Negosiasi Idealisme, Kenapa Tidak?

Membaca artikel Budiman Hakim yang berjudul Saya Takut Hidup di Jakarta membuat saya bertanya-tanya, merenung dan mengernyitkan dahi.

Dan sesaat setelah selesai membaca artikel tersebut, spontan dalam hati saya menanggapi dengan: Kalau Takut, Ngapain Hidup di Jakarta? 😀

Ok, itu hanya reaksi spontan, tapi coba kita fikir deh, di belahan bumi mana sih yang ngga akan ada masalah? Meski kita berandai-andai hidup tenang di lembah subur pegunungan Alpen, memilih tuk hidup di pedesaan yang permai, atau – sepertinya ini langka – memutuskan untuk menyendiri di tengah belantara Oksibil dan jauh dari gesekan dengan manusia, kita pasti berhadapan dengan sesuatu yang bernama masalah.

Mari kita cermati cerita di scene pertama:

Rupanya karena terlalu macet, banyak motor naik ke atas trotoar untuk mencari jalan. Karena ga merasa bersalah, kami pura-pura ga denger dan juga ga mau minggir.

Bila Anda baca ceritanya, jelas sekali ada beberapa lakon yang terlibat, yaitu:

  • Pejalan kaki yang ingin santai. Dimatanya, trotoar dibuat hanya untuk pejalan kaki, titik.
  • Pengendara motor yang mengejar waktu, Dimatanya, tak ada jalan, trotoar pun maknyus, titik.
  • Polisi yang ling-lung. Dimatanya, pihak mana yang gampang dimanfaatkan akan diberi sanksi. Namun berhubung kredibilitas yang kurang mumpuni, jadilah ia ling-lung, titik.

Nah, disini saya kira penulis menempatkan dirinya sebagai seorang pejalan kaki dengan pemikiran yang idealistis. Saya heran sekaligus takjub dengan reaksi penulis yang cuek dengan peringatan klakson dari pengendara motor yang mungkin benar-benar tengah diburu waktu.

Apakah itu berlaku juga bila ada pedagang yang menebar lapak di trotoar, lalu ia cuek melenggang dan menginjak-injak dagangannya? Nggak sampai hati kan?

Saya bukan ingin membela pihak manapun, dan terus terang saya juga sangat kesal jika ada pengendara motor yang grusa-grusu naik ke trotoar. Tapi di sisi lain, sikap yang ditunjukkan penulis juga sangat mengganggu. Tak adakah sedikit rasa pengertian tuk memberi ruang bagi para pengendara motor yang terjebak macet? Begitu sulitkah menggeserkan badan dan menikmati perasaan bahagia karena telah memudahkan orang lain?

Ingat, semua hal dapat dinegosiasikan, begitu pula dengan idealisme. Dan bila kenyamanan berjalan kaki di trotoar Jakarta yang Anda cari, maaf saja, karena Anda sepertinya harus menunggu beberapa dekade ke depan, atau kondisi itu tak pernah ada, karena yang pasti, bukan saat ini.

Life is problems. Living is solving problems. (Reymond E. Feist)

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Jurnal and tagged , , . Bookmark the permalink.

19 Responses to Negosiasi Idealisme, Kenapa Tidak?

  1. iskandaria says:

    Ada sedikit kerancuan pada penggunaan kata ‘penulis’ dalam tulisan di atas. Saya kok merasa lebih pas diganti dengan ‘pejalan kaki’ ya 😉

    Kalau kasus di atas, saya membela si pejalan kaki karena dia berusaha mempertahankan haknya :p

    • Darin says:

      Berarti mas Is bersedia mengeluarkan energi lebih hanya untuk ngotot dan silang pendapat pada kondisi saat itu? It’s oke :)
      Tapi jika ada yang menggelar lapak di trotoar, apa mas Is bersedia juga menginjak2 dagangannya, atau mau berjalan sambil minggir sedikit? :)

  2. Cahya says:

    He he…, kalau idealisme bisa dinegosiasi, bisa-bisa besok ada banyak judul, idealisme yang tergadaikan :D.

    Saya rasa – entah kenapa – jika seseorang punya idealisme, hal itu sudah tidak bisa ditawar lagi. Hanya saja kreativitas menjadi sebuah kunci utama di mana idealisme akan bisa tetap tak tergoyahkan di antara banyak tantangan.

    • Darin says:

      Secara mental. idealisme tentu harus tetap ada. Tapi dalam realita, idealisme bisa ‘dipinggirkan’ sejenak untuk mewujudkan ‘idealisme’ kolektif, yaitu memudahkan urusan orang banyak. Ini memang butuh banyak tantangan, terutama rasa toleransi yang kadang kita fikir ada batasnya, padahal itu sama sekali adalah ilusi.
      Toleransi malah bisa jadi idealisme baru :)

  3. asaz says:

    saya jadi ingat zaman dulu waktu tinggal di Bogor kalau pagi sebelum jam 6.00 lewat depan BTM, masih banyak PKL yang gelar lapak dijalan raya. Kebalikan dengan didalam cerita diatas Pengendara yg naik ke trotoar ini PKL di jalan raya lalu pengguna motor selap selip diantara pedagang sayur.

    Pernah suatu pagi ban motor saya menginjak mentimun serentak yang punya “berteriak heeyyy…. dagangan aing”, lalu aku jawab ” salah sendiri lo ngalangin jalan orang lewat”. sambil cepat-cepat pergi karena takut ditabok

  4. Tut Sugi Blog says:

    Sebagai pejalan kaki di Jakarta, walaupun kesal tetapi tenggang rasa mau nggak mau terus jalan. Harus diakui bahwa Jakarta kota yang sangat semrawut di mana peraturan banyak dilanggar, bukan saja karena harus berpacu dengan waktu tetapi juga karena kebanyakan penduduknya sudah demikian individualistis.

    • Darin says:

      Ya, memang beginilah adanya. Sifat individualistis saya kira hanya persepsi. Itu dikarenakan sedemikian sibuknya orang2 di sekitar, jadi terkesan semua mementingkan diri sendiri. Padahal dalam skala kecil, di lingkungan sekitar, pandangan itu tak pernah ada.

  5. Hanif Mahaldi says:

    saya malah setuju dengan mas darin.
    lebih baik mengambil sikap seperti,
    1. ambil jalan lain yg kurang digunakan sepeda motor untuk melintas.
    2. tetap hati2 untuk tidak lengah karena banyak motor yang lewat.
    3. usahakan mengerti kondisi ini sudah parah dan mengambil langkah bijak untuk tidak menggerutu saja. malah menghabiskan tenaga.
    4. bayangkan idealisme itu dipertahankan dan yg seliweran sepeda motor jumlahnya lebih dari 1. dan akan memakan waktu ngotot sana sini.
    5. pertimbangkan waktu efisiensi, mungkin ada baiknya lapor polisi yg berjaga terdekat agar idealisme diri juga tidak diinjak2, mengingatkan para sepeda motor.

    mungkin pendapat saya sih itu.

  6. kimsanada says:

    Pengendara motor mau lewat trotoar pun gak masalah buatku, yang penting jalannya nggak ngebut aja. Kalo pelan kan ya juga menghormati pejalan kaki di trotoar.
    :)

  7. HeruLS says:

    Okelah, setuju semua bisa dinegosiasikan, tapi harus bisa sama-sama menang. Jika, tidak itu berarti ada penjajahan.

  8. Fakry Naras Wahidi says:

    analisanya om darin bijak sekali,
    heheh.

    btw hidup ini memang tidak adil
    jadi kita harus membiasakan diri dengan hal itu
    wuhuuuw.

    and the last is, happy ending!

  9. TonyKoes says:

    Saya rasa Idealisme cenderung agak ke Egoisme.. Kalau sudah kondisi seperti Jakarta di atas ya janganlah memaksakan idealisme.. kalau gak mau disenggol motor nekat 😀
    Memang ketika di Jakarta, kondisi orang-orang yang saya liat cenderung gak sabaran, emosional dan mau menang sendiri mungkin semua akibat tekanan keadaan dan desakan ekonomi maupun gaya hidup.
    Kalau mau berpikir global yang salah ya Pemerintah.. kenapa tidak membatasi ATPM alias pabrik motor dalam meluncurkan produknya, sehingga rasio jalan dan motor jadi imbang, sehingga gak perlu rebutan jalan dengan pejalan kaki..

    • Kolom Pemuda says:

      Membatasi produksi motor? Ndak semudah itu mas.
      Saat ini motor sudah seperti tanah dan air di pasal 33 UUD 45, sudah menjadi hajat hidup orang banyak :-) Belum lg jk dilihat dari sisi ekonomi..

      Jangankan produksi motor, produksi rokok aja pemerintah nggak serius, padahal jelas2 rokok nggak baik buat kesehatan. Dan menurut saya itu idealisme pemerintah, karena saat ini pemerintah lebih memilih uang daripada kesehatan rakyatnya.

      So, idealisme cenderung egois, benar juga. Tapi tanpa idealisme kita akan semakin terpuruk, atau yang lebih parah, kita akan jadi penjilat :-)

  10. arif says:

    dalam contoh kasus di atas, faktornya memang banyak sekali, belum lagi faktor2 lain yg bisa saja berpengaruh tapi diasumsikan tidak ada. negosiasi is oke, mengendurkan sedikit untuk memasuki wilayah “abu2”

  11. Blogger Addict says:

    Dilematis! Menjadi sulit karena idealisme harus bertubrukan dengan sikap toleran. Mana yang menjadi prioritas?

    Hukum itu absolut tapi tetap fleksibel. Seseorang yg membunuh harus dihukum tapi seberapa besar hukumannya bergantung pada mengapa ia membunuh.

    Kaitannya dengan kejadian yg dialami mas Budiman Hakim, menurut hukum pengendara motorlah yg salah, dan itu idealisme hukum. Sedangkan sisi fleksibelitasnya, hrs ditanya dulu mengapa ia melakukan kesalahan.

    Mungkin ini bisa menjawab mengapa idealisme bisa di negosiasikan.

    Tapi, sampai kapan rakyat negeri ini dibiasakan dengan hal2 berbau negosiasi, karena kesadaran tidak akan muncul jika negosiasi terus dibesar2kan, terutama negosiasi idealisme.

    Saya pikir, sikap idealis-lah yang meneguhkan pendirian seseorang, sikap idealis-lah yang berani berkata bahwa yang salah itu salah dan yang benar itu benar, dan sikap idealis-lah yang membuat seseorang semakin fokus untuk menggapai cita-citanya.

    Karena idealisme bisa dinegosiasikan maka kita harus menunggu beberapa dekade lagi untuk bisa merasakan kenyamanan saat berjalan kaki disepanjang trotoar Jakarta. Padahal jika kita semua memiliki idealisme yang merupakan awal dari rasa sadar akan hak dan kewajiban, maka kita seharusnya bisa merasakan kenyamanan itu hari ini juga!

  12. Sriyono Suke says:

    jujur, saya nyerah dah kera jakarta bang, beraaat… pulang kampung saja, barangkali bisa jadi raja di kota kecil ini kelak… 😀

  13. hendra says:

    Intinya penegakan aturan aja agar kota jakarta tercinta ini nyaman. Gak usah banyak toleransi terhadap pelanggar aturan seperti pemotor yang naik ke trotoar tersebut.

  14. Pingback: Hiatus Blogging, Why Not? | Darinholic dot Com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *