Manufacturing Hope, Yuk!

Hopeless.

Kira-kira itulah yang saya – dan mungkin juga Anda – rasakan ketika menonton tayangan media, berita di koran, linimasa jejaring sosial atau saat mendengar selentingan obrolan di keseharian.

Saya jadi mikir, kok ngga ada asik-asiknya berita tentang negeri ini ya? Ngga ada liputan bagaimana hebatnya perekonomian kita dibanding banyak negara Eropa yang nyaris bangkrut, ngga ada siaran yang menayangkan begitu supernya keanekaragaman hayati di kepulauan sepanjang Sabang – Merauke, dan minim sekali pemberitaan kesuksesan kita di bidang teknologi. Ini aneh.

Tapi ngga lagi terasa aneh jika kita memang sudah ngeh bagaimana bisnis media itu berjalan. Seperti yang secara cerdas ditulis oleh Irvina, media hanyalah sekedar alat yang isi tayangannya di-setting tuk kepentingan sang pemilik. Jadi – yah – lebih kurangnya plesetan kata Televisi menjadi Tell Lie Vision itu sudah pas banget.

Makanya saya lebih memilih sibuk dengan buku daripada mantengin berita. Buku bagi saya adalah pembuka wawasan yang afdolnya ribuan kali lipat ketimbang apa-apa yang disajikan media televisi.

Salah satu contoh ke-afdol-an buku dibanding media lainnya adalah ketika saya membaca Manufacturing Hope, Bisa!-nya Pak Dahlan Iskan.

Buku Manufacturing Hope Dahlan IskanSaya sangat bersyukur menyempatkan membaca buku ini. Isinya benar-benar luar biasa, karena banyak sekali fakta-fakta yang kalau saja kita semua tahu, niscaya kita akan lebih optimis dalam memandang realitas yang terjadi di negri ini.

Tapi sayangnya isi media sepertinya lebih seru dan gegap gempita dalam menyebar pesimisme.

Harga bawang diekspos menutupi kesuksesan BatanTek menghasilkan radioisotop tercanggih, kerusuhan saat demo digeber habis-habisan tuk mengubur gebrakan patriotik pabrik-pabrik gula, bahkan kasus-kasus ngga penting pun dipaksa manggung demi secuil rating, mengalahkan harapan negri kita yang bakal mampu mendominasi energi dunia di masa mendatang.

Lalu bagaimana dong? Saya lantas teringat oleh solusi cantik yang dicetus oleh Kellie Elmore:

If we change our thoughts from ‘it’s too late’ to, ‘there’s still hope’, we might see some change in the world.

Sudah telat kah, atau masih ada harapan?

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Opini and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Manufacturing Hope, Yuk!

  1. Budi Majid says:

    Media sudah tidak objektif lagi…
    kebanyakan menayangkan berita sesuai kepentingan si pemilik modal…

  2. kang Jum says:

    info menarik sebagai tambahan iolmu dan salam kenal mas .

  3. baim says:

    sekarang ini di indonesia media lebih banyak mementingkan kepentingn tertentu, dari pada memberikan kualitas informasi yang sangat di butuh kan pembca atau pendengarnya

  4. semoga masih ada harapan 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *