Romansa Chelsea, Passion dan Blogging

8 lawan 1.

Rahmad Darmawan pun serasa mengalami mimpi buruk. Usai meladeni tim sekelas Chelsea, pundaknya terasa berat, bukan berat lantaran besarnya harapan akan kemenangan, namun komentar Jose Mourinho yang menyebut tim Indonesia bermain tanpa passion-lah penyebabnya.

Jika Anda sudah memiliki passion maka Anda akan lebih kuat dari kemampuan Anda yang sebenarnya. Bahkan jika Anda tidak punya potensi yang bagus dan lawan Anda lebih kuat, Anda akan bisa bermain lebih baik.

Komentar yang sederhana namun dalam maknanya.

Saya memang fans Chelsea, tapi bila diharuskan memilih mana antara Chelsea dan Timnas, tentu saya memilih Timnas. Saya kan lebih larut dalam euforia saat Timnas mengganyang Malaysia daripada saat Chelsea mengubur impian Barcelona di Nou Camp.

Komentar Jose Mourinho tentang Indonesia

Dan menilik komentar Mou tadi, ternyata sepakbola tak melulu soal teknik dan strategi. Faktor non teknis kadang memegang peranan yang tak kalah penting. Istilah dewi fortuna, keberuntungan, pemain ke-dua belas, atau apalah itu kerap menjadi penentu skor akhir pertandingan.

Masih segar di ingatan bagaimana Drogba yang nyaris jadi pesakitan atas terjadinya pinalti untuk Munchen di final Liga Champion silam. Tapi di detik akhir, faktor non teknis pun menampakkan wujudnya. Pinalti Robben – yang notabene 99% masuk – malah gagal, dan sumpah serapah yang semula dijejal untuk Drogba berubah menjadi histeria massa saat ia menjebol gawang Munchen dan membawa Chelsea ke catatan sejarah baru, menjadi kampiun Liga Champion.

Ya, menang di kandang sendiri mungkin biasa, tapi menang di kandang lawan dengan puluhan ribu supporter fanatik? Itu bisa dilakukan dengan banyak cara: memiliki teknik dan strategi yang lebih dari lawan, atau kalaupun tak bisa, memiliki passion untuk menang yang lebih tinggi dari lawan adalah solusi paling jitu.

Itu yang berlaku untuk Denmark di Piala Eropa 1992, Yunani di Euro 2004 dan yang masih hangat saat tim gurem Wigan menaklukan tim bertabur bintang Manchester City di final FA Cup kemarin, yang di atas kertas boleh jadi hanya akan jadi bulan-bulanan gempuran lawan. Kenyataan? Malah jadi bulan-bulanan pujian.

Singkat kata, kemungkinan menang dari Chelsea memang teramat sulit, tapi bukan berarti mustahil. Lihat saja bagaimana MU bisa ditekuk di Bangkok, mau komentar apa lagi?

Back to Blog

Nah, setali tiga uang dengan blogging, wacana passion tak ubahnya lagu lama yang kembali diulang. Seperti saya yang kadang cengar-cengir sendiri saat membongkar kembali arsip tulisan lama blog ini, nostalgia membawa saya ke saat-saat passion masih meraja dan mengalahkan semua hal yang disebut dengan β€˜halangan’.

Saat itu saya belum mengerti WordPress self host, tapi passion memaksa saya untuk nekat dan akhirnya membuat blog ini. Saat itu saya sedang sibuk-sibuknya menjadi konsultan proyek di Kupang, tapi passion memaksa saya untuk mampu meluangkan waktu meng-update blog secara berkala. Saat itu saya sulit sekali membayangkan bahwa blog ini akan berumur panjang, namun passion membawa saya kembali dan kembali lagi hingga akhirnya tak terasa hampir tiga tahun blog ini mengarungi blogosphere.

Itu dulu. Sekarang?

Well, seperti komentar Mou tadi, mungkin saya tengah kehilangan passion. Mungkin saya terlalu terlena dengan Twitter dan segala macam social media yang kemudian – bum – tersesat disana. Mungkin alasan sinyal, waktu ataupun alasan teknis dan pribadi lainnya. Saya tak ubahnya para pemain Timnas yang berlarian kian kemari tanpa tujuan jelas, yang pada dasarnya punya kemampuan tak kalah bagus dari lawan, tapi akhirnya menyerah karena minim passion.

Apapun itu, saya lantas harus berterima kasih pada Mourinho, karena sudi kembali menjadi manajer Chelsea dan atas komentarnya yang sangat menohok tentang arti passion yang sesungguhnya.

Sobat punya komentar sendiri tentang kekalahan 1-8 tim Indonesia versus Chelsea? Dan menurut sobat, hal-hal apa yang seharusnya dilakukan seorang blogger agar passion blogging tetap ada?

Share, please πŸ™‚

Share Button
This entry was posted in Blogging and tagged , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

15 Comments

  1. Posted 26/07/2013 at 16:06 | Permalink

    Mereka (tim-tim papan atas eropa) datang, tebar pesona, dan kemudian membantai timnas. Sejak kedatangan Arsenal, eh bahkan Belanda deh timnas belum pecah juga “telor”-nya T_T dapat 1 angka lawan Chelsea pun itu own goal ya, hadehhh

    Dengan alasan “fans”, para promotor berlomba-lomba untuk mendatangkan idola-idola ke Indonesia, padahal dibalik itu ada maksud untuk mencari keuntungan yang melimpah :O

    Menurut saya, jika ingin mengadakan laga mending dengan tim yang paling tidak sepadan kemampuannya dengan timnas. Bolehlah sesekali melawan tim-tim bintang, tapi ngga beruntun seperti ini, Arsenal – Liverpool – Chelsea.

    Mereka datang, tebar pesona, kemudian ‘membantai’ timnas, sepertinya ngga ada yang bisa dipetik dari timnas itu sendiri selain kekalahan yang wow, kalo bagi individu para pemain, mungkin mereka memang dapat pengalaman yang baik untuk kedepan :/

    • Darin
      Posted 26/07/2013 at 17:19 | Permalink

      Sebenarnya untuk laga pramusim, klub2 eropa itu ga harus lawan timnas suatu negara. Tapi entah, kalau ke kawasan Asia khususnya Asia tenggara, labelnya pasti lawan timnas meski dgn embel2 ‘all stars’ dll.

      Setuju, yg paling diuntungkan itu pihak sponsor. Bagi timnas? Kayaknya terlalu absurd kalau dibilang ‘pengalaman berharga’. Yang ada adalah catatan tak bagus di sejarah sepakbola nasional.

      Intinya, sungguh kebangetan jika para pelaku sepakbola tak bisa memetik hikmah dari ‘pembantaian2’ kemarin. Dan komentar Mou tentang ga adanya passion moga2 membuat otak pesepakbola kita berfikir ulang ttg arti bermain bola yg sesungguhnya.

      Btw, trims masukannya bro πŸ™‚

  2. Posted 27/07/2013 at 14:32 | Permalink

    untuk kepentingan bisnilah mereka didatangkan … so nggak usah heran.

    • Darin
      Posted 28/07/2013 at 16:03 | Permalink

      Bener banget kang.
      Masalah patriotisme mah nomer kesekian ya.

  3. Posted 29/07/2013 at 17:13 | Permalink

    gempuran sos-med (bkn solmed) membuat para bloggers seperti menjauh, semakin jrg menjenguk rumah yg sesungguhnya.

    tapi aku msh setia, seperti kata Mourinho, “passion” membuat kt selalu kembali ke dunia blog ini πŸ™‚

  4. Posted 11/08/2013 at 22:04 | Permalink

    Dibalik label kapitalisme itu ,yah setidaknya nasihat Mourinho adalah kalimat yang paling jujur yang bisa diterima Indonesia.

  5. Posted 19/08/2013 at 10:01 | Permalink

    Selamat ya mas, semalam chelsea menang di partai perdana πŸ™‚

  6. Posted 25/08/2013 at 19:49 | Permalink

    Chlesea ke Indonesia emang untuk memantai tim kita kok mas, jadi ya gak usah heran, hahahah…. πŸ˜†
    Btw, iya nih, sayapun begitu, sepertinya terlalu terlena dengan Twitter πŸ˜†

  7. Posted 05/11/2013 at 08:00 | Permalink

    Waw, perbandingan yang mengena mas.. Passion adalah salah satu kunci kita untuk menang..

  8. Posted 06/11/2013 at 11:07 | Permalink

    passion memang butuh ketekunan dan konsisten. Bahkan tidak jarang mereka yg berhasil, passionnya butuh bertahun-tahun dijalankan. Bahkan mereka yg notabenenya pemain sepakbola kelas dunia saja, bisa kalah (tidak masuk tim inti) dengan passion mereka yg luntur…

  9. Posted 26/12/2013 at 19:27 | Permalink

    mou memang pelatih super deh,,,,, hehehe

    Kenapa ya gak tetep di madrid aja,,,, emmmmmm

  10. Posted 08/01/2014 at 13:38 | Permalink

    chelsea memang klub papan atas eropa, jadi wajar kang kalo menang. kunjungi balik kang. πŸ™‚

  11. Posted 26/02/2016 at 08:17 | Permalink

    chelsea walaupaun sekarang sudah tidak bagus lagi tapi saya tetap masih support, dukung chelsea… hehe

  12. Posted 11/03/2016 at 02:27 | Permalink

    heheh bagus mas informasinya,, salam kenal mas saya blogger daeri aceh..

  13. Posted 01/09/2016 at 11:40 | Permalink

    jaid kangen suasana ini haha

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
*