Jika Berilmu, Kenapa Harus Arogan?

Baru saja saya selesai memberikan training kilat pada seseorang, sebut saja namanya Jon, tentang pengambilan data ukur di lapangan. Ia adalah staf baru dari tim teman yang dijadwalkan berangkat survey esok hari. Berhubung termasuk orang yang kurang sabaran, awalnya saya enggan. Saya khawatir nanti hasilnya tidak maksimal dan buang-buang waktu. Disamping masalah waktu yang mepet, Jon belum pernah sama sekali pegang alat ukur, apalagi nembak rambu.

Namun Jon terlihat sangat antusias dan teman saya bilang Jon lah yang punya inisiatif untuk belajar alias bukan karena disuruh-suruh. Jadi, oke lah, saya pun luluh juga, dan sesi training pun digelar siang hingga sore hari dan lapangan depan mess dijadikan lahan eksperimen.

Belajar Pengukuran

Saya ajari Jon mulai dari nol. Cara menyetel, membaca benang hingga konsep dasar perpindahan alat. Untuk menyetel alat, sengaja saya runut pelan-pelan dan memintanya mengulang-ulang terus proses awal itu. Ya, masalah mendasar bagi juru ukur adalah menyetel alat, atau dalam istilah pengukuran dinamakan centering, dimana sumbu alat harus sejajar patok sekaligus harus tegak lurus dengan bumi. Hal yang sepertinya remeh tapi cukup membuat frustasi bagi surveyor yang belum mengetahui trik-triknya.

Jon pun sangat kooperatif. Ia terus-terusan mengulang tahapan demi tahapan, mencatat detil-detil apa yang harus dilakukan dan bertanya kenapa begini kenapa begitu. Saya kagum juga. Jarang sekali lho juru ukur yang menanyakan hal-hal mendasar seperti kenapa harus pas di patok, kenapa harus di set sudut nol ke utara dan sebagainya.

Saya pun dengan senang hati mengupas lagi teori-teori tentang azimuth, sistem poligon, dan yang terpenting: gambaran hasilnya. Jadi saya menyempatkan tuk mencetak hasil-hasil survey terdahulu, memperlihatkan pada Jon,  dan menjabarkan bagaimana tahapan pengukuran itu beserta imbasnya jika ada yang keliru.

Baca Juga:  Pentingnya Memahami Konteks Dari Hanya Sekedar Teks

Singkat cerita, jelang sesi orientasi berakhir, datanglah seseorang. Teman saya memperkenalkan orang itu, sebut saja namanya Pak Jahil. Beliau – katanya – bisa dibilang senior di kalangan konsultan supervisi, dan saya pun menyambut baik untuk berkenalan dan saling bertukar cerita. Nah, ndilalah tanpa tedeng aling-aling Pak Jahil ini nyeletuk kalau Jon nggak bakalan bisa ikut pengukuran besok. Beliau beranggapan nggak mungkin belajar pengukuran dalam waktu yang singkat. Lalu seperti dosen yang ahli, beliau membeberkan teori-teori, mengkritisi kesalahan-kesalahan teknis pengukuran dan semacamnya.

Lah.

Saya cuma bengong melihat roman muka Jon yang melongo entah harus komentar apa. Meski saya yakinkan Pak Jahil bahwa walau belum mahir betul, Jon sudah bisa jika hanya untuk mengambil data lapangan skala kecil, beliau tetap keukeuh pada pendiriannya. Rupanya apa yang sudah dipelajari Jon yang sesuai dengan standar pengambilan data ukur belum lah jadi rujukan ideal untuk hasilnya nanti. Lha, saya dan Jon saling pandang, lihat hasilnya aja belum?


Apa yang dialami Jon mungkin sama dengan yang saya alami saat awal-awal mempelajari pengukuran. Namun bedanya, saya beruntung tidak menemui orang seperti Pak Jahil. Jadi setelah ngobrol ngalor ngidul dan mengiyakan saja orasi beliau, malamnya saya nongkrong ngopi bareng Jon.

Saya cuma bilang: jangan dengerin Pak Jahil, dia memang ahli, tapi bukan berarti apa-apa yang kita lakukan salah. Semua butuh proses, dan apa yang kamu pelajari tentang langkah awal pengukuran itu sudah betul, tinggal bagaimana sikap kamu. Mau terus atau stop?

Jon cuma nyengir. Ya terus lah Mas.

Bagus. Kami pun bersulang kopi.


Dari pengalaman itu, saya jadi bertanya-tanya dan perlahan membentuk asumsi: kenapa orang yang berilmu cenderung arogan?

Saya pun sontak berefleksi pada diri sendiri: Apakah selama ini saya pernah bersikap arogan dengan ilmu yang saya tahu?

Di hari minggu yang mendung ini, jawaban-jawaban itu terasa menggantung.

Blogger yang sedang nge-freelance di ujung timur Indonesia. Suka nulis, baca buku, musik dan nggambar. Contact | Subscribe RSS Feed or Email

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer