Menulis Sebagai Gaya Hidup Yang Bertujuan

Berawal dari indahnya sebuah ayat Kitab Suci berikut…

Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula) (Q.S. 18:109)

Saya mendapati, ternyata aktivitas menulis yang saya lakukan selama ini hanyalah sebagai pemuas sesaat saja. Moody, accidental dan tanpa visi yang jelas. Padahal ilmu, atau kalau dalam bahasa blogging; ide, opini, inspirasi maupun tips, seperti anjuran khalifah Ali bin Abi Tholib, akan hilang dan menguap bila tak diikat. Dan menulis, memposting atau sekedar membuat status di jejaring sosial, bisa jadi sarana yang tepat untuk itu.

Dari ayat itu pulalah saya kemudian berfikir, bahwa menulis memang sudah dijadikan sebagai fitrah dan panggilan hidup tiap manusia demi eksistensinya. Ehm, agak spiritual memang. Tapi bayangan saya kemudian semakin ekstrim, benar juga, apa jadinya bila ilmu kedokteran tak diikat oleh Al-Kindi? Ilmu matematika tak disebar oleh Al-Khawarizmi? Dan fenomenalnya ilmu fisika tak direkam oleh Ibnu Sina?

Nah, bila memang menulis adalah panggilan hidup, bisa dong kita samakan dengan sebuah gaya hidup. Alasannya? Yeah, kembali pada orientasi. Menjadikan writing oriented selevel dengan kala kita berbicara, berinteraksi dan bergaul secara oral, dapat memaksa otak untuk membentuk sistem baru, yaitu sistem menulis. Mengutip tulisan di buku Mahir Menulis karya Mudrajad Kuncoro:

Tiada hari tanpa menulis perlu dijadikan sebagai kebiasaan baru yang menyenangkan. Misalnya ketika harus menunggu berjam-jam di bandara karena pesawat ditunda, gunakan kesempatan untuk menulis. Dalam perjalanan dari Yogya ke Jakarta, yang hanya sekitar 50 menit, penulis sering menyelesaikan satu artikel opini atau kolom.

Ok lah, bila memang orientasi bisa menjelma menjadi sebuah gaya, atau style, kita balik lagi ke hal yang paling penting dalam proses menulis, yaitu: untuk apa menulis?

Saya lihat orang-orang ber-twitter dan facebook dengan Blackberry, ada yang mengecat rambut warna-warni, dandan ala harajuku, ada lagi yang memakai t-shirt bertuliskan Bloggers Have More Fun Than People Do, dan masih banyak lagi aksi-aksi yang lain, what actually are they doing? Mengirim pesan, itu yang dilakukan. Dengan kata lain, gaya hidup diterjemahkan dengan bermacam cara agar dunia melihat keberadaan mereka.

Begitu pun menulis. Yang jika dikembalikan ke pertanyaan: untuk apa menulis; Gol A Gong dalam bukunya yang berjudul Jangan Mau Gak Nulis Seumur Hidup bertutur…

Sebelum menulis kita harus sudah paham mengapa kita menulis dan untuk apa kita menulis. Ada yang tujuannya untuk popularitas, mengejar materi, politik atau sekedar mengisi waktu. Tidak apa-apa. Bebas saja. Yang penting tahu tujuannya apa.

Ya ya, intinya gaya hidup yang bertujuan. Saya juga ngga yakin kalau orang berkicau di twitter, nongkrong di mall, dan posting asal-asalan di blog (jadi inget postingan pak Joko *haha*) itu tak betujuan. Iseng pun merupakan suatu tujuan, betul?

So, let’s work now! Yuk, kita jadikan menulis sebagai gaya hidup yang bertujuan.

Happy writing! :)

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Inspirasi, Opini, Tips Menulis and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

44 Responses to Menulis Sebagai Gaya Hidup Yang Bertujuan

  1. Pertamaxxxx kah ?

    • Darin says:

      Sip gan! 😀

    • Kalau saja ini benar benar bisa di kampanyekan dan bisa menjadi gaya hidup sebagian besar , masyarakat kita, saya yakin tidak lama lagi kita bisa mengejar ketertinggalan kita dengan bangsa bangsa lain. Masalahnya adalah bagaimana membangun kesadaran masyarakat kita yang terlanjur sudah “terlenan” dengan hal hal yang konsumtif dibandingkan hal produktif seperti menuliskan sebuah gagasan pemikiran.

  2. Agus Siswoyo says:

    Banyak yang bisa saya dapat dari menulis. Yang utama adalah menulis merupakan cara paling ampuh untuk mengikat ilmu. Selebihnya, jadi sumber pendapatan hidup. :)

  3. isnuansa says:

    wew, mas agus sudah di level menulis jadi sumber pendapatan. saya kapan ya bisa begitu? *keselek blekberi*

    • Agus Siswoyo says:

      sini saya pijitin leher mbak Nunik, biar BB-nya brojol. hehehe…

      setiap orang punya interest masing-masing. dan sesuatu yang ditekuni dengan sungguh-sungguh insyaalloh membawa hasil. :)

    • Darin says:

      Mari mbak, kita berombongan menuju basecamp mas Agus. Sedot ilmu! hahaha

  4. andi sakab says:

    sebenernya menulis itu adalah kebutuhan tersendiri bagi para penikmatnya. hampir sama dengan para penikmat kopi :mrgreen: maksudnya penikmat sastra dan dunia penulisan.

    Rasanya bohong kalo tanpa tujuan karena pemuas batin pun adalah tujuan. apapun itu bentuknya.

    kalo mas agus yang menjadikannya sumber penghidupan itu sih sah-sah saja karena dengan demikian faktor keseriusannya lebih juga. masalah hasil yang kita dapat justru lebih dari itu :)

    • Darin says:

      Kebutuhan, ya ya kalau menulis dijadikan sebuah kebutuhan, wah bisa hebat efeknya kang 😀 Bangsa ini cepet pinter dah!

  5. inge says:

    yup, selalu ada tujuan untuk menulis :)
    salah satunya biar otak ndak penuh Om, kesian kalo kepenuhan >.<

  6. achoey says:

    Jadi makin semangat menulis
    meski sederhana :)

  7. hendro says:

    Entahlah bagaimana saya menurut mas darin sebagai seorang blogger?
    Bukankah kita harus bertanya seperti artikel sebelumnya untuk membuat hal sederhana dengan bertanya.

  8. Ajiez says:

    menulis memang harus punya tujuan yang jelas, tapi yang ironis kebanyak penulis di negeri ini hanya untuk kebutuhan pasar semata yang selalu mengandalkan polesan cover dan endorsement, penulisnya pun cendrung lebih memikirkan bagaimana menciptakan sebuah bukut yang beratus-ratus halaman, tanpa sedikitpun memikirkan bagaimana menciptakan/menghasilkan tulisan yang berkualitas

    • Darin says:

      Kalau untuk tujuan profit, mungkin iya. Nanti pasar jg yg akan menentukan. Toh yang menilai tulisan itu bermutu atau tidak ya pembacanya, seperti mas Ajiez ini, betul? :)

  9. rodes says:

    saya kira harus tulisan memilki ciri khas terendiri…

  10. Joko Sutarto says:

    Untuk apa menulis? Saya rasa apa manfaat atau kegunaan kegiatan menulis saya yakin semua sudah pada tahu jawabannya jadi rasanya terlalu membohongi diri sendiri misalnya kalau ada orang (blogger) yang tidak tahu bahkan tak punya tujuan dalam blogging. Kalau tak ada tujuannya mengapa terus ngeblog? Mengapa terus menulis? Itu pertanyaannya.

    Kalau tetap ada yang masih ngotot dengan menjawab untuk iseng, paling saya hanya bisa bilang begini: Anda sangat hebat disaat banyak kaum duafa kelaparan mikir hari ini mau makan apa, Anda justru iseng sibuk beli komputer, berlangganan internet yang tak murah dan membuang-buang waktu produktif Anda untuk ngeblog. Hebat! 😀

    Karena saking banyaknya manfaat menulis sampai ada pengarang yang bilang: Berani Nulis, Berani Kaya. Sampai-sampai dijelaskan 101 macam peluang bisnis yang bisa dipetik dari kegiatan menulis.

    • andi sakab says:

      wah, mantap euy. kayaknya harus baca “101 macam peluang bisnis yang bisa dipetik dari kegiatan menulis” nih :)

    • Darin says:

      Sip pak. Betul itu. Keisengan pun saya kira tak berlangsung lama. Nanti waktu jua yg menjawab, mana blogger yang bener2 ‘iseng’ dan mana yang pura2 ‘iseng’ 😀
      Wah, rekomendasi buku yang bagus! :)

  11. andipeace says:

    menulis dilandasi dari kemauan diri sendiri,entah itu berbentu share,pribadi maupun berbagi..itu yang ada dibenak saya..

    salam sejahterah

  12. Kimi says:

    Kalau saya menulis untuk… Untuk tenar dan dikenal publik. *kalem* 😀

    Boong ding. Sebenarnya saya menulis di blog tujuan utamanya untuk membiasakan diri menulis. Semakin sering latihan, pasti lama-lama tulisan semakin bagus kan? Dan melatih juga untuk menyampaikan pendapat, berlatih bagaimana menyampaikan cerita tapi tidak membosankan, ya gitu2 deh… Lantas, kalau nanti dengan ngeblog itu saya semakin tenar dan semakin dikenal publik, anggap saja itu sebagai salah satu efek dari blog yang menyusul datang. *tetep deh ya “tenar”* 😆

    • Darin says:

      Hahaha, saya demen banget komen jujur kayak gini. Soalnya ya – sst – ternyata kita sama Kim 😀 Menjadi tenar memang tujuan yang menggiurkan, bikin produktivitas menulis meningkat pesat bla bla bla 😀

      Semoga efek itu segera datang Kim! Bravo! :)

  13. mh says:

    hebat, subuh2 udah rame komentar..

  14. iskandaria says:

    Gurih sekali tulisan mas Darin kali ini. Kalau bagi saya, menulis itu untuk memperoleh kepuasan batin (di samping untuk aktualisasi diri). Singkat saja kali ini.

    • Darin says:

      Ngga tau ni mas. Mungkin pengaruh WP yang enak banget dioperasikan 😀
      Nyaman sekali! hehe

    • wah, kalau bagi saya renyah , hehe (cari sinonim)

      tapi cara mas darin mengangkat sebuah ayat dari Al-Qur’an memberi saya ide lebih banyak.

      karena yang ‘satu’ ini meruapakan sumber inspirasi yang tidak ada habisnya

      • Darin says:

        Betul Mas Wil. Apalagi didukung oleh begitu banyak tafsir. Namun benang merahnya tetap satu, yaitu tentang ilmu :)

  15. kang ian dot com says:

    wkwkw g ada nulis yang g pake tujuan 😀 walau hanya iseng tentunya wkwkw mending iseng2 berhadiah aja 😀

  16. sky says:

    saya menulis untuk terapi 😀

    suapay ideku ndak berkarat dan jadi gila karenanya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *