Menulis: Mengubah Isi Fikiran Menjadi Sebuah Produk Nyata

Tak bisa dipungkiri, dunia yang paling dekat dengan aktivitas blogging adalah dunia kepenulisan. Bung Eko Nurhuda dalam bukunya Jangan Ngaku Blogger Kalau Nggak Bisa Nulis Buku pun menuliskan hal yang sama. Mbak Isnuansa juga tak ketinggalan, jelas menyatakan dalam artikel interview di blog ini bahwa tugas utama seorang blogger adalah menulis.

Namun nyatanya, banyak blogger – termasuk juga saya – terkadang tak tahu harus menulis mulai dari mana meski sudah tahu persis topik apa yang ingin ditulis. Yah, kendala yang umum terjadi adalah munculnya rasa bosan. Ngapain juga ya nulis terus-terusan di blog?

Mengenal fikiran yang intangible

Dari buku Melejitkan Otak Lewat Gaya Menulis Bebas yang pernah saya tulis secara berseri di sini, proses menulis ternyata berkaitan dengan bagaimana membentuk sesuatu yang abstrak menjadi sesuatu yang konkrit, atau memakai istilah yang dipakai dalam buku ini, merubah bentuk intangible menjadi tangible.

Intangible adalah sesuatu yang tak bisa diraba, dipegang atau diamati dengan jelas. Sedang tangible sebaliknya, yaitu sesuatu yang dapat dilihat, dipegang, diraba dan dirasakan secara langsung menggunakan indra tubuh.

Well, menulis adalah kegiatan yang sangat berkaitan dengan proses perubahan tersebut. Isi fikiran kita adalah intangible karena tak ada seorang pun yang tahu (sudah pasti kecuali Tuhan dan malaikat-Nya), sedang tulisan bersifat tangible, nyata, dan bisa dibaca oleh banyak orang. Dengan kata lain, tulisan yang kita hasilkan adalah produk nyata dari intangible menuju tangible.

Menulis Untuk Direkam

image: mindware.com

Hubungannya dengan rasa bosan menulis?

Coba oprek kembali arsip blog kita masing-masing. Bila kita perhatikan, dengan membaca kembali postingan-postingan lawas tersebut, hal itu seakan membawa kita kembali ke masa lampau. Arsip blog adalah rekaman tangible, jejak yang dapat dilihat dan dirasakan kembali sensasi intangible-nya, yang secara tak langsung memberi kita sebuah cetak biru tentang progress menulis dari mulai tulisan Hello World hingga saat ini.

Dan pepatah yang mengatakan ‘ikatlah ilmu dengan menuliskannya’ itu memang benar adanya. Dengan menuliskan sesuatu, otomatis kita tengah mengikat isi fikiran menjadi produk nyata yang bisa kita akses lagi di kemudian hari.

Hal ini membuat saya berfikir, hmm..berarti jika saya tak juga menulis, saya akan melewatkan kesempatan tuk merekam apa yang ingin saya ungkapkan – baik gagasan maupun informasi – yang mungkin saja akan sangat berguna suatu saat nanti. Wah, kalau sudah begini, sepertinya rasa bosan menulis itu bakal hilang berganti semangat deh :D

Artikel pilar yang tangible

Siapa yang mengira jika akhirnya artikel ini akan menjadi rujukan di artikel-artikel yang masih belum ada wujudnya di masa depan? Nobody knows. Tapi dengan mengubah isi fikiran menjadi produk nyata berbentuk tulisan di saat ini, setidaknya hal tersebut telah direkam dalam arsip yang nantinya memberi peluang untuk dijadikan sumber inbound link.

Apalagi jika di saat ini kita berupaya semaksimal mungkin dalam proses perubahan isi fikiran ke dalam tulisan, bisa jadi hal tersebut akan dibayar lunas dengan traffic yang datang berduyun-duyun dari mesin pencari. Produk tangible yang kita hasilkan saat ini akan tetap menjadi tangible di masa mendatang, sekaligus menjadikannya artikel pilar yang sanggup menyangga kemapanan blog.

Sisi lainnya?

Dengan rajin menulis dan mengungkapkan isi fikiran dalam sebuah tulisan, kita akan mengetahui bagian-bagian mana yang kurang di masa lalu tuk dijadikan bahan perbaikan di masa kini. Baik dalam hal teknik penyajian, gaya bahasa, perluasan pembahasan, atau bisa jadi malah kembali ke konsep KISS (Keep It Simple Sweetheart), yang mampu menyederhanakan tulisan ngalor ngidul menjadi satu- dua paragraf saja.

Yah, sepertinya ini membutuhkan banyak latihan. Dan karena latihan itu membutuhkan banyak bahan tuk perbandingan, maka seharusnya tak ada alasan untuk menunda mengubah isi fikiran saat ini tuk menjadi sebuah produk nyata kan?

So, keep writing, blogger! :)

Share Button
This entry was posted in Tips Menulis and tagged , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

15 Comments

  1. Dery
    Posted 02/03/2012 at 05:14 | Permalink

    Apapun yg kita tulis, pasti suatu saat nanti akan berguna bagi orang lain. Seperti buku alumni sekolah saya, pernah berkata “menulislah, maka kebahagiaanmu akan terbagikan, dan kesedihanmu akan tersembuhkan”
    Apapun yg kita lakukan pasti harus mempunyai tujuan, tanpa tujuan, kita akan terombang ambing. Artikel mas darin d atas menyadarkan saya untuk mengambil tujuan, untuk apa saya menulis. Yaa, saya sekarang sudah tahu tujuannya, agar tulisan saya d baca orang dan d terapkan orang tersebut dalam kehidupan nyata. Lalu, agar tujuan tersebut dapat terkabulkan, maka kita harus action!

    • Darin
      Posted 02/03/2012 at 08:30 | Permalink

      Kutipan dari buku alumni sekolah yang bagus mas Dery :D
      Ya, tak sadar kalau melihat tulisan2 masa lalu, kita akan merasakan perasaan emosional yg sama dan itu dapat dijadikan bahan perenungan untuk proses menulis saat ini.

      • Dery
        Posted 02/03/2012 at 21:42 | Permalink

        betul mas, saya jadi bernostalgia dengan tulisan2 saya yang dulu..
        pelajari yang telah terjadi, terapkan di saat ini, untuk meraih tujuan di masa depan, hehe..

  2. farizalfa
    Posted 02/03/2012 at 05:50 | Permalink

    Yang penting tindakan kita dan kemauan kita dalam menulis. Apapun itu, asal bermanfaat pasti akan dikenang sepanjang masa. :)

  3. Graha Nurdian
    Posted 02/03/2012 at 17:04 | Permalink

    hehhe KISS Stupidnya diganti ama Sweetheart :D

    Ilmu itu sesuatu yang harus kita tuliskan supaya tak hilang dan ikut terkubur dengan raga kita, cuman problem utamanya satu mas.

    Proses convert dari sebuah pikiran menjadi karya nyata :D

  4. Hanif
    Posted 02/03/2012 at 17:07 | Permalink

    ah, sayngnya mas, kalau nulis di blog hosting sendiri, akan hilang nantinya saat tidak adanya dana atau kemampuan untuk memperpanjang masa hidup blognya, sedangkan kalau di blog gratisan, tak jarang perusahaan bangkrut dan menutup service blognya. yang penting menulis saja. hehe.

    • Darin
      Posted 03/03/2012 at 08:23 | Permalink

      Betul juga ya mas Hanif. Jadi mungkin sebelumnya kita mesti punya visi terlebih dahulu :)

  5. Posted 02/03/2012 at 17:56 | Permalink

    Yang ada saat ini hanya sekadar menulis, walaupun jungkir balik mengatasi kebosanan, jalani dulu senyaman-nyamannya, posting sesempat-sempatnya.

    • Darin
      Posted 03/03/2012 at 08:07 | Permalink

      Tambahan yang menarik pak. Jalani senyaman-nyamannya, I like it :)

  6. Faisal
    Posted 02/03/2012 at 22:05 | Permalink

    Untuk sekarang ini saya fokus ke nulis artikel di blog saya dulu mas, entah itu seperti apa artikelnya,hehehe Saya hanya berusaha menulis artikel yang berkualitas baik itu buat saya sendiri atau untuk orang banyak, walaupun memang berkualitas itu relatif.

  7. andank
    Posted 03/03/2012 at 12:48 | Permalink

    kadang juga merasa bosan, tapi setelah bosan, kadang ingin menulis

  8. Asop
    Posted 04/03/2012 at 15:25 | Permalink

    Pokoknya, terus menulis. :)

  9. Posted 07/03/2012 at 06:53 | Permalink

    Mas Darin, apa ndak kebalik? Bukankah kekuatan seorang narablog itu sebenarnya bukan mengubah produk nyata menjadi sesuatu yang tidak berwujud ke dalam pikiran?

    Misalnya saja, produk nyata adalah BBM dan kenaikan harga, seorang narablog akan mampu memproses itu menjadi sebuah dialektika yang kemudian wujudnya memasuki pikiran setiap pembaca dan merembes di sana menjadi sesuatu yang lain sama sekali – yang tak berwujud.

    Narablog seperti seorang orator, hanya saja menggunakan bahasa tulisan, mampu mengubah produk nyata di dunia menjadi sebuah ideologi, ide, yang memiliki viralitas tinggi. Semakin baik kemampuannya, semakin cepat viralitasnya menyebar dan diterima.

    Jika narablog masih terbatas, hanya sebuah produk nyata, bukankah sayang sekali?

    Karl Marx mengubah dunia melalui tulisan, dan seandainya sudah ada blog saat itu, mungkin bukan hanya dua pertiga dunia yang menerima sistem sosialis sebagai sesuatu yang baik, namun bisa jadi seluruh dunia. Sayang, waktu itu hanya ada jalur publikasi buku dan media cetak.

    • Dendy Darin
      Posted 07/03/2012 at 13:30 | Permalink

      Hmm, apa yang Bli katakan ini rupanya telah telah memasuki ranah pembahasan yang lebih jauh, karena telah menyangkut hubungannya dengan pembaca. Itu masuk akal juga. Cuma di sini saya hanya melihat dari sudut pandang si penulis, yang misalnya melihat dinamika politik dan ingin menuangkannya dalam tulisan, bukan kah itu melewati proses tak berwujud dulu, yaitu fikiran tentang ‘apa yang ingin ditulis’ menjadi produk nyata (tulisan).

      Narablog sebagai orator pun saya kira begitu. Isi-isi fikirannya yg telah berbentuk produk nyata telah memicu isi-isi fikiran pembaca, tapi apa yang difikirkan pembaca sudah lepas dari kewenangan penulisnya kan? Apa Karl Marx dapat menjamin bahwa mereka yang membaca tulisannya dapat mengerti 100% lalu mengamini dan disetujui? Saya rasa tidak.

      Pembaca punya interpretasi sendiri ttg apa yg dibaca, sedang penulis punya kewenangan penuh untuk mengubah isi fikirannya menjadi produk nyata yang dapat dibaca.

  10. Posted 27/03/2012 at 20:35 | Permalink

    Terus menulis dan terus menjadi blogger :D

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>