Posted 28/09/2011 at 10:40 | Permalink

      Me-munafik-an diri sendiri yang dianggap tak bisa jadi bisa. Begitu ya mas 🙂

  22. Posted 24/10/2011 at 19:49 | Permalink

    Mas, dari awal saya baca artikel ini udah suka sama isinya. isinya membuat semangat saya buat ngeblog jadi terpompa lagi.
    boleh kalau copas sebagian buat ditaruh di salah satu blog saya?

    • Posted 10/11/2011 at 11:19 | Permalink

      Boleh aja mas, asal ada creditnya ya. Itu salah satu etika copas 🙂

      • muizz
        Posted 07/02/2015 at 14:11 | Permalink

        menurut ane sah sah aja munafik dalam istilah yang anda paparkan di atas,asal jangan munafik dalm masalah agama,,,widiiih bahaya kan???artikel yang menarik dan jarang dibahas oleh blogger lain.thank

    • Posted 01/03/2015 at 19:59 | Permalink

      judulnya nyeleh, keren.

  23. Posted 29/12/2011 at 10:00 | Permalink

    just smile for this. . . . . .

  24. asmari
    Posted 16/01/2012 at 08:28 | Permalink

    mantabs..

    baru kali ini saya bisa menjadi munafik..

    terkadang saya hanya berpikir apa yang saya bisa berikan kepada orang
    dan saya ingin terus belajar dari siapapun

    tanks artikelnya mas. munafik dalam dunia blogging, saya setuju

    • Dendy Darin
      Posted 16/01/2012 at 17:09 | Permalink

      Trims mas Asmari. Syukur artikel aneh ini ternyata ada juga manfaatnya, hehe. *toss*

  25. Ramy
    Posted 01/02/2012 at 19:15 | Permalink

    saya setuju mas, yang penting tetap pede nulis diblog, karena di internet tidak ada yang tahu bahwa kita sebenarnya seekor alien #eh XD

  26. Posted 01/03/2012 at 21:42 | Permalink

    jujur, dulu waktu mulai ngikut nge-blog motivasi awalnya adalah biar bisa ikut teman-teman test-ride/drive produk-produk otomotif. namun, seiring waktu berjalan, ada hal lain yang kmphlynx temukan yang jauh lebih berharga ketimbang motivasi awal tadi.
    ilmu dan teman, ya…., klise memang.. tapi itulah yang saya temukan dan akan dipertahankan sampai nanti. tulisan di blog kini sekedar perpustakaan diri saja yang kalau ada orang lain memperoleh manfaatnya, ikut senang. apalagi kalau dikritik dan dikasih masukan yang membangun… wah…, terima kasih sekali…

    salam kenal, kmphlynx

    • Darin
      Posted 01/03/2012 at 23:43 | Permalink

      Salam kenal kembali. Senang bisa bermanfaat 🙂

  27. Posted 08/03/2012 at 00:38 | Permalink

    Hahaha oke, mari kita jadi munafik.
    Kalau pura-pura punya waktu luang aku gak bisa mas.
    Soalnya beneran luang waktuku ahahaha~

  28. Posted 16/05/2012 at 07:39 | Permalink

    Hahaha… menurut saya ga usah pake istilah munafik segala lah…

    kalo ada blogger newbie yang bikin artikel tutorial tentang blognya (katakan cara membuat read more di blogger) meski dia nol besar dalam HTML, dia bukannya sok-sokan (baca munafik) bikin agar terlihat ahli.

    Biasanya mereka cuman sedekah ilmu yang baru saja mereka pelajari dari blog tutorial besar – sekalian menambah jumlah post + trafik.

    Biasanya mereka juga bilang kok kalo barusan belajar tentang sesuatu dan mau niatnya cuman mau share.

    Mereka ga munafik karena mereka ga BERPURA-PURA, mereka memang tahu cara bikin tutorial tersebut karena sudah mempraktekannya PLUS nerapin artikel tutorial ga sama dengan bisa HTML. Nerapin tutorial kebanyakan cuman kopi paste kode doank, ga butuh bisa HTML seluruhnya, cukup ngerti dikit-dikit.

    Jadi… tak perlu berdusta pada kenyataan untuk jadi blogger sukses. Post ini kelihatannya agak lebai karena mas cuman kebawa perasaan. 😀

    Terima kasih karena sudah mampir di blog saya mas Darin!

  29. Posted 28/06/2012 at 11:40 | Permalink

    pada intinya adalah jangan menganggap kita adalah blogger newbie karena takut di cap munafik, sok pintar, dsb. Pada akhirnya hal itu malah menjadikan penghalang bagi kita karena takut melangkah.
    Wow nice point mas bro, 😀

  30. Posted 07/08/2012 at 12:39 | Permalink

    Blogger munafik ya? apa aku salah satu blogger yang seperti itu hahaha 😀

    • Darin
      Posted 14/08/2012 at 13:38 | Permalink

      Semoga iya mas, hehehe 😀

  31. Posted 19/02/2013 at 09:19 | Permalink

    kalau menurut saya g harus jadi munafik. jadilah diri sendiri…
    tapi memang bloger mau g mau harus munafik juga..hahhhaha

  32. Posted 21/02/2015 at 17:35 | Permalink

    saya harus belajar munafik biar tetep semangat hehehe 😀

  33. Posted 21/02/2015 at 17:36 | Permalink

    suka banget sama tulisannya…jadilah bloger munafik hahaha

One Trackback

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
*