Ketika Blogger Menjadi Sangat Emosional

Perasaan telah menyelesaikan sesuatu adalah pil tidur yang efektif. Orang yang berhenti merasa bahwa dia telah menyelesaikan tugasnya akan cepat melemah. Perusahaan yang merasa telah mencapai tujuannya akan mandek dan kehilangan vitalitasnya (Ingvar Kamprad)

Dari buku-buku yang saya baca, saya dapat menyimpulkan bahwa kesuksesan di berbagai bidang kehidupan sangat berkaitan dengan kecerdasan emosi yang dimiliki.

Emosi – katanya – berperan penting sebagai ‘energi efektif’ yang menghadirkan nilai-nilai etika, misalnya kepercayaan, integritas, empati, keuletan dan kredibilitas serta untuk modal sosial. Hal yang paling mencolok adalah, ketika kecerdasan emosional terlihat sebagai kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang saling menguntungkan (win win solution) berdasarkan sikap saling percaya.

Ya, namanya juga emosi, jadi tentu lebih mengedepankan hati ketimbang otak, bukan?

Dan dari bacaan-bacaan lain saya juga pernah mendapatkan tulisan yang saya fikir tadinya provokatif, yang isinya: jadilah pengusaha yang emosional. Bah, maksudnya, pengusaha yang keras kepala, gitu ya?

Tapi isi tulisannya ternyata bermakna lebih dalam:

Apakah ungkapan itu berlebihan? Sepertinya tidak. Seperti yang telah diketahui bersama, emosi bukan hanya mewakili rasa marah atau perasaan negatif lainnya semata, tetapi emosi juga mewakili perasaan positif seperti senang, semangat, bergairah dan lain sebagainya. Jadi, menjadi pengusaha emosional berarti kita selalu bersemangat, senang dan menyenangkan orang lain, senang akan tantangan dan cenderung memiliki sifat pemberani.

Hmm, oke, untuk lebih jelas mengenai emosi dan kecerdasan emosi, sepertinya kita harus ngubek-ngubek lagi deh buku yang sering dijadikan rujukan tuk permasalahan ini, yup, buku Emotional Intelligence-nya Daniel Goleman.

Goleman memberi paparan singkat yang lebih mudah dimengerti tentang kecerdasan emosional, yaitu ia menyatakan bahwa kecerdasan emosional merupakan jembatan antara apa yang kita ketahui dan apa yang kita lakukan. Sederhananya, semakin tinggi kecerdasan emosional yang dimiliki seseorang, maka orang tersebut akan semakin trampil melakukan apapun yang diketahuinya benar.

Statemen yang lebih menarik dicetuskan oleh Robert K. Cooper, yang mengatakan bahwa pada umumnya emosi lebih jujur daripada fikiran atau nalar. Menurutnya, emosi memiliki kedalaman dan kekuatan yang lebih, sehingga dapat disamakan dengan istilah latin, motus anima, yang artinya ‘jiwa yang menggerakkan kita’.

Emosi sangat bermanfaat dalam memicu kreativitas inovasi kita, mengaktifkan nilai-nilai etika dan mendorong atau mempercepat penalaran. Bahkan tak hanya itu, emosi juga akan memotivasi kita dan membuat kita lebih nyata dan lebih hidup.

Bagaimana dengan kegiatan blogging?

Pernah mendengar istilah ngeblog dengan hati? Ya, istilah itu muncul pertama kali dari buku karangan Ndoro Kakung yang sampai sekarang masih betah nginap di daftar wishlist saya. Tapi dari sekelumit tulisan di postingan yang berjudul Ngeblog Dengan Hati Itu Basbang, ada sentilan yang bisa dibilang lezat:

Saya kasih tahu ya, Mas. Zaman sekarang ini kita mesti jadi smart blogger. Blogger yang cerdas, pakai otak. Kalau pakai hati melulu, nunggu mood, ya lamaaaaa … Teknologi sudah menyediakan segalanya. Dan memudahkan hidup kita. Sampean ndak usah capek mikir. Tinggal ongkang-ongkang kaki, blog jalan sendiri.

Hehe, iya juga ya. Blogging kalau melulu dikaitkan dengan hati dan perasaan, tentu ujung-ujungnya berhadapan dengan yang namanya mood. Tapi mau tak mau, kata-kata itu sukses membuat saya berlama-lama berkaca pada diri sendiri: hmm, selama ini saya ngeblog lebih suka pakai hati atau otak ya? 😀

Dan bila ditilik lebih jauh lagi, sebenarnya tak hanya dalam proses menulis yang harus melibatkan hati agar postingan terasa hidup. Karena blogging itu bersifat interaktif, maka semua hal yang berada dalam cakupannya pun seharusnya melibatkan hati, seperti etika dalam berkomentar, sosialisasi antar blogger di jejaring sosial, hingga jalinan kerja sama yang saling menguntungkan semacam guest blogging.

Lalu, apa manfaat menjadi blogger yang emosional?

Menjadi emosional, seperti yang telah diuraikan di atas, bukan berarti main labrak tanpa tedeng aling-aling. Justru emosional di sini sangat bermanfaat bagi setiap blogger di beberapa hal berikut:

  • Konsistensi dan tetap bertahan dalam perjalanan blogging mencapai apa yang dicita-citakan, serta memicu pertahanan idealisme blogging yang diemban.
  • Berfungsi sebagai energizer yang menambah gairah/passion dalam blogging.
  • Memperkuat pesan dan informasi di setiap tulisan.
  • Mendahulukan kepentingan bersama daripada memuaskan hasrat pribadi, baik dalam penyajian tulisan maupun dalam jalinan pertemanan sesama blogger. Ini penting untuk menghindarkan terjadinya hal-hal yang tak diinginkan semisal cyber-bullying.
  • Lebih peka dengan situasi dan kondisi yang bermanfaat saat berinteraksi di dunia maya, sehingga kegiatan ber-internet menjadi nyaman dan aman untuk semua.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah faktor emosi dan emosional juga mempengaruhi di aktivitas blogging Anda? Share, please.

Share Button
This entry was posted in Blogger, Inspirasi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

32 Comments

  1. Posted 06/03/2012 at 09:37 | Permalink

    Malas, itu masuk kategori emosi bukan ya?

    Saya kok akhir-akhir ini merasa kegiatan ngeblog menurun drastis, tapi belum menemukan formula yang tepat buat ngembalinnya. *malah curcol*

    Tapi soal pasang plugin yang bisa ongkang-ongkang kaki jadi update sendiri, nggak pernah terbersit dalam pikiran. Meski ngos-ngosan, ya tetep nulis manual lah..

    • Dendy Darin
      Posted 06/03/2012 at 14:54 | Permalink

      Kalau menurut teori sih rasa malas itu masuk di kategori emosi negatif mbak. Penyebabnya adalah kurangnya motivasi *lah, malah menggurui 😀
      Tentang blog auto-generate, iya sama, ga pernah kefikiran (atau belum?) -_-‘

      • Leo Ari Wibowo
        Posted 06/03/2012 at 19:24 | Permalink

        Mas, ongkang-ongkang kaki kan tidak selalu berkonotasi dengan blog AGC. Guest blog juga bisa digunakan supaya blog tetap jalan tanpa si admin harus menulis artikel pengisi blognya sendiri.

        btw, email balasan saya masuk nggak ya?

        • Dendy Darin
          Posted 07/03/2012 at 13:17 | Permalink

          Yup, guest blogging adalah pilihan tepat.
          Hmm, ngga ada email dari mas Leo yg masuk nih…

  2. Posted 06/03/2012 at 10:01 | Permalink

    Saya biasanya santai saja 🙂 – emosi dan gairah pun rasanya ndak begitu, kecuali saat-saat tertentu. Paling enak itu ya adem ayem, sudah banyak berita di televisi yang penuh emosi, jadi cukuplah itu saja :D.

    • Dendy Darin
      Posted 06/03/2012 at 14:55 | Permalink

      Bener tuh Bli. Ketimbang ikut2an panas, bukannya puas yg ada, yg didapat malah tambah gosong kepanasan haha

  3. Posted 06/03/2012 at 10:37 | Permalink

    saya suka membaca blog yang ada moodnya, ada wakil emosinya di situ, kalau tulisan tulisan yang datar datar saja biasanya saya lebih menarik membaca di wiki atau media mainstream, hehe

    • Dendy Darin
      Posted 06/03/2012 at 14:56 | Permalink

      Ya mas Jarwadi, dan datar tidaknya sebuah tulisan jg dipengaruhi oleh perspektif dari pembacanya.

  4. iskandaria
    Posted 06/03/2012 at 12:40 | Permalink

    Antara mood dan ngeblog pakai hati itu berbeda menurut saya. Jadi, kalau ada yang menganggap keduanya punya keterkaitan, rasanya kok kurang pas 😉 Mood lebih menjurus pada kondisi mental, jiwa, dan pikiran (plus lingkungan) ketika hendak menulis. Itu tak selalu berhubungan dengan hati. Sedangkan kalau ngeblog pakai hati (dan emosional secara umum) sudah dijelaskan oleh mas Darin dengan sangat tepat.

    Saya sendiri mungkin secara tidak sadar melibatkan unsur emosional ketika ngeblog dan melakukan aktivitas di seputarnya.

    • Dendy Darin
      Posted 06/03/2012 at 14:59 | Permalink

      Pendapat itu jg tadi sempat melintas saat saya nulis ini mas Is. Kalau mood disamakan dengan memaksimalkan perasaan saat menulis kok agak janggal ya. Tepatnya mungkin mood itu istilah lain untuk ‘kondisi hati’.

  5. farizalfa
    Posted 06/03/2012 at 13:28 | Permalink

    Kalau dibilang faktor hati, kok saya mood nulis di catatan pribadi daripada blog ya?

    Kalau blog malah saya gunakan untuk mengeksplor ide dari otak daripada ide emosional. ^^

    • Dendy Darin
      Posted 06/03/2012 at 15:01 | Permalink

      Betul sekali. Menulis di media yg tak pernah dipublikasikan memang asik banget buat menyalurkan tulisan dari hati. Tapi ada juga kan yg nulis puisi cinta di blog biar semua orang tahu? Hehe 😀
      Ya, karena mungkin kita terlanjur kena jamu SEO, jadinya nulis lebih mengutamakan otak dulu deh ketimbang hati…

  6. Gaptek
    Posted 06/03/2012 at 14:07 | Permalink

    Menulis dengan Emosional bisa membuat tulisan dalem banget di hati pembaca 🙂

    Namun karena keseringan OL baru nulis, jadi sisi emosional diri saya kayaknya gak ada deh dalam setiap tulisan 🙂

    xixixi

    • Dendy Darin
      Posted 06/03/2012 at 15:01 | Permalink

      Idih, mas gaptek merendah nih, xixixi 😀

  7. Kaget
    Posted 06/03/2012 at 18:33 | Permalink

    Bener, sekarang banyak blogger baru bermunculan. tapi sayang, postingannya ko’ itu2 aja, ngga smart dan paling membosankan. Sah2 aja kalau mengikuti niche, tapi apakah topik harus diulang walaupun kalimat yang dibawa berbeda.
    Pernahkan melihat blog seperti ini mas Darin? Kalau saya nemu saya baca sih, tapi ngga di komen. Kayaknya kalau ikut komen sepintas seperti kerbau di cucuk hidungnya, ngga bisa bedain mana yang sudah basi 😀

    • Dendy Darin
      Posted 07/03/2012 at 07:52 | Permalink

      Ya, memang begitu adanya mas Anto.
      Kalau saya sih easy going saja, kalau saya menemukan artikel blog seperti itu berarti artikelnya bukan ditujukan buat saya, tapi mungkin pembaca lain yg membutuhkan. We can’t make everybody happy, betul?

  8. Dery
    Posted 06/03/2012 at 19:09 | Permalink

    Wah, sampai saat ini, saya masih terombang ambing, enaknya nulis apa d blogku.. kalaupun tutorial, tentunya selain susah d buat, juga kurang bermakna nih..

    • Dendy Darin
      Posted 07/03/2012 at 13:14 | Permalink

      Kenapa susah mas? Kan mas Dery dah menguasai bahannya. Masalah makna itu bisa dibumbui dengan ‘story telling’ atau pengalaman dari mas sendiri.

  9. grandchief
    Posted 06/03/2012 at 19:23 | Permalink

    Pastinya sedikit banyak pasti berpengaruh,tapi dengan membaca sekali tulisan ini saya masih belum bisa memahami maksudnya emosi yang seperti apa yang dimaksud.

    Ketika emosi bahagia dan sedang bergairah tulisan yang bersifat positif lebih mudah muncul mas daripada ketika dalam keadaan sebaliknya,masih sungkan untuk menuangkan sisi 2 negatif

    • Dendy Darin
      Posted 07/03/2012 at 13:16 | Permalink

      Emosi yang saya maksudkan di sini tu perasaan hati mas.
      Nah, berarti mas menyamaratakan emosi dengan mood dong 😀 Padahal emosi berdiri sendiri, dan bisa mematahkan mood.

  10. Posted 06/03/2012 at 22:23 | Permalink

    Saat ini aku cuma memanfaatkan emosi seadanya. Dalam artian ngeblog belum sepenuhnya dipengaruhi emosi (positip). emosi yang ada sekarang lebih ditujukan untuk meningkatkan gairah kerja offline.

    • Dendy Darin
      Posted 07/03/2012 at 15:30 | Permalink

      Berati emosi banget dong pak Aldy. Emosi tuk mencurahkan kepenatan pada blog he2 🙂

  11. Media Online
    Posted 07/03/2012 at 01:29 | Permalink

    malam mas
    seperti mas blg, “jalinan kerja sama yang saling menguntungkan semacam” maka saya ingin menjalin kerjasama dengan mengomentari blog mas 🙂

    salam kenal 🙂

    • Dendy Darin
      Posted 07/03/2012 at 13:18 | Permalink

      Trims dah mampir. Salam kenal juga 🙂

  12. Posted 07/03/2012 at 14:22 | Permalink

    blogger yg emosional? emosi (+) mgkn bisa dibilng mood dlm menulis , saya bisa sangat rajin bikin post/utak atik blog.
    emosi(-) mgkn blognya bisa diancurin sendiri hehe….

    • Dendy Darin
      Posted 07/03/2012 at 15:31 | Permalink

      Wah wah, benar-benar harus mengendalikan emosi tuh mas Jhezer he2 😀

  13. Lilih Prilian Ari Pr
    Posted 07/03/2012 at 14:57 | Permalink

    setuju deh sama kamu, Mas Darin. soalnya banyak orang yang sering kali menghubungkan emosi dengan perasan-perasaan negatif. sementara emosi bisa disalurkan, emosi marah bisa disalurkan, emosi #galau bisa disalurkan di#galau-galaukan, emosi senang bisa disalurkan, emosi semangat bisa disalurkan. betul kan?

    dihubungkan sama blog, aku jadi paham, semua emosi yang dimiliki manusia bisa disalurkan dalam bentuk tulisan sehingga bisa menjadi positif nilainya. karena emang ada orang yang #galau tapi beken gara-gara ke#galauannya.

    • Dendy Darin
      Posted 07/03/2012 at 15:33 | Permalink

      Iya mas Lilih. Contoh2 yg mas tulis bener juga. Banyak penulis yg jadi beken karena faktor emosional-nya total di tulisan2nya.
      Yup, emosi semangat sangat menular! I like it! 😀

  14. Posted 07/03/2012 at 14:58 | Permalink

    emosi karena ketakutan juga bisa jadi blog kayak saya mas… hehehe

    • Dendy Darin
      Posted 07/03/2012 at 15:35 | Permalink

      Bagus tuh, lanjutkan! 😀

  15. cs
    Posted 07/03/2012 at 20:52 | Permalink

    bener…bener….apalagi kalo kita nargetin diri hari ini posting hrs kelar wah bisa begadang…..

  16. Posted 08/03/2012 at 00:23 | Permalink

    Wah… ngeblog dipengaruhi emosi tapi kadang juga mengaduk emosi.
    Ahahaha~ pernah suatu kali ada yang sensi sama postku soale @_@

One Trackback

  • […] Personal Seputar Blogging dan Hobby Skip to content About MeContactArchivesGuest BloggerTOS « Ketika Blogger Menjadi Sangat Emosional Entertain dan Esensi: Bisakah Keduanya Ada di Artikel Blog? By Dendy Darin | Published: […]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
*