Review Buku: Melejitkan Otak Lewat Gaya Menulis Bebas (Freewriting) 2 – Kuncinya, Rileks Dan Santai

Posted on

Tulisan ini adalah kelanjutan dari seri sebelumnya.

Dalam sebuah gerbong kereta api yang bergerak menuju London, di tengah suasana rileks dan nyaman, seorang ibu muda menemukan gagasan cerita tentang bocah laki-laki penyihir yang memiliki tanda petir di dahinya. Selama 4 jam perjalanan tersebut, ia begitu bersemangat menuliskan plot-plot cerita, nama-nama unik dan semua hal mendetail di media apapun yang ia temui. Ia menulis outline cerita itu dengan sangat cepat, hingga hanya dalam tempo yang singkat, kisah bocah lelaki yang dinamakan dengan Harry Potter itu telah siap dituangkan dan ‘dibumbui’ sesampainya di tempat tujuan.

Jadilah sebuah rumus sederhana: JK Rowling + Rileks = Harry Potter.

Menulis Santai

Well, kondisi rileks ternyata bukan hanya berguna bagi kesehatan tubuh dan jiwa, karena dalam menulis pun kondisi ini dapat memberi ‘kesehatan’ tersendiri bagi penulisnya. Dengan rileks, kita bisa lebih leluasa ‘memuntahkan’ apa yang ingin diungkapkan lewat tulisan tanpa khawatir penilaian bagus atau jelek maupun logis atau tidak. Rowling telah membuktikannya sendiri. Topik tentang bocah penyihir pasti akan menjadi bahan tertawaan bagi penerbit manapun jika tak didukung oleh alur cerita yang hebat. Dan alur cerita yang hebat lahir dari tulisan yang lancar mengalir, lalu bagaimana agar tulisan bisa lancar dan mengalir? Metode freewriting adalah jawabannya.

Sesuai dengan statemen dalam buku ini:

Freewriting itu adalah proses menulis tanpa henti, tanpa proses editing, tanpa cemas tentang penggunaan kosakata atau tanda baca, tanpa berfikir serius, dan dilakukan dalam kondisi santai.

JK Rowling mungkin tak menyadari bahwa yang dilakukannya adalah sebuah metode yang paling manjur dalam proses menulis, karena ternyata di era tahun 60-an metode freewriting ini telah lahir.

Menulis FreewritingYa, freewriting adalah sebuah metode yang diracik secara β€˜tidak sengaja’ oleh Peter Elbow, seorang profesor MIT (Massachussets Institute of Technology). Sebelumnya, semasa sekolah tingkat atas di William College, Peter termasuk murid yang sangat cerdas. Namun kecerdasan itu perlahan memudar saat ia meneruskan pendidikan di Universitas Oxford. Di masa-masa perkuliahan itu Peter merasa kesulitan untuk menulis esai dan tugas-tugas yang diberikan oleh para pengajarnya, dan itu menjadi kian parah saat ia melanjutkan studinya di Harvard.

Setelah akhirnya lulus dan menjadi dosen di MIT, ia pun merintis sebuah sekolah yang bernama Franconia College (1963-1965). Nah, di sekolah rintisannya inilah bibit-bibit pencerahan dari metode freewriting tumbuh. Apa pasal? Berawal dari pengalamannya sendiri bahwa ia merasa lebih rileks dan nyaman menulis sesuatu untuk teman dan sesama koleganya dibanding jika ia menulis untuk guru dan pengajar seniornya, Peter lalu menarik sebuah kesimpulan: rasa takut adalah salah satu penghalang untuk menulis.

Jadi untuk mengatasi hambatan dan kebekuan dalam menulis, salah satu caranya adalah dengan cara menganggap orang-orang yang akan membaca tulisannya sebagai β€˜teman’.

Gambarannya, jika ingin menulis novel, anggap pembaca sebagai teman. Ingin menulis posting blog, anggap pengunjung sebagai teman. Ingin menulis uneg-uneg ke presiden, anggap si presiden dulunya teman sebangku saat SD. Ingin menulis apapun, pastikan dalam fikiran bahwa yang akan membacanya adalah seorang teman. Mengapa? Karena langkah awal untuk bisa memulai proses freewriting adalah: rileks dan santai.

Buku ini menjelaskan:

Kalau sudah santai, mulailah untuk menuangkan gagasan apa pun yang kamu punya, sapu bersih kekhawatiran tentang masalah teknis seperti pemilihan suku kata, kosakata, peletakan titik-koma, dan ejaan-ejaan teknis yang harus dianut.

Selanjutnya:

Jadilah dirimu sendiri. Apabila kamu berhadapan dengan subyek tulisan yang ‘berat’ dan sulit (berduri-duri), cobalah gunakan bahasa kamu sendiri untuk menjelaskan subyek tulisan tersebut. Takut salah? Jangan khawatir. Kamu bisa mengeditnya nanti.

Ok, sudah rileks dan santai? Mulailah menulis and happy blogging, sobat! πŸ™‚

PS: Nantikan review buku Melejitkan Otak Lewat Gaya Menulis Bebas (Freewriting) di seri berikutnya.

22 thoughts on “Review Buku: Melejitkan Otak Lewat Gaya Menulis Bebas (Freewriting) 2 – Kuncinya, Rileks Dan Santai

  1. Rileks dan santai. Boleh saja kita membuat target menulis, tapi jangan pernah menjadikan beban sebab ide seringkali datang dan pergi tanpa diundang ataupun diantar ( meski bukan pula Jaelangkung ), yang tepat adalah jangan sia-saiakan ketika ide datang, dan jangan memaksa untuk mendapatkan ide, karena sesuatu yang dipaksa tidak akan maksimal hasilnya.

  2. Mungkin hilangnya semangat ngeblog saya beberapa hari ini. Karena tidak ada rasa rileks dan santai, dalam memunculkan sebuah ide yang akan dicoretkan pada sebuah lembaran kertas baru. Mungkin saya harus mengikuti saran dari penulis novel “Harry Potter” ini, JK Rowling…

  3. dan saya komentar di sini juga dalam keadaan super santai mas, jadi lancar nih komenku tanpa takut salah.. khan nanti bisa mas edit komen saya.. iya toh? hhehehhee

  4. kalau saya sih susah kapan menemukan waktu terbaik untuk mencurahkan segala pikiran ke dalam bentuk tulisan, kadang saya merasa lancar ketika sedang rileks, kadang saya merasa lancar ketikas sedang terjepit keadaan diburu waktu, kadang ketika sedang sedih ada banyak ide mengalir sebagai pelampiasan πŸ™‚

  5. Menarik kalau juga di selipkan tips tempat dimana menulis mas, seperti kalau di rumah baiknya di kamar, di ruang tv, atau ada ruang khusus semisal ruang kerja, dll. Atau mungkin ada juga yang menulisnya bisa santai kalau di mall (harus yang ada hotspotnya), DLL. heuheuhuhe

  6. menarik sekali nih, sebuah pesan yang bagus untuk saya yang kerap terbebani juga kalo nulis.
    Trims Mas .. pesannya luar biasa πŸ™‚
    Salam

  7. wah gara2 baca resensi bag 1 dan 2 ini saya tertarik untuk beli bukunya. saat ke toko buku langsung menuju ke komputer yang berguna untuk mencari buku yang dicari masih ada stok atau tidak. dan ternyata masih ada beberapa dan sekalian ada informasi tentang dimana rak itu berada. dan sssstt ga lama kemudian saya menemukan buku itu. ga terbayang kalau sekedar lihat2, tentu saya tidak tertarik, mengingat bukunya yang kurang menarik sampul dan judulnya. dan kata ‘freewriting’ di sampul itu yang menjadi daya tarik saya akan melihatnya dan mungkin akan membelinya kalau tidak tergoda dari resensi yang anda tulis.

    buku sudah saya baca, dan ternyata memang tidak seenteng yang dikira. tapi lumayan bisa memberi banyak motivasi dan ide.

    1. Saya juga sampe sekarang masih terpengaruh. Sungguh buku yang layak dijadikan referensi ya πŸ˜€
      Trims sudah share pengalamannya πŸ™‚

  8. aku baru tahu kalau penggagasnya profesor. Dulu tahu soal free writing sewaktu nonton film The Sixth Sense-nya Bruce Willis. terus aku iseng2 mencobanya. sejak tahun 2009 sampai sekarang masih berlangsung, hehehe

    1. Wah, kalau begitu saya harus nonton film itu lagi ah, siapa tau bisa ketularan produktif menulis apik seperti mas Huda hehe πŸ™‚

  9. Hmmmmm………….padahal saya sudah rileks dan sangat santai tapi kenapa tulisan atau ide tidak mau keluar dengan indah dibaca.Apa mungkin butuh sesuatu hhehehee………….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *