Review Buku: Hidup Sederhana (Desi Anwar)

Setelah berpeluh imajinasi dengan novel Inteligensi Embun Pagi, buku selanjutnya yang menemani hari-hari saya adalah buku Hidup Sederhana yang ditulis oleh Desi Anwar.

Buku setebal 288 halaman ini adalah tulisan-tulisan singkat tentang renungan, pengamatan dan pemikiran penulis, yang mana intisarinya berasal dari pengalaman, kenangan masa kecil, pandangan hidup dan kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukannya untuk menyiasati kerumitan hidup sehari-hari.

Review Buku Hidup Sederhana Desi Anwar1
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Struktur bukunya seperti kumpulan kolom surat kabar. Dengan alur tulisan to the point, saya serasa tak banyak mengerutkan kening dari mula awal tiap artikel. Latar belakang penulis sebagai jurnalis memang sangat kentara dalam gaya penulisannya di buku ini, namun bukan berarti penuh dengan kiasan hiperbola yang akhir-akhir ini kerap digunakan oleh media.

Ya, sesuai judul bukunya – Hidup Sederhana – penulis seakan mengajak kita untuk menyingkap tabir kesibukan hidup untuk menemukan hal-hal yang selama ini mungkin ada dalam diri kita, tapi tak terasa keberadaannya.

Hal itu penulis refleksikan dari pengalaman hidup dan menyajikannya pada tiap bab yang dapat diselami tanpa harus dibaca berurutan. Dari mulai bahasan mengenai rasa gengsi bertanya yang kerap menjangkiti orang dewasa, dimana penulis mengajak kita tuk belajar dari kepolosan masa kecil yang spontan bertanya ini itu jika tidak mengerti cara kerja sesuatu, hingga menyentil betapa kita ingin selalu terlihat sok sibuk tanpa sekalipun sejenak berhenti untuk bernafas dan memberi ruang pada jiwa dan pikiran.

Ok, berikut beberapa poin menarik yang saya petik dari buku ini:

Belajar lebih santai menyikapi hidup dan menghargai kehidupan nyata

Tuntutan kehidupan yang semakin kompleks tak jarang membuat kita lupa untuk bersantai. Penulis bahkan menggambarkannya bagai sebuah kemewahan saat rehat sejenak ke kamar kecil di tengah padatnya waktu kerja. Segala ketergesaan yang dibuat sendiri oleh kita adakalanya malah menjauhkan diri dari sesuatu yang lebih bermanfaat untuk perkembangan pribadi.

Pada kenyataannya, kita tidak hanya terlalu sibuk untuk mengerjakan apapun, tapi juga sering kali menggunakan kesibukan kita sebagai dalih untuk tidak mengerjakan sesuatu yang benar-benar bernilai…

Memiliki hobi, tatap muka dengan teman, makan dan minum dengan bijak, serta melakukan aktivitas yang jauh dari hiruk pikuk denyut dunia, adalah perkara ringan, namun berat jika kita secara sengaja mengabaikannya.

Baca Juga:  Seberapa Gilakah Anda Membaca Buku?

Penulis pun menyinggung cara pandang kita perihal peranan teknologi informasi, khususnya media sosial:

Kita bisa punya ribuan ‘teman’ dan ‘follower’ kendati kita tak pernah melihat atau berjumpa dengan satu pun dari mereka; dan bahkan meskipun kita tak punya satu teman pun di kehidupan nyata untuk menemani minum teh.

Sosialisasi instan berkedok kecepatan ini menjauhkan diri dari fitrah, bahwasanya manusia lebih puas kala berinteraksi di kehidupan tiga dimensi, bukan di dimensi ke-empat alias dunia maya, dimana penulis menggambarkannya dengan apik:

Dunia maya adalah dunia yang membuat kita tidak pernah merasa kesepian, namun juga tidak membuat kita lebih bahagia, lebih puas, atau menikmati hubungan yang lebih baik satu sama lain.

Saya jadi ngeh. Coba saja perhatikan saat makan bersama di restoran atau sekedar nongkrong di lesehan. Kini sangat jarang sekali yang bercakap dan bersenda gurau tanpa sesekali mengecek ponsel mereka, kan?

Mendefinisikan kembali arti sukses dan kebahagiaan

Secara pribadi, dan saya yakin Anda pun bakal setuju, arti sukses itu ketika kita meraih impian dan mendapatkan materi yang diidamkan. Bahkan kadang kala sukses diartikan sebagai perasaan memiliki pencapaian yang lebih dibanding orang lain yang kita jadikan ukuran, betul?

Namun saya tercenung ketika membaca kalimat di buku ini:

Membandingkan diri dengan mereka dan menginginkan menjadi seperti mereka adalah cara yang bagus untuk memotivasi kita agar bekerja lebih keras, tetapi sebaiknya hal itu tidak dijadikan tolak ukur kesuksesan kita, sebab ukuran itu akan selalu berubah dan luput dari jangkauan kita.

Benar juga. Jika kita melulu mengartikan sukses adalah ketika bisa memiliki motor seperti tetangga sebelah, misalnya, apalah artinya kalau setelah motor terbeli, eh, tetangga sebelah itu baru saja beli mobil. Jadilah kita dibuat frustrasi dan berfikir lebih keras lagi untuk mengejar kesuksesan dengan ukuran yang lebih tinggi.

Baca Juga:  Menelisik Buku Tafsir Al-Quran Di Medsos (Nadirsyah Hosen)
Review Buku Hidup Sederhana Desi Anwar
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Penulis menyarankan, adalah lebih bijak jika kita membuat ukuran kesuksesan sendiri dari mulai hal-hal kecil dan personal. Misalnya, target menamatkan membaca satu buku selama seminggu, menjaga kebugaran dan membiasakan makan makanan sehat. Meskipun tidak relevan dengan orang lain, ukuran sukses yang dibuat sendiri niscaya akan membuat persepsi pribadi meningkat, baik dari segi kesehatan maupun kinerja.

Terlebih lagi, memiliki ukuran sukses sendiri itu membebaskan kita dari penyakit yang paling parah dan paling menggerogoti, dan juga merupakan akar semua ketidakbahagiaan, yaitu iri hati.

Nah, kan? Berikutnya lebih menohok:

Bila Anda sudah terbebas dari kungkungan rasa iri, sukses tidak lagi perlu Anda kejar, melainkan akan menjadi sahabat baik Anda yang mengikuti kemana pun Anda pergi.

Belajar menyederhanakan fikiran dan hiduplah di saat ini

Carpe diem, itu istilah yang paling sering kita dengar, tapi yang kita lakukan sering kali malah sebaliknya, kurang fokus menjalani hari karena membiarkan pikiran berlari liar kesana kemari. Buku ini menekankan perlunya menyederhanakan pikiran dan menggunakannya dengan penuh kesadaran. Menyadari bahwa kita lah otoritas tertinggi pada jalan pikiran sendiri.

Menyederhanakan pikiran memang tak mudah, seperti yang penulis ungkapkan:

Yang lucu tentang pikiran itu adalah bahwa ia selalu bekerja. Ia seperti mesin yang tidak pernah mati, bahkan tanpa seorang pun yang menjalankannya. Walau ketika tubuh sudah lelah dan kita sudah kehabisan obrolan, pikiran masih saja berputar-putar, merencanakan, memikirkan, dan mengomentari ini itu.

Ya, pernah juga kan waktu berbincang dengan teman tapi kita seperti melamuni sesuatu. Ngobrolin tentang anak kos baru yang imut, tapi pikiran malah menganalisa tim sepak bola pujaan yang dibantai semalam. Raga hadir, tapi pikiran entah kemana.

Baca Juga:  Hello Darinholic, How Are You?

Penulis menyarankan, lakukanlah tindakan sederhana dan niatkan diri untuk hadir sepenuhnya. Seperti saat menyikat gigi, kita bisa mulai lebih merasakan sensasi di mulut, gerakan tangan naik turun, sampai membilas mulut. Ketika jalan-jalan, rasakan gerakan kaki kita, kontur tanah yang diinjak, aroma udara, bunyi-bunyian dan pemandangan.

Jika kita hadir di sini dan saat ini ketika melakukan sesuatu, bahkan hal yang paling sepele sekalipun, maka kualitas segala yang kita lakukan akan semakin baik, sebagaimana kondisi jiwa dan kualitas pikiran-pikiran kita. Suka cita dan rasa syukur pun akan menjadi fitrah alami keberadaan kita…

Pikiran memang liar, namun bisa juga terlalu menuntut. Saya pun kadang begitu. Saat sesi survey di lokasi yang belum pernah dikunjungi dan tak ada relasi satupun disana misalnya, saya sering memikirkan hal non teknis sedetil mungkin seakan bakal mengunjungi area tak bertuan. Bahkan pada saat sudah sampai di lokasi pun masih memikirkan hal yang sama.

Itu sama saja seperti menjelajahi hutan dengan cara mengamati pohon-pohonnya. Bukankah lebih baik menikmati waktu dengan berjalan-jalan di hutan ketimbang memeriksa kulit kayu satu demi satu di tiap pohon?

Tuh, jadi kesindir saya.

Review Buku Hidup Sederhana Desi Anwar
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Sebenarnya masih banyak hal yang bisa dijadikan inspirasi dari buku ini, baik yang tersurat maupun tersirat. Bagi saya, membaca buku Hidup Sederhana ini seperti layaknya menelusuri arsip sebuah blog (atau jangan-jangan pernah ditulis di blog dan dibukukan?), dimana saya bisa langsung membuka arsip posting sembarang, membaca tulisan dan memungut sisi positifnya.

Well, saya menyadari, poin-poin yang disebut di atas hanyalah berupa keratan kecil dari sebuah roti yang besar. Itu pun subyektif. Bisa jadi Anda memiliki pandangan yang jauh berbeda dan mendapat pencerahan yang lebih kaya dari saya jika membacanya.

Apapun itu, semoga bermanfaat.

And have a nice day!

Blogger yang sedang nge-freelance di ujung timur Indonesia. Suka nulis, baca buku, musik dan nggambar. Contact | Subscribe RSS Feed or Email

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer