Save Rohingya: Peduli Atau Sensi?

Dua minggu terakhir, seolah tak henti media mengangkat tajuk yang sama. Sebuah peristiwa ganjil dimana sebuah negara mengusir ‘warga negara’nya sendiri jauh-jauh ke luar teritori demi terbentuknya satu ras nasional.

Saya nggak habis fikir. Sebegitu bencinya kah penduduk Myanmar yang mayoritas menganut agama Buddha pada etnis minoritas muslim Rohingya? Apa peristiwa itu semata dipicu oleh penegakan kedaulatan negara dalam menumpas teroris? Atau, adakah sisi lain di balik kengerian genosida itu, yang gaungnya malah membuat beberapa dari kita saling serang di negeri sendiri? Read More »

Posted in Opini | Tagged , , , | Leave a comment

Kedewasaan Dalam Berpolitik: Antara Alergi, Fanatisme Dan Partisipasi Positif

Anda merasa beranda Facebook dan timeline Twitter tak lagi semenarik dulu, yang penuh dengan keceriaan, ilmu bermanfaat dan ceplosan-ceplosan jenaka? Anda tak sendiri. Terutama semenjak hiruk pikuk politik yang melibatkan kubu-kubu besar antara agamis, moderat dan nasionalis, kini media sosial ujug-ujug berubah menjadi sarana saling dukung dan menelikung.

Entah sengaja atau tidak, pun disadari atau tidak, status yang ditulis akan menyerempet isu-isu politik yang tengah terjadi. Bisa opini positif, negatif, bisa juga pertengahan di antara keduanya, alias satir, yang membiarkan pembacanya menentukan sendiri menurut pandangan masing-masing, apakah itu baik atau buruk. Atau bahkan menjelma menjadi lelucon berwujud meme dan anekdot yang dipandang lucu bagi yang satu tapi menyakitkan bagi yang lainnya.

Lalu, kenapa tetiba kita semua sangat antusias dengan politik? Ups, sorry, tidak semua. Saya lupa dengan beberapa – atau mungkin sebagian besar – yang memilih apatis, hanya menjadi penonton dan menjurus alergi bila berhubungan dengan yang namanya politik. Namun realitas tetap sama, beranda dan timeline masih dipenuhi dengan aroma politik. Mengapa bisa begitu?

Mari sejenak mencari tahu apa itu politik. Menurut Wikipedia:

Politik (dari bahasa Yunani: politikos, yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara), adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.

Jadi jelas, dari penulisan ‘dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara‘, politik adalah sesuatu yang tak terpisahkan dari kita sebagai warga negara. Semua yang sudah memegang kartu identitas sah, baik KTP, SIM dan lainnya berhak untuk berpolitik, menyampaikan aspirasi politik dan menentukan pilihan politik.

Namun masalahnya, apakah semua yang menyadari hak politik memiliki kedewasaan untuk menerima aspirasi atau pilihan politik dari golongan/kaum/individu yang berbeda? Itu hal lain. Buktinya ya seperti yang telah ditulis di awal tadi, atau lihat saja beranda media sosial Anda sekarang.

Tentang Kedewasaan Berpolitik

Kalau ada yang bilang kedewasaan politik itu butuh waktu, ya, ada benarnya. Jika menilik contoh kasus di Amerika sana yang sudah berproses sekian abad dalam berpolitik, negara kita ngga ada apa-apanya. Tapi toh itu tak otomatis menjadi satu patokan baku, mengingat di zaman modern ini, pembelajaran apapun, termasuk politik, bisa diakselerasi dan dipercepat. Banyak media dan narasumber yang mudah diakses untuk bahan kajian. Tinggal kitanya saja sebagai individu, apakah mampu mencerna dan memilahnya dengan bijak atau malah terseret dalam fanatisme buta dengan mudahnya.

Fanatisme Dalam Politik

Nah, berbicara tentang individu, kita yang hidup di negara ini, yang tak jauh-jauh dari budaya primordial, yaitu sangat terikat dengan asal usul, suku, tradisi dan agama, sangat mempengaruhi sikap kita dalam berpolitik. Para santri akan mengikuti saran gurunya, suku-suku di Papua mengamini apapun sabda ondowafi (kepala suku)-nya, pun di lingkup yang lebih kecil, seperti keluarga, dimana kita dianjurkan untuk mengikuti apa yang orang tua ajarkan, adalah contoh yang lumrah terjadi.

Dan seperti lagu lama yang sering didengungkan: menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan, alasan primordial amatlah absurd jika dijadikan faktor bagi keengganan sebagian dari kita untuk belajar. Saya mengenal teman santri yang sangat terbuka dan enak diajak diskusi tentang politik. Saya bertetangga dengan sesorang dari suku Nafri yang luwes mengerti dan menerima perbedaan politik suku-suku lain. Ada pula seorang sahabat yang meski dari keluarga etnis tertentu mengindahkan faktor asal-usul keluarganya dan memilih politik yang berseberangan.

Fenomena itu tak satu dua terjadi. Kenapa? Karena mereka sudah mengenal betul arti politik dan sebagai konsekuensinya mereka sanggup menahan ego masing-masing tuk kebaikan bersama. Dengan analogi browser, politik adalah tab browser yang terbuka. Apakah akan memilih untuk membuka situs default atau membuka situs yang lain, itu adalah hak prerogatif tiap individu dan tak masalah jika orang lain membuka situs yang berbeda. Lha masa harus sewot ada yang masih buka situs Yahoo sedang Google adalah pilihan yang populer?

Apakah Harus Berpolitik?

Berpolitik ini bukannya harus menjadi partisipan salah satu partai politik atau kudu belajar buku-buku politik yang njelimet. Politik tanpa disadari hadir di keseharian kita lho. Belanja ke pasar, jalan-jalan di trotoar, surfing di internet, membuka usaha perdagangan, itu adalah hasil dari politik.

Tak percaya? Coba tengok penduduk Irak yang kesusahan untuk membeli sepotong roti, lihat apa yang rakyat Kolombia takutkan jika jalan-jalan keluar rumah, anak-anak muda Korea Utara yang sulit mengakses internet juga ibu-ibu Somalia yang selalu dijarah perompak setiap kali akan berdagang.

Jadi berpolitik tak hanya melulu soal sidang berlarut-larut di gedung MPR atau masalah kalau lo ga milih si anu berarti lo munafik, no, politik lebih dari itu. Berpolitik, menurut opini saya, sama halnya dengan bagaimana kita membayangkan kehidupan yang ideal. Meski standar ideal bagi satu orang tak selalu sama dengan yang lain tapi fitrahnya tetap sama. Toh kita sama-sama manusia.

Kalau begitu kita harus berpolitik? Sayangnya, iya. Dengan mengetahui peranan politik dalam keberlangsungan kehidupan ideal versi kita, mau tak mau kita harus ikut.

Lohngapain mikir negara, kayak yang penting aja. Bagi yang alergi, memang tak ada salahnya. Mengingat begitu banyaknya berita hoax dan kebingungan informasi yang beredar, sikap acuh dan apatis ini tak bisa disalahkan. Hanya saja kemudian banyak yang menyesal karena memilih diam. Bukti nyata yang masih segar adalah terpilihnya Trump sebagai presiden Amerika.

Setidaknya benar apa kata tokoh Yunani, Perikles:

Just because you do not take an interest in politics doesn’t mean politics won’t take an interest in you.

Saya punya pandangan politik sendiri kok, dan saya yakin dengan pilihan saya‘. Owh, fanatik? It’s ok. Saya suka mengikuti beberapa public figur yang secara terang-terangan mendukung pilihan politik tertentu, seperti di Pilkada DKI ada @pandji dan @addiems yang menjadi corong kampanye pasangan jagoannya masing-masing. Benar mereka fanatik, tapi tak kemudian melakukan pembenaran buta dan merendahkan (atau malah mengafirkan) orang yang berbeda pilihannya.

Ikut berpartisipasi secara positif pun bisa menjadi pilihan. Misal dalam berkampanye mendukung salah satu paslon diisi dengan karya-karya kreatif, menyampaikan kritik membangun, ikut menyuarakan gerakan anti hoax atau juga turut serta dalam meredam suhu politik yang memanas dengan berusaha menyebarkan rasa persatuan.

Bagaimanapun, politik ada demi kebersamaan. Politik ada karena kita butuh hidup dalam satu wilayah untuk bisa hidup tentram, damai dan maju bersama.

Pesan saya, gunakan hak politik Anda sebagai warga negara dengan bijak. Buatlah dunia lebih baik dengan sikap politik yang Anda ambil.

Dan berita baiknya…

The life still goes on, apapun sikap yang diambil.

Posted in Opini, Perspektif | Tagged , , , | 7 Responses

Kontemplasi Blogging Dari Inteligensi Embun Pagi

Novel setebal total 705 halaman ini akhirnya dapat juga saya rampungkan. Lumayan sulit, mengingat selalu saja terjadi tarik menarik alokasi waktu antara mulai padatnya jadwal project dan kekuatan luar biasa untuk tak terus-menerus membaca dikarenakan plot alur ceritanya yang begitu memikat.

Saya mengikuti seri Supernova dari mulai Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, berlanjut Akar, lalu saya sayangnya melewatkan edisi Petir dan Pertikel, dan kemudian bertemu lagi dengan seri Gelombang. Edisi kisah Alfa – si peretas mimpi – di Gelombang inilah yang membuat saya begitu ngebet untuk mengetahui kelanjutannya yang konon akan menjadi pamungkas dan dari seluruh kisah para peretas di Inteligensi Embun Pagi.

Review Inteligensi Embun Pagi

Kalau berbicara tentang bagaimana Dee Lestari memainkan imajinasi pembacanya, itu sudah terbukti sah di seri-seri sebelumnya. Namun yang membuat saya terus merasa dilanda ketakjuban, di novel Inteligensi Embun Pagi ini, penulis sangat piawai dalam merunut kembali cerita tiap-tiap peretas dan menggabungkannya dalam satu kesatuan tanpa harus perlu membuka lagi seri-seri yang lalu. Kekhawatiran saya yang tak mengikuti kisah Petir dan Partikel tak lagi menjadi masalah. Seperti air bah. Sekali tenggelam di pusarannya, puff, saya pun terseret ke dalamnya.

Dan seakan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tentang how you could do that, alias bagaimana sih Anda bisa menulis begitu produktif, aktual sekaligus sanggup mencerahkan para pembacanya dari seri pertama Supernova hingga berlanjut di novel epik ini?

Well, di bagian akhir buku, tepatnya di bab Dari Penulis, Dee Lestari memberikan clue dan tips terselubung yang mungkin bisa jadi panduan saya dan Anda dalam proses menulis dan bisa juga diterapkan pada blogging, yaitu:

Buku Inteligensi Embun Pagi

  • Tentang mental

Menjadi penulis bukan hanya perkara bercerita, tapi juga meliputi penempaan mental. Kita diajak untuk mengenali diri kita lebih baik lagi, menghadapi monster dan malaikat internal, serta belajar bagaimana memanfaatkan keduanya untuk kemajuan kita.

  • Tentang perlunya riset

Mengetik di laptop hanyalah sebagian dari menulis itu sendiri. Mengkhayal, mengobservasi, membaca, dan meriset berlangsung nyaris tanpa henti dan merupakan bagian inheren dari proses saya berkarya.

  • Adanya ide saja tidak cukup

Menulis memang tidak pernah merupakan proses satu sisi. Menulis adalah kerja sama. Kita bekerja sama dengan ide yang telah memilih kita menjadi partnernya. Bahu-membahu, melalui kerja keras dan komitmen, inspirasi yang berwujud abstrak akhirnya menjadi konkret.

  • Antara sistematis dan spontanitas

Menulis memiliki dua sisi yang saling melengkapi dan nyaris mustahil melenyapkan salah satunya: perencanaan dan keluwesan, sistematis dan spontanitas, disiplin dan kebebasan. Demikianlah rangkaian wajah ganda proses menulis yang harus hadir untuk merampungkan sebuah karya.

Tips-tips di atas mudah-mudahan bisa saya terapkan dan dijadikan kontemplasi tersendiri untuk proses blogging yang saya lakukan ke depan, dan saya sangat berterima kasih untuk Dee yang telah membagikan sedikit bocorannya 🙂

Anda sudah membaca Inteligensi Embun Pagi juga? Share pendapatnya, please.

Posted in Buku | 7 Responses