Punahnya Metode Hafalan Dibalik Gemerlap Metode Pemahaman

Apakah metode hafalan telah mulai ditinggalkan? Pertanyaan ini kembali mengusik dan memetik rasa keingintahuan saya sehabis membaca sebuah buku bagus yang berjudul Mengapa Saya Menghafal Qur’an? karya Dr. Khalid Al-Laahim.

Sungguh siapapun orang yang meremehkan metode menghafal, seandainya mau merenungi dirinya sendiri niscaya dia akan mendapatkan bahwa tidak mungkin bagi dirinya untuk bisa hidup dan tidak pula bisa sukses di dalam hidup tanpa hafalan.

Alasan-alasan sederhana yang dikemukakan buku ini memang logis. Apa mungkin bisa supel bergaul dan hang out dengan teman-teman tanpa menghafal nama-namanya, apalagi bila teman kita memiliki nama panggilan khusus yang lebih disukai? Untuk mengirimkan sebuah kabar atau berita pun kita harus menghafal isi pesan tersebut. Yang doyan dengan reaksi kimia, tentu diharuskan menghafal unsur-unsur di tabel periodik dulu sebelum memahami proses aksi-reaksi kimiawinya di laboratorium. Belajar bahasa Inggris juga pasti pada mulanya harus berkutat tuk menghafal kosakata sebanyak mungkin.

Namun akhir-akhir ini muncul pandangan atau paradigma yang menyatakan bahwa era metode hafalan telah berakhir dan harus digantikan oleh metode yang lebih maju, yaitu metode pemahaman. Metode hafalan lebih dikonotasikan atau disamakan dengan metode yang sudah kuno, out of date, tak memiliki nilai kreativitas, dan hanya dengan metode pemahaman lah proses belajar akan lebih bermakna. Pandangan ini lahir dengan ditandai hadirnya berbagai teori pembelajaran yang mengagungkan kreativitas, seperti Quantum Learning, Accelerated Learning dan teori-teori lain yang memberi jalan pintas tuk mempelajari suatu hal tanpa harus repot-repot menghafal.

Metode Menghafal

Teorinya memang bagus. Setidaknya metode ini mampu mempersingkat kinerja otak dan secara tidak langsung menambal kekurangan kemampuan kita dalam menghafal yang seharusnya telah diasah sejak kecil. Contoh mudah ya tentu kita semua ingat dan hafal warna-warna di pelangi hanya dengan cukup menghafal satu kata, mejikuhibiniu, yang secara reflek akan mengingatkan kita pada warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Waktu SMA dulu, yang mendapatkan mata pelajaran kimia pasti dianjurkan tuk membuat kalimat-kalimat sendiri tuk menghubungkan unsur-unsur yang ada di tabel periodik, seperti Hah! Lina kok raib! Calon suaminya frustasi! untuk mengurai unsur-unsur golongan Alkali: H (Hidrogen), Li (Lithium), Na (Sodium), K (Potassium), Rb (Rubidium), Cs (Cesium) dan Fr (Francium). Kreatif kan?

Dan teori ini sepertinya didukung pula oleh anggapan bahwa generasi penghafal adalah biang kerok dari lambatnya proses pendidikan dan gaya belajar. Andrias Harefa dalam bukunya yang berjudul Mengasah Paradigma Pembelajar bahkan terang-terangan ‘menyindir’ generasi ini adalah adalah generasi dangkal yang mirip mesin penjawab telepon otomatis, yang mampu lugas menjawab semua pertanyaan tanpa berfikir akan maknanya.

Kebiasaan menjawab sebelum berfikir ini adalah kebiasaan yang memang telah disosialisasikan secara efektif oleh lembaga-lembaga pengajaran alias sekolah dan universitas, yang selama beberapa dekade terakhir sangat indoktrinatif, mekanistik, penuh hafalan, dan sangat tidak toleran terhadap keingintahuan (curiosity) dan kreativitas (creativity).

Benarkah begitu? Apakah dengan menyingkirkan metode hafalan dan memberikan porsi lebih pada metode pemahaman akan memberi solusi yang tepat bagi kemajuan proses pembelajaran?

Merujuk kembali pada buku Dr. Khalid Al-Laahim, sebenarnya dua metode ini adalah dua rukun yang tak terpisahkan dalam dunia pendidikan. Metode hafalan dan metode pemahaman dapat bersinergi dan tak dapat berjalan sendiri-sendiri satu dengan yang lain.

Untuk itu, beliau menganjurkan kita tuk melihat masalah pendidikan sebagai sesuatu hal yang bertahap di setiap periode lima tahunan masa subur pembangunan ilmu setiap manusia, yaitu dimulai sejak dari umur lima tahun. Lima tahun pertama didedikasikan hanya untuk menghafal dan lima tahun berikutnya beranjak ke pemahaman tingkat pemula. Dan setelah pondasi sepuluh tahun ini kokoh baru meningkat ke lima tahun berikutnya untuk pemahaman yang lebih mendalam. Begitu seterusnya, hingga program pendidikan lima tahunan ini membawa kita ke tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Tapi tetap, inti dari proses ini ada di lima tahun pertama, yaitu proses menghafal.

Benar, anak kecil menghafal dan kita tahu ia tidak faham dengan apa yang ia hafal, akan tetapi setelah beberapa tahun kemudian ia akan sangat membutuhkan hafalan ini. Apabila ia meninggalkan hafalan ini ia akan mendapatkan kemudharatan.

Hmm, jadi ingat dengan perumpamaan: mengajarkan ilmu pada anak kecil seperti memahat sebuah batu, sedang mengajarkan ilmu pada orang dewasa seperti memahat di atas air, betul?

Ok, lalu kenapa kini metode pemahaman dengan istilah-istilahnya yang gemerlap itu lebih digandrungi? Saya kira itu karena sifatnya yang urgent dan mendesak. Kita hidup di zaman globalisasi informasi yang menuntut segalanya berjalan lebih cepat dan instan. Bila kita belajar, kita ingin menikmati pengaruhnya secara langsung dalam waktu singkat. Tak heran jika sekarang banyak bermunculan kursus-kursus, pendidikan kilat, dan bimbingan belajar yang menjanjikan anak didik lebih pintar hanya dalam waktu hitungan bulan. Ngga salah sih, cuma sepertinya cara-cara ini malah jadi prioritas ketimbang merencanakan dan membentuk pribadi-pribadi unggul sejak dini.

Menukil petuah dari Dr. Khalid:

Mencampur-adukkan antara hafalan dan pemahaman adalah kesalahan besar dalam ilmu pendidikan yang terperosok ke dalamnya sebagai metode pendidikan di zaman ini, sehingga menyebabkan kegagalan dan kelemahan dalam membentuk kepribadian manusia yang kuat dan mampu untuk berbuat banyak dalam kehidupan.

Well, sayangnya kelemahan dan kegagalan itu sudah terlihat dengan jelas efeknya di negeri ini. Seorang menteri mendadak lupa dan tak hafal nama bawahannya, terdakwa koruptor tak ingat nama-nama dan kejadian kemarin sore, orang-orang pintar di kursi dewan tak hafal lagi jadwal sidang, dan sederet peristiwa memalukan lainnya, yang mungkin menjadi potret dari miskinnya pendidikan hafalan mereka sejak kecil.

Sungguh kasihan.

Bagaimana dengan kita?

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Opini, Perspektif and tagged , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Punahnya Metode Hafalan Dibalik Gemerlap Metode Pemahaman

  1. Ami says:

    kalo koruptor sih… lupanya beneran ato enggak kan perlu dipertanyakan

  2. Wah masing masing ada keunggulannya nih…kalau menurut saya dua duanya aja

  3. Din Afriansyah says:

    Saya pernah nonton bincang-bincang dengan Ayah Edy, beliau mengatakan menghafal adalah metode pembelajaran yang tidak ramah otak terutama untuk anak . Dan saya setuju dengan hal itu.

  4. maminx says:

    beberapa mesti dihapal tentunya, banyak juga yang harus dipahami dengan metoda pemahaman. Quantum Learning juga harusnya luas kan ya gak cuman kayak belajar cepat menghapal “mejikuhibiniu” itu. Bisa juga yang metoda mencatat dengan sistem pohon itu yang di warnai, jadi gak monoton kayak biasa kita nulis gitu. cmiiw 😛

  5. Hafalan dan pemahaman memang punya porsinya tersendir, tidak boleh di pisahkan. Dulu waktu kecil saya ngak mikir untuk memahami makna maupun arti dari alfatihah dan hanya berpikir buat ngapalin aja, setelah baliq saya baru diajari untuk memahami isi surat tersebut. 😀

    Paragraf terakhir cukup menyindir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *