Menjadikan Blogger Sebagai Makhluk Pembelajar

Di dunia virtual ini, seringkali kita temukan hal-hal baru, segar, pun tak jarang mengikis habis perspektif yang lama dianut. Serbuan beratus kilobytes berita dan kabar teranyar online dalam hitungan detiknya terus menerpa layar monitor, meloncat-loncat dan liar tak kenal ampun meninggalkan siapa saja yang lalai menyerap informasinya. Blogger jua tak luput dari putaran di dimensi ini. Maka bila saja kita tak segera membangun kesadaran akan pentingnya arti pembelajaran, yeah, niscaya apa yang kita bicarakan sekarang ini tak lagi relevan. Usang.

Pembelajaran, menurut Andreas Harifa dalam bukunya yang berjudul Mengasah Paradigma Pembelajar (Gradien, 2003), dimaknai sebagai proses memanusiakan manusia. Dan dalam konteks perbloggeran, saya tarik saja menjadi: membloggerkan seorang blogger. Kenapa begitu? Mengapa blogger juga harus tetap sudi duduk di bangku pembelajaran? Well, untuk mudahnya, saya ambil contoh adanya upgrade berkala di blog berplatform WordPress. Meski semua berjalan otomatis, tetap saja ada ruang yang disisakan untuk dipelajari, baik itu yang bersifat what’s new hingga penyesuaian dalam menanam plugin-pluginnya. That’s it. Tanpa sadar, kita sudah dipaksa untuk belajar dan mengalami pembelajaran, bukan?

Dan yang menarik dari buku tadi, penulisnya menciptakan sebuah matrik dan spiral yang disebut dengan Matrik-Spiral Pembelajaran. Matriknya kira-kira berbentuk seperti ini…

Matrik PembelajaranKemudian digabung dengan Spiral Pembelajaran berupa…

Spiral PembelajaranDan bentuk finalnya…

Matrik-Spiral PembelajarNah, berdasar Matrik-Spiral Pembelajaran di atas, pada matra pertama, tahap pembelajaran dimulai pada kondisi tak sadar-tak mampu. Ini saya kira merupakan tahap alamiah yang dilalui oleh semua blogger, dimana pada awalnya buta akan adanya sebuah media bernama blog dan bahkan tak tahu blog itu apa. Beranjak dari sini, ada proses penyadaran, yaitu kita bergerak ke matra kedua: kondisi sadar-tak mampu. Disini tetiba saja terjadi pencerahan: wah ternyata ada mainan asyik nih, namanya blog! Di tahap ini kita sadar ada media bernama blog, namun belum memiliki kemampuan tuk menyelami lebih jauh, alias hanya sekedar tahu.

Sampai disini berlakulah proses yang cukup krusial yang dinamakan dengan proses pembelajaran , yaitu dari matra sadar-tak mampu ke matra sadar-mampu, karena di tahapan ini kita disyaratkan tuk melalui serangkaian tahapan pembelajaran. Begini, bila kita tahu bahwa kita tak bisa WordPress – atau platform blog lainnya – namun mandeg dan urung mempelajari, ya sudah, proses pembelajaran stop hanya sampai di situ. Lain halnya jika kita ada kemauan tuk mendisipinkan diri dan komitmen, tentu tak mustahil proses ini kan terlewati. Kita tak mampu, lanjut ke ingin mampu, berakhir jadi mampu. Sederhana.

Setelah berputar di matra sadar-mampu, kita bergerak ke proses pembiasaan. Pergerakan dari matra sadar-mampu ke tak sadar-mampu ini sangat menarik, karena secara tak langsung kita bisa disebut sebagai individu yang profesional. Seperti yang tertulis dalam buku ini:

Seseorang hanya dapat disebut sebagai profesional, jika ia mampu mengerjakan sesuatu dengan kualitas tinggi tanpa sadar bahwa untuk dapat bekerja dengan cara yang demikian diperlukan kemampuan yang luar biasa.

Blogger PembelajarKita naik sepeda mungkin sudah biasa. Tapi bagi anak kecil yang belum bisa naik sepeda, kita dipandang sebagai biker profesional. Seperti itu kira-kira analoginya. Atau, kita kadangkala salut dengan blogger yang telah mahir ngubek-ngubek template WordPress seperti halnya Satrya dan Rudy Azhar, yang mungkin bagi mereka itu persoalan biasa layaknya kita asyik bermain Tetris. That’s a habit, kemampuan yang sudah terbiasakan.

Ok, apa setelah itu proses pembelajaran terhenti? No. Spiral Pembelajaran terus berputar dan pasti akan menemukan lagi hal-hal terbaru yang belum mampu kita kuasai. Walhasil, proses pembelajaran pun dimulai lagi, lagi dan lagi.

Penyadaran, pembelajaran, pembiasaan. Siklus ini menjadi hal yang lumrah dilalui jika memang semua blogger mengaku sebagai mahkluk pembelajar, hingga istilah membloggerkan seorang blogger tak lagi asing di telinga zaman.

Nah, pertanyaan selanjutnya, maukah blogger menjadi seorang makhluk pembelajar? Share your opinion. 🙂

Share Button
This entry was posted in Blogger, Blogging, Opini and tagged , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

89 Comments

  1. Posted 18/01/2011 at 00:14 | Permalink

    Kalau saya , pasti jawabannya ; MAU.
    malahan saya sudah mulai menghentikan kebiasaan saya membaca koran pagi hari. lebih baik Blogwalking, lebih berguna dan bermanfaat ketimbang setiap pagi hari otak kita di “jejali” berita kriminal dan kejahatan sosial lainnya. Inilah yang saya sebut sebagai metode pembelajaran terbaru. Saya juga tidak kebayang,bagaimana kalau Blogging dijadikan salah satu mata pelajaran disekolah ya ? pasti bisa lebih berguna ketimbang para siswa menghabiskan waktu di facebook saja….

    • Posted 18/01/2011 at 00:20 | Permalink

      Saya malah sekarang anti nonton tivi bli. Bukan apa2, isinya sudah tak lagi mendukung proses penambahan pengetahuan. Ya, setuju, mending blogwalking atau mampir ke situs2 terpercaya.
      Blogging dimasukkan kurikulum sekolah? That’s a good idea! 😀

    • Kris
      Posted 18/01/2011 at 00:15 | Permalink

      Saya setuju sekali,maklum masih murid sma,hehe

    • Posted 18/01/2011 at 02:56 | Permalink

      cuma internet seperti pisau tajam kadang disalahgunakan nantinya. bukannya ngeblog malah facebookan terus jadi mungkin bagaimana cara penanggulangannya 😀

      ngeblog itu efektif untuk yang memang aktif dan mengerti manfaatnya. juga sudah memiliki pemikiran serius tentang pembelajaran itu sendiri.

    • Posted 18/01/2011 at 09:47 | Permalink

      Ayo sering2 blogwalking…spy tdk ada lg yg bc koran.

  2. Posted 18/01/2011 at 00:16 | Permalink

    Tumben tulisannya berat. Hawa-hawa penulis profesional mulai terasa nih. 🙂

    Kalau dibilang harus terus belajar itu pasti. Di atas langit masih ada langit. Hari ini kita bisa disebut pandai, bisa jadi besok sudah lain keadaannya. Manusia bersaing dengan percepatan kecanggihan teknologi. Hal ini memaksa manusia untuk terus meng-upgrade akselerasi kemampuan agar tetap terbaik dan lebih baik lagi.

    • Posted 18/01/2011 at 00:19 | Permalink

      Maklum mas, lagi kangen berat #eh 😀
      Yup, jangan sampai kita berpuas diri dengan keadaan sekarang. Dunia terus berputar. Apa yang kita kuasai sekarang mungkin tak lagi relevan. Jadi siklus pembelajaran di atas harus terus dijalani. Mau atau tak mau, betul?

  3. Posted 18/01/2011 at 00:20 | Permalink

    Kata belajar itu seharusnya tak mengenal kata berhenti, betul harus terus berputar kecuali hanya maut saja yang menghentikannya. Hem, kenapa ya Mas Darin orang semakin tambah umur, kok kecenderungannya semakin tambah menurun niat belajarnya? Fenomena ini tidak hanya terjadi pada saya tapi banyak kawan saya juga begitu, malas untuk belajar lagi.

    • Posted 18/01/2011 at 00:25 | Permalink

      Banyak faktor mungkin pak. Ada yang gengsi, puas diri, atau pun menganggap itu sudah kewajiban bagi yg muda2 saja. Padahal kalau saja mau belajar, ilmunya bisa ditularkan pada yang muda, dan terjadilah efek kumulatif. Ilmu itu bisa tersebar dengan lebih cepat ketimbang transfer one on one, betul? 🙂

    • Posted 18/01/2011 at 02:49 | Permalink

      kalo menurut saya tuntuan dalam belajar biasanya cenderung ke arah pembenahan pekerjaan dan rumah tangga. 😀

  4. Posted 18/01/2011 at 00:39 | Permalink

    Itu matriks bikin kepala ikutan muter-muter, tapi kalau dibuat versi SVG daripada sekadar kartun sepertinya menarik deh :).

    • Posted 18/01/2011 at 00:44 | Permalink

      ajarin saya dong suhu! 🙂

    • Posted 18/01/2011 at 03:00 | Permalink

      Saya juga mau ngomong gitu tadi. Cuma pekewuh sama, Mas Darin. 😀
      Jadi mending nyalahkan otak saya sendiri yang mungkin sudah ketuaan sehingga kurang bisa mencerna matriksnya. He He

      • Posted 18/01/2011 at 10:14 | Permalink

        hehehe, ah masa dah kenal lama masih pakewuh sih pak? santai saja lah 🙂

  5. andry sianipar
    Posted 18/01/2011 at 00:05 | Permalink

    pertamaxxxx kah ?

    • Posted 18/01/2011 at 00:06 | Permalink

      pemulung premium lewat…
      permisiiiii… 🙂

    • Posted 18/01/2011 at 00:09 | Permalink

      wuhuuuy, koneksine rek! 😀

    • andry sianipar
      Posted 18/01/2011 at 00:05 | Permalink

      Ambil posisi dulu…

      • andry sianipar
        Posted 18/01/2011 at 00:06 | Permalink

        Streching dulu,ah….

        • andry sianipar
          Posted 18/01/2011 at 00:06 | Permalink

          Abis ini baru comment serius…

          • andry sianipar
            Posted 18/01/2011 at 00:09 | Permalink

            Gambar yang kedua dan ketiga , kayak obat nyamuk bakar ya ?

    • Posted 18/01/2011 at 02:37 | Permalink

      waduh sibuk dilapak sendiri di sini malah ketinggalan ternyata 😀

  6. Kris
    Posted 18/01/2011 at 00:06 | Permalink

    Wah cepet bget sih bang andry?

    • Posted 18/01/2011 at 00:11 | Permalink

      Mouse nya yang original,soalnya….

      • Kris
        Posted 18/01/2011 at 00:14 | Permalink

        Koneksinya itu lho yang memukau

        • Posted 18/01/2011 at 00:16 | Permalink

          Jangan lupa juga, tingkat ke-keren-an mempengaruhi lho dalam perolehan pertamaxxx..

          • Posted 18/01/2011 at 00:22 | Permalink

            Ini yang tak bisa dibantah! hahahaha 😀

          • Kris
            Posted 18/01/2011 at 00:19 | Permalink

            Ah masak sih,baru tau saya,*permak wajah ah*

          • Posted 18/01/2011 at 02:38 | Permalink

            saingan kang darin nih. kayaknya ini berdua harus di aduin deh 😀

    • Kris
      Posted 18/01/2011 at 00:13 | Permalink

      Yah,memang kita semua harus terus dan terus belajar,walaupun sudah menjadi master sekalipun,
      dan tdk hanya lewat buku dan bangku sekolahan kita belajar,tapi setiap sudut kehidupan ini bisa kita jadikan sebagai sarana pembelajaran kita,benar begitu bang darin?hehe

      • Posted 18/01/2011 at 00:21 | Permalink

        Setuju Kris, sekolah kehidupan ini , kurikulumnya lebih lengkap dan bisa langsung praktek…

        • Kris
          Posted 18/01/2011 at 00:24 | Permalink

          Yah,biarlah fb ato jejaring sosial yg lain kalo mau tutup,yg pntg blogger harus ttap jaya

          • Posted 18/01/2011 at 02:47 | Permalink

            hidup narablog 😀

            mari kita jadi sama-sama para pembelajar 🙂

      • Posted 18/01/2011 at 00:22 | Permalink

        Sip mas. Pembelajaran pun bukan hanya bersifat formal. Belajar di kehidupan malah lebih banyak lagi peluangnya. Tinggal kitanya saja, mau ngga mengambil hikmah dari situ 🙂

  7. Kris
    Posted 18/01/2011 at 00:26 | Permalink

    Itulah salah satu kegunaan manusia diberi akal dan pikiran,supaya bisa mencari hikmah dari setiap kejadian di dunia ini,hehe

  8. Posted 18/01/2011 at 00:32 | Permalink

    Setiap blogger selayaknya menjadi pembelajar Mas, jadi mulai saat ini jangan memakai istilah “newbie” lagi. Saya jadi teringat tulisan Mas Rismaka tentang Saya hanyalah seorang newbie pembelajar

    • Posted 18/01/2011 at 00:39 | Permalink

      Itu intinya bang. Istilah newbie, ya kita ini semua newbie. Kalau sudah menganggap diri sendiri master, ya sudah, proses pembelajaran berhenti.
      Rujukan link-nya sip bang 🙂

      • Posted 18/01/2011 at 00:54 | Permalink

        Ya, tapi sayang blog tersebut sudah tidak pernah di update lagi..

        BTW. notifikasi komentarnya kok sampai 2 kali ke email saya ya?

        • Posted 18/01/2011 at 10:36 | Permalink

          yang pertama, ucapan terima kasih karena telah berkomentar.
          yang kedua, notifikasi karena ada reply untuk komentarnya. Begitu bang Rud 🙂

      • Hendro
        Posted 18/01/2011 at 01:11 | Permalink

        +10 buat mas darin
        Kalu saya tetap mengaanggap diri saya newbie.

        • Posted 18/01/2011 at 22:27 | Permalink

          skalau begitu pak hendro he he kalau saya bukan newbie , beginbie dibawahnya lagi he he

  9. Hendro
    Posted 18/01/2011 at 01:14 | Permalink

    Banyak manfaat yang saya dapat dari blogging, tapi itu masih kurang bagi saya.
    Saya ingin merasakan manfaat lainnya jika saya berhenti blogging.
    Mungkinkah?

    • Posted 18/01/2011 at 10:38 | Permalink

      Berhenti blogging? Sepertinya masih bisa bang. Tapi ada baiknya pengetahuan itu ‘direkam’ di blog atau media buku sehingga keberadaannya bisa awet. Bukankah blog juga sama halnya dgn alat perekam, betul? 🙂

  10. Irfan Mustofa
    Posted 18/01/2011 at 02:16 | Permalink

    “tuntutlah ilmu sampai ke negeri china”. Cocok gak ya? 🙂

    • Posted 18/01/2011 at 10:17 | Permalink

      kalau sempat, mampir ke Siberia ya van, nitip fosil gajah Mammoth hehe 😀

      • Puguhkris
        Posted 18/01/2011 at 12:30 | Permalink

        emang ada mamoth ya di siberia mas?hehe

    • Puguhkris
      Posted 18/01/2011 at 12:33 | Permalink

      kalo ke cina,saya ikut ya van,biar bsa belajar ngitung uang,hehe

  11. Posted 18/01/2011 at 02:43 | Permalink

    pengenalan terhadap penggabungan Matrik-Spiral Pembelajaran dan Spiral Pembelajaran bagus juga nih.

    Nah, pertanyaan selanjutnya, maukah blogger menjadi seorang makhluk pembelajar?

    hmmm… kayaknya tanpa itu kita malah bakal tertindas oleh perubahan baru yang boleh di bilang cepat dan dinamis, kang. jadi itu adalah kewajiban malah.

    • Posted 18/01/2011 at 10:18 | Permalink

      dan harus diupgrade tingkatannya menjadi fardhu kifayah sigana kang *tos* 🙂

      • Puguhkris
        Posted 18/01/2011 at 12:37 | Permalink

        ikutan tos ya bang,hehe
        kita juga harus pandai melihat kondisi sekitar yang dinamis ini mas,kalo nggak mau tertindas perubahan zaman,

  12. UntungNyata!com|Budhi K. Wardhana
    Posted 18/01/2011 at 01:44 | Permalink

    Sebagai tataran konsep, tulisan Anda memang luar biasa. Tapi bagaimana membumikannya, itu yang lebih penting, Mas.

    • Posted 18/01/2011 at 02:52 | Permalink

      saya setuju terkadang saya juga berpikir bagaimana mengaplikasikannya dan merealisasikan semua konsep yang kita pelajari ke keseharian kita. nah gimana tuh, kang darin?

    • Posted 18/01/2011 at 10:16 | Permalink

      Memang, saya juga menyadari itu mas Bud. Konsep hanyalah sebatas konsep, dan bukan sesuatu yang bisa dibuktikan kebenarannya jika tak ada proses pengaplikasian. Setuju, ‘membumikan’, wah saya suka sekali istilah itu 🙂

  13. Posted 18/01/2011 at 02:58 | Permalink

    Anak kecil itu gak usah disuruh belajar, mereka mengeksplore lingkungan, otaknya menyerap kayak sponge bob.

    Setelah remaja, belajar kayak dipaksa nurutin ortu. Les ini les itu. Makanya jadi pemberontak, cari kehidupan yang nyaman buat mereka sendiri. Ortu hanya bisa ngawasin dan berdoa, terlalu protektif mereka bisa ngakalin kabur.

    Di rumahku selain playgrup ada sekolah buat 55 tahun ke atas. Materi tentang agama, teknologi, kesehatan, kesenian.

    Agar bisa menulis mesti belajar, semuanya, dunia maya dan nyata, menurutku itu…

    • Posted 18/01/2011 at 10:20 | Permalink

      Sip, tambahan yang bagus Mi. Betul, tak semata belajar di dunia online. Dunia offline menawarkan peluang untuk belajar lebih besar, bahkan sepertinya mutlak diperlukan jika kita ingin terus berkembang.

  14. pink
    Posted 18/01/2011 at 09:54 | Permalink

    Kalau saya pribadi sih suka banget belajar. Soalnya saya punya sifat ingin tahu yang besar. Jadi itu membuat saya jadi hobi mempelajari hal-hal baru terutama di bidang blogging.

  15. Posted 18/01/2011 at 14:38 | Permalink

    wah, ini kan pelajaran Teori Komunikasi saya di kampus mas!
    kalo gambar pertama, itu sebenernya dari Jouhari Window, gambar kedua kalo gak salah ngambil teori spiral keheningan, gambar ketiga baru tau ada kayak gitu hehe. nice post deh. eksis bgt mas darin #envy

    • Posted 18/01/2011 at 14:43 | Permalink

      hey, is that right? Soalnya di buku Andreas Harifa ini ga ada rujukan ke sana. Kalo gitu *thumb up* buat tambahannya, sip irvina! 🙂

  16. iskandaria
    Posted 18/01/2011 at 15:52 | Permalink

    Saya sendiri untuk bisa benar-benar memahami konsep HTML dan CSS aja makan waktu berbulan-bulan mas. Semuanya melalui proses trial and error puluhan kali. Tapi justru dari situlah, saya jadi bisa lebih memahami coding. Kalau begini akan menghasilkan begini. Ooo, kalau ini dilakukan, efeknya akan bikin kayak gini. Dst.. 😉

    Seringkali saya malah nekat bereksperimen. Dari situ, justru kemampuan teknis saya jadi makin terasah. Tapi saya belum mampu bikin theme dari awal. Baru sebatas memodifikasi yang sudah ada menjadi sangat berbeda dari tampilan aslinya.

    • Padly
      Posted 18/01/2011 at 18:30 | Permalink

      Idem 😀

    • Posted 19/01/2011 at 00:42 | Permalink

      Saya sudah menduga, Mas Is pasti sudah melewati tahap pembelajaran sekian lama hingga bisa seperti ini. Dan situ juga jadi inspirasi saya Mas 🙂

  17. Posted 18/01/2011 at 17:04 | Permalink

    Andai saja itu berlaku pada bisnis kita, para semua konsumen kita secara tidak sadar diarahkan ke arah itu tentu sangat menguatkan keberadaan perusahaan. Mas Darin sudah mencontohkan WordPress, jika di Indonesia seperti Kaskus. Mungkin member awalnya cuma iseng2, lama2 ada greget juga untuk memperoleh reputasi tertinggi dengan mengikuti aturan2 yang ditentukan. Pun aturan tersebut tentunya meningkatkan traffic forum tersebut pada akhirnya dengan mempunyai member2 fanatiknya 😆

    • Posted 18/01/2011 at 18:53 | Permalink

      Contoh yang bagus mas Dhany. Ya kira2 seperti itu. Kita pada awal mulanya bisa saja hanya iseng, namun karena terus menerus bermain di situ, akhirnya tanpa sadar kita jadi mahir. Tentu saja ini butuh siklus seperti di atas: penyadaran, pembelajaran, juga pembiasaan. Bukan begitu? 🙂

      • Posted 18/01/2011 at 22:52 | Permalink

        Bagaimana jika itu teraplikasi di bisnis offline kita juga.
        Wuuhh mantabb pokoknya…

  18. Posted 18/01/2011 at 18:46 | Permalink

    belajar terus meski sedikit sedikit… 🙂

    • Posted 18/01/2011 at 18:58 | Permalink

      iya mas, alon-alon asal kelakon wae lah 🙂

  19. widodo
    Posted 18/01/2011 at 19:46 | Permalink

    “Nah, pertanyaan selanjutnya, maukah blogger menjadi seorang makhluk pembelajar?”

    nggak usah malu untuk mengakui,kita semua memang masih belajar dan memang harus belajar

  20. Posted 18/01/2011 at 21:38 | Permalink

    Belajar memang tidak pernah ada habisnya. Dari kecil dampai tua bangka tetap harus belajar 😆 siippp……… pak dengan ajakan nya. Semoga semua blogger mau membaca, ‘membaca’ , “membaca” serta ‘”membaca'”. 🙄

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    • Posted 19/01/2011 at 00:40 | Permalink

      amin pak Sugeng, amiiin 🙂
      Salam hangat kembali dari Kupang.

  21. Posted 18/01/2011 at 22:23 | Permalink

    memang hebat ya Rudy Azhar meski belum kenalan tapi saya sering ke blognya pak mantap wordpressnya, mas juga sudah jago nih kayaknya

    • Posted 19/01/2011 at 00:39 | Permalink

      sama2 bang Munir, saya jg banyak belajar dari Bang Rudy 🙂

  22. Posted 18/01/2011 at 22:59 | Permalink

    Liat gambar pertama dan kedua jadi pusing mas.
    Kayak mau dihipnotip sama si Uya, wkakakkaa…
    Soal menjadi makhluk pembelajar, jelas semuanya mau mas.
    Kan demi suatu kebaikan 😀

    • Posted 19/01/2011 at 00:36 | Permalink

      hiahahah saya jadi Uya dong! 😀
      Sip, demi kebaikan. Jangan belajarnya ilmu sesat lho ya, hehe 🙂

  23. kucrit
    Posted 19/01/2011 at 00:15 | Permalink

    Mari kita bersama-sama menjadi “pembelajar” yang benar-benar belajar. Loh.. eh..

  24. Posted 19/01/2011 at 08:50 | Permalink

    salam kenal mas, ini kunjungan perdana ke blog mas. 😀

    • Posted 20/01/2011 at 10:54 | Permalink

      salam kenal kembali mas budi. trims dah mampir 🙂

  25. kurniasepta
    Posted 21/01/2011 at 21:44 | Permalink

    mau

  26. tonykoes
    Posted 05/02/2011 at 13:23 | Permalink

    Mau…. Karena belajar itu beda dengan sekolah.. begitu tamat selesai sekolahnya.. tapi kalau belajar gak ada habisnya, justru yang habis rambut saya.. 😀
    Dalam dunia blogger ini, aku bagai anak kecil yang melihat Mas Darin Naik sepeda… Bloggerkan saya jika anda seorang blogger… 🙂

  27. Gamecompressed
    Posted 05/11/2011 at 21:52 | Permalink

    MAU paztinya

  28. Posted 12/01/2012 at 14:50 | Permalink

    ngeblog membutuhkan referensi jadi ya harus banyak membaca dan belajar sesuatu yang baru dan dianggap penting

  29. Posted 20/03/2016 at 00:22 | Permalink

    This blog is informative and use for gaining knowlege
    live streaming

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
*