Mengurai Missing Link Antara Motivator Dan Follower

Kalau Anda juga seorang penikmat buku-buku motivasi, fans berat-nya para motivator, atau menjadi follower salah satu dari mereka di social media, tentu tak asing lagi jika mendapati kalimat-kalimat atau quotes yang kadang menjadi pengingat bagi apa yang telah kita lakukan selama ini.

Paling gres adalah saat menyimak twit-twit atau kultwit yang sering disajikan oleh mereka di timeline. Ada yang memang mampu menggiring kita tuk menjelajahi lebih dalam makna dari satu persoalan, ada yang humble dan twit sesekali namun pesannya langsung menohok, ada pula yang saking seringnya nge-twit hingga seakan menjadikan pesan motivasinya hilang, ditelan tendensi pamer (show off).

Yang terakhir itu terus terang sering saya dapati – baik di Twitter, Facebook atau media sosial lain – yang ujung-ujungnya saya tak ragu untuk mengklik unfollow *hehe*. Logika manusiawinya, kalau orang terlalu banyak berbicara tentang dirinya sendiri, cepat atau lambat mereka akan ditinggalkan. Sebaliknya, jika mereka mampu mendengar masalah dan menerjemahkannya dengan satu solusi tanpa bersikap mengerdilkan otak atau perasaan orang lain, they are the winner.

Apa Anda pernah juga mengalami hal yang sama? Terlalu jengah dengan ocehan motivator yang akhirnya tak membawa Anda kemanapun kecuali stuck dengan apa yang ada saat ini?

Motivasi yang tak terdeteksi

Well, tanpa mengecilkan apa yang telah mereka lewati sebelum akhirnya menjadi apa yang sekarang mereka dapatkan ini, ya, bagaimanapun para motivator itu tentu telah melewati berbagai rintangan berat yang mungkin kita ngga akan mampu membayangkannya, mereka adalah pemenang bagi diri mereka sendiri.

That’s right. Mereka telah memenangi pertempuran melawan diri mereka sendiri. So, apa masalahnya? Kenapa sering terjadi miskomunikasi yang menyebabkan pesan motivasi tak tersampaikan dengan jelas?

Saya kira ada dua faktor, yaitu entah masalah itu terletak pada cara para motivator itu mengomunikasikan pesan motivasinya, atau yang kedua, yaitu masalah itu ada pada diri kita sendiri selaku follower yang terlalu sensi atau – yang lebih parah – iri dengan pencapaian mereka yang terlihat terlalu tinggi untuk digapai.

Ini menjadi hal yang sangat krusial, apalagi jika ada seorang follower yang dengan membabi-buta menjiplak habis jejak orang-orang sukses yang sering digembar-gemborkan oleh para motivator. Contoh, Bill Gates. Jika Anda pernah membaca biografinya, Bill Gates ini drop out kuliah untuk membuat sebuah perusahaan, and yes, he did it. Lalu apa dengan begitu lantas pendidikan langsung dicap sebagai penghalang kesuksesan?

Jawabnya bisa ya bisa juga tidak. Untuk kasus Bill Gates, berikut status salah satu teman virtual di Facebook yang menguraikannya dengan sangat bagus:

Missing Link Motivator dan Follower

Nah, persoalan menjadi jelas tatkala kita mengetahui background dari orang-orang sukses yang ingin kita ikuti jejaknya, kan? Jawabannya ‘ya’ karena Bill Gates melihat proses perkuliahan hanya akan memperlambat apa yang ia cita-citakan, karena ia memang memiliki kapasitas yang mumpuni, lebih dari apa yang disajikan di kampus. Cerita menjadi berbelok kalau saja ia melanjutkan kuliah hingga lulus, entah apa akan ada sistem operasi komputer sekelas Windows yang melegenda hingga kini.

Missing link yang terjadi antara motivator dan follower ini sebenarnya lumrah terjadi, mengingat kedua pihak memiliki standar sendiri-sendiri tentang arti kesuksesan. Jadi, saya kira sah-sah saja jika kita akhirnya tak perlu banyak mendengar semua yang diungkapkan oleh para motivator. Because they’re also a human. Kita hanya diwajibkan untuk lebih tahu tentang potensi yang kita miliki, dan menjadikannya kendaraan terbaik tuk mencapai kesuksesan kita masing-masing.

Dengan kata lain: motivasi perlu, tapi tak melulu dimotivasi.

Menurut Anda?

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Inspirasi and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Mengurai Missing Link Antara Motivator Dan Follower

  1. wah kalo sampe kita orang punya pemikiran seperti itu, bisa hancur dah masa depan kita.
    seperti Mark (pendiri facebook) dia juga di DO bukan karena dia bodoh tapi karena dia kreatif.
    namun sekali lagi, motivator adalah alat untuk memotivasi diri kita sendiri bukan untuk menirunya
    terimakasih bang, artikelnya bermanfaat dan berbobot mnurut saya :)

  2. die says:

    Aku kebetulan tidak pernah ikutan follow di socmed, tidak juga sering mendengarkan mereka.

  3. applausr says:

    sebenarnya motivator yang baik harus membicarakan diri sendiri, dengan contoh contoh dari diri sendiri. logikanya bagaimana dia bisa bicara wong ngerjain sendiri saja belum…

    Hanya saja motivator di Indonesia memang yang lebih banyak ngomong…
    saya pernah nulis di blog mengenai ini juga…

  4. setuju! Sebagian besar motivator kalo share motivasi yang buat kita inget itu keseringan (menurut saya).. jadinya ga tepat kitanya ..

    tapi kadang sebelum saya mikir ‘org ini kok pamer ya..’ alih-alih saya tancapkan dalam hati..

    “terkadang suatu hal yang (pada saatnya) tidak bagus dimata kita, disisi lain adalah sebuah surga dimata yang lainnya, sudah pasti, dan akan selalu begitu..”

    biar kesannya ga mentingin kita sendiri aja (yang waktu itu kita ga terlalu butuh motivasinya)

  5. LAINDO says:

    sering pusing kalau dengar omongan motivator hehehe

  6. kribo says:

    Motivator… inspirasi untuk kehidupan…

  7. rizalar says:

    Motivator terhebat adalah yang datang dari dalam diri sendiri.
    Karena kita yang mencipatakan realita kita sendiri…
    Salam Lemper!!

  8. Jefry says:

    Tidak semua kata2 motivasi pas dengan kita, harus bisa dipilah dan disaring mana yang sesuai dan dapat mendorong kita lebih baik dari sebelumnya
    terus semangat :)

  9. roqim ordym says:

    abanyak kan dari kita terlalu banyak mendengarkan teori motifasi tapi enggan untuk mempraktekannya secara nyata, lebih baik sedikit demi sedikit dan langsung di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari itu akan jauk-lebih baik

  10. Memang bisa dibilang bahwa motivator itu seorang pengatur hidup orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *