Kontemplasi Blogging Dari Inteligensi Embun Pagi

Posted on

Novel setebal total 705 halaman ini akhirnya dapat juga saya rampungkan. Lumayan sulit, mengingat selalu saja terjadi tarik menarik alokasi waktu antara mulai padatnya jadwal project dan kekuatan luar biasa untuk tak terus-menerus membaca dikarenakan plot alur ceritanya yang begitu memikat.

Saya mengikuti seri Supernova dari mulai Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, berlanjut Akar, lalu saya sayangnya melewatkan edisi Petir dan Pertikel, dan kemudian bertemu lagi dengan seri Gelombang. Edisi kisah Alfa – si peretas mimpi – di Gelombang inilah yang membuat saya begitu ngebet untuk mengetahui kelanjutannya yang konon akan menjadi pamungkas dan dari seluruh kisah para peretas di Inteligensi Embun Pagi.

Review Inteligensi Embun Pagi

Kalau berbicara tentang bagaimana Dee Lestari memainkan imajinasi pembacanya, itu sudah terbukti sah di seri-seri sebelumnya. Namun yang membuat saya terus merasa dilanda ketakjuban, di novel Inteligensi Embun Pagi ini, penulis sangat piawai dalam merunut kembali cerita tiap-tiap peretas dan menggabungkannya dalam satu kesatuan tanpa harus perlu membuka lagi seri-seri yang lalu. Kekhawatiran saya yang tak mengikuti kisah Petir dan Partikel tak lagi menjadi masalah. Seperti air bah. Sekali tenggelam di pusarannya, puff, saya pun terseret ke dalamnya.

Dan seakan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tentang how you could do that, alias bagaimana sih Anda bisa menulis begitu produktif, aktual sekaligus sanggup mencerahkan para pembacanya dari seri pertama Supernova hingga berlanjut di novel epik ini?

Well, di bagian akhir buku, tepatnya di bab Dari Penulis, Dee Lestari memberikan clue dan tips terselubung yang mungkin bisa jadi panduan saya dan Anda dalam proses menulis dan bisa juga diterapkan pada blogging, yaitu:

Buku Inteligensi Embun Pagi

  • Tentang mental

Menjadi penulis bukan hanya perkara bercerita, tapi juga meliputi penempaan mental. Kita diajak untuk mengenali diri kita lebih baik lagi, menghadapi monster dan malaikat internal, serta belajar bagaimana memanfaatkan keduanya untuk kemajuan kita.

  • Tentang perlunya riset

Mengetik di laptop hanyalah sebagian dari menulis itu sendiri. Mengkhayal, mengobservasi, membaca, dan meriset berlangsung nyaris tanpa henti dan merupakan bagian inheren dari proses saya berkarya.

  • Adanya ide saja tidak cukup

Menulis memang tidak pernah merupakan proses satu sisi. Menulis adalah kerja sama. Kita bekerja sama dengan ide yang telah memilih kita menjadi partnernya. Bahu-membahu, melalui kerja keras dan komitmen, inspirasi yang berwujud abstrak akhirnya menjadi konkret.

  • Antara sistematis dan spontanitas

Menulis memiliki dua sisi yang saling melengkapi dan nyaris mustahil melenyapkan salah satunya: perencanaan dan keluwesan, sistematis dan spontanitas, disiplin dan kebebasan. Demikianlah rangkaian wajah ganda proses menulis yang harus hadir untuk merampungkan sebuah karya.

Tips-tips di atas mudah-mudahan bisa saya terapkan dan dijadikan kontemplasi tersendiri untuk proses blogging yang saya lakukan ke depan, dan saya sangat berterima kasih untuk Dee yang telah membagikan sedikit bocorannya 🙂

Anda sudah membaca Inteligensi Embun Pagi juga? Share pendapatnya, please.

5 thoughts on “Kontemplasi Blogging Dari Inteligensi Embun Pagi

  1. Ada catatan kaki gak? Jadi inget supernova … Terima kasih sudah membagikan perenungan seputar ngeblog yang tidak alakadarnya kepada pembaca blog Darin Holic.

  2. Aku sudah baca bukunya. Bagus, tapi tidak istimewa. Bagus karena beberapa pertanyaanku terjawab di buku ini, tapi malah menimbulkan pertanyaan baru. Aku sudah pernah review bukunya di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *