Mengikat Ide Dan Ngeblog Makin Asyik Dengan Bear

No matter what people tell you, words and ideas can change the world.

Ya, Anne Frank melakukannya. Pun Robert Kiyosaki dengan Rich Dad Poor Dad, JK Rowling bersama Harry Potter, Tan Malaka dengan konsep Madilog, Al-Ghazali peletak dasar argumen filsafat Islam, atau Tony Buzan dengan Mind Mapping, hingga sang anonim fenomenal sebangsa Riverbend yang mencekam dengan Baghdad Burning-nya. Mereka datang dengan tulisan yang berangkat dari ide tak lazim, atau yang belum terpikirkan sebelumnya.

Persis seperti petikan Robin Williams (alm) di atas tadi, memang tak diragukan lagi, sebuah tulisan dari ide yang brilian dapat mengguncang, bahkan merubah tatanan dunia.

Dan jika ada pertanyaan dari mana datangnya ide? Ternyata ide tulisan nggak jauh-jauh kok dari kita. Modalnya sudah ada tertanam dalam diri kita sejak lahir. Apa itu? Ya, panca indera.

Apa yang kita lihat? Apa yang kita dengar? Apa yang kita baui? Apa yang kita cecap? Apa yang kita rasakan? Apa yang kita pikirkan? Ditambah anggota tubuh yang lain seperti tangan, kaki, dan tak lupa akal sebagai anugerah dari Yang Kuasa untuk kita senantiasa berkembang, itulah modalnya.

Dalam buku Menulispedia, Bambang Trim mengungkap modalitas piranti pencari ide itu dengan singkatan VAKOG, yaitu Visual (penglihatan), Auditory (pendengaran), Kinaesthetic (gerak), Olfactory (penciuman), dan Gustatory (perasa/pencecap). Jadi, sejatinya manusia memang tak pernah akan kekurangan ide, hanya kesadaran dalam penggunaannya saja yang membedakan antara manusia yang ‘kehilangan’ ide dan yang menemukannya.

Ide adalah penemuan, bukan pencarian.

Jadi kalau ada yang bilang ‘mencari ide’, itu keliru mungkin ya? Yang pas itu ‘menemukan’, karena ide-ide pasti berseliweran terus di sekeliling kita, tinggal kita-nya saja yang mau sadar atau nggak untuk menangkap dan mengikatnya agar tak hilang.

Aplikasi Pencatat Ide

Bagi blogger atau penulis secara umum, urusan mendapatkan ide dan mencatat/merekamnya bisa dibilang penting, kalau tidak menjurus krusial. Apalagi bagi blogger yang berusaha untuk konsisten, melimpahnya ketersediaan ide tulisan menjadi tolok ukur yang tak dapat dipisahkan dari proses blogging.

Mencatat Ide Tulisan

Dan dalam mengikat ide, sudah banyak teknik toh yang dianjurkan, seperti mencatatnya secara fisik di buku, kartu ide atau ada juga yang langsung mengetik di komputer. Namun di zaman ponsel cerdas sekarang ini, mencatat ide bisa secepat tangan merogoh saku. Ya, ada ide terlintas langsung bisa mencatat di ponsel, lewat notes bawaan merk ponsel, aplikasi pihak ketiga, atau bisa juga lewat aplikasi jurnal untuk blogger yang sudah terbiasa mengisi buku harian/jurnal seperti halnya yang dilakukan Kimi.

Baca Juga:  Menjadikan Blogger Sebagai Makhluk Pembelajar

Memilih aplikasi pihak ketiga memang gampang-gampang susah. Selain faktor kecocokan, review-review pengguna dan jumlah bintang sering jadi bahan pertimbangan. Namun secara spesifik, sebuah aplikasi pencatat yang bagus setidaknya memenuhi empat kriteria penilaian berikut:

1. Fitur – Aplikasi pencatat handal dalam sinkronisasi (sync) dengan layanan cloud, mudah ekspor/impor ke format lain, dapat menyimpan catatan dalam jumlah besar tanpa lemot dan pilihan sharing ke aplikasi lain. Juga fitur pencarian (search) yang mudah.

2. Desain – Dua faktor desain terpenting sebuah aplikasi yang sering menjadi standar pemilihan oleh pengguna yaitu; satu, UI (user interface), yaitu dinilai dari penampilan dan feel kenyamanan pengguna; dan ke-dua, UX (user experience), yaitu pengalaman pengguna saat berinteraksi.

3. Kemudahan penggunaan – Aplikasi pencatat yang bagus nggak ribet. Sederhana dan ringkes dalam membuat, mencari atau pun mengorganisasi catatan sejak mulai awal aplikasi terbuka.

4. Harga – Banyak aplikasi yang gratis, ada pula yang menawarkan versi trial dalam jangka waktu tertentu dan tak sedikit yang sudah men-charge sedari awal untuk menikmati semua fiturnya. Namun perlu dipertimbangkan juga, kadangkala harga tak melulu mencerminkan kualitas. Ada toh udah bayar mahal mahal tapi aplikasinya nggak memuaskan?

Berkenalan Dengan Bear

Sejak 2016 saya menggunakan Evernote. Aplikasi pencatat yang lahir tahun 2007 ini memang cukup populer, banyak review positif dan mumpuni untuk dipakai di segala profesi, baik blogger, pengusaha, penulis, bahkan ibu rumah tangga. Evernote versi gratis bisa kita gunakan dengan batasan hanya bisa meng-upload data maksimal 60 mb per bulan. Itu sudah cukup besar, asal tidak banyak notes dengan image, jika dibanding versi premium yang lumayan mahal, sekitar 119 ribu per bulan.

Baca Juga:  5 Tips Blogging Yang (Ternyata) Keliru

Faktor harga dan fitur yang belibet di Evernote membuat saya mencari-cari aplikasi yang lain. Dan saat itu saya menemukan Werdsmith. Aplikasi ini sangat simpel. Hanya dua opsi, yaitu Ideas dan Project. Jadi ketika ada ide muncul langsung catat di menu Ideas, sedang Project didesain untuk struktur tulisan utuh, seperti artikel blog, novel, puisi maupun screenplay.

Tapi hanya sebentar saya menggunakan Werdsmith, karena ada kekurangan yang lumayan bikin pusing, yaitu saya sering kebingungan untuk mengelompokkan catatan ide dalam kategori tertentu dan tak adanya fitur pencarian (search). Jadi harus scroll dulu naik turun untuk menemukan notes yang dicari.

Aplikasi Pencatat Ide Tulisan

Pilihan selanjutnya adalah Bear, yang kebetulan menjadi App of the Day (kalau tidak salah sekitar dua minggu yang lalu) di App Store.

Tampilan Bear sangat simpel, begitu pun dengan instruksi pemakaiannya yang bisa diakses di folder welcome. Menu diakses dengan menekan ikon kiri atas dan berisi Notes (memuat semua note yang tersusun menurut waktu paling akhir diedit), Trash, folder-folder, dan akses Settings.

Aplikasi Mobile Ngeblog

Membuat notes baru sangat mudah, yaitu dengan menekan ikon di kanan bawah akan langsung berada di kolom editor. Format penulisan pun lengkap. Tak hanya ketikan, kita juga bisa mengisi notes dengan image, sketsa tangan, link web dan lain-lain.

Mencatat Ide PraktisYang unik, dan mungkin juga terobosan baru, Bear memakai sistem hashtag (#) untuk pembagian folder. Misal pada notes yang saya buat di atas, di akhir artikel saya buat #blogideas. Dan jika mau dimasukkan dalam sub folder, maka ditambah garis miring, contoh #blogideas/opini, yang berarti notes ini masuk ke dalam folder blogideas dengan sub-folder opini. Jika notes tidak diberi hashtag maka otomatis akan masuk ke folder Untagged.

Untuk meng-export notes, ada dua cara yang bisa dipilih, yaitu langsung menekan ikon kanan atas sebelah kiri, atau mengubah notes ke format pilihan dulu (txt, pdf, html, rtf, docx atau jpg) dari menu informasi (ikon kanan atas notes sebelah kanan). Menu informasi notes ini juga berisi data tanggal pembuatan dan terakhir mengedit, jumlah kata, serta estimasi waktu membaca.

Baca Juga:  Menghangatkan Momentum Ngeblog Agar Tetap Hot

Aplikasi Bear Untuk Blogging

Untuk fitur pencarian (search) pun tak butuh waktu lama untuk mencari artikel dengan kata tertentu.

Apakah Bear Gratis? Apa Kelebihan dan Kekurangannya?

Bear bisa diunduh secara gratis. Dan bila ingin merasakan versi Pro (berbayar), Bear menyediakan masa percobaan (trial) selama seminggu dan akan dikenakan harga 19.000 rupiah per bulan jika tidak ada pembatalan dalam masa trial .

Apa keuntungan versi Pro? Ada tiga, yaitu bisa sinkronisasi (sync) dengan perangkat lain, pilihan format export lebih banyak, dan pilihan theme yang lebih beragam (hingga 16 theme).

Kelebihan aplikasi Bear ya seperti yang sudah diuraikan di atas. Dan kalau boleh saya simpulkan, tiga kata untuk aplikasi pencatat ini: simpel, cepat, kuat. Ya, simpel dalam penggunaan, cepat dalam proses mencatat maupun export/import, dan kuat menampung banyak notes tanpa lag.

Kelemahannya; satu, Bear belum ada fitur scanner yang bisa mengubah image menjadi teks, tapi dari desas-desus yang berkembang, fitur ini tengah digodok oleh developer-nya. Dua, aplikasi ini belum mendukung web clipping secara full. Bear memang bisa menyalin halaman situs, namun itu masih berupa link, jadi mesti diklik dan menuju ke browser dulu untuk melihatnya (saya pun menyiasatinya dengan menggunakan Everclip extension for Safari, yang bisa meng-capture halaman situs, mengeditnya dan disimpan di folder Evernote).

Dan kelemahan ketiga – ini yang mungkin disayangkan – aplikasi Bear hanya ada di App Store, jadi untuk kamu yang berponsel Android sabar dulu ya, mungkin saja dalam waktu dekat muncul di Play Store, seperti halnya Instagram dan lain-lain.


Jadi, sudah sekitar dua minggu ini saya menggunakan Bear untuk mencatat ide, membuat draft, dan mengekspornya ke dashboard WordPress. Dan harus saya akui, Bear memang membuat aktivitas blogging jadi semakin asyik 🙂

Bagaimana dengan kamu?

Bagaimana cara kamu mengikat ide, dan aplikasi apa yang biasa kamu pakai? Share, please.

Blogger yang sedang nge-freelance di ujung timur Indonesia. Suka nulis, baca buku, musik dan nggambar. Contact | Subscribe RSS Feed or Email

4 comments On Mengikat Ide Dan Ngeblog Makin Asyik Dengan Bear

  • Evernote bagus dan lengkap, saya suka fitur voice dictation-nya yg bisa ngetik otomatis suara kiya Apakah bear juga punya fitur tsb?

    • Belum ada mas. Ya itu kekurangan tambahan yg blm saya tulis. Trims masukannya mas
      Penggunaannya memang tergantung kebutuhan sih, kalau saya belum pernah pakai suara ke text. Suara saya kering2 lapar mungkin ya hehe

  • Mantap ini, mas. Semacam “alat tempur” untuk blogger, dibanding evernote memang lebih murah bear untuk versi pro nya, sip.

    • Betul. Meski fiturnya nggak sekaya Evernote, Bear cocok buat yg suka simpel2. Catet ide, draft, export. Itu saja sih.
      Juga pengelompokkan folder dan search oke

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer