Kagum Dengan Kuantum

Di masa lalu ada seorang guru bijak yang selalu menyelenggarakan kuliahnya di bawah sebuah pohon yang tinggi dan besar menjulang ke langit. Dan suatu hari ketika kelas sepi anak laki-laki dari guru itu bertanya pada ayahnya dari manakah langit, bumi dan seluruh isinya berasal?

Sang ayah kemudian memintanya mengambil satu buah yang sudah kering dan banyak terserak di bawah pohon, menyuruh untuk membelahnya dan melihat isinya. Ketika sang anak menemukan sebuah biji kering di dalamnya, sang ayah memintanya untuk terus membelahnya hingga akhirnya menemukan bahwa biji itu kosong, hampa, tidak berisi apa-apa. Sang ayah kemudian menjelaskan pada anaknya bahwa seperti pohon raksasa yang berusia ratusan tahun itu, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini bermula dari sesuatu yang tidak ada, kosong dan hampa.

Kepingan kisah dari buku Quantum Ikhlas di atas adalah sebuah penjelasan tentang konsep kuantum yang paling gamblang. Beda dengan konsep ‘apel jatuh’ ala Newton yang menelusuri fenomena benda-benda terlihat, konsep kuantum mengeksplorasi lebih jauh, yaitu menyelidiki bagaimana semisal benda-benda di semesta ini dipecah dan dibelah hingga ke bentuknya yang paling mikro. Apa yang kemudian terjadi?

teori kuantumEinstein, Bohr dan banyak ilmuwan fisika kuantum telah membuktikan bahwa ketika sebuah benda terus dibelah sampai ke tingkatan partikel terkecil, dan kemudian terus dibelah dengan particle accelerator (semacam alat pemecah partikel), yang ada tinggalah sebuah energi halus yang tak tampak, alias kehampaan. Partikel yang terkecil adalah kumpulan dari energi halus ini. Kemudian menyatu menjadi atom-atom. Atom berkumpul menjadi molekul, dan akhirnya whuf menjelma menjadi sebuah benda kasat mata.

Apa yang ditemukan oleh para ilmuwan itu, ditambah masih dangkalnya wawasan saya tentang konsep quantum ini, membawa saya ke kesadaran yang tak umum. Membayangkan laptop di depan saya ini bukanlah sebuah benda padat, melainkan kumpulan energi-energi halus di tingkat kuanta yang bergetar lambat, lama-lama membuat saya pusing. Melihat segala sesuatu jika dipasang di kacamata kuantum, yang saya dapat adalah sebuah momen aha yang aneh.

Betapa tidak, berarti seandainya saja semua benda terlihat di jagad ini dibelah dan dikuak hingga ke energi terhalusnya, semua niscaya akan menyatu. Seperti halnya udara yang kita hirup, semua adalah satu kesatuan, membentang tak peduli batas alam apalagi batas buatan manusia. Ya, di level kuantum semua hal adalah sebuah kesatuan, yang kemudian atas persepsi dan cara kerja fikiran kita, susunan energi-energi itu terlihat sebagai benda-benda yang kita lihat dan sentuh di sekeliling.

Saya yang menulis posting ini dan Anda yang membacanya adalah dari unsur yang sama. Kita berawal dari kehampaan, yang kemudian energi-energi halus itu bersinergi lalu menjadi sebuah bentuk seperti apa yang kita lihat di cermin.

So, who exactly are we?

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Perspektif and tagged , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Kagum Dengan Kuantum

  1. Cahya says:

    Biar saya membelah diri dulu, nanti mungkin akan bertemu jawabannya :).

  2. Ami says:

    ini jadi ingat pelajaran fisika, mikir banget gitu. itu pembahasan quantum di quantum ikhlas hanya introduksi alasan judulnya pake quantum. akhirnya diarahkan ke relaksasi dan membayangkan keinginan kita ditaruh di alam bawah sadar. akhirnya mirip Law of attraction dari buku The secret

    Beda quantum ikhlas dengan law of attraction, tentu saja ada unsur keikhlasan. ikhlas itu lillahi ta’ala tidak hanya sekedar rela saja. jadi semua dikembalikan pada Sang Pencipta, Allah azza wa jalla.

    Butuh waktu lama aku merenungkan hal itu, dan ngeblog adalah untuk mengeluarkan semua pemahamanku dan mendorongku untuk mengamalkan. gak lngsung jadi ternyata, masih babak belur dulu.

    ma kasih atas ceritanya yang informatif…

    • Darin says:

      Betul sekali Mi. Sama halnya dengan baru ‘ngeh’-nya saya kalau positive thinking itu keliru, harusnya positive feeling. Alam bawah sadar atau perasaan, menurut buku itu mengelola sekitar 88% prilaku kita. Dibanding porsi 12% yang dilakukan oleh fikiran/otak, tentu amat jauh.

      Dan ternyata keikhlasan itu sulit ya Mi. Saya masih harus belajar banyak :)

  3. kamaropini says:

    setau saya, dibawah atom (karena saya mahasiswa fisika murni) ada kuark, photon, phonon, dimana materi itu merupakan penemuan baru yang dapat di belah dari atom itu sendiri, kemajuan sains ditandai penemuan einstein yang dinamakan fisika modern pada tahun 1900an, sehingga pada era ini, fisika newton atau newtonian dianggap klasik. Dalam eksperimen pun hanya sebagai landasan dasar saja. Sedangkan ke depannya, teori-teori itu akan semakin diperkuat oleh penemuan2 modern terhadap materi2 yang lebih kecil diabndingkan atom. dan biasanya dinamakan fisika partikel, fisika atom ini, fisika material, fisika zat padat, dll… just sharing. hehe. sebenernya fisika asyik secara fisis, tapi masuk analitik atau perhitungan yang terkadang membuat ribet. hehe.

    • Darin says:

      Cabang-cabang fisika setelah usangnya era klasik memang makin berwarna. Kini apa yang dulu tak mungkin menjadi mungkin. Pembelahan partikel hingga ke wujud hampa konon adalah penemuan yg paling menggegerkan, sampai muncul ide adanya sebuah ‘benda’ yang namanya anti-materi. Pernah baca novel Angels and Demons-nya Dan Brown? Anti-Materi adalah energi terdashyat. Beberapa miligram saja bisa menghidupkan listrik satu kota besar.

      Ya, setelah atom banyak unsur-unsur lain hasil pembelahannya. Dan quark itu sepertinya yg terkecil sebelum akhirnya menjadi hampa setelah dibelah lagi. Hmm, saya angkat tangan deh kalau ikut nganalisis. Mending jadi penikmat saja hehe 😀

      • dHaNy says:

        Saya juga pernah membaca ttg quack ini, dan para ahli juga membahas ada energi tertentu yg ada disana.. Kekuatan Tuhan pasti juga berada disana..

  4. iskandaria says:

    Lama gak mampir ke sini, ternyata saya banyak kelewatan. Kirain saya mas Darin lagi hiatus.

    Mengenai tulisan di atas, saya setuju sekali. Semuanya hanyalah permainan energi. Pokoknya speechless-lah.

  5. kang ian dot com says:

    waduh tinggi bahasanya mas..
    apalah arti diri kita alaahhh 😀

  6. Pingback: Kuliah Teori Kuantum di Suatu Siang yang Lapar | Carpe Diem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *