Kalau Mau Kreatif, Yang Lain Cuekin Aja

Posted on

Seru juga membaca buku Ignore Everybody-nya Hugh MacLeod.

Iya sih, sub judulnya bertemakan ‘Yang Lain Cuekin Aja’ dan 39 Kunci Jadi Kreatif Lainnya, tapi jangan harap ada banyak kata-kata mutiara pembangkit motivasi yang mendayu, ataupun tips-tips melenakan tuk menjadi kreatif di buku ini, karena bisa dibilang justru yang tersaji di dalamnya adalah sindiran-sindiran penting bagi orang-orang yang maksain diri untuk kreatif.

review buku ignore everybody

Untuk yang pernah mendowload ebook How To Be Creative mungkin sudah tak asing lagi, karena isinya memang berupa terjemahan dari ebook yang tercatat telah terunduh lebih dari empat juta kali itu.

Dan bagi Anda yang sering menyambangi blognya di gapingvoid.com, tulisan di buku ini layaknya intisari dari ide-ide orisinal Hugh tentang kreatif yang memang di luar pakem, alias anti mainstream, sehingga tak ayal seorang Seth Godin pun tak ragu tuk memberikan endorsement:

Sebuah karya seni sekaligus inspirasi yang brilian, sebuah buku yang akan mengubah hidup Anda.

Kenapa bisa disebut anti-mainstream? Karena alih-alih mendikte A, B, C dan seterusnya, Hugh justru memaparkan ‘resiko-resiko’ yang harus ditanggung oleh orang-orang yang ingin mendapat penghasilan dari karya kreatifnya. Penjelasannya pun masuk akal, sebab mungkin dibantu oleh pengalaman pribadinya sendiri sebagai seorang karyawan biasa yang akhirnya bisa berpenghasilan besar dari keisengannya corat-coret di belakang kartu nama.

Sebelum saya uraikan lebih jauh, kiranya kalimat pertama di awal bab ini patut tuk direnungkan dulu:

Semakin otentik ide-ide Anda, semakin berkurang nasihat-nasihat baik yang dapat diberikan orang lain kepada Anda. Ketika saya pertama kali memulai format kartun di balik kartu nama, orang-orang mengira saya tidak waras. Mengapa saya tidak mencoba sesuatu yang ketika itu lebih mudah untuk dicerna pasar, seperti kartu-kartu ucapan yang menggemaskan atau entah apapun itu?

Well, menurutnya, dunia takkan pernah mudah tuk menerima sesuatu yang baru, yang unik dan nyeleneh, karena memang kodratnya sudah begitu. Dan Hugh dengan terang-terangan malah menantang pembacanya dengan:

Bila ide Anda memang sangat bagus sehingga dapat mengubah dinamika Anda sedemikian rupa sampai Anda tidak terlalu membutuhkan mereka lagi, atau – demi Tuhan – sehingga pasar tidak terlalu membutuhkan mereka lagi, mereka akan menentang ide Anda itu dalam setiap kesempatan yang dapat mereka peroleh.

Agak satir memang, tapi begitulah gaya Hugh. Ia banyak berceloteh tentang betapa tidak adilnya dunia bagi orang-orang yang ingin mengembangkan sisi kreatifnya. Lalu di satu titik, saat ia sering melampiaskan semua pada coretan-coretan di balik kartu nama tuk menghabiskan waktu senggangnya, dan ketika apa yang dilakukannya itu kini menjadi hal yang hebat, Hugh pun mulai menyadari sesuatu.

Sesuatu itu adalah: bahwa tak ada yang sia-sia jika orang melakukan satu hal yang hanya ia sendiri yang bisa menikmatinya.

Betapa terbebaskan rasanya sekali-sekali melakukan sesuatu yang tidak harus memiliki semacam sudut pandang komersial. Betapa sangat terbebaskan, karena sesekali dapat melakukan sesuatu yang tidak harus membuat orang lain terkesan.

Betul juga. Sangat enjoy rasanya kalau bisa berkarya dengan tanpa beban…

gambar sketsa pensil

Karena jika selalu memikirkan ‘apakah ini akan membuat orang terkesan?‘ atau ‘apakah ini bisa menghasilkan?‘, apa yang dilakukan tak lagi bernilai kreatif. Kreatif itu adalah sebuah kedaulatan penuh, dan apa atau bagaimana efek yang ditimbulkan oleh prosesnya bukanlah menjadi urusan dunia luar.

Sekali-sekali, sangatlah terbebaskan rasanya untuk merasakan kedaulatan penuh, merasakan kebebasan sepenuhnya, memiliki sesuatu yang tidak membutuhkan uang orang lain atau memerlukan persetujuan orang lain.

Hugh is right.

Seperti juga saya dan Anda sebagai blogger yang menuliskan ide-idenya secara daring, prinsip inipun bisa menjadi patokan. Tak jadi soal apakah tulisan Anda bakal terbenam di lautan internet, atau menurut statistik (masih gila dengan statistik?) tak ada satu pengunjung yang membacanya, Anda sudah terbebaskan. Yah, setidaknya cukup terbebaskan untuk saat itu.

Oke, segala hal tentang kreatif itu mungkin sudah pernah menjejali Anda sebelumnya, namun pertanyaan yang datang kemudian adalah: kenapa harus mengembangkan sisi kreatif?

Ya, kenapa? Kenapa tidak fokus saja di pekerjaan atau bisnis? Toh itu lebih kelihatan hasilnya. Untuk apa mengorbankan waktu yang terbatas hanya untuk bercengeng-cengeng ria dengan passion dan omong kosong tentang kreatif yang tak ada ujungnya itu?

Hugh menulis…

Sejumlah orang menyelaraskan diri dengan perubahan, sejumlah lainnya tidak. Bila Anda ingin aman dalam lima tahun ke depan, saya sarankan untuk mendengar baik-baik kelompok yang pertama dan menghindari kelompok yang terakhir.

Tentu saja. Masih ingat bisnis wartel yang kini tinggal kenangan, perusahaan-perusahaan bonafid yang terpuruk karena krisis, atau – contoh kecil saja – beberapa dari kita yang masih melakukan pekerjaan di level yang sama pada kurun waktu yang tak pendek?

Untuk mengarungi realita-realita baru ini, Anda harus kreatif, tak hanya dalam profesi Anda semata namun dalam setiap hal. Cara pandang Anda terhadap dunia harus menjadi lebih subur dan lebih orisinal. Dan hal ini berlaku tak hanya untuk seniman, penulis, ahli teknologi, direktur kreatif, dan CEO; hal ini berlaku untuk setiap orang. Para pembersih kantor, resepsionis, dan pengemudi bis juga. Permainan ini baru saja naik satu tingkat.

Oh, apakah dengan begitu kita harus secepatnya meninggalkan pekerjaan tetap dan serius terjun ke dunia kreatif? No. Sekali lagi, big no.

Pernah dengar Teori Seks dan Uang Segar?

Orang kreatif itu pada dasarnya memiliki dua jenis pekerjaan. Pekerjaan yang satu adalah jenis yang kreatif, seksi, dan yang lainnya adalah jenis pekerjaanΒ  yang dapat membayar semua tagihan. Kadang-kadang tugas yang dibebankan mencakup kedua bidang, namun tidak sering seperti itu. Dualitas yang kental ini akan selalu memainkan peran sentral dan tak pernah tertandingkan.

Saya langsung teringat pada sosok Tompi, dia tuh penyanyi yang berprofesi sebagai dokter, atau dokter yang berprofesi sebagai penyanyi? Teringat juga dengan musisi-musisi yang di satu album sangat komersil (uang segar), sedang di album berikutnya meng-explore habis idealismenya sehingga kurang laku di pasar (seks). Atau bisa juga Anda sendiri, yang membuat blog full monetize untuk income (uang segar) sekaligus berkutat di blog personal yang – mungkin – sepi dari traffic (seks).

Dualitas ini memang tak mudah dijalani. Bagi saya sendiri – seorang freelance engineer (uang segar) dan blogger amatiran (seks) – masalah alokasi waktu, kebingungan prioritas dan faktor eksternal kerap menjadi kambing hitam, yang akhirnya lambat laun memadamkan gairah tuk mengembangkan sisi kreatif.

Untuk itu, Hugh punya pandangan sendiri…

review buku ignore everybody

Dan terakhir, ini menyangkut hal yang selalu menjadi momok bagi setiap blogger: blogger’s block. Ide Hugh tentang masalah ini sangat menarik untuk dijadikan acuan:

Bila Anda sedang melihat selembar kertas kosong dan tidak ada inspirasi apapun yang timbul dalam benak Anda, maka pergilah dan lakukan sesuatu yang lain. Hambatan kreativitas, writer’s block itu hanyalah sebuah gejala perasaan yang menyatakan bahwa Anda tidak memiliki kata untuk diucapkan, yang dikombinasikan dengan ide agak aneh yang menyatakan bahwa seharusnya Anda merasakan kebutuhan untuk mengucapkan sesuatu.

So, get outside and get a life. Tak ada orang yang lebih memahami sisi kreatif Anda sebagus anda sendiri. Dan ketika dunia luar mulai mengganggu, selalu ingat saja petuah ini…

cara agar lebih kreatif

Ya, yang lain cuekin aja. Ready?

69 thoughts on “Kalau Mau Kreatif, Yang Lain Cuekin Aja

  1. Dari penjelasan Anda, kelihatannya buku Ignore Everybody-nya Hugh MacLeod menarik untuk di baca dan sarat dengan motivasi, saya jadi tertarik untuk membaca buku aslinya secara utuh. Dimana bisa saya dapatkan bukunya b? mohon bantuan
    terima kasih

  2. Orang kreatif banyak dicari, tapi memang tidak semudah membalik telapak tangan ya untuk menjadi kreatif. Tapi benar sih, kalau mau kreatif yang lain cuekin aja πŸ™‚

    1. Good point of view, Kim.
      Mungkin artikel ini adalah satu dari jutaan artikel lain yg berbusa2 membahas tentang kreativitas πŸ˜€
      Dan memang sih, intinya adalah aksi. Tanpa aksi, teori tentang kreativitas itu cuma penghangat bangku cadangan aja #opoiki hehe

  3. Saya masih jauh dari kata kreatif, hahaha….
    Untuk menjadi seorang yang kreatif emang gak mudah sih, tapi kalo nggak dicoba ya kita gak akan pernah tahu hasilnya sperti apa πŸ˜€
    Btw, ini tebel bukunya berapa halaman mas?
    Saya gak suka baca buku yang tebal2 soalnya, hahahha πŸ˜†

    1. Hadeh, cuma kurang dari 200 halaman bro.
      Buku tebel ga suka, sukanya dompet tebel ya bro? Wkkk

  4. Belum lagi kalau mengikuti passion ya mas, soalnya ikut kreatif dianggap aneh, ikut orang lain dianggap ikut2an, serba sulit hidup kalau tanggapan miring kita telan terus. Nikmati saja proses kreatif, hasilnya pasti menggembirakan.

  5. Kreatif boleh, tapi diusahakan tidak berhubungan dengan teknologi karena nanti yang kreatif bukan orangnya melainkan teknologinya. Ingat teknologilah yang sudah membuat rasa usaha manusia menjadi hilang. Kreatifnya yang benar benar murni kreatif aja. Terima kasih πŸ™‚

    1. Menurut saya penggunaan teknologi bukan berarti membuat manusia menjadi malas, tetapi malah lebih memotivasi untuk mengembangkan teknologi2 lain yang lebih baik. Walaupun nampaknya suatu teknologi terlihat sempurna, padahal dibaliknya kan masih banyak bug dan pembaruan yang harus terus dilakukan. Lah dari situlah kita dituntut kreatif untuk mengembangkannya.

      Terus juga yang nggak kalah penting, desain suatu teknologi juga perlu adanya kreativitas agar menjadi unik.

  6. Kreatif ga mudah, dan kayanya memang harus punya bakat kali mas.. Ada orang yang udah baca berbagai teori, trus lingkungan mendukung, kalo ga kreatif juga bakalan ga.. ada lagi orang ga didukung teori dan lingkungan sekitar, justru karya iseng yang mereka anggap main-main itu malah jadi top markotop, biarpun orang terdekat selalu mematahkan idenya..

  7. Sekarang tuh kebanyakan orang asal anti-mainstream tapi tidak paham yang mainstream itu dasarnya apa. Nah kreatif yang itu ga cuma kalau punya dasar dan solutif. Hehehe. Bahasanya kayak lagi seminar sih..

  8. Kreatif itu seperti permainan tarik tambang, perlu keberanian (rasa percaya diri) dan kekuatan untuk menariknya, namun dibalik itu anda akan menemukan apresiasi dan hal-hal baik lainnya, tentu itu adalah penunjang semangat bukan?

  9. Setuju, terkadang melakukan sesuatu yang sesuai dengan kreatifitas sendiri tanpa harus ada tekanan atau paksaan dari orang lain, justru akan menghasilkan sesuatu yang tidak dibayangkan oleh orang lain. Manusia memiliki daya kreatif yang tidak dimiliki makhluk lain di dunia.

  10. Terimakasih setelah membaca tulisanmu (belum sampai selesai) akhirnya aku langsung beli dan aku baca bukunya (sampai selesai).

    (serius)

  11. Ia mas kalau kita ingin kreatif harus tinggalkan semua penghalangnya. Yang terutama adalah membuang sifat malas dalam diri kita, karena itulah musuh terbesarnya.

  12. Kreatif memang hal yg unik. Bisa datang kapan saja, tp gak tau kapan mau ngelaksanainnya. Apa harus nunggu kalau sdh kepepet ya ?

  13. ya mas, kita butuh saran tetapi kalau terlalu banyak mendengarkan akhirnya jadi takut berkreasi,tepat jika ambil sikap cuek

  14. disatu sisi katanya sih kreatif itu biasanya ada pada orang yang sense nya alias otak kanan.

    disisi lain kalo kata Mario Teguh karena orang tsb dibuat “menemukan” kreatif oleh Tuhan.

    yang baru2 ini aplikasi Go – Jek adalah masalah sederhana yang jadi ide kreatif. tak mudah memang..tp bukan berarti tak bisa.. πŸ˜€

  15. Ok, aku nggak bahas tema diatas. Nah, beneran kan kubilang. Blogmu memang keren nih. Harus banyak belajar dari kamu. Btw, kulit di about ada juga penulis tamu disini ya? Gimana tuh maksudnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *