Obrolan Ringan Tentang Kapabilitas

Disela-sela makan malam bareng, sembari menikmati gado-gado di keremangan jalan, saya dan rekan-rekan project terlibat dalam joke-joke seputar kekonyolan di pekerjaan. Ada-ada saja memang hal lucu yang bisa diexplore. Yang tadinya terkesan remeh, bukan mustahil malah jadi trend topic (pinjem istilah twitter) dan terus-terusan diketawain semaleman πŸ˜€

Nah, salah satu hal remeh itu adalah: begitu seringnya kita mendengar keluhan seorang staf tentang gaji yang tidak sebanding dengan volume pekerjaannya.

Semisal office boy. Kan berat tuh? Bangun dan datang paling pagi, bersih-bersih sana-sini, belum lagi harus menyediakan minuman hangat di meja masing-masing staf sebelum empunya datang. Selama jam kerja berlangsung, ia menjelma menjadi mahluk yang paling sibuk berseliweran kesana kemari. Ya fotocopy lah, beli rokok lah, antarkan pesanan, dan tugas-tugas lain yang bila dirunutkan bisa jadi file excel dengan kolom terpanjang.

Sore hari datang, ia pun harus rela pulang paling buncit. Bersih-bersih lagi, dan membereskan apa yang harus dibereskan sehingga semua hal siap untuk digunakan di keesokan harinya.

Thus, ketika obrolan tentang office boy ini mengalir, teman saya – seorang site engineer – menganalogikan paradoks itu dengan sebuah cerita yang menurut saya sangat bagus.

Begini kisahnya..

Ada seorang pengayuh perahu yang pekerjaan sehari-harinya mengantar Raja dan Perdana Mentri menginspeksi perbatasan kerajaan menyusuri sungai. Pengayuh perahu ini sebal, karena ia digaji begitu kecil, padahal pekerjaannya dirasa sangat berat.

Mendayung perahu bukan hal yang gampang, fikirnya. Butuh tenaga kuat, fisik mantap dan ilmu teknik mendayung yang diperoleh dari pengalaman bertahun-tahun. Sedang Perdana Mentri? Ia kerjanya hanya berdiri di samping Raja, manggut-manggut, senyum-senyum dan sesekali dari mulutnya terucap sepatah dua patah kata. Mau tahu berapa gajinya? 10 kali lipat!

Ketidakadilan inilah yang akhirnya membulatkan tekad si pendayung perahu untuk melakukan demo di hadapan Raja.

Raja yang dihadiahi demo itu hanya tersenyum, dan mencari akal bagaimana agar si pendayung ini mengerti. Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu, seperti ulah kumpulan binatang di seberang ruangan, yang akhirnya memberikan Raja secercah ide.

β€œOk, coba kamu tengok, apaan tuh yang bunyi?” suruh Raja. Si pendayung menurut. Ia pergi ke sebelah ruangan, sebentar kemudian kembali dan melapor.
β€œItu anak kucing, Paduka” jawabnya.
β€œOh ya? Berapa ekor?”
Si pendayung berfikir sejenak, lalu bergegas menengok ke ruangan tadi.
β€œTiga ekor, Paduka” jawabnya.
β€œWow. Apa saja warnanya?”
Si pendayung termenung sebentar, lalu menengok lagi ke sana.
β€œYang dua hitam, yang satu belang, Paduka” jawabnya.
β€œHmm, apa saja jenis kelaminnya tuh?”
Si pendayung dengan merengut kembali lagi ke seberang ruangan. Beberapa saat kemudian kembali lagi, melapor dengan nada menjurus ketus.
β€œPaduka, jantan satu, betina dua!”
β€œOk, ok,” Raja manggut-manggut. β€œKamu tunggu di sini dulu ya.”

Berikutnya, Raja memanggil Perdana Mentri dan menyuruh hal yang sama. Sebentar kemudian Sang PM datang dan melapor.

β€œAda tiga ekor anak kucing, Paduka. Mereka lucu-lucu. Dua ekor berbulu hitam, yang jantan ada tanda putih di hidungnya, dan yang satu betina warnanya belang-belang merah-kuning. Sepertinya mereka keluar dari kardus mencari induknya. Apa saya perlu panggilkan pengawal untuk mencarikan?”

Raja tersenyum dan memandang si pendayung perahu yang melongo.

The end.

Well, pasti sobat sudah paham arah dari inti cerita di atas. Ya, kapabilitas yang diperlihatkan oleh si pendayung dan Perdana Mentri sangat jauh kadarnya. Butuh waktu yang panjang bagi si pendayung tuk memahami permasalahan, yang bagi Perdana Mentri, hal itu bisa terselesaikan hanya dalam sekali penelusuran. Bahkan ia menawarkan opsi-opsi yang sekiranya terlewatkan oleh si pemberi tugas!

Itulah bedanya. Waktu sangat krusial dalam sebuah project. Dan bila itu berada di pelukan orang yang berkapabilitas rendah, bisa dimaklumi bila progressnya lemot, deviasi minus terus tiap minggu, bahkan cenderung jauh dari target yang diharapkan.

Hmm, tak dinyana dari acara santap gado-gado bisa dapat pencerahan ajib begini rupa. Kalau begini ceritanya, ok deh, saya ngga akan mempermasalahkan kenapa gaji seorang dirut yang cuma duduk-duduk dan paraf itu bisa bejibun, ketimbang saya yang panas-panasan jungkir balik di lapangan πŸ˜€

Kapabilitas. Wah, kalau dikaitkan dengan blogging bisa jadi diskusi yang menarik nih.

Ada yang berminat membahas tentang hal ini? ^_^

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Inspirasi, Opini and tagged , , , . Bookmark the permalink.

94 Responses to Obrolan Ringan Tentang Kapabilitas

  1. Pertamaxxx kah ?

  2. Ami says:

    Teknik Sipil ya Mas. Almarhum Bapakku juga Teknik Sipil UGM, dosen Mekanika Tanah

  3. mantabbb, saya memang sudah sejak lama meyakini kalau semakin “pandai” seseorang , akan terlihat dari cara nya menyampaikan “isi kepala” namun saat ini harus hati hati sebab yang pandai bukan hanya orang pandai tapi apara penipu juga bisa jadi pandai lho…

    • Darin says:

      Hehe, betul sekali bli. Tapi lewat cerita ini, saya bener2 jadi ngerti konsep kapabilitas itu. Bukan sekedar hitung-menghitung perbandingan materi. Tapi lebih kepada kemampuan individu tuk mengemban permasalahan dan menyelesaikannya dalam waktu singkat :)

      • Yes, that’s the point. Semakin “tinggi” capability seseorang, dia akan cepat sekali merusmuskan masalah dan mengambil keputusanan/solusi dan bukannya malah “membesar besarkan” sehingga menjadi berlarut larut…

      • andi sakab says:

        makanya bli sekarang tuh maling pada pinter. masa mo maling rumah pake radar sama laptop πŸ˜€

  4. Ami says:

    Telat sama Mas Andry dan dik Irfan, nyempetin baca dulu soalnya. Ada cerita mirip-mirip.

    Cuman ceritanya ada rakyat jelata ingin jadi raja. Dikasih kesempatan duduk di kursi raja, tapi ada pedang di atasnya. Intinya jadi pemimpin resikonya tinggi tiap ambil keputusan.

    Gak usah iri, dengki deh. Ngeliat temen2ku sama2 dr MIPA bolak-balik riset ke luar negri.

    Merasa disayang Allah, disayang keluarga, disayang pimpinan yayasan, disayang guru2 dan staf sekolah tempat kerja, disayang murid2… Selalu bersyukur. Alhamdulillah

    • andi sakab says:

      tenang saya juga telat saking kecewanya engga dapet antrian pertamax pertama saya borong dah nih komentar wkwkw :mrgreen:

    • Darin says:

      Amiiin Mi. Besyukur dgn apa yang kita punya, dan juga terus berusaha meningkatkan kapabilitas. Syukur2 bisa lebih dari sebelumnya, setuju? πŸ˜€

  5. Pingback: Tweets that mention Obrolan Ringan Tentang Kapabilitas | DarinHolic.com -- Topsy.com

  6. irfan mustofa says:

    mengamankan PERTAMAX
    baca ntar aja
    hihihi…

  7. john says:

    cerita di atas boleh juga tuh om …
    menginspirasi menjadi technopreneur ketimbang jadi pegawai teknik biasa :)

    • Darin says:

      mantep john, sukses slalu buat shoutmac-nya! πŸ˜€

      • john says:

        makasih om Darin udah sempet mampir di shoutmac.com
        saya sekarang lagi punya hajat bikin Open Blog di Persona Intikalia
        seenggaknya saya ingin berbagi menulis dengan blogger yang lainnya :)
        bagaimana dengan om Darin?
        apa DarinHolic.com juga akan mengarah ke Open Blog?

        • Darin says:

          Wow, seru juga idenya bro. Bagus itu. Saya pernah buka guest blog di blog indonesianer. Dan ngga menutup kemungkinan blog ini ke depannya juga begitu. Sharing is exciting! πŸ˜€

  8. irfan mustofa says:

    hmm, kemampuan otak mempengaruhi juga #eaaa

    belajar…belajar ah biar bisa jadi raja #eh πŸ˜€

  9. Remaja Helda says:

    Kalau sayah, bisa dikategorikan sama dengan si pengayuh perahu, Om. Kalau sayah jd si pengayuh kayu itu, sayah kaya’nya bakal seperti dia de, apa yg ditanya itu yg dijawab. Males gue mikir! :)) #pengakuan

  10. andi sakab says:

    komplen nih ceritaya wkwkwk bilang aja ke boss.

    “bos, tuker nasib yuk” πŸ˜€

    satu minggu kayaknya cukup

  11. Erdien says:

    Setiap orang mendapatkan sesuatu sesuai kadarnya. Itu intinya ya Kang?!
    ==
    Metode yang digunakan sang Raja bisa diaplikasikan neh untuk pencerahan buat rekan-rekan kerja hehe… πŸ˜€

    Nuhun Kang!

  12. memang beda ya pak isi kepala di ibaratkan processor kalau pake i7 pasti lebih cepat selesai dibanding kalau dikerjakan pake Celeron , cerita yang menginspirasi pak

  13. achoey says:

    Nah berarti gaji ini berbanding lurus dengan jabatan
    Jabatan berbanding lurus dengan tanggung jawab
    eh lho, kapabilitas di mana ya saya tempatkannya πŸ˜€

  14. Cahya says:

    Hmm…, kapabilitas ditentukan apa ya? Kesempatan?

  15. tomi says:

    memang kalau dipikir-pikir gaji berapapun pasti kita sbg manusia biasa tetap tidak merasa cukup mas.. pasti mengeluh dan mnta lebih karena selalu iri melihat orang lain. padahal kalau dilihat dari analogi cerita diatas, jelas banget kan perbedaannya πŸ˜€

    • Darin says:

      Bener mas tom. Kadang kita melihat ke atas terlalu jauh tanpa memandang kapabilitas diri. Kudunya yg seimbang ya berharap sambil meningkatkan kapabilitas hehe. Gitu kali ya :)

  16. Sugeng says:

    Wah betul2 pencerahan yang gamblang dan sangat mudah di mengerti. Tapi kalau melihat sikap para “pendayung2” yang jumlahnya ribuan dan dalam demo apakah gambaran ini bisa mendinginkan akal yang panas nya πŸ˜• πŸ˜† Sukses pak dengan posisi yang di dapat sekarang ini.
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    • Darin says:

      Salam hangat kembali dari Kupang pak :)

      Nah, saya jg jadi berfikir ke arah sana pak. Sejatinya itu kan tuntutan tuk pemerataan, atau kenaikan pendapatan, tapi bingungnya kalau sudah bicara tentang sumbangsih terhadap perusahaan. Wajar saja pihak perusahaan jadi bingung. Pemerintah pun belum jelas memberi ‘policy’ yang layak, adil bagi semua pihak :(

  17. Joko Sutarto says:

    Analogi kapabilitas dalam cerita ini mungkin bisa saya samakan dengan sebuah piramida terbalik dalam sebuah perusahaan, Mas Darin. Pekerja yang ada di level bawah (bottom management) atau bagian piramida paling bawah jumlahnya sangat banyak namun kontribusi per head accountnya terhadap perusahaan rendah makanya digaji rendah pula.

    Sementara level Top management yang ada di puncak piramida jumlahnya akan semakin mengerucut menjadi beberapa gelintir orang saja namun pekerja di level top piramida ini punya kontribusi besar dalam mengendalikan jalannya perusahaan. Maju mundurnya sebuah perusahaan sangat bergantung pada orang-orang di level ini. Makanya orang-orang pada level ini akan digaji besar.

    Jadi sampai kapan pun, tentu saja saya ndak boleh ngiri dengan gaji directur saya yang memang punya kapabilitas tinggi dalam mengendalikan perusahaan, sementara saya karena kedudukannya masih berada di middle piramida tentu harus cukup puas digaji seadanya. He…He…He…. πŸ˜€

  18. Padly says:

    Bagaimana menjadikan pendayung punya “Kapabilitas” seperti PM? Yeah… minimal dia punya kemampuan untuk membuat sebuah mesin untuk menjalankan perahu.

    Pendidikan yang murah… (Kalau perlu gratis). Itulah jawabannya. Itulah yang harus disediakan Raja untuk mensejahterakan semua rakyatnya.

    Kalau dalam UUD “Republik Mimpi” pasal 31, ayat 1 & 2 yang berbunyi “Tiap-tiap Warganegara berhak mendapat pengajaran. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan Undang-undang”.

    Kecuali jika Raja-nya tidak mau kekuasaannya digerogoti karena banyaknya orang yang kapatible.

    • Darin says:

      Menaikkan kapabilitas saya kira buka hanya dari segi pendidikan formal. Lewat kehidupan sehari-hari pun bisa. Saya pernah menyimak biografi2 orang sukses, yg ternyata berangkat dari pendidikan yg tak mumpuni. DO kuliah lah, atau semacamnya, dan mereka bisa sukses πŸ˜€

      Hahaha, baru tahu ada pasal itu. Setuju! Dengan begitu kapabilitas tiap warga negara bisa merata, dan tinggal siapa saja yang dapat bertahan menghadapi hukum alam. Yang kuat, ia yang bertahan :)

  19. hendro says:

    Seperti halnya dengan kerja yang efektif, ini masalah provision dalam otak manusia mampukah membawa yang banyak tapi efektif?
    Kembalikan ke segi quantity dan endingnya mampukah menghasilkan yang terbaik seperti PM di atas, saya rasa semua mampu mencermati apa yang ada.

    • Darin says:

      Efektivitas itu kuncinya bang. Yup, saya setuju. Saya juga termotivasi dengan analogi cerita temen saya di atas :)

  20. JUMPA LAGI BLI, WAW OFFICE BOY SULIT BENER YA TUGASNYA. HHA YO BUAT PARA OFFICE BOY DEMO BIAR DINAIKI GAJINYA HHA, BIAR NGGAK PERCUMA TENAGANNYA ( PENDAPATKU MEMANG ANEH YA ):p

  21. Seperti itulah perbedaan antara orang2 yang kapabel dan yang tidak…
    Itu sebabnya gaji mereka berbeda… apalagi tanggungjawab mereka pun jelas2 berbeda.

    • Darin says:

      dan saya masih berfikir, apa perlu melalui tes tertentu ya untuk mengetahui kapabilitas kita? πŸ˜€ atau, harus lewat penilaian orang lain dulu?

  22. Ternyata… dimanapun dan dengan siapapun… kita dapat mengambil banyak pelajaran berharga dalam hidup ini ya..?
    Siapa sangka dari makan gado2 seseorang akan dapat ‘pencerahan’…?

  23. kisahnya sangat menarik utk dijadikan analogi pembahasan ttg kapabilitas, mas darin. kayaknya tdk sedikit orang yang mengeluhkan ttg beban pekerjaan dan penghasilan yang di dapat. sementara mereka yang kerjanya santai gajinya bejibun. hiks. padahal utk bisa kerja santai butuh kapabilatas full juga kan?

    • adetruna says:

      tapi karena si pendayung ini progress-nya lambat, raja malas untuk memberikan gaji seperti yg diminta :mrgreen:

    • Darin says:

      sepertinya hukum Pareto berlaku disini ya pak sawali, dimana 20% bekerja bisa menghasilkan 80% pendapatan :)

  24. sky says:

    salut sama analoginya…

    gw mau jadi perdana mentri juga…harus tingkatakan kapabilitas πŸ˜€

  25. sky says:

    satu yg jadi masalah dlm cerita itu…apa raja n perdana mentrinya ndak sekongkol tuh? si perdana mentri sdh tw soal dan jawabannya lebih dulu… πŸ˜€

    • Darin says:

      hahaha, inilah kenapa banyak demo dari para ‘pendayung’. Adanya ketidakpercayaan pada pemberi kebijakan πŸ˜€ Masalah betul tidaknya, kita serahkan pada KPK! πŸ˜€

  26. Ha ha ha ha ha
    Terkadang dengan kapabilitas yang lebih pun orang kalau merasa bisa membayar dengan bayaran yang dibawah rata-rata berpikir “ngapain harus bayar lebih, dengan dibayar pas-pasan aja” πŸ˜€

  27. Agus Siswoyo says:

    kontribusi bukan ditentukan berdasarkan berapa lama dia stand by di kantor dan berapa liter keringat yang dihasilkan per jam. namun lebih kepada efek yang ditimbulkan selama dia berada di suatu korporat. dan hal yang alami ada gaji tinggi ada gaji rendah sesuai perannya. kalau semua berpikiran manajer, lalu siapa yang mau jadi office boy. hahaha….

    namun yang patut diingat juga, kadang kita mengalami hambatan struktural untuk menunjukkan kemampuan terbaik. takut melangkahi atasan lah, nggak etis mengatakan TIDAK pada bos lah. dan banyak alasan birokratis lainnya. itulah salah satu penyebab mengapa saya keluar dari pekerjaan kantoran. lebih mampu bertanggungjawab terhadap segala tindakan yang diambil sendiri.

    • Darin says:

      Mantap penjelasannya mas. Itulah intinya. Kontribusi yang diberikan individu dinilai dari output dari perspektif perusahaan, bukan dari absensi. Yang berarti, output itu dihitung berdasar bobot kualitatif, bukan kuantitatif :)

      Hambatan struktural itu juga yang membuat saya berfikir tuk mengikuti jejak mas Agus πŸ˜€ Are you ready? πŸ˜€

  28. Agus Siswoyo says:

    Link feedburner di sebelah mana ya?

  29. Sky says:

    Kyknya kpk jg stress skrg. Ndak tw bgm caranya memuaskan pendayung.

  30. ajundi14 says:

    kang, maaf. kayaknya saya agak kurang ngerti ceritanya, intinya tentang banyaknya gaji antara si pendayung dan perdana menteri ya?

    kalau menurut saya, besar gaji tidak perlu di lihat dari kontribusi atau atau output dari orang tersebut. yang utama adalah dia punya PENGAKUAN dari lembaga tidak? apalagi kalau bukan Ijazah… kalau punya ijazah, walaupun ga bisa apa2, tetap bayarannya tinggi. :)

    • Darin says:

      Intinya, hubungan gaji dengan kapabilitas bro.
      Betul, dan pengakuan itu adalah berkat kapabilitas yang diperlihatkan seorang individu. Kalau kurang, ngapain digaji lebih, betul? :)

      Wah, kalau punya ijazah ga bisa apa2 terus digaji tinggi, apa ada yg begitu? Hehe, saya kok ragu ya πŸ˜€

  31. nitnot says:

    bagus cerita analoginya…bisa dipake buat teman2 yang sering ngeluh di kerjaan ..heheheee…

  32. Edgardo Bend says:

    Amazing post, bookmarked the site with interest to read more information!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *