Mengintip Kepingan Surga di Ilaga

Spend all your time waiting, for that second chance, for a break that make it okay
There’s always some reason to feel not good enough, and it’s hard at the end of the day

Alunan suara Sarah McLachlan di lagu Angel mulai terdengar saat horizon akhirnya menembus lereng-lereng pegunungan Sudirman yang tengah diselimuti arak-arakan awan, memperlihatkan lembah-lembah subur dan rapatnya belantara Bumi Cendrawasih. Sementara suara gerungan pesawat jenis Cessna yang mengantarkan saya beserta tim makin melembut seiring sensasi turun dari ketinggian jelajah menuju salah satu ibukota kabupaten yang paling terpencil di negeri ini, Ilaga.

ilaga puncak papua

Dan memang tak mudah.

Perjalanan dari kota Timika yang memakan waktu kurang lebih 30 menit itu terasa panjang, mengingat begitu dekatnya pesawat bermanuver menyusuri deretan pegunungan dan tak jarang hati menjadi ciut ketika turbulensi demi turbulensi menerjang badan pesawat yang merupakan andalan transportasi penumpang dan barang satu-satunya baik ke dan dari kawasan pedalaman Papua ini.

Jam menunjukkan sekitar pukul 7 pagi waktu setempat ketika akhinya pesawat meluncur mulus di bandara Ilaga – salah satu bandara tersibuk di pegunungan tengah Papua – yang hanya memiliki landasan pacu sepanjang 600 meter. Ya, hanya sempat mengerem sebentar dan sang pilot bak driver ulung harus langsung ngepot menuju apron. Fiuh..

Bandara Ilaga Puncak Papua

Bila sobat sempat membaca artikel tentang kegiatan saya di Oksibil, nah, hawa dingin pegunungan di Ilaga ini – nyatanya – jauh lebih ekstrim. Suhu 18 derajat celcius adalah yang terpanas, sedang yang terdingin bisa mencapai di bawah 5 derajat!

Saya yang jauh-jauh hari sudah banyak searching artikel tentang kondisi alam disana saja masih terkaget-kaget saat turun dari kabin. Bukan dingin lagi, tapi duinginnnn 😀

Dan yang membuat saya lebih kaget lagi, bandara Ilaga ini dijaga oleh beberapa tentara bersenjata lengkap. Semula saya berfikir mungkin ada pejabat atau ‘orang penting’ dari pemerintah yang akan landing, tapi ternyata memang disetiap harinya bandara dijaga dengan pengamanan ketat..ckckck.

Ok, tak butuh beberapa lama, saya dan tim beranjak ke basecamp di daerah Ilame untuk selanjutnya berkordinasi dengan kontraktor setempat mengenai perkembangan proyek pembangunan jalan Ilaga – Sinak dan Ilaga – Beoga yang direncanakan masing-masing sepanjang 5 km.

Berikut sekelumit jepretan selama saya disana…

Pengawasan Jalan Ilaga Beoga

Pengukuran MC 0 Jalan

Jalan ke Puncak Cartenz

Tantangan pembangunan terutama di sektor transportasi di daerah pegunungan Papua memang berat, kalau tak mau dibilang sangat teramat berat. Selain akses menuju lokasi proyek yang belum tertembus lewat darat yang berimbas pada melambungnya biaya mobilisasi alat dan material, kondisi geografis, cuaca yang tak menentu dan minimnya ketersediaan sumber daya manusia handal juga memberikan andil yang sungguh signifikan.

Bayangkan, dalam kondisi normal di daerah lain, biasanya proyek pembangunan jalan – katakanlah sepanjang 5 km – dapat selesai dalam waktu 6 – 8 bulan, disini bisa molor hingga 2 – 3 tahun!

Faktor-faktor yang saya uraikan di atas (yang sebagian besar non teknis) mungkin bisa lah dimaklumi, namun ada satu faktor lagi yang menjadi momok di setiap proyek, yaitu faktor keamanan.

Survey Jalan Ilaga Sinak

Yah, mau dibilang apa lagi, daerah pegunungan tengah Papua memang terkenal sebagai zona merah. Kasus-kasus penembakan/pembakaran/perampokan – yang entah dilakukan berdasar konflik kepentingan ataukah murni kriminalitas – oleh sekelompok oknum bersenjata kerap terjadi di kawasan ini, yang tentunya menjadi PR tersendiri bagi pihak yang berwenang untuk sesegera mungkin dicari solusinya.

Namun di lain sisi, Ilaga adalah sebuah gambaran tentang keindahan…

Panorama Daerah Ilaga Puncak Papua

Panorama Kota Ilaga Puncak Papua

Gunung-gunung gagah yang puncaknya kadang berselimut salju hadir sepanjang mata memandang. Ya, kalau sobat pernah melihat foto-foto panorama pegunungan di Eropa, alam nan eksotis itu ada juga lho di Indonesia!

Jalan Grassberg Papua

Pemandangan Alam Puncak Papua

Alam Eksotis Puncak Papua

Berbicara tentang penduduk lokal, Ilaga dihuni oleh dua suku besar, yaitu suku Dani dan Damal. Syahdan, kedua suku ini sejak dulu (dan hingga kini?) – baik dengan alasan hak wilayah atau karena hal lain – sering terlibat konflik satu dengan yang lain. Kabar terakhir saat minggu-minggu pertama saya disana, perang suku antara Dani dan Damal tengah berkobar hebat di Timika. Beruntung, konfliknya mereda sebelum sempat merembet ke Ilaga.. *elus dada

Menurut cerita penduduk setempat, perang suku di tahun 2011 adalah yang paling parah. Dipicu oleh ketidakpuasan hasil Pilkada setempat, perang itu memakan waktu hingga 2 tahun dan menewaskan setidaknya 51 jiwa!

Setelah proses perdamaian yang ditandai dengan pemberian denda perang (1 milyar per kepala!) dan acara bakar batu bersama, sebuah tugu perdamaian pun dibuat di atas tanah tempat pembakaran mayat yang menjadi korban dalam perang tersebut.

Tugu itu terletak di perbatasan antara distrik Ilaga dan distrik Gome, dekat juga dengan basecamp tempat saya tinggal…

Monumen Perdamaian Ilaga Puncak Papua

Begitulah Ilaga.

Sebuah daerah dimana saya pertama kalinya menemukan panorama indah bak kepingan surga, pertama kalinya merasakan mandi satu minggu sekali, pertama kalinya berlarian menghindari hujan es, dan pertama kalinya gemetar tak tertahan saat mendengar letusan senjata.

Apapun itu, Ilaga akan terus terkenang di fikiran, di hati, dan di blog ini 🙂

Penduduk Lokal Puncak PapuaAdakah sobat yang pernah ke Ilaga atau daerah pegunungan Papua lainnya? Atau pernah menyaksikan panorama indah di daerah lain di Indonesia yang mirip dengan Ilaga di artikel ini? Share, please 🙂

7 comments On Mengintip Kepingan Surga di Ilaga

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer