Hiatus di blog personal mungkin keadaan yang tak mengenakkan, tapi bagi sebagian besar blogger yang memiliki project tersendiri, hal itu bukanlah sesuatu yang patut tuk dijadikan keluhan. Adapun faktor penting yang mengapa blog personal tak lagi menjadi prioritas penuangan ide-ide dan gagasan adalah: apalagi kalau bukan masalah perut.
Tapi – hey – bukankah banyak di luar sana yang juga bisa menghasilkan dari blog personal? Yep, salah satunya melalui USP (Unique Selling Proposition) atau branding atau authority (istilah-istilah yang aneh!) yang sudah melekat pada blogger yang bersangkutan, sehingga saat narablognya menggunakan/membuat satu produk dan merekomendasikannya pada pembaca, produk itu bisa mengalirkan komisi, baik langsung maupun lewat jalur afiliasi.
Jon Morrow, Chris Guillebeau, dan Scott Dinsmore adalah salah satu diantaranya. Mereka telah menjadikan blog personal sebagai funnel, atau jalur untuk mengakselerasi bisnis produk/konseling yang kini dijadikan mainstream di blogosphere. Mereka telah merombak istilah personal menjadi profitable (menghasilkan) karena – setelah melewati beberapa tahap tertentu – memang telah memiliki kualitas untuk itu.
Dengan kata lain: blog personal = bisnis.
Nah, lalu bagaimana jika kita belum punya authority, sesuatu yang bisa dijadikan produk, atau masih menganggap update posting di blog personal itu hanya sekedar hobby, alias mood-mood-an? Ya, hiatus bisa jadi alasan yang tepat, sekaligus pembelaan diri yang paling akurat, betul?
Blog DarinHolic ini pun tak lepas dari itu. Selama periode Juli hingga menjelang akhir Oktober ini terhitung hanya segelintir posting yang muncul. Meski toh saya perlu juga bersyukur, karena berkat semangat posting tiap hari yang pernah saya pecut disini, ada beberapa tulisan yang terbilang bagus di mesin pencari, salah satunya bisa dilihat di kolom sidebar (Artikel Terpopuler Hari Ini).
Dan catatan yang direkam oleh Google Analytic pada periode itu pun mengatakan hal yang sama:

See? Sebagian besar pengunjung datang dari organic traffic, yaitu mengakses blog ini dengan kata kunci tertentu lewat mesin pencari (70,07%). Sedang urutan kedua berasal dari link rujukan (19,20%), yaitu lewat link komentar, guest blogging, RSS feed atau backlink dari artikel blog lain.
Untuk yang 10,13%, jujur sepertinya saya harus meminta maaf, karena mungkin telah mengecewakan Anda, yang setelah meluangkan waktu tuk mengetikkan langsung alamat blog ini di browser dan tak mendapati adanya update tulisan baru. Sorry.
Creative Monetazion
Well, back to the topic, seperti yang telah dicontohkan oleh figur-figur blogger di atas, ternyata blog personal pun bisa dimonetasi. Tentu tak asal monetasi semisal menabur iklan sebanyak mungkin dan kemudian menebar link berbau spam di blog-blog dan social media. Monetasi yang saya maksud disini adalah prinsip yang sama yang diterapkan oleh banyak wirausahawan (entrepreneur). Apa itu?
Benar sekali. Mereka pada awalnya sama sekali tak memperdulikan seberapa laba yang dihasilkan. Yang ada di fikiran mereka adalah bagaimana caranya agar produk/layanan ini bisa menjangkau sebanyak mungkin pelanggan dengan tingkat kepuasan yang semaksimal mungkin.
Jon Morrow pada awalnya dengan sukarela memberikan advice-advice bagi pembaca yang memiliki masalah pengaturan keuangan pribadi di blog personal. Dan itu dijadikan hobby oleh Jon disela-sela masa pemulihan kesehatan akibat kecelakaan fatal yang pernah menimpanya. Kini, setelah makin terkenal karena menjadi salah satu co-writer di salah satu blog populer (Copyblogger), Jon banyak dijadikan referensi oleh blogger-blogger kenamaan lewat Boost Blog Traffic-nya. Dan saya kira Chris dan Scott pun setali tiga uang.
Hiatus Disini, Meletus Disana
Thus, banyak juga yang berteori bahwa blog personal itu sudah selayaknya dijadikan blog conversational, alias blog untuk berinteraksi dengan blogger-blogger lain. Dengan harapan, lambat laun akan tercipta loyalitas dan pengakuan (otoritas) bahwa blogger yang bersangkutan memang memiliki kualitas pada sisi tertentu.
Ini yang kemudian menjadi masalah ketika tak ada (atau belum) ada yang dibuktikan – selain status-status, tweet, dan pamer screenshot di social media – banyak blogger kemudian memilih hiatus untuk sementara dan angin-anginan mengupdate blog personalnya. Waktu lebih banyak tercurah untuk berasyik masyuk dengan hal baru. Sharing? Nanti dulu, tunggu saatnya, coming soon, begitu istilahnya.
Jadi kalau dibilang tergusur- ya – itu ada benarnya. Setidaknya hal tersebut tercermin pada blog ini. Namun bukan berarti saya mendukung statemen bahwa blog personal itu tidak penting lho. That’s impossible.
Blog personal bagi saya adalah wadah tempat saya bisa menulis apapun yang saya sukai. My blog, my rules. Saya takkan terikat oleh aturan harus ini dan itu. Saya hanya terikat oleh aturan-aturan yang saya buat sendiri mengenai topik apa yang ditulis, advertorial mana yang di-publish atau review produk mana yang masuk kriteria tuk diulas.
Alhasil, tak masalah bagi saya jika sekedar hiatus di blog personal, asal masih bisa meletus di blog-blog yang memang didesain tuk dijadikan lahan pendulang dolar. Dan jika itu memang betul-betul menghasilkan, saya takkan segan-segan sharing pengalaman itu di blog personal.
Menurut Anda?
Apakah pantas jika blog personal tergusur hanya karena sibuk bermonetasi ria? Atau Anda punya pemikiran tersendiri tentang hal ini? Share, please.


Menjadikan blog sebagai media berbagi, komunikasi, dan bahan motivasi, itulah tujuan saya membuat blog. Mengenai masalah menjadikannya sebagai media mencari keuntungan, menurut saya itu tidak akan menjadi masalah selama kita masih bisa menjaga eksistensi dalam membuat tulisan bermanfaat. Ya mesti berimbang jugalah, bener ngga Mas?
Bener banget mas Dwi. Tambahannya keren sekali
sambil menyelam, minum air … ngeblog sebagai alternatif mencari rejeki online
wah, mantab sekali trafinya, sebagian besar organic traffic.
ada tips trik khusus ngga pak?
salam.
Thank’s, Nice Post !!!