Paradoks Kekuatan Dan Kelemahan Diri: Sebaiknya Fokus Pada Sisi Yang Mana?

Saya punya teman yang jago basket, tapi dia ngga bisa gitar. Teman yang lain – sumpah – keren betul menggambar sketsa, tapi dia mengaku ngga pernah ngerti sama sekali dengan yang namanya pelajaran kimia.

Kelebihan dan kekurangan, terdengar lumrah, bukan?

Masalahnya, teman saya yang jago basket kepingin sekali tuk bisa nyanyi sambil main gitar dan dia menganggap hal itu sebagai satu kelemahan yang harus diperbaiki. Setali tiga uang dengan si master sketsa, berhubung cita-citanya adalah menjadi dokter, kekurangan dalam pelajaran kimia ia jadikan sesuatu yang harus dicari solusinya dengan segera.

Kemudian – taruhlah – si jago basket menjadi benar-benar bisa menyanyi dan memainkan gitar. Namun apakah kemampuannya sebanding dengan orang yang memang memiliki kemampuan dan bakat di bidang musik?

Pun si master sketsa, dengan kegigihannya mengikuti les privat dan bimbingan belajar, akhirnya ia bisa juga mengerti konsep reaksi kimia, jenis-jenis unsur dan hapal tabel periodik. Tapi dibanding mahasiswa teknik kimia yang memang memiliki minat dan hasrat di bidang kimia?

Dua kasus itu berakhir dengan jawaban yang sama: mereka hanya akan menjadi orang rata-rata di bidang yang dipilihnya.

Karena apa?

Ya, karena mereka terlalu fokus untuk memperbaiki kelemahan.

Lain hal jika keduanya fokus pada kelebihan. Si jago basket terus mengasah permainan dan si master sketsa tak lelah memperkaya teknik-teknik menggambar, tentu akhir cerita bakal berbeda, kan? Yup, keduanya tentu akan menjadi ahli di bidangnya daripada orang kebanyakan.

Meningkatkan Kemampuan Atau Memperbaiki Kelemahan?

Gagasan bagaimana memperlakukan kekuatan dan kelemahan ini saya dapat dari buku mega best-seller karya Ippho ‘Right’ Santosa – sang pakar otak kanan – yang berjudul 7 Keajaiban Rezeki. Dan seperti biasa, kalau saya suka banget dengan isi suatu buku, saya menjadi ngga tahan untuk sharing dan mempublikasikannya di blog, meski – yah – masih di taraf latihan menulis *hehe

Hikmah dari buku 7 keajaiban rezeki

Dan salah satu pertanyaan yang sangat menggelitik nalar dari buku itu adalah: pilih mana, meningkatkan kemampuan atau memperbaiki kelemahan?

Kalau ada di antara Anda yang menjawab ‘idealnya ya melakukan kedua-duanya’, itu juga jawaban saya lho. Tapi kemudian penulis melanjutkan dengan argumen:

Tolong dipahami sungguh-sungguh, sumber daya yang kita miliki sangatlah terbatas. Mau tidak mau, kita harus memilih salah satu dan merelakan yang lain.

Nah, mau bagaimana?

Lalu penulisnya memaparkan kelebihan-kelebihan jika kita memilih fokus untuk meningkatkan kemampuan dan kerugian jika kita terlalu menyibukkan diri tuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang tentunya menguras waktu dan tenaga yang tak sedikit. Mungkin ini sedikit berbeda dengan artikel yang ditulis oleh mas Arief Maulana tapi intinya tetap sama, yaitu bagaimana kita seharusnya fokus pada kekuatan diri, alias fokus pada solusi, bukan pada masalah.

Dengan kata lain, dengan terus meningkatkan kemampuan secara spesifik, niscaya kemampuan itu akan menjadi kekuatan utama (true strength) yang akan menjadi faktor pembeda. Dalam buku ini, faktor pembeda itu diberi istilah ‘Pembeda Abadi’, atau kalau di dunia blogging mirip-mirip dengan jargon Personal Branding.

Sejenak, saya speechless.

Entah sudah beberapa kali saya berusaha tuk memperbaiki apa-apa yang saya anggap sebagai kelemahan, seperti: berusaha menjadi extrovert dan pandai bergaul, padahal aslinya saya introvert; belajar keras agar bisa mahir memainkan melodi gitar klasik, nyatanya itu sia-sia, dan saya selalu kembali ke pelukan bass; dan untuk urusan ngeblog, saya pernah jungkir balik mempelajari kode-kode theme lalu akhirnya angkat tangan dan balik lagi ke habitat asal, pakai theme simpel.

Saya lupa, introvert juga memiliki sifat-sifat unggulan yang bisa digali dibanding para extrovert. Saya kurang faham, bahwa ternyata filosofi bass jika dimengerti akan lebih dahsyat maknanya dibanding petikan halus melodi gitar klasik. Saya juga baru ngeh, kalau blogging dengan fokus pada konten adalah hal yang jauh lebih penting ketimbang memikirkan bagaimana kode-kode theme di belakangnya bekerja.

Apa Kekuatan Utama Saya?

Ini yang sering jadi topik bahasan. Meski sudah begitu banyak kata-kata motivasi yang kita telan untuk terus semangat meningkatkan kemampuan, namun kemudian tak jarang kita kembali melongo sambil bertanya lirih: kemampuan yang mana? Apa sih sebenarnya kelebihan saya?

Nah, bagi Anda yang belum tahu, dan sebagai pengingat saya juga, mungkin beberapa pertanyaan dari buku ini bisa membantu:

  • Apakah yang paling Anda minati?
  • Apakah yang paling Anda kuasai?
  • Apakah sesuatu yang Anda minati dan kuasai itu dapat menghasilkan?
  • Apakah sesuatu yang Anda minati dan kuasai itu membahagiakan?
  • Terakhir, apakah itu sesuai dengan persepsi publik terhadap Anda?

Jawaban yang kita berikan adalah gambaran dari kekuatan utama kita. Kekuatan yang seharusnya terus diasah. Biarkan saja kelemahan dan kekurangan itu ada, karena memang begitulah adanya.

Our strength grows out of our weaknesses (Ralph W. Emerson)

Pendapat Anda?

Atau Anda punya pengalaman sendiri tentang bagaimana memperlakukan kelebihan dan kekurangan pada diri Anda? Share, please :)

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Inspirasi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

24 Responses to Paradoks Kekuatan Dan Kelemahan Diri: Sebaiknya Fokus Pada Sisi Yang Mana?

  1. Ramy says:

    Hahaha saya juga speechless Mas pas baca Bab itu, bener-bener deh baru nyadar..
    Wondering kalo sistem pendidikan di sekolah nerapin konsep kayak gitu, jadi kalo ada siswa yang nilainya kurang di mata pelajaran tertentu gak usah di remedial, dan kalo dapet nilai gede di mata pelajaran yg lain diasah terus.. pasti lebih seru 😀

    • Darin says:

      Hahaha, wah kalo sekolah formal kayaknya masih dominan otak kiri bro, jadinya kudu teratur dan kaku. Beda kalau di sekolah kehidupan he2 😀

  2. applausr says:

    weleh weleh,… betul juga tuh.. yang di asah adalah kemampuan kita bukan kelemahan kita.
    wong ga bisa nyanyi dan ga bakat nyanyi ya jangan nyanyi ya… hehehehehe

    • Darin says:

      Ada juga sih yg aji mumpung, tapi ya ngga bakalan awet dibanding sama yang memang punya bakat di bidang tari suara, betul? :)

  3. Cahya says:

    Yang susah itu ketika yang diminati dan yang dikuasai itu berbeda :D.

  4. asaz says:

    jadi sebaiknya kita fokus untuk konsen pada talenta yang kita minati dan kita kuasai, dan berlatih untuk menjadi yang profesional

  5. Loh mas, kalo misalkan ada hal yang kita anggep kemampuan -yang akhirnya terus diasah- padahal itu cuman kelemahan yang sebenernya dah biasa kita lakuin sejak kecil, gimana tuh ?

    Salam kenal !! :salaman cium tangan:

    • Darin says:

      Kelemahan yang sebenarnya sudah biasa dilakukan sejak kecil.. hmm.. Seperti apa contohnya mas? Saya kok kurang jelas ya hehe 😀
      Salaman juga, wah ngga usah pake cium tangaaan! 😀

  6. Lana says:

    terkadang kelemahan yang selalu diperbaiki bisa jadi sebuah kelebihan nantinya gan hehehe….

    *pengalaman ane c gan 😀 #shakehand

  7. Tapi ada baiknya juga kita belajar hal yang belum kita ketahui agar tidak menjadi maniak dalam suatu bidang tertentu, walaupun itu sangat kita sukai. Sekedar pendapat aja yaa ^^

  8. interior consultant says:

    aku setuju banget neh dengan judulnya…

  9. papap arfa says:

    hehe bener banget mas.. seseorang dikatakan ekspert atau ahli karena dia terus menerus mengasah fokus bakatnya dibanding pengen dikatakan manusia perfect mending pilih salah satu gaya paling keren dalam diri kita 😀

  10. De Cipia says:

    Maka yang paling malang adalah belum menyadari kelebihan dan kelemahan diri. Dan itu saya. Saya punya minat yang besar atas beberapa hal tapi benarkah itu kelebihan saya? Parameternya?

    • Darin says:

      Saya kira memang begitu mas. Minat yang datang dari bakat (talenta) biasanya jadi satu kelebihan. Masalahnya kadang kita yang ga sadar memilikinya. Contoh saya sendiri, saya suka banget bikin kartun, tapi saya ga sadar kalau itu adalah sebuah kelebihan. Jadi, parameternya hanya kita sendiri yang tahu.
      Ya, mungkin perlu waktu yang tak sedikit untuk menyadari dan mengasah kelebihan itu.

  11. huda tula says:

    ah iya.. setuju banget. setahun bergelut di seni rupa, sudah mulai terlihat hasilnya. Paling tidak ada peningkatan sih, dan paling tidak saya tahu apa yang saya lakukan.

    dibanding bertahun-tahun belajar ilmu komunikasi, cuma menyiksa diri, ga enjoy, dan ga ada kemajuan. Dulu saya sering merasa bodoh kalau berada di tengah-tengah orang dan cuma bisa diam. anehnya saya merasa bersalah dengan ketakpandaian saya itu. Tapi itu dulu. semenjak saya ke klinik tong fang.. #halah, malah curhat di sini.

  12. Jefry says:

    Terima kasih mas atas petunjuknya, lebih baik memfokuskan untuk meningkatkan kelebihan2 yang telah ada dengan demikian bila telah berhasil memiliki kekurangan apapun tidak akan menjadi masalah dan bahkan bisa menginspirasi orang lain..

  13. yan says:

    mantap artikelnya. iya memang sy pernah membaca bukunya mas Ippho tapi seiring berjalannya waktu akhirnya lupa lagi dan down lagi. alhamdulillah ketemu artikel ini jadi bisa inget lagi. jadi mulai sekarang InsyaAllah sy akan terus fokus pd kelebihan/ kemampuan saya..

  14. luar biasa artikel nya,salam kenal :) fokus pada keunggulan,betul itu

  15. Pingback: Review Buku Money From Anywhere | darinholic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *