Perlukah Menciptakan Pembaca Ideal Untuk Blog?

Sering terbersit dalam fikiran saya, bagaimanakah tipe pembaca yang ideal untuk blog ini?

Kalau berbicara tentang niche dan topik yang diusung, mungkin saya akan berharap bahwa sobat selaku pengunjung adalah juga satu pemikiran, dimana kita bisa saling bertukar pendapat dan silang opini. Namun kenyataan berkata lain, karena kadang saya temui beberapa sobat blogger yang blognya tak setopik dengan blog ini juga ikut berpartisipasi. Ikut menuangkan gagasan dan tak jarang malah sentuhan idenya membuat saya angkat jempol.

Dan hebatnya lagi, blog mereka ternyata keren! 😀

Pembaca Ideal BlogPembaca ideal, bisa jadi salah satu trik untuk mempermudah gaya menulis potingan blog. Iya juga sih. Pastilah lebih enak menulis tuk orang yang kita jelas-jelas mengenalnya ketimbang untuk yang belum sama sekali kita jumpa, kan? Lebih nyaman menyampaikan gagasan pada teman sebangku daripada – contohnya – sesama siswa dari sekolah di luar kota, bukan?

Misalnya, saya terapkan saja pada postingan kali ini deh. Di sini saya ingin menuangkan pemikiran pada seseorang, dan orang tersebut, sebentar, saya imajinasikan dulu… Ok, ia laki-laki, syukur-syukur blogger juga, berumur antara 18 sampai 30 tahun, pendidikan minimal mengenyam bangku SMP, suka seni, hobi musik, dan lumayan melek teknologi.

Apa yang saya dapat? Tentu gambaran figur di atas sedikitnya memberi arahan dan sketsa dasar akan bagaimana tulisan saya nantinya. Saya tak perlu lagi meraba-raba bagaimana daya tangkap, tingkat intelektual dan sebagainya, karena figur tersebut telah nangkring duluan di benak. Yah, setidaknya he is my very very close friend, so tak jadi soal jika nanti uraian saya belepotan ataupun ancur. Yang jelas, saya hanya ingin gagasan saya didengar, that’s it. Adapun bila ada pendengar yang ikutan nimbrung, saya anggap itu bonus 🙂

Nah, untuk sobat sendiri, pernahkah menciptakan pembaca ideal untuk blog sobat? Dan lagi, apakah itu memang perlu?

Share your opinion! 🙂

Share Button
This entry was posted in Blogger, Blogging, Opini and tagged , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

65 Comments

  1. Posted 03/04/2011 at 18:52 | Permalink

    sepertinya selama ini sy tidak pernah mencoba melakukan hal itu. 😀 sy hanya mencoba menulis postingan ideal. 😀

  2. Posted 03/04/2011 at 19:24 | Permalink

    pembaca ideal untuk blog untuk semua kalangan, yang penting nulis aja….ungkapin pikiran, yang penting ada yang ngomen, kalo nggak ada yang ngomen, untuk apa kita buat blog????

    • Posted 03/04/2011 at 19:39 | Permalink

      Menarik. Berarti menulis sporadis, gitu ya? Menulis dan menulis sampai berharap ada seseorang yang cocok dgn tulisan kita? Oke juga tuh.
      Kalau ga ada yg komen, yah sapa tau ada yg nyasar dari search engine mungkin? Hehe 🙂

    • The Jombang Taste
      Posted 03/04/2011 at 21:58 | Permalink

      blog saya nggak ada yang komenin, tapi saya tetep nulis tuh. hehehe…

  3. Kris
    Posted 03/04/2011 at 18:49 | Permalink

    Pertamax kah?

    • Posted 03/04/2011 at 19:18 | Permalink

      kagak ada lawan Kris 😀

      • Kris
        Posted 03/04/2011 at 19:20 | Permalink

        Ahaha,,udah mengakui ke kerenan saya mungkin,,hhe

        • Posted 03/04/2011 at 19:41 | Permalink

          Saya udah. Ngga tau sama bli Andry, hehe 😀

          • Kris
            Posted 03/04/2011 at 19:51 | Permalink

            Ahaha,,makasih makasih mas,, 😀

    • Kris
      Posted 03/04/2011 at 18:51 | Permalink

      Pasang kuda kuda dulu, 😀

    • The Jombang Taste
      Posted 03/04/2011 at 21:56 | Permalink

      Ikutan nebeng ahhh… 🙂

  4. Posted 03/04/2011 at 19:50 | Permalink

    Kalau kita hanya dikunjungi pembaca ideal malah nggak sehat mas.
    Ini pendapat saya.
    Si ideal keliatan idealnya justru ketika ada yg nggak ideal.
    Sama kayak orang kayalah…
    Dia tampak kaya karena disekitarnya kalah kaya dari dia.
    Kalau disekitarnya lebih kaya, dia justru jadi si miskin.
    Orang pandai juga gitu, bisa dikatakan pandai karena lihat sekitarnya bagaimana.
    Apalagi yg namanya ideal, yg tolok ukurnya sangat subyektif.

    • Posted 03/04/2011 at 20:28 | Permalink

      Bisa jadi begitu pak. Cuma kayaknya saya mengajukan gagasan ini hanya tuk mempermudah kita dalam menulis. Seperti halnya Pak Mars yang ingin menulis buku pelajaran misalnya, tentu harus tau jenis siswa yang diharapkan membacanya. Ngga mungkin kan menulis pelajaran tuk SMP tapi bukunya disebar di kampus-kampus? Atau pun sebaliknya. Itu hanya misal.

      Nah, memang pembaca ideal dalam realitasna itu tak ada. Ini hanya permainan imajinasi saja. Siapa tahu dengan cara ini kita tambah lancar ngeblognya. Yah, ideal tidaknya, itu memang subyektif ya pak 🙂

  5. Posted 03/04/2011 at 19:53 | Permalink

    Kalau kaya ngumpul kaya akan tertutup kesempatan sedekah mas…
    Apalagi kalau miskin kumpul miskin… 😀
    Paling baik ya campur2

    • Posted 03/04/2011 at 20:29 | Permalink

      Campur dengan kombinasi yang harmonis, begitu pak? 🙂

  6. widodo
    Posted 03/04/2011 at 18:53 | Permalink

    perlukah menciptakan pembaca ideal?….
    antara perlu dan tidak…

    perlu di ciptakan karena pada dasarnya blog butuh pembaca,sekaligus pengkoreksi tulisan dan opini,alangkah lebih bijak jika opini penulis di imbangi dengan opini pembaca..

    tapi di sinilah sulitnya mas,butuh kemampuan lebih,dan banyak faktor…
    sesuatu yang terkadang kita pikir simple justru akan menjadi sulit bagi orang lain,karena semua memang tergantung selera,dan memenuhi selera banyak kepala bukan hal mudah..uangel poll,sumpah mas !

    jadi saya kira tidak usah terburu-buru dan bernafsu untuk membuat lingkaran pembaca ideal,toh semua akan terbentuk dengan sendirinya,kalau kata tukul sih “just flow”..ha..ha…

    dan saya kira artikel dan gaya bahasa artikel seperti punya mas darin sudah cukup syarat untuk menciptakan pembaca ideal,sersan,serius tapi santai,lambat laun akan tercipta dengan sendirinya….

    matursuwun sudah di perbolehkan komeng di sini…!

    • Posted 03/04/2011 at 19:13 | Permalink

      Nah, itu dia Mas Wid! Ane setuju banget. Kita gak bakalan bisa memenuhi selera semua jenis pembaca. That’s impossible. Angel’e poll haha.

      Tapi saya hanya berfikir, sepertinya ngeblog akan lebih asyik jika kita sudah tahu jenis dan tipikal pembaca yang bagaimana yang akan membaca tulisan tersebut. Jadinya enak. Kita mungkin akan lebih flow dalam menuangkan kata-kata. Beda kan kalo kita nganggap yang baca adalah – misalnya – seorang penulis buku, yang dengan pulpen di tangan siap tuk mengoreksi dan mencoret-coret hasil tulisan kita. Kita bakalan grogi kan tuk mulai menulis? 😀

      Dan seperti Mas Wid juga, tentunya sebelum menulis pun pasti membayangkan jenis pembaca yang kemungkinan besar mengapresiasi dan bahkan memberi tanggapan berarti kan? Dengan kata lain, mungkin ya, kita berharap pembaca tulisan kita yang paling ideal adalah ‘yang benar-benar mirip dengan kita’! Wow, saya sering begitu lho mas 😀

      Walah, sing ngelarang komeng disini sinten mas hehe. Suwun balik ya *tos* 😀

    • Posted 03/04/2011 at 23:09 | Permalink

      entah kenapa ane sepakat dengan mas Widodo 🙂

  7. Kris
    Posted 03/04/2011 at 18:54 | Permalink

    Menulis untuk orang yang sama sekali belum dikenal??ehm,kayaknya sebagian besar begitu mas,
    tapi perbedaannya,ada yg mudah diserap dan ada juga yang kata katanya tidak pas dengan pembaca nya, *saya contohnya,, 🙂

    • Posted 03/04/2011 at 19:21 | Permalink

      Tu kan cuma pemisalan Kris. Tapi kayakna Kris pembaca ideal blog ini deh. Lha tuh pertamax hehe 😀

      • Kris
        Posted 03/04/2011 at 19:53 | Permalink

        Ehem,kata kata nya enak dibaca dan ditelaah,hhe,,,sama kayak punya nya mas agus siswoyo, 🙂

        • Agus Siswoyo
          Posted 03/04/2011 at 21:53 | Permalink

          Hey… ada yang panggil-panggil nama saya.

          *arwah muncul dibalik kegelapan*

          • Posted 03/04/2011 at 22:13 | Permalink

            pulangnya nggak usah diantar ya Mas, hihi 😀

  8. Posted 03/04/2011 at 20:10 | Permalink

    Maaf baru hadir..Denpasar hujan terus sejak pagi ( jadi mendukung buat tidur terus ). saya justru berharapan kalau pembaca dari Blog saya adalah semua kalangan. dengan begitu orang yang sejak awal belum tahu menahu soal dunia marketing malah jadi tahu ( lumayan jadi nambah pahala )…..

    • Posted 03/04/2011 at 20:36 | Permalink

      Wah, betul itu bli. Untuk blog yang topiknya amat khusus seperti punya bli Andry, tentu dapat memberi informasi yang lebih dari sekedar pembaca idealnya, yaitu oembaca yang tau tentang marketing. Kadang saya juga dapat ilmu baru dari sana. Ini bukti, meski saya bukan pengunjung ideal, tapi saya pun bisa menimba hikmah dari sana 🙂

  9. Posted 03/04/2011 at 20:27 | Permalink

    Pembaca ideal?. Tentu ini terkait dengan tujuan membuat blog dan gaya penulisan. Bisa lantaran sudah mempunyai target pembaca ideal sehingga kemudian mempengaruhi gaya penulisan atau malah sebaliknya gaya penulisan yang kemudian menciptakan komunitas pembaca ideal.

    Klau blog saya berawal dari tujuan untuk memperkenalkan kondisi alam Indonesia. Pembaca idealnya mungkin adalah kaum awam dan setengah awam yang membutuhkan informasi tentang kondisi alam Indonesia. Semoga bisa terbentuk dengan sendirinya.

    • Posted 03/04/2011 at 20:40 | Permalink

      Betul sekali Mas. Sebenarnya secara tidak langsung kita menciptakan image pembaca ideal itu, apalagi menulis di blog yang sebagian besar bergaya conversational alias layaknya bercerita. Iya juga, kadang apa yang menjadi target malah mempengaruhi gaya penulisan kita. Jadinya ada proses timbal balik.

      Amin mas. Semoga blog Mas Alam bisa terus eksis! 🙂

  10. Posted 03/04/2011 at 20:41 | Permalink

    Pembaca ideal memang sangat erat dengan target pengunjung.. Penulis berharap dapat menjaring pembaca yang memiliki pemikiran dan niche yang sama dengan keyword tertentu.. Untuk blog tutorial wordpress misalnya, jika target pembacanya adalah orang yang minimal sudah paham akan wordpress, jika ingin menulis review tentang plugin mereka langsung memberikan link dan hasil reviewnya.. Tidak lgi menjelaskan step2 secara detil…

    • Posted 03/04/2011 at 21:07 | Permalink

      Yup, itu yang saya maksud mas Dhan. Kalau sudah ada bayangan pembaca ideal, tentunya kita lebih nyaman dalam mengutarakan gagasan maupun informasi, bukan?

  11. Posted 03/04/2011 at 20:59 | Permalink

    topik blog saya malah isinya macam2 kaya gado2 tahu deh siapa aja yg ngunjungin 🙂

  12. Posted 03/04/2011 at 21:33 | Permalink

    Mungkin istilah Mas Darin pakai saja yg bisa membuat orang salah mengartikan.
    Mungkin jangan gunakan istilah “Pembaca Ideal” tapi “Pembaca Spesifik”.
    Kalau ideal kan cenderung sempurna. Mana ada?
    Tapi kalau spesifik akan lebih luwes…

    • Posted 03/04/2011 at 22:07 | Permalink

      Hmm, sarannya boleh juga pak. Tapi bukankah ‘spesifik’ itu maknanya malah lebih luas dari ‘ideal’? Saya memakai kata itu karena memang saya mengimajinasikan sesuatu/seseorang yang pas, tidak kurang tidak lebih.

  13. Posted 03/04/2011 at 21:41 | Permalink

    Saya bukan orang yang menganut paham idealisme, mungkin lebih cenderung pada naturalisme. Jadi kalau diajak berbincang tentang penulis atau pembaca ideal, saya mungkin kurang “nyantol” di percakapan. Namun jika menyangkut penulis atau pembaca yang natural, mungkin saya masih memiliki sedikit imajinasi untuk dirangkai.

    Ideal itu selayaknya memiliki patokan (boundary), seperti berat badan ideal dan tinggi badan ideal. Kadang patokan interpersona bisa jadi memiliki jangka yang berbeda-beda, baik titik acu maupun besaran yang digunakan.

    Penulis ideal mungkin mengikuti aturan baku penulisan, berapa kata maksimal dalam satu kalimat, dan berapa kalimat dalam satu alinea. Bagaimana struktur katanya, susunan hurufnya, tipe pembatasan yang digunakan, gaya bahasanya. Pembaca yang ideal juga mungkin tidak akan jauh berbeda, mencari topik yang sesuai dengan patokannya, mencoba mengaspirasi dan mengasimilasi dengan baik bahan yang disampaikan, jika titik acu dan besaran yang digunakan antara ideal-nya penulis dan pembaca berbeda, bisa jadi mereka tidak akan saling bertemu.

    Jika orang memiliki ideal, biasanya dia tidak akan melewati patokannya, itu seperti harga mati. Dia tidak akan menulis atau membaca sesuatu yang belepotan, karena itu bisa berceceran tidak menentu di luar batasan idealnya.

    Sehingga saya sering kali tidak memahami idealisme penulis dan pembaca, saya lebih suka yang natural, write like the rain, read like the land, menulis dengan bebas dan alami, maka yang membaca mungkin akan tersentak sesaat namun dapat menyerapnya dengan baik jika diberikan kesempatan, seperti hujan dan bumi.

    • Posted 03/04/2011 at 22:04 | Permalink

      Good thought, bli 🙂

      Begini, ukuran ideal, natural atau apalah, itu memang subyektif. Dan saya fikir semua blogger juga pasti pemikiran sendiri, termasuk bli Cahya juga. Kita bisa menetapkan apa dan bagaimana kita, dan implikasi serta pandangan kita sendiri terhadap dunia luar. Saya kira topik idealisme sangat luas, bukan?

      Nah, dalam konteks artikel yg saya tulis di atas, tentu bukan hal yang bagus jika kita mengharapkan sekaligus memukul rata para pembaca layaknya pembaca ideal seperti yang kita inginkan. It’s not true. Tapi bukan berarti juga kita tak punya bayangan sama sekali tentang figur/sosok pembaca bagaimana yang paling terkena dampaknya. Paling tidak, ada seseorang yang ‘nyambung’ dan kemudian tertarik tuk mendiskusikannya. Saya fikir itulah ukuran ‘ideal’ menurut saya.

      Yup, setuju, saya jg belum memahami sepenuhnya apa arti dari idealisme itu sesungguhnya. Apalagi bli Cahya menambahnya dengan pandangan yg dapat membuka wawasan, sip 🙂

  14. Posted 03/04/2011 at 21:51 | Permalink

    Kalo untuk blog saya sih, pengunjung idealnya suka hal simpel dan menghibur. 😀

    Ternyata pengunjungnya pun ada yang dari kalangan “serius”. 😀

    • Posted 03/04/2011 at 22:15 | Permalink

      Saya kira jg begitu Kim. Dengan itu kamu bisa lebih nyaman kan nulisnya? Karena kamu sudah tahu model pembaca bagaimana yang cocok dgn tulisan kamu. Dan kalau ada yg ‘serius’ nanggepin, yah bonus deh 🙂

  15. Posted 03/04/2011 at 22:35 | Permalink

    saya biasanya hanya sekedar menulis apa yg ada di kepala mas.. jadi saya tuangkan langsung akan tetapi saya jg membuat tulisan yg enak dibaca orang lain..
    tak ada yg ideal tp berusaha untuk ideal 😀

    • Posted 03/04/2011 at 23:12 | Permalink

      Hmm, boleh juga Mas Tom. Lagi pula proses ‘menjadi ideal’ itu memang harus terus digalakkan! hehe 🙂

  16. Agus Siswoyo
    Posted 03/04/2011 at 21:51 | Permalink

    Menciptakan niche atau topik tertentu dalam ngeblog bagi saya adalah satu keharusan. Semakin jelas topik yang kita ambil, semakin fokus kita mengambil sudut pandang. Tulisan kita nggak akan terpecah-pecah ke dalam hal-hal yang tidak ada relevansinya.

    Namun untuk menciptakan pembaca yang ideal rasanya kok nggak mungkin ya. Kan tidak ada batasan siapa saja yang boleh buka blog ini. Siapapun bisa mengakses dengan sengaja atau memang kesasar dari search engine. Kecuali kalau sebelum masuk halaman HOME dikasih warning: ADULT CONTENT: Please verify your age 18+! Mungkin lain lagi ceritanya… 🙂

    • Posted 03/04/2011 at 22:22 | Permalink

      Ya, betul mas. Makin fokus topik kita, maka makin terarah apa-apa yang dituangkan. Ini yang juga saya dapat dari blog mas Agus.

      Nah, ini dia. Kalau realitasnya memang gak mungkin mas. Saya hanya mencoba mengimajinasikan pembaca ideal yang paling terkena/tergigit dengan apa yang saya tulis, dengan maksud agar tulisan saya lebih nyaman dan terarah. Karena saya tahu, kemampuan saya terbatas dan gak mungkin memenuhi apa yang diharapkan oleh pembaca dari semua kalangan. Jadi, saya main andai-andai saja 🙂

  17. iskandaria
    Posted 03/04/2011 at 21:58 | Permalink

    Kalau pendapat saya begini mas.

    # Kalau yang pertama, kita pasif dan hanya berusaha menulis sesuai karakter atau gaya kita. Lalu dari situ kita bisa mengenal tipikal pembaca loyal yang tertarik dengan tulisan-tulisan kita.

    # Nah, kalau yang kedua, kita aktif dan berusaha menulis dengan target pembaca tertentu yang ingin kita ciptakan.

    Mana yang lebih baik? Kalau saya ambil jalan tengah saja. Berusaha menulis sesuai karakter/gaya sendiri dan juga sekaligus berusaha menyesuaikan dengan target pembaca pada tulisan/postingan yang akan saya publish. Jadi, ada kompromi di situ.

    • Posted 03/04/2011 at 22:27 | Permalink

      Superb! Cocok sekali mas 😀

      Gagasan Mas Is inilah gambaran dari apa yang saya ingin ungkapkan. Opsi kedua mencerminkan maksud dari artikel ini, yaitu menciptakan pembaca ‘yang tertarget’. Mungkin saya yang terlalu berlebihan dengan memakai kata ‘ideal’ sehingga banyak yg menyalahartikannya dengan kesempurnaan. Sebenarnya bukan itu maksud saya. Intinya ya yang ditulis Mas Is itu 🙂 Great!

  18. Posted 03/04/2011 at 23:15 | Permalink

    perlu engga ya pembaca ideal???

    memikirkan pembaca ideal dalam menulis itu seperti ingin membangun tipe pembaca tulisan kita. padahalkan setiap orang itu unik.

    menciptakan segmen pembaca itu memang perlu karena akan dapat melihat segmen pasarnya juga. namun jika seperti saya yang menulis apa adanya saat ini rasanya sulit juga melihat siapa sih pembaca ideal saya? karena saya memang belum membentuk karakter saya lebih spesifik dengan demikian pembacanya pun masih umum. hehe

    • Posted 04/04/2011 at 08:07 | Permalink

      Untuk membangun pembaca ideal, itu mustahil Kang, mengingat alasan yang ditulis Kang Andi juga, bahwa setiap orang itu unik. Saya bukan ingin mengajak tuk membentuk itu. Saya cuma share saja gimana caranya agar proses menulis jadi nyaman, salah satunya ya membayangkan kita menulis untuk sahabat karib, yg saya istilahkan dengan ideal, karena lebih spesifik (seperti kata Pak Mars di atas).

      Btw, ane termasuk lingkup pembaca ideal blog Kang Andi lho *hehehe* 😀

  19. Zahra
    Posted 03/04/2011 at 23:10 | Permalink

    Semoga pembacaku ideal, aku berusaha menciptakannya, terutama dari artikel dan opini di kolom komentar dengan subjek.
    Menjadikan hidup komentar yang ideal. Aku soalnya ga bakat nulis..

  20. kamaropini
    Posted 03/04/2011 at 23:30 | Permalink

    tembak market aja mas…
    blog seperti bisnis, kriteria konsumen kita ke arah mana nih, siapa, dimana, atau bagaimana, apa yang dijual, itu semua strategi market/pasar untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
    blog juga begitu, kalau ingin memposting untuk sekedar curhat mungkin masyarakat segala usia bisa, tapi kalau spesifik misalnya pembahasan perangkat komputer, ya bagi yang memang dibidangnyalah yang akan dapat mengambil manfaat lebih dibandingkan yang awam.
    Jadi idealnya dari kita sendiri, ingin ke siapa artikel ditujukan. Karena tidak mungkin semua kalangan masyarakat kita beri artikel kita, akan sangat melelahkan dan kurang efisien.

    • Posted 04/04/2011 at 08:10 | Permalink

      Yup, setuju banget nih. Dengan menentukan market dulu, mungkin nanti hasil tulisan kita akan betul2 tertarget. Iya juga, kalau isinya curhat mungkin segala usia bisa membaca, tapi bukan berarti bisa ‘nyambung’, ini intinya.

  21. Lynda Ayu
    Posted 03/04/2011 at 23:49 | Permalink

    Kalau menurut saya kita perlu menciptakan pembaca ideal. Dalam artian, kita memang harus memberitahu kepada semua orang bahwa blog kita memang berisi informasi yang mereka cari. Kan kadangkala ada juga ketika kita search topik di search engine, kita masuk ke website atau blog yang tidak relevan dengan apa yang kita inginkan.

    Jika ada pengunjung yang datang ke blog kita tapi tidak sesuai dengan apa yang mereka cari ya anggap saja bonus. Kan mereka jadi dapat informasi tambahan. Yang tadinya belum tahu, jadi tahu. Hehehehehe…

    Salam blogger

    • Posted 04/04/2011 at 08:12 | Permalink

      Sepakat Lin, inilah intisari gagasan di balik artikel ini. Sip *tos* 😀

  22. Ami
    Posted 04/04/2011 at 03:55 | Permalink

    Wah, komentarnya panjang-panjang. Diskusinya seru ya. Soal pembaca ideal setelah 6 bulan ngeblog gak ada. Kalo ada postingan renungan berat terus ditumpuk bahasan ringan, jadi posting langsung dua kali. Supaya yang komen gak usah mikir berat, yang mau mikir bisa komen di posting sebelumnya.

    Kritikusku salah satunya kakakku sendiri yang gak pernah ngeblog. Susah juga ngejelasin perlunya BW, haha… Setelah followernya banyak bingung balesin komentar. Mutusin balesin komen lewat BW aja.

    Tapi belum niat hijrah dari blogspot kayak mas Darin, yang ngejawab komentarnya lebih mudah karena ada kolomnya.

    Jadi pembaca idealku gak ada kriteria, dari follower, blogger yang ajak kenalan, terus yang tersesat dari google search (dan ini paling banyak). Dari stats, keywordnya yang kayak keteladanan Nabi saw, menghilangkan gelisah, kucing hitam, kadang lucu ngebaca keyword orang-orang, hehehe…

    Ma kasih ya tulisannya… Seneng bisa ngebaca tulisannya lagi. Kapan2 bikin komik yah…

    • Posted 04/04/2011 at 08:19 | Permalink

      Hehehe, ya gitu lah Mi. Untuk blog ber-genre keseharian seperti punya Ami tentunya pembaca idealnya adalah seseorang yang sudi mendengar dan memberikan feedback, bukan begitu?

      Wah, bonusnya yg dateng dari search engine aneh2 banget 😀 Kucing hitam? hehehe. Oks Mi, saya jg kangen bikin komik lagi.

  23. Posted 04/04/2011 at 09:02 | Permalink

    Memang kita bisa lebih enak jika menyampaikan sesuatu dengan gaya bahasa yang sesuai dengan orang yang kita hadapi. namun sisi negatifnya kadang hal seperti ini menjadikan bahasan kita hanya terbatas pada kalangan tertentu saja. so sebelum menentukan tentang pembaca ideal. alangkah baiknya ditetapkan dulu arah blog yang di kelola ini diperuntukkan untuk siapa? baru kita bisa menentukan gaya bahasa yang akan kita pakai.

    • Posted 04/04/2011 at 12:04 | Permalink

      Ini dilemanya. Tapi bukankah dengan makin spesifik blog maka makin diingat? Blog untuk kalangan tertentu memang terkesan membatasi diri, namun saya kira dengan cara itulah kita bisa ngeblog dgn lebih nyaman.

      Wah ide yg bagus. Ya, menetapkan dulu tujuan blog dulu baru menyesuaikan gaya bahasanya pun sip. Tentu sobat yg lain juga setuju?

  24. iskandaria
    Posted 04/04/2011 at 12:12 | Permalink

    Wew, hebat deh mas. Rata-rata komentar untuk postingan ini berbobot dan agak panjang. Mas Darin sukses tuh memancing diskusi 🙂

    • Posted 04/04/2011 at 12:52 | Permalink

      Saya belajar banyak dari Mas Is. Dan mulai paham, ternyata blogging juga bukan semata sharing apa-apa yg kita ketahui, tapi bisa juga menanyakan hal2 yg ingin kita ketahui dari pembaca. Bukan begitu? 🙂

  25. Posted 05/04/2011 at 07:39 | Permalink

    Pembaca yang dibayangkan Mas Darin di artikel ini berumur antara 18 sampai 30 tahun. Wah, saya tidak masuk range, nih. Umur saya sudah mendekati kepala 4 je. 🙂

    Saya bisa nangkep maksud dari Mas Darin di artikel ini meski di muka sempat ada perbedaan persepsi antara kata “ideal” dan kata “spesifik.” Betul?

    Saya pernah membaca sebuah ebook yang ditulis oleh seorang pakar internet marketing. Intinya begini, pembaca internet itu sangat beragam. Baik tingkat pendidikan, usia maupun ketertarikannya pada bidang tertentu. Membidik market (niche) tertentu memang baik karena tulisan kita akan mengena ke sasaran kepada orang-orang yang kita target. Dan ini sangat baik secara marketing. Artinya, contoh misalnya kalau tulisan kita lagi mengulas tentang kecantikan tentu bahasa dan segala macamnya harus menyasar untuk orang kelas menengah dan wanita.

    Lalu bagaimana dengan sebuah blog, perlukah kita menciptakan pembaca ideal untuk blog kita? Jika pertanyaan ini ditujukan buat saya, saya jawab tergantung situasinya dulu. Kita ngeblognya seperti apa. Menulis dan membatasi tema tertentu apa tidak. Kalau saya karena blog hanya tempat beropini dengan bermacama-macam topik maka saya tak perlu menargetkan hal ini. Mengapa? Karena Google selama ini sudah sangat pintar memilihkan artikel buat pengunjung blog saya.

    Contoh, artikel yang mengulas tentang TDL oleh Google disodorkan kepada orang-orang yang mencari informasi seputar kenaikan listrik tersebut. Bukan disodorkan ke ibu-ibu yang lagi cari lingerie. 😀

    • Posted 05/04/2011 at 07:57 | Permalink

      Ada yang kelupaan masalah bahasa dan cara nulisnya. Satu lagi katanya, usahakan tulisan kita tidak terlalu tinggi bahasanya. Yaitu terlalu hightech, banyak idiom asingnya, banyak bahasa gaul atau dialek daerahnya, dan juga tidak terlalu rendah seperti bahasa mengajari anak TK/SD. Kita disuruh membayangkan usia pembaca kita berumur belasan tahun atau tingkat pendidikannya setara SMP. Dan bayangkan tulisan kita bahasanya mudah dipahami (dicerna) oleh orang dalam range tersebut. Itu katanya.

  26. kang ian dot com
    Posted 10/04/2011 at 18:27 | Permalink

    sekarang saya mau fokus ke pembaca yang udah pada berkeluarga, muslim, melek teknologi dan maniak blogging tapi memang masih belum tepat sasaran haha masih bergerak maju lah,,

  27. Grandchief
    Posted 26/07/2011 at 12:52 | Permalink

    Belum kepikiran sampai kesitu,saat ini masih mengidealkan tulisan dengan gagasan yang muncul di benak pribadi 🙂

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
*