Menelisik Buku Tafsir Al-Quran Di Medsos (Nadirsyah Hosen)

Dahulu, Anda harus berangkat ke majelis taklim untuk menyimak para ustaz atau kiai mengajar Al-Quran, tetapi kini para ulama yang mendatangi Anda lewat smartphone yang Anda miliki. Walaupun demikian, efek negatifnya pasti ada. Umat tak lagi bisa memfilter mana yang benaran ustaz dan mana ustaz yang ‘benar-benar, deh’..

Secuil kata pengantar di buku ini cukup membuat hati tergelitik. Ya, medsos kini telah menjadi media yang tak hanya menularkan informasi, tapi juga media dakwah oleh para ulama. Karena sifatnya yang instan dan masif, skala sebarannya tak bisa diremehkan, apalagi dampaknya.

Eh, buku apa ini?

Review Buku Tafsir Al-Quran di Medsos

Buku Tafsir Al-Quran di Medsos. Sebuah buku karya Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D, atau lebih akrab disapa dengan Gus Nadir.

Untuk siapa buku ini?

Kalau dicermati, tujuan penulis untuk menerbitkan buku ini yaitu untuk memberi pencerahan pada khalayak, khususnya bagi yang ingin mengetahui polemik penggunaan ayat suci yang sering ditafsirkan berbeda oleh kalangan ulama di medsos atau pun di media elektronik.

Pada kasus penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Ahok misalnya, penggunaan tafsir ayat sangat kentara. Banyak di antara ulama yang satu dan lainnya berbeda pandangan. Terpisah dari kontroversi isi pidato dan potongan video yang sengaja diarahkan pada konteks tertentu, pandangan Gus Nadir lebih berdasar pada sejarah dan hal yang melatarbelakangi turunnya ayat itu.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi ‘awliya’ kalian… (Al-Maidah: 51)

Semenjak kasus Ahok itu, sorotan tak pelak tertuju pada tafsir kata ‘awliya‘. Ada golongan yang tak pandang bulu, langsung menafsirkannya dengan kata pemimpin, yang memang sesuai dengan terjemahan Al-Quran versi Kemenag. Dan efeknya, entah karena sentimen agama atau keberpihakan pada kubu politik tertentu, isu itu makin liar dan menjadi, terutama lewat medsos.

Baca Juga:  Kalau Mau Kreatif, Yang Lain Cuekin Aja

Di buku ini, penulis mengajak kita untuk menelaah kembali kata ‘awliya’ pada ayat Al-Maidah tersebut. Dengan berdasar tafsir klasik ulama-ulama terdahulu, seperti at-Thabary dan Ibn Katsir, keduanya tidak semata menafsirkan ‘awliya’ dengan pemimpin, tapi cenderung ke sekutu atau aliansi.

Tak hanya itu, penulis juga membeberkan sejumlah data perbandingan yang mendukung argumennya. Berhubung beliau adalah salah satu ulama yang sering menerbitkan karya ilmiah berdasar ilmu tafsir klasik, sejumlah petikan dari kitab tafsir ulama-ulama pun diuraikan. Tafsir Al-Baidhawi, Fi Zhilalil Quran, Jalalain, Al-Khazin, dan banyak lagi.

Kenapa tafsir Al-Quran bisa berbeda-beda?

Ini juga yang sebenarnya jadi tanda tanya besar bagi saya, dan di buku ini, penulis secara gamblang mengurai alasan di balik pertanyaan tersebut.

Al-Quran menggunakan sejumlah kata, susunan kalimat dan sistematika yang dapat mengundang sejumlah perdebatan. Sebagian dikarenakan karena kata yang dipilih Allah ternyata mengandung makna lebih dari satu, sebagian lain karena penjelasan Allah bersifat isyarat atau mengandung kalimat samar yang membutuhkan kemampuan tertentu untuk memahaminya…

Kemudian kita diajak untuk berkenalan dengan metode tafsir. Ada dua metode yang biasa digunakan oleh para ulama klasik, yaitu:

  1. Tafsir bir Riwayah, yang menitikberatkan pemahaman kandungan Al-Quran pada riwayat hadis. Metode tafsir ini dikelompokkan lagi menurut caranya, yaitu: at-Tahlili (memulai tafsir sesuai urutan surat) dan Maudhu’i (tafsir tematis, menghimpun tafsir ayat menurut tema tertentu).
  2. Tafsir bir Ra’yi, menitikberatkan pada pemahaman akal (rakyu) dalam memahami kandungan nash. Metode ini dibagi dalam tiga model, yaitu: bil ‘Ilmi (fenomena alam), Falsafi (berdasar filsafat) dan Sastra (menekankan aspek sastra).

Nah, jadi paham kan kenapa tafsir bisa berbeda-beda, dan jika ada pertanyaan: mana metode tafsir yang terbaik yang bisa dijadikan rujukan? Penulis menjawabnya dengan mengutip kata-kata dari Syekh Abdullah Darraz:

Al-Quran itu bagaikan intan berlian, dipandang dari sudut manapun tetap memancarkan cahaya. Kalau saja Anda berikan kesempatan pada rekan Anda untuk melihat kandungan ayat Al-Quran, boleh jadi ia akan melihat lebih banyak dari yang Anda lihat…

Tak bisa dipungkiri lagi, apapun metode tafsir yang jadi sandaran, semuanya bertujuan untuk menyingkap cahaya Al-Quran. Tinggal bagaimana kitanya saja yang mau tidak untuk mempelajarinya, kan?

Baca Juga:  Mengenal Kuadran Artikel Blog - Dimanakah Posisi Artikel Blog Anda?

Buku Tafsir Al-Quran di Medsos Gus Nadir

Masalah penggunaan perumpamaan, dialog dan kisah dalam Al-Quran

Bagi kita yang sering membaca buku, baik fiksi maupun non fiksi, perumpamaan adalah seperti benang pancing yang menarik sel-sel otak imajinasi kita untuk mendeskripsikan sesuatu sesuai kata-kata yang tertulis. Dan deskripsi itu gambarannya tentu berbeda antar satu pembaca dengan yang lain, tergantung pemahaman dan faktor-faktor lainnya.

Dialog pun begitu. Penggunaannya akan langsung ditangkap pembaca lewat kaidah yang memang sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan dan jawaban lebih tersurat jelas dan membuat pembaca serta merta dapat menangkap pesan lewat alur dialog yang ditulis. Serupa juga dengan kisah.

Tapi Al-Quran bukanlah buku non fiksi, apalagi fiksi. Inilah yang menjadikan betapa banyak ulama yang berusaha menggali makna kandungan Al-Quran lewat metode-metode yang telah diterangkan di atas.

Buku ini lalu menjelaskan, bahwa tiga pendekatan tersebut (perumpamaan, dialog dan kisah) yang diturunkan oleh Allah SWT dapat menjadikan kita lebih terasa, lebih nyata dan sesuai fakta, karena akrab dengan keseharian.

Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. (Al-Hujurat: 11 – 12)

Dahsyat sekali, kan? Al-Quran tak perlu membeberkan kerusakan dan akibat negatif dari pergunjingan (gosip). Cukup dengan perumpamaan, dan kita sudah bisa mengerti isi pesan yang disampaikan.

Kumpulan pembicaraan antara Allah dengan malaikat; Allah dengan para nabi; malaikat dengan nabi dan orang-orang pilihan; para nabi dengan kaumnya; bahkan dialog Allah dengan iblis pun menegaskan, pendekatan dialog adalah salah satu cara Al-Quran mengajak kita untuk berpikir. Penulis lalu menyentilnya dengan:

Allah memilih menyelesaikan perbedaan pendapat lewat dialog dua arah karena kalau satu arah namanya monolog, dan ini persis dengan para dai kita yang seolah sering bicara sendiri tanpa ada relasi atau ikatan emosional dengan jemaahnya.

dakwah di media sosial

Sudah bijak kah kita ber-medsos?

Banyak cara yang dilakukan untuk berdakwah, dan lewat media sosial adalah salah satunya. Ada pula yang menyampaikannya lewat blog seperti yang dilakukan oleh mas Agus. Tapi tulisan ini jangan disamaratakan dengan dakwah lho, karena saya sendiri bukan ustaz, apalagi ulama.

Baca Juga:  Pelajaran Blogging Dari Buku Mimpi Sejuta Dolar - Dare to Dream Big!

Dari buku ini saya banyak belajar, bahwa apa yang dikatakan ustaz baik di televisi maupun medsos jangan semata langsung ditelan. Telisik dulu apa konteksnya, apa yang melatarbelakangi ceramahnya, atau cek silang dengan para ulama yang jadi panutan kita. Buku ini menyadarkan saya, tak semua ustaz itu murni dalam dakwahnya.

Pun di media sosial. Status Facebook, kicauan, atau broadcasting WhatsApp di grup keluarga dan alumni, banyak toh yang langsung mendadak ustaz atau sharing apapun sabda ustaz pujaannya?

Dan sepatutnya kita beruntung, karena ada ulama-ulama yang giat mengampanyekan semangat positif dan gencar bin sabar menghadapi warganet dalam aktivitas online-nya. Sebut saja penulis buku ini, Gus Nadir, yang aktif ngetwit di akun @na_dirs, atau juga Kang Maman. Dengan kehadiran mereka, isu-isu sensitif seperti SARA, hoax dan penggunaan ayat dalam politik dapat diredam. Mereka pun asyik dengan cara dakwahnya yang unik, yaitu dengan gaya netizen masa kini: up to date dan gaul.

Ya, siapa sih yang nggak eneg kalau ada netizen yang gampang kepancing hoax? Hare gene geto loh!

Think before you tweet and sharing!

Blogger yang sedang nge-freelance di ujung timur Indonesia. Suka nulis, baca buku, musik dan nggambar. Contact | Subscribe RSS Feed or Email

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer