Setelah mengalami beberapa kali turbulensi dan guncangan selama berputar-putar menjelang pendaratan, akhirnya pesawat bermesin propeler berbaling-baling ganda jenis Dash 7 buatan Kanada yang saya tumpangi ini mendarat jua dengan mulus di landasan terbang Oksibil, kota kecil di ceruk sebelah timur pegunungan Jaya Wijaya, Papua.
Dingin, dingin dan dingin, adalah kesan yang langsung hinggap saat saya turun dari kabin dan berjalan berjingkat-jingkat ke ruang scan barang bandara Oksibil yang berdinding kayu. Gerimis mulai turun dan kabut perlahan muncul layaknya efek dry-ice di panggung-panggung pertunjukan. Sejenak saya bingung, mengapa penumpang yang baru mendarat barang-barangnya harus melewati mesin scan lagi? Dikawal polisi pula? Usut punya usut ternyata itu untuk mencegah barang-barang tertentu memasuki Oksibil – yah – seperti miras, obat terlarang dan kawan-kawan seperjuangannya, begitulah.
Dan belum sempat habis pandangan mata ini mengagumi alam eksotis di sekitar bandara, rombongan kecil ini langsung melanjutkan perjalanan sejauh 10 kilometer menyusuri lereng pegunungan dan menembus hutan hujan dengan menggunakan dumptruck tuk menuju lokasi proyek di daerah Iwur. Yes, here we go, ekspedisi di tanah mutiara hitam di ketinggian 1700 hingga 2000 meter di atas permukaan laut pun dimulai.
Alkisah, saya ditugaskan untuk mengawasi proyek pembangunan jalan yang rencananya akan menghubungkan antara Oksibil dan Kawor di Kabupaten Pegunungan Bintang. Inti dari tugas itu adalah mengetes kadar air pada perkerasan jalan yang sudah jadi, atau dengan bahasa teknik diistilahkan dengan sandcone test. Sebuah tes yang sebenarnya mudah, namun bisa menjadi sebuah mimpi buruk jika sudah berhadapan dengan musuh yang teramat mustahil tuk dikalahkan, yaitu cuaca. So, apa mau dikata, sandcone test yang mensyaratkan kondisi tanah harus dalam keadaan yang benar-benar kering pun dijalankan dengan cara hit and run, alias mencuri-curi waktu saat cuaca agak cerah dan kemudian kocar-kacir kala hujan turun *hehe*

Sandcone Test ya gini ini
Hasilnya bisa ditebak, rencana awal waktu seminggu yang ditetapkan pun molor sampai sebulan lebih, membuat saya yang minim persiapan jadi betul-betul ill feel. Jangankan memikirkan bagaimana tuk melawan hawa dingin yang senantiasa menusuk tulang, persediaan baju, celana dan sebangsanya jauh dari kata ideal. Padahal untuk membeli sebungkus kacang saja mau tak mau harus kembali turun ke Oksibil, kembali menembus kabut, dan kembali merogoh kocek dalam-dalam. Maklum, ongkos ojek di sini seperti ongkos suntik dokter di Jawa. Gimana nggak, bensin satu liter aja dihargai 35 ribu!
Thus, selama di camp Iwur itulah saya mendapati banyak hal menarik. Antara lain tentang watak dan kebiasaan orang-orang pribumi, bagaimana pribadi-pribadi dari berbagai etnis di nusantara berbaur dalam satu proyek dan tentu saja isu-isu politis yang berkembang mengenai tanah yang konon disebut tanah surga ini. Ada beberapa nada miring – you know – tapi saya lebih suka untuk memperhatikan semuanya dari sisi kelucuan saja. Yah, itung-itung pelipur stres
Seperti misalnya cara bersalaman orang pribumi yang menjepit jari telunjuk orang yang disalami dengan dua jari lalu dihentakkan kuat-kuat hingga berbunyi ‘klik’. Banyaknya ‘klik’ menandakan tingkat keakraban. Makin banyak ‘klik’ berarti kedua orang yang bersalaman itu telah benar-benar akrab. Saya masih ingat waktu pertama kali diajak salaman oleh penduduk setempat, saya hanya di-klik satu kali. Namun setelah beberapa lama berinteraksi, terakhir saya berpamitan mendapat bingkisan tiga ‘klik’ *hehe* lumayan buat pemula
Lalu tentang semangat ke-bhinneka-an di camp. Selain penduduk pribumi, di sana saya juga berkesempatan tuk mengenal dan bekerjasama dengan orang Manado, Ambon, Jawa, Toraja, Makasar, Sunda, Flores, Buton dan Ternate. Dan saat semua tengah berkumpul, saya sontak berfikir, sungguh negeri ini bukan hanya kaya sumber daya alamnya, tapi juga kaya akan lelucon! *hihi* Banyak kosakata dan mop baru yang saya dengar, dan itu cukup lah buat mengisi daftar dongeng buat anak cucu kelak.
Yops, meski saat menulis posting ini saya sudah kembali berpanas-panas ria di Jayapura, namun saya akan selalu mengenang daerah Oksibil. Mengenang kala menggigil diterpa kabutnya yang sedingin es, juga hangatnya ubi bakar sewaktu dipanggang di bara api unggun, beratapkan langit dan ditemani lantunan Lost in Spaces-nya Lighthouse Family.

We'll never know the future...


Wahh salam dr oksibil mas, jgn kapok ya berkunjung :p emg dr bln juni lg mulai musim dingin disini. Setau sy di Iwur itu lbh hangat deh dr Oksibil tp mgkn kl di campnya lbh dingin. Btw, itu proyeknya PT. SP kah?
Hehe, nggak kapok sih. Cuma dinginnya itu yang bikin pusing
Btw, tinggal di Oksibil ya?
Yup, PT. SP, saya juga mengawasi AMI di daerah Seram.
Pingback: Misteri Six Degrees of Separation: Apakah Saya Terhubung Dengan Anda? | Darinholic dot Com
Pingback: Negosiasi Idealisme, Kenapa Tidak? | darinholic
Lg nyari artikel ttg oksibil, e nyasar kemari. good luck lah udah pernah k oksibil. yepmum..
Pingback: Kiat Tetap Berkreasi Dalam Keterbatasan | Darinholic dot Com