Save Rohingya: Peduli Atau Sensi?

Dua minggu terakhir, seolah tak henti media mengangkat tajuk yang sama. Sebuah peristiwa ganjil dimana sebuah negara mengusir ‘warga negara’nya sendiri jauh-jauh ke luar teritori demi terbentuknya satu ras nasional.

Saya nggak habis fikir. Sebegitu bencinya kah penduduk Myanmar yang mayoritas menganut agama Buddha pada etnis minoritas muslim Rohingya? Apa peristiwa itu semata dipicu oleh penegakan kedaulatan negara dalam menumpas teroris? Atau, adakah sisi lain di balik kengerian genosida itu, yang gaungnya malah membuat beberapa dari kita saling serang di negeri sendiri?

Peduli Rohingya

Menurut saya, apa yang terjadi di Rakhine State adalah pengulangan sejarah peperangan yang melebur politik, agama dan kemanusiaan sekaligus. Jauh ke belakang, Yugoslavia. Berikutnya yang masih hangat di ingatan: Irak, Yaman, menyusul Syria. Skala dan prioritasnya memang beda, tapi inti dan dampak yang ditimbulkan sering membuat kita geleng-geleng kepala.

Dengan membayangkannya saja, dimana ratusan ribu manusia, bapak, anak-anak, dan para ibu berlarian dari rumahnya, rumah yang sudah mereka tempati sejak turun temurun hanya karena negara tak menginginkan keberadaan mereka, itu sudah menyulap nalar kita serasa alpa. Bukan lagi sedih, tapi nyala amarah yang ada.

Beruntung kita memiliki kepala negara yang bereaksi cepat dengan ujung tombak menteri luar negerinya yang lihai, yang dunia pun mengapresiasi dan mengacungkan jempol atas diplomasi yang digelar. Begitulah, meski kita berbusa-busa dengan kepala ngebul meneriakkan protes dari mulai depan kantor kedutaan Myanmar hingga Borobudur, semua hanya berdampak semilir tanpa adanya kepedulian diplomasi.

Ya, karena bagaimanapun, Myanmar adalah negara yang berdaulat. Mereka memiliki hukum dan sistem tersendiri. Kita tak bisa seenak udel mencampuri apa-apa yang harus dan tak harus dilakukan pemerintahannya. Toh kita pun bakal beringas kalau ada negara lain yang mencoba-coba mendikte bangsa kita?

Tapi mereka saudara sesama muslim! Tak sepatutnya mereka diperlakukan sedemikian rupa, apalagi oleh junta militer yang beragama lain!

Fine. Coba tengok dan telaah apa yang bisa kita lakukan.

Sebagai manusia yang berfikiran sehat, memang kekejian yang dilansir di beberapa media dan cuitan netizen (bahkan ada yang terpeleset hoax saking nafsunya) tak lagi masuk dalam daftar toleransi kewajaran. Tapi itu bukan berarti kita dibolehkan berteriak lantang ke telinga tetangga sendiri yang perasaannya mungkin lebih halus, atau malah penyakit sumbu pendeknya muncul: menggalang massa dan ngomeli warga penganut Buddha di negeri sendiri yang bisa jadi hatinya lebih damai dan mendoakan keselamatan bangsa.

Parahnya lagi, jika tragedi kemanusiaan yang lokasinya ribuan kilometer di sana itu dijadikan komoditi demi kepentingan politik tanah sendiri. That’s the worst politician ever.

Negara sudah bergerak, juga tak terhitung kepala daerah, organisasi massa, pun LSM yang berderap sigap menggalang bantuan dan dana. Belum cukup? Atau tak mampu memberikan bantuan dan dana? Ya setidaknya kita suplai dukungan untuk mereka-mereka yang bekerja nyata, bukannya membuat jutek informasi dengan share berita nggak jelas atau malah mendewakan organisasinya sendiri yang diklaim lebih tanggap memberikan solusi untuk Rohingya. Anda sehat?

Sekedar catatan, bagi yang berminat mendonasikan dana untuk Save Rohingya secara daring, Anda bisa meluncur ke Act.id.

Mari tunjukkan peduli, bukan sensi.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer