Less is More, Less is a Power

Dari buku Your Journey To Be The #UltimateU-nya Rene Suhardono, saya baru menyadari adanya sebuah anomali. Anda tahu Shakespeare? Pujangga dari tanah Britania ini menelurkan karya-karya abadinya saat perbendaharaan kata bahasa Inggris hanya 1/10 dari kosakata yang ada sekarang.

Topik judul bab yang hampir sama dengan judul artikel ini (aslinya berjudul Less is more, Less is blessing) memang tak asing, namun Bung Rene berhasil – dengan celetukan-celetukan khasnya – membuka sisi-sisi humanis lain, seperti:

Dengan segala keterbatasan dan kekurangan, apakah kita sudah memberikan yang terbaik?

Tak perlu menjadi seorang Shakespeare, atau seperti yang telah dicontohkan oleh tokoh-tokoh lain seperti Bill Gates, Steve Jobs atau duo Google (Sergey Brin dan Larry Page), kondisi serba kekurangan tak jarang malah menjadi sebuah counter attack bagi kondisi dimana kegagalan menjadi sangat kecil artinya, dibanding kuatnya visualisasi mimpi.

Ya, bila kita dikondisikan dalam keadaan yang serba terbatas, apakah kita masih memberikan hal yang terbaik?

Saat di Oksibil kemarin saya sangat merasakan sekali apa arti dari kata ‘keterbatasan’. Akses transportasi, komunikasi dan kesehatan yang minim, serta kondisi alam pegunungan yang ganas menjadi santapan sehari-hari tim proyek pembangunan jalan di sana. Mengeluh sudah pasti, karena saya pun tak ketinggalan untuk itu. Tapi yang menarik, ada salah satu anggota tim yang terlihat selalu happy dan enjoy nyaris setiap hari. Apa pasal?

Kalau masalah adaptasi, saya yakin tiap orang punya kemampuan hampir merata, tapi bagi anggota tim ini – panggil saja Pakde – adaptasi saja tidak cukup. Ia tak hanya menerima dan menyesuaikan diri dengan keadaan. Pakde, dengan kreativitasnya mencari-cari peluang untuk terus melakukan sesuatu yang memiliki nilai tambah.

Karena ia sebelumnya pernah bekerja sebagai pengrajin, dari kayu-kayu yang berserakan jadilah alas meja dan helai-helai rotan pun ia sulap menjadi rak baju, Tiada hari setelah pulang dari lapangan tanpa membawa bahan mentah untuk dijadikan eksperimen kecil-kecilan.

Peluang dalam keterbatasan

Aksi Pakde menyulap bilah-bilah kayu menjadi rak baju

Eksperimennya mencipta benda-benda fungsional dari sesuatu yang tadinya diremehkan (meski berlimpah kayu dan rotan, sebagian besar penduduk Papua belum mengerti cara mengolahnya) menjadi tontonan dan mengundang decak kagum baik oleh tim maupun warga lokal. Dan sejak itulah mulai banyak warga yang belajar bagaimana cara membuat perabotan dari kayu dan rotan.

Less is more, less is a power

Pakde telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah sebuah masalah, karena yang terpenting adalah bagaimana caranya untuk tetap menumbuhkan kreativitas. Saya malah sempat menilai aksi Pakde itu sama tarafnya dengan apa yang dilakukan Bill Gates dan Steve Job. Ya, sama dalam hal prinsip.

Keterbatasan memang nyata, namun menilik sentilan Rene:

Less is bad for who think less is bad. Keterbatasan uang, waktu, pengalaman, kenalan, dan sumber daya lain sering kali jadi keluhan berkepanjangan. Lulusan perguruan tinggi mengeluh belum dapat pekerjaan karena pengalaman terbatas. Karyawan mengeluh tidak punya cukup waktu untuk keluarga karena tuntutan pekerjaan. Bos mengeluh produktivitas rendah karena anak buah tidak termotivasi…

Sebaliknya, keterbatasan adalah berkah. Karena dari titik itulah terkadang lahir pribadi-pribadi yang unggul.

Less is a good thing when we are masters of our minds. Sejarah sering kali menunjukkan keterbatasan sebagai titik awal terciptanya hal-hal hebat.

Ya seperti kisah Pakde dan Shakespeare tadi.

Menurut Anda?

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Inspirasi and tagged , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Less is More, Less is a Power

  1. arif says:

    kondisi “kepepet” juga salah satu bentuk kekurangan ya mas, terkadang kalau sidah dead-line maka dengan kata lain kekurangan waktu 😀
    selamat hari minggu…

  2. GaL says:

    Ngomong-ngomong soal less is more, Darin aku mau kasi inpo nih soal membantu masyarakat yg kekurangan. Rekomendasiin daerah yang kekurangan untuk mendpt hewan Qurban. Info baca di http://bit.ly/BeraniBerkurban

  3. banyak lahir orang2 besar dan terkenal namanya justru karena keterbatasan mereka ya Mas :)

  4. TonyKoes says:

    Memang kepepet (Keterbatasan) dapat menempa kita jadi kuat.. tapi banuak juga yang menjadi putus asa.. Masalahnya jika estimasi umur kita itu 60 Tahun, dan dari umur menginjak dewasa sampai 55 tahun kepepet terus berati cuma 5 tahun lagi kita gak mengalami kepepet :)
    Profil seorang Pak De adalah sosok yang kreatif dan dapat memberikan hal yang bermanfaat buat orang Papua, orang beginilah biasanya gak punya rasa capek juga alias selalu aktif “Less Talk Do More”, salut deh buat beliau. Semoga mas Darin juga lagi gak kepepet kehabisan ide posting saat mengankat tema ini 😀

  5. tomi says:

    asal talk less do more… pasti kita bisa sukses.. dan pastinya didukung dengan hal lainnya ya 😀

  6. Biasanya orang kepepet, kalo nekat malah berhasil, bayangin maling yang ketauan, loncat dinding yang tinggi berhasil, xixixixiii :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *