Momen Idul Fitri: Sebuah Sekuel Bagi Jiwa

Selamat Idul FitriMomen Idul Fitri, sama halnya dengan momen-momen kebangkitan, dapat pula – bila itu boleh – disejajarkan dengan lahirnya sebuah kesadaran agung, bahwasanya cepat atau lambat kita semua akan mengalami sebuah pencerahan. Membangun kembali cahaya yang sebetulnya sudah ada sejak kita lahir, namun tertidur sebagai akibat dari pekatnya kabut nafsu duniawi.  Dan jika proses penyingkapan kabut tersebut ‘dipaksa ‘ dijalankan dengan mengetatkan, atau lebih tepatnya: me-mati suri-kan hawa nafsu selama sebulan penuh sebelumnya, momen hari kemenangan ini akan ‘memaksa’ fajar pencerahan untuk muncul ke permukaan.

Selanjutnya – adalah sebuah sekuel.

Tiap tahun, seiring matahari mengedarkan dirinya dengan kecepatan 220 ribu meter per detik di lintasan galaksi dan memperbaharui sumber energinya sendiri, seiring itu pula kita – mahkluk dari segumpal darah yang mengaku paling dimuliakan – ikut menemani matahari, dengan menjadi sebuah titik kecil yang berkeliaran di muka bumi. Sebuah titik kecil yang absurd, mengingat hanya sebagian kecil dari kita yang menyadari, bahwa kita pun mampu menjadi matahari yang dapat memperbaharui sumber energinya sendiri. Mengingat, hanya sebagian kecil dari kita yang menyadari, bahwa Yang Awal Dan Akhir tak hanya membekali kita dengan jasad.

Kawan, kita, titik kecil ini, pun dibekali dengan jiwa.

Jasad, seperti pernik-pernik materi lainnya bersifat fisik, touchable, fana, dan apa ciri khas dari yang fana? Ya, makanan lezat dari sang waktu. Lihat gunung yang kekar menjulang, apakah besok lusa akan tetap berupa gunung? Sampaikan itu pada gunung Krakatau Purba yang kini tenggelam di Selat Sunda. Menatap gemerlap kota dari balik jendela, adakah jaminan besok lusa akan tetap gemerlap? Tanyakan itu pada kota Iram yang sekarang kering membisu di padang gurun Arabia. Dan samudra luas, bilakah terus terbentang dan tenang menyimpan rahasia-rahasianya? Jangan salahkan Laut Mati yang kini terdiam merenungi kejayaannya saat dulu berupa samudera terindah di tengah benua Euroasia.

Kalau sudah begitu, apalah artinya sebungkus daging yang seumur hidup kita kenakan ini? Tak perlu menjadi Rene Descartes yang menyatakan cugito in cognito – saya berfikir maka saya ada – karena dengan fikiran yang paling purba pun kita semua meyakini, daging ini adalah jasad semata, yang akan aus dimakan zaman.

Namun jiwa, sejak diciptakan dan ditiupkan saat kita semua tengah meringkuk hangat di hari ke-120 di kandungan, akan terus begitu adanya, pabila sekuel yang kita jalani setiap momen Idul Fitri berada di jalur yang benar. Dan sama dengan matahari, jiwa-jiwa kita pun niscaya kan terbarukan.

Selamat menjalani sekuel di tahun ini, dan semoga kita bertemu di sekuel selanjutnya.

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum.

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Jurnal and tagged , , . Bookmark the permalink.

15 Responses to Momen Idul Fitri: Sebuah Sekuel Bagi Jiwa

  1. adetruna says:

    na’am taqabalallahu minna waminkum …

  2. Ami says:

    Mas Darin, selamat lebaran, maaf lahir batin ya…. duh bahasanya banyak filosofinya…

  3. Cahya says:

    Semoga Idul Fitri bisa memberikan kemenangan dan kedamaian bagi sahabat-sahabat yang merayakannya.

  4. Die says:

    Terlambat?
    Semoga tidak, selamat Idul Fitri….
    mohon dimaafkan lahir dan bathin.

  5. kaget says:

    Masih di bulan Syawal, minal Aidin Wal faizin :)

  6. Kimsanada says:

    Taqobbal ya karim..
    Saatnya nerapin hasil gemblengan di bulan suci ramadhan kemarin untuk sebelas bulan ke depan. :)

  7. dHaNy says:

    Yang jadi pertanyaan juga apakah gedung-gendung di Jakarta esok masih menjulang megah seperti sekarang ini? Semua akan dijawab oleh waktu dan Allah Tuhan Semesta Alam..
    Mohon maaf lahir dan batin ya mas Darin…

  8. Andi Sakab says:

    Sama-sama Kang. :)

    Dari Tangerang juga mohon maaf lahir dan batin. Salam buat keluarga semuanya di sana. Persahabatan tidak pernah lekang oleh waktu. Someday kalo ada jodoh kita kopdar bareng, kang :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *