Social Media, Blogging Dan Dunia Yang Ingin Mendengar Kita

Dari update blogroll di blog diptara.com, saya akhirnya menemukan lagi artikel bagus tuk memotivasi semangat ngeblog yang jarang timbul namun sering sekali tenggelam. Artikel tersebut ditulis oleh Hendrik Lim – seorang pengusaha, motivator dan penulis buku self development – yang berjudul Ayo Menulis: Dunia Ingin Mendengar Opini dan Pengalaman Anda.

Begitulah, salah satu faktor makin rendahnya frekuensi update yang dialami sebagian besar blogger adalah karena hadirnya corong-corong baru tuk menyampaikan opini maupun sekedar curhat pengalaman pribadi. Dashboard blog mulai kehilangan pamor, tergantikan oleh magic minimalis twitter, warna-warni ajang narsis di Facebook juga media lain yang berbasis microblogging. Keajaiban blog sebagai second opinion dari berbagai fenomena yang terjadi, dan reportase publik yang mampu mengubah mindset dunia maya tertutupi kemudahan berbagi informasi di jejaring sosial.

Mau ngeluarin uneg-uneg tentang Timnas yang memble, tinggal cuap-cuap di timeline Twitter. Ingin beropini dan share informasi, ruang forum jadi pelarian. Curhat tentang pelayanan publik yang buruk pun serasa lebih afdhal dengan menuliskannya di status Facebook.

Apa benar begitu? Benar sekali, karena saya juga mengalaminya sendiri kok *hehe*

Ya, barangkali paradigma blog yang asal muasalnya adalah sebagai catatan personal dari narablognya kini kian bergeser menjadi ‘ada di halaman berapa tulisan kita di google dengan kata kunci tertentu?’ Keindahan makna dari kata-katanya sekarang terbuai oleh barometer yang tercatat di statistik google analytic, ‘ada berapa pencarian untuk kata kunci ini?’ Keasyikan berdiskusi dan menambah wawasan serta teman baru berganti ‘blog lo PR-nya berapa? Ih, blog gue segini-gini aje, fakir trafik neh!’ *haha* ga segitunya kali ya 😀

Tapi coba fikir, mungkin ada benarnya pabila kita memiliki sebuah cetusan ide, solusi atau opini singkat tentang bagaimana mencegah korupsi, misalnya. Akankah lebih baik menuliskannya di Twitter dan Facebook yang jelas-jelas bisa langsung diakses oleh follower dan pertemanan, daripada berkutat dengan data dan kata – belum lagi menguraikan argumen yang belum tentu jelas – di blog? Alasan kian bertambah manakala kita menganggap blog hanyalah untuk orang-orang yang pandai menulis dan butuh waktu agar tulisan kita bisa dibaca oleh orang lain. Duh, makin repot deh.

Padahal seperti yang ditulis di artikel tersebut

Setiap ide dan pengalaman individu adalah unik. Tidak ada yang bisa menandingi otentisitas dan kesegaran ide Anda. jadi tidak perlu merasa rendah diri. Tulis saja. Lama lama ia akan semakin tajam, makin menarik dan mulai mengerucut. Tetapi semua itu dimulai dengan menulis artikel pertama.  Tulis saja. Jangan khawatir. Nanti akan menjadi terbentuk dengan beriringnya waktu dan latihan.

Sayangnya, you know, ngetweet dan update status di Facebook tak perlu ngoyo-ngoyo latihan sebagaimana halnya menulis di blog. Namun sepertinya kita memang harus memberdayakan diri tuk terus ngeblog selain tetap eksis di jejaring sosial. Lha, siapa tahu dunia memang ingin mendengar opini dan pengalaman kita? 😀

Opini sobat?

Share Button

About Darin

Hai, terima kasih sudah membaca artikel di blog ini. Untuk selanjutnya, Anda bisa berlangganan artikel secara gratis via RSS Feed atau lewat Email. Dan untuk mengenal saya lebih dekat, mari cuap-cuap bareng di Twitter dan jangan lupa sempatkan buka laman About dan Arsip blog ini.
This entry was posted in Blogging, Opini and tagged , , , . Bookmark the permalink.

13 Responses to Social Media, Blogging Dan Dunia Yang Ingin Mendengar Kita

  1. Andi Sakab says:

    sebenarnya di blogosfere udah bejubel saking banyaknya terkadang sulit memilih. Dan juga membutuhkan ya itu tadi energi lebih untuk memutar otak dalam menulis sehingga sosial media is be easy for use :mrgreen:

    Tetapi alam blog nusantara akhir-akhir ini mendukung untuk menjamur kembali, kang alasannya banyak advertiser mulai melirik kita sehingga peluang semangat untuk ngeblog ada karena bensin untuk modal ngurus blog tercukupi 😀

    • Darin says:

      Bener sekali Kang. Saya baru ngeh nih. Untung sekarang banyak bermunculan komunitas2 yg bisa menghubungkan antara blogger dan advertiser 😀
      Yah, semoga inti semangat dari ngeblog, yaitu semangat berbagi, tak luntur dimakan zaman ya Kang *tos* :)

      • Kaget says:

        Dan akhirnya blogging ngga pernah mati, disaat kritis pendukung blogger mulai bermunculan. Setidaknya mereka yg berkepentingan memilih blogger sebagai jembatan baru advertising

  2. karena nggak sanggup mikir untuk nulis yang keren keren, yah nulis tentang sesuatu yang deket deket rumah ssaja dahh….

  3. wid says:

    setelah hampir 6 bln,malah baru hari ini aku bisa update lagi…he..he….
    btw…saya sepakat dengan mas darin aja….ha..ha.ha….
    ide banyak..waktu yang nggak ada….

  4. Joko Sutarto says:

    Selamat datang kembali Mas Darin. Habis masa reses bloggingnya sekarang ngebut, ya updatenya 😀 Ya, setidaknya gairah blogging tak pernah padam dan terus menyala. Kalau orang (blogger) yang dasarnya memang suka menulis dan senang berbagi, saya yakin godaan apapun tak akan menyurutkannya untuk terus ngeblog. Saya percaya ini. Dan bagi blogger yang memang tak punya itu lambat tapi pasti akan tenggelam.

  5. Saya ngeblog karena di sini dapat dijadikan sebagai media untuk berlatih menulis. Kalau hanya sekedar menulis dengan sepatah dua patah kata saja saya rasa masih kurang.

  6. Pingback: Tips Menggunakan Internet Secara Nyaman dan Aman | Darinholic dot Com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *