Menanggalkan Kulit Sang Idola

Masa kuliah dulu, selain doyan ngartun dan ngomik, saya juga terseret arus mainstream generasi saat itu, yaitu main musik alias ngeband. Band beraliran Top 40 dengan Smooth dan Corazon Espinado dari Santana sebagai lagu andalannya, sempat sukses melewati beberapa Festival Musik. Jadi tak heran, saking tenarnya, setiap nama Pinset Band disebut tuk giliran manggung, penonton sudah menebak-nebak: pasti bawain Santana deh!

Sulit memang untuk melepas ke-Santana-an dari soul band. Tiap personil sudah begitu menjiwai. Hampir di tiap ketukan lagu, semua dimirip-miripin nyaris seperti suara aslinya di kaset-kaset. Saya yang kebagian membetot bass pun hampir tiap hari melamuni petikan bassist lagu-lagu Santana via WalkMan. Pernah sih ada yang menyarankan tuk mencoba aliran baru agar yang denger tidak bosan. Tapi dasar jiwa artisnya kadung lengket *wuih*, kami meresponnya dengan ogah-ogahan.

Sampai akhirnya, perlahan ketenaran itu pudar, berganti grundengan pelan tapi mesra: ah basi lo

Setali tiga uang di dunia perbloggingan, dimana sejak kita membuat blog, pasti sudah eksis blog-blog paten. Pesona yang mereka tebarkan begitu sulit untuk tidak ditangkap, yang akhirnya kita pun secara sadar maupun tidak, menguntit apa saja yang bisa dikuntit, agar sebisa mungkin menjadi the next him/her.

Saya pernah juga mengalami era itu. Saat Raditya Dika booming, wah keren. Gaya tulisannya asyik, ceplas ceplos namun sukses membuat saya ngakak guling-guling. Yes, saya kepingin banget menulis model gitu, yang kebetulan saya memang merasa bisa. Wong cuma menulis tentang keseharian plus dibumbui hal-hal bombastis dan semua serba hiperbola itu gampang kok. Ide melimpah, tinggal comot dari sekeliling. Masalah kebombastisan mah, bisa lah numpang di aji-aji imajinasi.

Seposting dua posting, lama-lama kalimat ngenes itu berulang lagi: ah basi lo

If it’s boring to you, it’s boring to your readers too *gubrak*

Adakah pembaca yang senasib? Mungkin tak harus Si Kambing Jantan itu deh. Menjadi duplikat dari siapa pun blogger yang kita idolai, memang menyenangkan. Banyak hal-hal positif yang dipelajari. Tapi sampai kapan? Sampai tersadar bahwa mereka telah mereguk kesuksesan lebih, sedang kita rela ber-cheerleader ria tanpa hasil? No way.

Bermutasi menjadi sesuatu yang baru dari aslinya, dan meracik ramuan sendiri dari bumbu terbaik figur-figur sang idola, mungkin bisa jadi pilihan yang lebih bijak.

Yah, sebuah posting hasil dari alunan Smooth –  Santana di playlist Winamp yang semoga saja bermanfaat :) Keep blogging alive!

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Blogging and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

49 Responses to Menanggalkan Kulit Sang Idola

  1. inge says:

    ingin menjadi orang lain mungkin sempat terpikir, jika akhirnya meniru apa yang dilakukan… erm… sepertinya belum atau mungkin tanpa sadar ternyata sudah >.<

    yup, menjadi diri sendiri dengan menjadikan idola sebagai masukan atau motivasi tanpa harus merubah diri seperti yang diidolakan itu lebih baik ^^

  2. Joko Sutarto says:

    Ah basi lo… Saya jadi ikutan nyengir juga bacanya. Ha Ha Ha. 😛 Memang seringkali begitu, Mas Darin, bagi pemula awalnya suka meniru dulu. Setelah itu, setelah sudah eksis dan punya jiwa sendiri, ya karakter diri sendiri lah yang dikembangin, sudah bukan jamannya terus-terusan jadi peniru lagi.

    Dalam iklim seni dan juga tulis menulis itu sudah hal biasa saling mengispirasi. Karya si anu menginspirasi si anu. Tapi yang terpenting sekali lagi insipirasi hanya jadi titik balik saja untuk membuat karya yang sesuai jiwa (karakter) dan kemampuan kita sendiri.

    Kalau saya disuruh memilih dan ada pilihan pasti saya akan milih seperti tokoh James Bond. Udah pintar otaknya, pandai berkelahi, tak bisa mati-mati dan selalu dikelilingi dan bisa tidur dengan wanita-wanita cantik. Ha Ha Ha. :) Sayang sekali, saya tak jago tembak jadi tidak bisa menirunya. Lebih baik saya jadi diri sendiri aja. Jadi Joko yang penuh kekurangan dan punya kelebihan bisa nyetrom listrik ke orang lain. Ha Ha Ha 😀

    • andi sakab says:

      ternyata idola kita sama mas joko “james bond” wkwk

      masalah setruman listik kan ada alatnya, mas. biasa di bawa-bawa bule cewe untuk melindungi diri mereka :mrgreen:

    • Darin says:

      Jiahahahhaa *bisa nyetrom listrik ke orang lain* <-- haduh, ampun deh, saya sampe mules pak hihi 😀 Yah, setidaknya bisa nembak lah, meski dari persepsi yg berbeda *masih ngakak*

  3. andi sakab says:

    mari kita bermutasi jadi hulk #loh :mrgreen:

    mari menjadi diri sendiri dengan belajar dari seorang idola untuk membentuk dan menemukan jalan dan arah blogging kita :)

    • Darin says:

      Wih, mending mutasi jadi Spiderman aja Kang, bisa gelantungan di banyak blog, cepat, lincah dan bersahaja *halah* 😀
      Amiin, mari kita menuju jalan lurus yang dirihoi.. #eaaa haha 😀

    • Kim says:

      Setuju banget mas. Tos! #PLOK

  4. ArdianZzZ says:

    Namanya terinspirasi yang kebablasen. :)

  5. Kim says:

    Hmm..
    Aku malah lagi siap2 nerbitin buku segenre kaya si dika.
    Emang sih, kuakuin dia jadi inspiratorku untuk lebih semangat menulis. Berawal dari pengalaman pribadi yang gak terlampau hiperbola, aku pengen bisa menghibur orang lain. Membantu orang lain untuk tersenyum, terlebih terpingkal-pingkal. 😀

    • Darin says:

      Wah boleh juga tuh. Sepertinya blogger memang belum sreg kalau belum nulis buku *ngarep*
      Semoga sukses mas Kim! 😀

  6. Ami says:

    Idola… gimana kalo waktu mengubah idola kita. Mau nyebut nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu aku kutip di postinganku, masih gak pedhe. Orang lain masih banyak yang lebih fasih dan hafal banyak hadits.

    Tapi masih punya sisi seni yang pengen diekspresikan. Btw, dulu jadi basist ya. Dulu aku juga ngeband sebagai keybordis dan vokalis. Tapi masih kelas fakultas aja, amatiran…

    • Darin says:

      Wah, sesama mantan musisi *tos* dulu.
      Untuk idola dalam hal ahlak, ya tiada lain Rasul-lah padanannya. Nah, kalau menulis, adakah Ami punya idola dan inspirator? :)

      • Ami says:

        Inspirator ya anggota #bloggermalam, hehehe. Mau jadi orang lain gimana, wong isinya awalnya marah2 tp nahan diri. Terakhir mulai seneng ketemu banyak temen yang nyambung

  7. eser says:

    Waktu saya kembali terjun kedunia blogging (setelah sempat vakum beberapa tahun) memang ada keinginan untuk mengikuti gaya beberapa blogger. Namun lama-kelamaan saya sendiri yang bosan, dan saya sadar bahwa mungkin hal itu yang membuat saya berhenti sejenak dengan dunia blogging.
    Kini sekembalinya saya didunia blogging saya ingin kembali dengan jati diri saya sendiri, dengan gaya saya sendiri, walaupun blogger lain mengatakan tulisan saya jelek, nora, basi yang penting saya berusaha untuk tampil sebagaimana adanya, tanpa mencoba meniru penampilan blogger lain..
    Saya ingin penampilan saya sekembalinya kedunia blogging sebagaimana penampilan saya didunia nyata, narsis tapi beken :-)

    • Darin says:

      Sori bro, Aksimet lagi meleng :)
      Sip itu, narsis tapi beken hahhaa I like it! Ya, meniru yang baik2 dari idola dan meraciknya sesuai dgn kepribadian kita sendiri, itu lebih asyik :)

  8. eser says:

    Wah ketangkap satpam nih kayaknya :-(

  9. hha aku pengen jadi raditya dika hhe, kayaknya enak ya jadi orang terkenal bang :). Gmana ya caranya biar kita bisa kayak dia? hhe menjadi sukses dengan adanya blog hhe

    salam cahya nugraha

  10. mas darin sih cukup nulis saja sudah bisa membuat orang tak berhenti membaca sampai akhir artikel, aku tuh nggak tahu gimana supaya bisa punya ciri khas sendiri , habis malas membaca sih btw pernah jadi basis juga , saya malah parah pak pernah beraliran underground ya pake suara grindcore, hellwitch, hardcore hi hi pingin nepuk jidat rasanya kalau ingat waktu itu

    • Darin says:

      Wow, serius bang? Wuih, jadi membayangkan bagaimana bang Munir jejingkrakan di panggung nyanyi hardcore 😀

  11. agoest says:

    kalau meniru secara utuh mungkin tidak…
    tapi jika mencuri inspirasi mungkin iya…saya sering mencuri inspirasi artikel dari beberapa blog para senior..
    terkadang malah saya lawan sendiri inspirasi dari para senior…
    kalau idola mungkin tidak,tapi jika menjadikan sebagai acuan dan referensi mungkin ya…
    bingung tow mas?..aku sendiri juga binun..he..he..he…

    • Darin says:

      Menjadi acuan dan referensi, hmm itu sepertinya sudah umum ya. Saya juga pasti begitu, toh blogwalking juga dalam rangka menggali inspirasi.

      Ga usah bingung mas Wid, lanjut blogging! :)

  12. Pencerah says:

    memang repot kalau kita mengikuti gaya orang lain…..biarkan aja orang lain yang mengikuti gaya kita

  13. Wah..saya ketinggalan jauh neeh…udah penuh comment dr teman teman lain. memnag idealnya, para idola itu hanya kita jdikan inspirasi saja. tidak boleh dan jangan kita membolehkan diri kita jadi miskin ekspresi karena terlalu “menjiplak” sang idola. kita harus “menampakkan” sisi khas dan istimewa kita dibandingkan sang idola. dan jangan lupa untuk tidak pernah berhenti belajar dan mengembangkan kemampuan diri..

  14. icit says:

    kalo saya sih ingin bikin konten blog seperti punya mas darin ini. tapi yah gitu deeh, hasrat besar kemampuan kurang..
    maka jadilah blog saya isinya racauan sajaa..hahahaha #tertawamiris

  15. Setiap orang pasti punya karakternya masing2. Kalaupun kita terobsesi dengan orang lain bukan berarti kita harus meniru atau menjadi mereka. Jangan sampai kita justru kehilangan keaslian jati diri dan karakter yang sudah kita punya.

  16. maminx says:

    Wuih canggih tuh bawain lagu2 nya Santana, manteppp..pasti jago2 gitarisnya, apalagi darinholic sebagai pembetot bass, hehe.

    Memang c dika itu lucu jago dia nulis blog ceplas ceplos tapi bikin pembaca ngakak. Tapi ya itu klo ingin ngeblog mah mending ngalir aja ya bener. Cukup mereka yang udah senior jadi panutan aja tanpa kita harus ngikutin kayak mereka 😀

    • Darin says:

      Sip mas, mereka cuma inspirator dan kita bukan duplikator. Bener itu, mending yang ngalir2 saja lah hehe
      Ngebass saya biasa aja, kalah kalau dibanding Bondan Prakoso mah haha 😀

  17. arman says:

    kalo menurut gua, justru yang berusaha menduplikasi itu yang jatohnya jadi basi. karena pasti beda jatohnya apakah itu emang original atau cuma ikut2an.

    jadi mau berkarya dalam bidang apapun, lebih baik jadi diri sendiri aja. :)

  18. Sky says:

    Mmm…ok. I see.

    Thanks atas pencerahannya lagi. 😀

    Bs diaplikasikan jg utk di luar dunia blog.

  19. Sama. saya juga dulu sempat lepas dari gaya menyanyi rock mainstream ala Sebastian Bach, Axl Rose, John Waite dll, tapi kita sadar, perubahan jaman menuntut lain. Meski tdk lantas meninggalkan ciri khas kita, tapi kita patut merespon perubahan tsb.. salam kenal dari Ampah, Kalteng!

  20. kang ian dot com says:

    saya juga pernah mengidolakannya mas sampai dia kerjasama untuk pelm menculik miyabi hahaha saya ilfil 😀
    be your self itu asik juga kita bebas untuk mengekspresikan diri kita menurut versi kita sendiri tentunya ^^

  21. Leo Ari Wibowo says:

    Walaupun kendengarannya cliche, tapi Be Yourself is the best thing to do.

  22. Pingback: I Just Miss My Band | darinholic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *